Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kamar Alecio sunyi, luas, dan terlalu rapi untuk ukuran markas mafia..Sandrina berdiri di depan cermin besar dengan wajah datar, namun matanya nyaris melotot keluar dari rongganya.
Di tangannya tergenggam pakaian yang tadi dibawakan Marcela. Sebuah blus putih tipis dengan lengan pendek, rok hitam selutut yang melekat pas di tubuh, dan celemek kecil layaknya pakaian pelayan hotel mewah.
Sandrina menatap pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi ngeri. “Astaghfirullah, ini baju apa? Mau jadi pelayan, apa mau jadi tontonan?” gumamnya getir.
Sandrina memutar tubuh, memandangi panjang rok itu dari atas ke bawah. “Selutut?! Ini mah kalau aku sujud, bisa jadi bahan gosip satu kastil!”
Tanpa pikir panjang, Sandrina melepas pakaian itu dan melemparkannya ke sofa seperti benda berbahaya. Matanya lalu beralih ke lemari besar milik Alecio.
Ragu sejenak, ia melangkah mendekat, membuka pintu lemari perlahan. Dia terdiam dalam keterkejutannya. Deretan jas hitam, kemeja putih, mantel panjang, celana formal, dan sepatu mahal tersusun rapi seperti butik khusus pria elit.
Sandrina berkedip beberapa kali. “Ya Allah, ternyata benar, ini kamar pria. Dan bukan pria biasa, tapi pria kaya raya. Jangan-jangan ini kamar mafia gila itu?!”
Namun, pilihan pakaian yang menutup aurat lebih penting daripada rasa kagumnya. Sandrina mulai mengacak lemari. Beberapa detik kemudian, ia menemukan sebuah celana panjang hitam yang ukurannya jelas jauh lebih besar dari tubuhnya.
Tanpa pikir panjang, Sandrina memakainya. Celana itu langsung melorot sampai ke pinggul. Sandrina mendengus kesal.
“Ya ampuuuun, ini celana kebesaran banget!”
Mata Sandrina melirik tirai tebal di dekat jendela. Ia menarik salah satu tali gordennya, lalu mengikatnya di pinggang sebagai sabuk darurat.
“Nah, sekarang sudah aman!” Sandrina tersenyum manis.
Selanjutnya, Sandrina mengambil kemeja putih milik Alecio yang tergantung rapi. Begitu dikenakan, kemeja itu menutupi hampir setengah pahanya. Sandrina melipat lengan kemeja hingga pergelangan tangan, menatap dirinya di cermin.
“Nah, ini baru masuk akal. Agak kedodoran, tapi setidaknya tertutup.”
Perutnya tiba-tiba keroncongan. Namun, perasaannya lebih gelisah daripada lapar. Ia menoleh ke arah jendela. Langit sudah gelap pekat. Jam di dinding juga menunjukan waktu tengah malam.
Sandrina tersentak. “Astaghfirullah, aku belum salat Magrib dan Isya!”
Tanpa menunda, ia mencari tempat yang bersih di sudut kamar, menghadap arah yang ia kira sebagai kiblat, meski tidak yakin sepenuhnya, tidak masalah, baginya yang penting niat.
Masalah baru muncul, Sandrina tidak punya mukena untuk menutupi rambutnya. Dia menatap sekeliling, lalu matanya tertuju pada seprai putih bersih yang tersimpan di lemari linen kecil di dalam kamar. Gadis itu mengambilnya, membentangkannya, lalu menutup kepalanya seperti kerudung darurat.
Dengan wajah khusyuk, Sandrina berdiri tegak. Ia menjamak salat Magrib dan Isya dengan tenang, meski jantungnya masih berdegup kencang karena situasi aneh yang ia hadapi. Suasana kamar hening, hanya terdengar bisikan doa lirihnya.
Di luar kamar, Alecio berjalan menyusuri koridor bersama Marcela. Wajahnya masih tegang. Pikirannya belum tenang sejak insiden kamar mandi.
Marcela berjalan di belakangnya dengan langkah anggun, membawa map berisi laporan.
Alecio berhenti di depan pintu kamarnya. Ia menarik napas panjang, lalu membuka pintu tanpa mengetuk. Apa yang ia lihat membuatnya membeku.
Di tengah kamar, di atas karpet tebal, berdiri sosok berpakaian putih, seprai menutupi kepala dan tubuhnya sampai ujung kaki, berdiri tegak menghadap dinding. Ruangan temaram, lampu redup, dan bayangan panjang membuat pemandangan itu semakin menyeramkan.
Alecio terdiam, matanya melebar. “Ma-Marcela ....” Suara pria itu nyaris berbisik.
Marcela melongok dari belakang bahu Alecio dan langsung menutup mulutnya dengan tangan. “Alecio, apakah itu ... hantu?” gumamnya pelan, setengah ketakutan.
Alecio refleks melangkah mundur selangkah. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut peluru, tetapi karena pemandangan tak terduga ini. Namun, beberapa detik kemudian, “hantu” itu bergerak.
Sandrina mengangkat kedua tangannya, lalu menutup salatnya dengan salam. Seprai bergeser sedikit, memperlihatkan sebagian wajahnya.
Alecio ternganga.
“Hantu apa itu?!” batinnya bingung.
Marcela menatap takjub. “Bukan hantu. Tapi, dia wanita yang kau bawa.”
Sandrina menoleh perlahan. Begitu melihat Alecio berdiri di ambang pintu, ia langsung bangkit dengan mata menyala.
“APA LAGI KAMU MAU?!” serunya galak.
Alecio mengerjap. “Kamu sedang apa?” tanyanya dalam bahasa Inggris.
“Jelas-jelas aku sedang ibadah! Tidak punya adab, masuk kamar orang tanpa permisi!” balas Sandrina tajam. Mendadak dia paham apa yang dikatakan oleh Alecio.
Marcela menatap Sandrina dengan pandangan berbeda, bukan lagi meremehkan, tetapi penuh rasa ingin tahu.
Alecio menghela napas pelan, berusaha tetap dingin. “Ini kamarku.”
Sandrina terdiam sejenak, lalu menatap sekeliling.
Baru saat itu ia menyadari sesuatu.
“Apa?! I-ini kamarmu?” tanyanya pelan, mulai panik.
Alecio menyeringai tipis. “Ya.”
Sandrina merasa darahnya naik ke kepala. “Jadi, aku salah kamar?!”
Marcela melangkah maju, mencoba menenangkan suasana. “Tenang. Tidak apa-apa.”
Lalu Marcela berbicara dalam bahasa Inggris, perlahan dan sopan. “Nama kamu siapa?”
Sandrina mengangkat dagunya. “My name is Sandrina.”
Marcela mengangguk. “Where are you from?”
Sandrina mengerutkan kening, berpikir keras.
“I… from Indonesia,” jawabnya terbata.
Sandrina menghela napas panjang, lalu dengan penuh percaya diri berkata, “I am… King anak-anak jalanan.”
Keheningan jatuh. Alecio menatap Sandrina dengan dahi berkerut.
Marcela berkedip beberapa kali. “King…?”
Sandrina mengangguk mantap. “Yes! King anak-anak jalanan!”
Alecio dan Marcela saling bertukar pandang. Alecio berbisik pelan kepada Marcela, “Dia raja dari negara apa?”
Marcela menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.”
Sandrina melanjutkan dengan penuh semangat, meski bahasanya campur aduk.
“And my family… pasti cari me here. Government Indonesia… and Italia also! Mereka bakal datang bawa, e ... apa itu namanya ... polisi, tentara, maybe Presiden juga!” Ia bicara sambil mengayunkan tangan dramatis, membuat tali gorden di pinggangnya hampir lepas.
Alecio mengangkat alis, setengah tidak percaya melihat wanita di depannya ini. Walau begitu entah kenapa dia merasa setengah terhibur.
Sandrina masih terus mengoceh, kini mencampur bahasa Indonesia dan Jawa. “Kamu kira bisa culik aku sembarangan? Nanti keluargaku ngamuk, loh! Aku iki dudu wong sembarangan, ngerti ora?!”
Marcela terperangah. “Bahasa apa itu?”
“Entahlah. Mungkin dia pakai bahasa alien.” Alecio menggelengkan kepalanya karena baru mendengar bahasa seperti itu.
Alecio menatap Sandrina dengan pandangan semakin rumit. Bukan takut, bukan juga marah. Lebih ke rasa penasaran.
Sandrina berdiri di tengah kamar dengan seprai menutupi kepalanya. Dibaliknya ada kemeja kebesaran, celana kedodoran diikat tali gorden yang tampak konyol, tetapi juga anehnya, memikat.
Alecio menatap Sandrina dalam diam. Di dalam hatinya, ia mengakui satu hal. Wanita ini benar-benar berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu