🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 | Malam yang Berdarah
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Shanghai di bawah guyuran hujan selalu tampak seperti lukisan cat minyak yang luntur. Dari dalam mobil sedan tak bertanda yang aku parkir di seberang Restoran Jade Phoenix, aku memperhatikan uap panas yang keluar dari ventilasi gedung. Wiper mobil ku bergerak malas, menyapu rintik air yang menghalangi pandangan ku ke arah pintu masuk.
Di sana, Satya Samantha baru saja masuk. Ia tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja lolos dari upaya pembunuhan di terowongan kemarin malam.
"Kau benar-benar gila, Satya," gumam ku sambil mengencangkan sarung pistol di balik jaket kulit ku. "Kau tahu The Iron Triangle sudah menandai mu, tapi kau justru datang ke wilayah netral ini untuk makan malam seolah-olah kau hanya sedang memesan teh sore. Apakah kau sombong, atau kau memang sudah melihat akhir dari malam ini?"
Aku memeriksa jam tangan ku. Pukul 20.15. Aku tidak memiliki surat perintah resmi, tapi insting polisi ku, insting yang telah diasah selama bertahun-tahun di jalanan Shanghai berteriak bahwa ada sesuatu yang salah. Udara malam ini terasa statis, seperti sebelum petir menyambar.
Aku memutuskan untuk turun. Aku tidak bisa membiarkan aset informasi terbesar ku mati di meja makan. Saat kaki ku menyentuh aspal, aku melihat dua mobil van hitam meluncur pelan tanpa lampu depan, berhenti tepat di belakang limusin Satya. Pintu geser-nya terbuka sedikit. Kilatan logam dari laras senapan mesin ringan terlihat di kegelapan.
"Sial!" desis ku.
Aku berlari melintasi jalan, mengabaikan klakson kendaraan yang lewat. Aku menerjang pintu restoran tepat saat Satya sedang duduk di sebuah meja bundar di tengah ruangan yang megah itu. Pelayan baru saja meletakkan teko keramik.
"SATYA! TIARAP!" teriak ku sekeras mungkin.
PRANG!
Kaca jendela raksasa restoran itu hancur berkeping-keping. Rentetan peluru kaliber 9 mm merobek tirai sutra dan menghancurkan vas bunga di dekat meja Satya. Para tamu berteriak histeris, berlarian mencari perlindungan di bawah meja.
Aku menarik pistol Glock ku, berlindung di balik pilar marmer yang kokoh. "Satya! Ke sini!"
Satya tidak bergerak. Ia masih duduk di kursi nya, jemari nya masih memegang cangkir teh yang kini terisi serpihan kaca. Ia menoleh ke arah ku. Wajah nya tidak pucat. Tidak ada keringat ketakutan. Justru, aku melihat mata nya yang mistis itu berubah menjadi merah menyala dengan pola geometris emas yang berputar cepat.
"Chen," suara nya terdengar jernih di tengah kebisingan tembakan, seolah ia sedang berbicara di ruang hampa. "Kau seharus nya tetap di mobil. Malam ini bukan untuk konsumsi publik."
"Berhenti bicara omong kosong dan lari ke dapur!" bentak ku. Aku membalas tembakan ke arah jendela, mencoba menekan para penyerang.
Tiba-tiba, tiga pria berpakaian taktis hitam menerjang masuk lewat pintu belakang. Mereka bukan penjahat amatir; cara mereka bergerak menunjukkan mereka adalah tentara bayaran elit. Salah satu dari mereka mengarahkan laras senapan nya tepat ke arah punggung ku saat aku sedang fokus pada jendela.
Aku merasakan nya. Hawa dingin kematian di tengkuk ku. Aku mencoba berbalik, tapi gerakan ku terasa seperti di dalam air, terlalu lambat.
"Jadi begini akhir nya?" pikir ku dalam sepersekian detik. "Mati karena membuntuti pria yang bahkan tidak menginginkan bantuan ku."
Namun, dunia ku mendadak berubah.
Segala nya melambat. Tetesan air hujan yang masuk lewat jendela yang pecah tampak tergantung diam di udara seperti kristal cair. Suara tembakan yang memekakkan telinga berubah menjadi dentuman frekuensi rendah yang panjang.
Dan Satya... dia bergerak.
Dia tidak berlari. Dia melangkah. Gerakan nya sangat halus, namun kecepatan nya melampaui logika fisik. Dia melewati meja-meja dengan keanggunan seorang penari. Saat pria di belakang ku menarik pelatuk nya, Satya sudah berada di samping ku.
"Tetap diam, Detektif," bisik nya.
Aku melihat nya dengan mata kepala ku sendiri. Satya tidak menghindar secara acak. Dia menggerakkan kepala nya hanya beberapa milimeter ke kiri saat sebuah peluru melintas tepat di samping telinga nya. Kemudian, dia menarik bahu ku ke bawah tepat saat peluru kedua bersarang di pilar tepat di mana kepala ku berada tadi.
Ini bukan sekadar refleks. Dia melihat lintasan peluru itu sebelum pelatuk ditarik. Dia melihat masa depan dalam hitungan milidetik.
Satya meraih sebuah sumpit bambu dari meja yang terbalik. Dengan satu sentakan tangan yang tidak bisa diikuti mata, dia melempar sumpit itu.
JLEB!
Sumpit itu menembus tangan si penembak di belakang ku, membuat nya menjatuhkan senjata nya sambil melolong kesakitan. Satya kemudian memutar tubuh ku, memposisikan diri nya sebagai perisai di depan ku.
"Satya, menyingkir! Kau akan tertembak!" teriak ku, mencoba mendorong nya.
"Tidak akan," jawab nya dingin.
Aku melihat tiga peluru lagi meluncur ke arah kami. Satya menggerakkan tangan nya, menyambar sebuah piring porselen yang melayang di udara akibat ledakan sebelum nya. Dia memposisikan piring itu pada sudut yang sangat spesifik.
TING! TING! TING!
Tiga peluru itu memantul dari permukaan porselen, bukan hancur, tapi terpental kembali ke arah penyerang di jendela seolah-olah diarahkan oleh perhitungan geometri yang sempurna. Terdengar teriakan jatuh dari luar.
Waktu mendadak kembali normal. Suara kembali pecah, gravitasi kembali menarik segala nya.
Satya berdiri tegak di tengah kehancuran restoran. Mantel hitam nya sedikit berkibar, namun tak ada satu pun noda darah atau debu di pakaian nya. Dia menatap ke arah luar, ke arah sisa-sisa nya penyerang yang kini melarikan diri karena kaget melihat target mereka seolah tak bisa disentuh.
Aku terduduk di lantai, nafas terengah-engah, tangan ku yang memegang pistol gemetar hebat. Adrenalin dan ketakutan bercampur menjadi satu. Aku menatap Satya dengan tatapan yang dipenuhi kengerian sekaligus kekaguman yang tak bisa aku jelaskan.
"Apa... apa yang baru saja kau lakukan?" tanya ku, suara ku parau. "Kau melihat nya... kau melihat peluru-peluru itu, bukan?"
Satya berjalan mendekat, mengulurkan tangan nya pada ku. Aku ragu sejenak, lalu menyambut tangan nya. Tarikan nya kuat dan stabil, memberi ku rasa aman yang aneh di tengah bau mesiu ini.
"Peluru hanyalah materi yang bergerak lurus, Chen," kata nya, mata nya perlahan kembali ke warna cokelat normal, meski sisa-sisa kilatan emas nya masih ada. "Jika kau bisa melihat niat di balik pelatuk nya, lintasan itu akan terlihat sejelas garis di telapak tangan mu."
Dia menyeka noda debu di pipi ku dengan saputangan sutra nya. Gerakan nya begitu intim, membuat jantung ku berdegup lebih kencang daripada saat baku tembak tadi.
"Kau menyelamatkan nyawa ku," bisik ku. "Lagi."
"Aku sudah bilang, aku butuh seorang detektif yang berhutang pada ku," Satya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih berbahaya daripada peluru mana pun. "Tapi kali ini, kau bertindak terlalu jauh. Kau bisa saja mati."
"Itu tugas ku!" aku mencoba membela harga diri ku. "Tugas saya adalah mengawasi mu!"
"Dan tugas ku adalah memastikan mata dari polisi ku tetap berfungsi," balas nya. Dia mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu di telinga ku sementara sirine polisi mulai terdengar di kejauhan. "Sersan Wu akan tiba dalam dua menit. Beritahu mereka ini adalah serangan sindikat narkoba yang salah sasaran. Jangan sebutkan nama ku dalam laporan penembakan ini, atau rahasia yang baru saja kau lihat akan menjadi beban yang tidak sanggup kau tanggung."
Aku menelan ludah. "Kau mengancam ku?"
Satya melepaskan pegangan nya, berbalik menuju pintu belakang yang gelap. "Bukan ancaman, Chen. Itu adalah nasihat dari seseorang yang tidak ingin melihat mawar seperti mu hancur sebelum waktu nya."
Dia berjalan dan menghilang ke dalam gang gelap sebelum tim ku menyerbu masuk ke dalam restoran.
Sepuluh menit kemudian, Restoran Jade Phoenix dipenuhi oleh garis polisi kuning. Sersan Wu menghampiri ku dengan wajah panik.
"Detektif Chen! Anda tidak apa-apa? Kami menerima laporan baku tembak massal!" Wu memeriksa jaket kulit ku yang robek. "Siapa yang melakukan ini? Di mana target yang Anda ikuti?"
Aku menatap pilar marmer yang hancur, lalu menatap piring porselen yang pecah di lantai, piring yang tadi di gunakan Satya untuk memantulkan peluru. Logika ku sebagai polisi memerintahkan ku untuk melaporkan segala kegilaan ini. Bahwa Satya Samantha bukan manusia biasa. Bahwa dia adalah anomali yang berbahaya.
Namun, saat aku membuka mulut, aku teringat hangat tangan nya saat menarik ku dari lantai. Aku teringat bagaimana dia berdiri di depan ku, menjadi perisai hidup saat kematian tinggal berjarak beberapa senti.
"Itu... itu serangan acak," suara ku terdengar meyakinkan, meski hati ku berteriak bohong. "Sindikat narkoba yang sedang bertikai. Mereka kabur lewat jendela sebelum saya sempat mengidentifikasi mereka. Satya Samantha? Dia sudah pergi sebelum penembakan dimulai."
Wu mengangguk, mencatat laporan ku. "Untung Anda selamat, Detektif. Ini mukjizat."
Mukjizat? Tidak. Ini bukan mukjizat. Ini adalah sandiwara.
Aku berjalan keluar restoran, membiarkan hujan membasahi wajah ku. Aku meraba saku jaket, menemukan koin logam kecil yang tadi terjatuh dari meja Satya, sebuah koin peringatan yang kini terasa hangat.
"Kau benar-benar monster, Satya," gumam ku sambil menatap langit Shanghai yang gelap. "Kau membiarkan aku melihat kekuatan mu agar aku tahu betapa kecil nya hukum yang aku jaga di hadapan mu. Kau tidak hanya menyelamatkan nyawa ku, kau sedang menjajah pikiran ku."
Aku tahu, mulai malam ini, aku bukan lagi polisi yang mengejar mangsa nya. Aku hanyalah pion di atas papan catur yang luas, dan pria bernama Satya Samantha adalah pemain nya. Namun, aneh nya, di balik rasa takut ku, ada rasa penasaran yang semakin membara. Aku ingin tahu sejauh mana kemampuan nya itu bisa melihat. Dan aku ingin tahu, apakah dalam ribuan masa depan yang dia lihat, ada satu masa depan di mana dia benar-benar membutuhkan ku, bukan sebagai pion, tapi sebagai sesuatu yang lebih.
Aku masuk ke mobil patroli, menyembunyikan koin itu di balik sarung pistol ku. Perang dengan The Iron Triangle baru saja memanas, dan aku baru saja memilih pihak yang paling berbahaya: pihak yang tidak bisa mati oleh peluru.
...----------------🍁----------------🍁----------------...
inspirasi yeee