🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Catur di Atas Abu
...Bab 13: Catur di Atas Abu...
Han Xuan tidak segera membalas ucapan pria dengan pedang kayu itu. Ia hanya menatap sosok tersebut melalui pandangan hitam-putihnya, memperhatikan bagaimana aura transparan pria itu seolah-olah menyatu dengan udara yang kosong.
Ini adalah tingkat "Harmoni Kekosongan" yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah melepaskan keterikatan duniawi atau mereka yang memang sudah mati di dalam batinnya.
"Kepahitan adalah hak istimewa bagi mereka yang masih bisa mengecap" sahut Han Xuan dengan nada yang tidak kalah dingin. "Bagiku, dunia hanyalah massa energi yang menunggu untuk dikatalogkan."
Pria tua itu terkekeh pelan, lalu kembali menyesap minumannya, tidak lagi mempedulikan Han Xuan. Seolah-olah percakapan singkat itu sudah cukup untuk memberitahunya semua yang perlu ia ketahui.
Han Xuan kembali fokus pada pelayan wanita bermata satu yang masih berdiri mematung di depannya. Ketegangan di dalam kedai itu kini sudah mencapai puncaknya.
Setiap pasang mata tertuju pada meja Han Xuan, menunggu ledakan kekerasan yang biasanya menyusul pernyataan sombong di Pasar Abu.
"Bawa pesan itu pada pemimpinmu" perintah Han Xuan sekali lagi. "Dan katakan pada The Shadow Crows bahwa aku tahu mereka sedang menyimpan fragmen tulang sayap iblis yang mulai membusuk di gudang bawah tanah mereka. Jika mereka tidak memberikannya padaku dalam dua belas jam, pembusukan itu akan menyebar ke seluruh basis kultivasi anggota mereka."
Pelayan itu mengangguk kaku, lalu segera menghilang ke arah dapur. Han Xuan tahu bahwa informasi tentang fragmen tulang itu akan memaksa faksi The Shadow Crows untuk bergerak lebih dulu. Mereka akan merasa terancam, dan dalam ketakutan, mereka akan melakukan kesalahan strategis.
Setelah meninggalkan kedai, Han Xuan membawa Wei dan Xiao Mei ke sebuah bangunan runtuh yang dulu merupakan menara pengawas. Tempat ini tinggi dan memberikan sudut pandang luas ke seluruh Pasar Abu.
"Wei, ambil seluruh batu roh yang tersisa di kereta" ucap Han Xuan sambil menatap kegelapan di luar.
"Untuk apa, Tuan? Apakah kita akan menyuap seseorang?" tanya Wei.
"Tidak. Kita akan menghancurkan nilai tukar batu roh di pasar ini" jawab Han Xuan. "Wilayah Barat kekurangan energi murni. Jika kita menyuntikkan batu roh murni dalam jumlah besar secara tiba-tiba, lalu secara diam-diam menyerap kembali energi itu dari udara menggunakan Hukum Devour, maka semua orang akan mengalami 'rebound' kultivasi."
Han Xuan sedang merencanakan sabotase ekonomi berskala besar. Di wilayah di mana semua orang bergantung pada sisa-sisa energi untuk bertahan hidup, fluktuasi mendadak akan menyebabkan kekacauan massal.
"Xiao Mei" Han Xuan menoleh pada gadis itu. "Gunakan matamu. Lihat ke arah tiga pilar cahaya hitam di lembah itu. Katakan padaku, mana yang memiliki denyut paling lemah."
Xiao Mei memejamkan matanya, lalu membukanya kembali. Pupil kelabunya bergetar hebat saat ia memindai cakrawala. "Pilar di sebelah kiri... milik faksi The Bone Eaters. Cahayanya tampak kuat, tapi di dalamnya ada retakan kecil yang terus mengeluarkan asap kelabu. Itu seperti jantung yang sedang sekarat."
Han Xuan tersenyum tipis. Target pertama sudah ditentukan. The Bone Eaters mengandalkan kekuatan fisik dan pemurnian tulang mayat.
Jika jantung energi mereka retak, artinya mereka sedang mencoba melakukan sesuatu yang melampaui kapasitas mereka mungkin mencoba membangkitkan leluhur mereka, sama seperti klan Han.
Malam semakin larut, namun Pasar Abu justru semakin bising. Han Xuan duduk bersila di puncak menara, membiarkan tubuhnya menjadi pusat gravitasi bagi energi liar di sekitarnya.
[Realm: Meridian Forging - Level 2 Tengah]
Tiba-tiba, tiga sosok bayangan melesat menuju menara tersebut. Mereka bergerak dengan kecepatan luar biasa, menggunakan teknik Shadow Step tingkat tinggi. Han Xuan tidak bergerak. Ia membiarkan mereka mengepungnya di atap menara.
Mereka adalah utusan dari The Shadow Crows. Salah satu dari mereka melangkah maju, wajahnya tertutup topeng bulu gagak yang menyeramkan.
"Kau pemuda yang berani mengancam faksi kami?" suara pria bertopeng itu terdengar seperti suara serak burung gagak. "Berikan rahasia bagaimana dan darimana kau tahu tentang fragmen tulang itu, atau aku akan mencabut matamu beserta gigimu sekarang juga."
Han Xuan berdiri perlahan. Ia tidak mengeluarkan senjata. Ia hanya membuka jubahnya sedikit, memperlihatkan separuh rambutnya yang memutih dan aura hitam yang mulai merembes dari kulitnya.
"Kalian datang lebih cepat dari perkiraanku" ucap Han Xuan. "Tapi sayang sekali, kalian datang tanpa membawa barang yang aku minta."
"Mati kau!"
Ketiga ninja bayangan itu menyerang secara bersamaan. Belati mereka dilapisi oleh racun yang bisa melelehkan meridian dalam sekejap. Namun, saat belati itu hampir menyentuh kulit Han Xuan, tubuh Han Xuan mendadak menjadi transparan, seperti asap hitam yang tertiup angin.
Hukum Bayangan: Pergeseran Fase.
Ketiga penyerang itu melewati tubuh Han Xuan dan saling bertabrakan. Sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi, Han Xuan sudah berada di belakang salah satu dari mereka. Ia meletakkan tangannya di tengkuk pria bertopeng itu.
Devour.
Pria itu tidak sempat berteriak. Seluruh sistem sarafnya lumpuh seketika saat Hukum Devour menyedot habis energi di meridian lehernya. Tubuhnya jatuh lemas, bukan karena mati, tapi karena seluruh kultivasinya telah dihapus dalam satu detik.
"Dua lagi" ucap Han Xuan tanpa nada.
Dua penyerang lainnya gemetar hebat. Mereka belum pernah melihat teknik yang bisa menghapus kultivasi tanpa merusak tubuh secara fisik. Ini lebih mengerikan daripada kematian.
"Kembalilah pada pemimpinmu" Han Xuan melepaskan tekanan auranya sedikit, memberikan mereka ruang untuk bernapas. "Katakan padanya, jika dalam enam jam fragmen tulang itu tidak ada di menara ini, aku akan pergi ke markas kalian dan mengubah seluruh anggota kalian menjadi manusia biasa tanpa kekuatan."
Kedua orang itu segera melesat pergi, membawa teman mereka yang sudah kehilangan kekuatan. Mereka tidak lagi memiliki niat untuk bertarung. Mereka baru saja menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan seorang kultivator, melainkan dengan sebuah bencana berjalan.
Han Xuan kembali duduk bersila. Ia merasakan sedikit mual di perutnya harga dari penggunaan Pergeseran Fase adalah hilangnya kemampuan tubuhnya untuk mencerna makanan padat selama beberapa hari kedepan. Kini ia benar-benar hanya bisa bertahan hidup dengan menyerap energi.
Di kejauhan, ia melihat pria pedang kayu tadi berdiri di bawah menara, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau sedang membangun menara di atas pasir, Nak" teriak pria itu dari bawah. "Semakin tinggi kau bangun, semakin dalam kau akan tenggelam saat pasir itu bergeser."
Han Xuan menunduk menatap pria itu. "Setidaknya aku akan tenggelam sambil memegang dunia di tanganku. Bagaimana denganmu, Tua Bangka? Kau hidup selamanya dalam kekosongan, tapi kau tidak memiliki apa pun untuk ditunjukkan."
Pria pedang kayu itu hanya tersenyum, lalu menghilang ke dalam kabut malam.
Han Xuan tahu bahwa besok pagi, Pasar Abu tidak akan pernah sama lagi. Tiga faksi besar akan saling berperang karena provokasinya, dan di tengah kekacauan itu, ia akan masuk ke Sumur Kekosongan untuk mengambil apa yang menjadi haknya.
Dapatkan Han Xuan menyeimbangkan manipulasi ekonominya sambil menghadapi serangan balasan dari The Bone Eaters yang kini mulai menyadari keberadaannya?
<>Cerita Bersambung