NovelToon NovelToon
Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.

​Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.

​Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.

​"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Pawang Singa

​​"Teriakan Bapak bisa meretakkan kaca jendela, tahu tidak?"

​Harper Sloane melangkah masuk ke ruang rapat yang kini kosong melompong. Dia tidak terlihat terburu-buru, langkah kakinya tenang dan berirama di atas lantai marmer, kontras sekali dengan Dominic Vance yang berdiri di ujung ruangan seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan favoritnya.

​"Kau tuli? Aku memanggilmu tiga kali," sembur Dominic. Wajahnya merah padam, tangannya masih mencengkram kerah kemejanya sendiri dengan frustasi.

​"Satu kali," koreksi Harper datar. Dia berhenti tepat di depan bosnya itu, menepis tangan Dominic yang gemetar dari kerah baju. "Dan saya tidak tuli. Saya sedang memproses surat pemecatan untuk Pak Jenkins yang Bapak usir barusan. Kasihan, dia baru saja mengambil cicilan rumah."

​"Dia gagap. Orang gagap tidak bisa jualan. Itu fakta, bukan kejahatan," dengus Dominic, tapi dia membiarkan Harper mengambil alih urusan lehernya.

​Harper menghela napas panjang, tapi tangannya bekerja dengan cekatan. Jari-jarinya yang ramping bergerak cepat, membongkar simpul dasi yang berantakan itu lalu mengikatnya ulang. Gerakannya presisi, seolah dia sudah melakukan ini ribuan kali—yang mana memang benar adanya. Selama lima tahun terakhir, Harper bukan cuma jadi sekretaris, tapi juga pengasuh bayi raksasa berharta triliunan ini.

​"Diam," perintah Harper pelan saat Dominic hendak protes lagi.

​Dominic langsung bungkam. Dia menatap wajah Harper yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari dagunya. 

Wajah itu tenang, tanpa emosi, seperti patung pualam yang cantik tapi dingin. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa kagum. Hanya profesionalisme yang kadang membuat Dominic ingin menjambak rambutnya sendiri.

​"Selesai. Simetris sempurna. Puas?" Harper mundur selangkah, menepuk dada bidang Dominic seolah sedang membersihkan debu tak kasat mata.

​Dominic melirik ke pantulan kaca. Sempurna. Detak jantungnya kembali normal. Rasa gatal di kulitnya hilang.

​"Lumayan," gumam Dominic, enggan memuji. Dia berjalan kembali ke kursi kebesarannya dan menghempaskan diri di sana. "Si idiot Jenkins itu masih ada di luar? Suara tangisannya mengganggu konsentrasiku. Seperti suara ban bocor."

​Harper tidak menjawab. Dia mengeluarkan ponsel dari saku blazernya, menekan satu tombol panggil cepat, dan menempelkannya ke telinga sambil menatap lurus ke arah Dominic.

​"Halo, Keamanan? Ya, ini Harper. Ada sampah organik di depan ruang rapat utama. Tolong diangkut ke lobi bawah. Jangan lewat lift eksekutif, pakai lift barang. Ya, sekarang. Terima kasih."

​Harper mematikan telepon dan memasukkannya kembali ke saku.

​"Beres," kata Harper singkat.

​Dominic menyeringai tipis. Itu yang dia suka. Kejam, efisien, tanpa drama. "Bagus. Sekarang ambilkan aku kopi. Yang tadi rasanya seperti air comberan."

​"Kopi nanti. Tanda tangan dulu." Harper tidak bergerak ke arah mesin kopi. Dia malah menyodorkan sebuah tablet tipis ke hadapan Dominic. Layarnya menyala, menampilkan deretan kotak warna-warni yang padat. "Jadwal Bapak hari ini sudah mundur empat puluh lima menit gara-gara insiden dasi miring tadi. Kita harus mengejar waktu."

​Dominic melirik tablet itu dengan tatapan jijik. "Baca saja. Mataku sakit melihat warna-warni norak begitu."

​Harper menarik kembali tabletnya dan mulai membaca dengan nada monoton yang cepat.

​"Jam sepuluh, telekonferensi dengan cabang Singapura membahas ekspor cip mikro. Jam dua belas, makan siang dengan perwakilan Bank Sentral. Jam dua, inspeksi pabrik robotika di Cikarang. Jam empat, wawancara eksklusif dengan Majalah Forbas Asia. Dan jam tujuh malam, makan malam amal di Hotel Mulia Jaya."

​"Membosankan," potong Dominic sambil memutar-mutar kursi kerjanya. "Lewati semua."

​"Tidak bisa dilewati, Pak. Ini semua prioritas satu. Terutama Bank Sentral, kalau Bapak tidak datang, kucuran dana untuk proyek AI giga-city bisa macet."

​"Mereka butuh aku, bukan sebaliknya. Biarkan mereka menunggu." Dominic mengambil bola antistres dari mejanya dan melemparnya ke dinding. Bola itu memantul dan hampir mengenai kepala Harper, tapi Harper bahkan tidak berkedip. Dia menangkap bola itu dengan satu tangan tanpa melihat.

​"Saya akan tetap mengatur sopir untuk siap di lobi jam sebelas tiga puluh," kata Harper tegas, meletakkan bola itu kembali ke meja dengan bunyi tok yang keras. "Bapak harus makan siang. Terakhir kali Bapak telat makan, Bapak memecat koki kantin karena supnya terlalu asin."

​"Supnya memang asin! Lidahku ini aset perusahaan!" Dominic membela diri. Dia menatap Harper, lalu tatapannya jatuh ke tablet yang masih dipegang wanita itu. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepala jeniusnya yang kacau. Ide yang sangat buruk.

​"Harper."

​"Ya, Pak?"

​"Kosongkan jadwalku besok."

​Harper berhenti menatap layar tablet. Dia mendongak, alisnya terangkat sedikit. Itu ekspresi kaget maksimal yang bisa dia tunjukkan. "Maaf? Bapak bilang apa?"

​"Aku bilang kosongkan. Hapus semua. Delete. Musnahkan," kata Dominic enteng sambil menyandarkan kaki ke atas meja mahoni mahalnya. "Aku mau main golf. Cuaca besok cerah, kelembapan udara pas, dan aku sedang ingin memukul sesuatu dengan tongkat besi."

​Harper menarik napas dalam-dalam. Dia merasa ada urat saraf di pelipisnya yang mulai berkedut.

​"Pak Dominic," suaranya merendah, tanda bahaya. "Besok tanggal dua puluh. Apa Bapak lupa besok hari apa?"

​"Hari Rabu?" jawab Dominic polos.

​"Besok adalah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan," tekan Harper pada setiap suku kata. "Seluruh dewan direksi dari tiga benua sudah terbang ke Jakarta. Hotel sudah dipesan. Katering sudah dibayar lunas. Media sudah menunggu di lobi. Bapak harus mempresentasikan laporan tahunan, atau saham Vance Corp akan terjun bebas ke dasar jurang."

​Dominic mengibaskan tangan, seolah mengusir lalat. "Ah, kumpulan orang tua bangka itu. Mereka cuma mau dengar deviden naik, kan? Kirim saja email. Atau kau saja yang presentasi. Kau kan hafal semua angka di luar kepala."

​"Saya sekretaris, Pak. Bukan CEO. Saya tidak punya wewenang untuk memimpin rapat senilai triliunan rupiah sementara bos saya sibuk memukul bola putih di lapangan rumput!" suara Harper naik satu oktaf. Ini rekor baru.

​Dominic menurunkan kakinya dari meja. Dia menatap Harper dengan tatapan menantang, bibirnya melengkung membentuk senyum miring yang menyebalkan.

​"Kalau begitu, anggap ini perintah langsung. Batalkan rapatnya, atau undur tahun depan. Aku tidak peduli. Besok aku mau main golf, dan kau harus ikut untuk membawakan payungku."

​Harper mencengkeram tablet di tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menatap wajah tampan di depannya itu—wajah yang ingin sekali dia tampar dengan tumpukan dokumen setebal batu bata.

​"Bapak serius?" tanya Harper dingin.

​"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Dominic balik bertanya, matanya berkilat jenaka namun kejam. "Atur saja, Harper. Kau kan 'Penyelesai Masalah'. Kecuali... kau sudah tidak sanggup lagi bekerja denganku?"

​Harper terdiam. Rasa panas menjalar di dadanya. Bukan rasa marah biasa, tapi akumulasi dari lima tahun menjadi babu elit, pemadam kebakaran korporat, dan sasaran amukan bos gila ini.

​Dia menatap Dominic, lalu menatap jadwal di tabletnya, dan kembali menatap Dominic.

​"Baik," kata Harper akhirnya. Suaranya halus, tapi tajam seperti silet. "Akan saya atur."

​Dominic tersenyum menang. "Anak pintar. Sekarang kopiku."

​Harper berbalik badan dan berjalan keluar. Tapi di dalam kepalanya, dia tidak sedang merencanakan pembatalan rapat. Tidak sama sekali. Dia sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih permanen daripada sekadar main golf.

​Dia merogoh saku blazernya, menyentuh sudut amplop putih yang sudah dia siapkan sejak semalam.

​Kau mau main-main, Dom? Oke. Kita lihat siapa yang tertawa paling akhir.

​Harper membanting pintu ruangan Dominic sedikit lebih keras dari biasanya.

1
Muft Smoker
Dom ,, kelakuan mu emnk udh kelewat batas ,,
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Kostum Unik
Cuma di novel ini loh karakter cewek gk bego gk penakut gk gentar cm krn ktm lawan nya cowok.. Di novel mana pun mau gmn hbt nya karakter cewek ttp aja mereka melempem pada akhir nya...
Muft Smoker: betul kak ,,
dsini semua tokoh perempuan ny bnr2 nunjukin Kalo mereka bnr2 ras terkuat di bumi ,,
total 2 replies
Naviah
percayalah Dom, sikapmu ini bukanya bikin Harper suka sama kamu tapi bikin menjauh, arogansi mu udah over dosis
Naviah
perlu priksa mata Dominic ya Harper, ban nya gak kenapa napa tapi dibilang bocor🤣
Kostum Unik
Astaghfirullah DomDom.. Kamu mmg udah keterlaluan. Lambemu pengen ku gerus pake ulekan
Naviah
gak habis fikir ban bocor? 🤣
Rlyn
tarik nafas Harper 🤭🤣
Savana Liora: 😄🤭🤭🤭🤭🤣🙏
total 1 replies
Kostum Unik
Sabar sabar sabar ini bulan puasa... Gk ada kan manusia modelan DomDom.. Pasti gk ada. Cuma ada di cerita ini kan kak Savana... /Sob/
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
total 1 replies
Kostum Unik
Luar biasa emg Harper ini. Sabar nya bukan main sm si ogep DomDom
Savana Liora: 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Naviah
astaga tikus got sebesar anak kucing kena fitnah🤣
Naviah
ya pintar dalam bisnis tapi mines dalam percintaan 🤣
ms. S
dom.. cemburu buta
Muft Smoker
kak Savana ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
This Is Me
Kak Savana, bisa gak nih Harper lepas aja dari Dom. Sekali ini tokoh cowoknya sakit jiwa beneran. Kasian Harper
Savana Liora: lupa ya kalo judulnya pawang.

kayak pawang ular 🤣🤣
total 3 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo1
Sastri Dalila
si dom² ada aja usaha nya
Savana Liora: namwnya jg usaha 🤣🤣
total 1 replies
Sastri Dalila
si dom²😂😂
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Kostum Unik
🤣🤣🤣 Harper kalau nanti dia cinta dan bucin sama kau. Itu anugerah apa musibah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!