David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 28) Obat penyembuh racun 2
Di kamar besar itu, tepatnya dibawah cahaya lampu remang-remang yang hanya menyisakan sedikit cahaya kecil berwarna putih agak kekuning-kuningan, David masih berada di atas tubuh mungil milik Laila.
Ia menanggalkan seluruh pakaiannya tanpa menyisakan satupun, hingga memperlihatkan otot perutnya yang berbentuk kotak-kotak bak roti sobek dengan isian coklat meleleh.
Ia lalu melepas ikat pinggang dan menurunkan resleting celana. Nafsu liarnya sudah menggelar. Tak tertahankan. Seolah ia ingin cepat-cepat menyantap Laila.
Laila yang semula melihat tindakan tersebut dengan wajah kebingungan, tiba-tiba terhentak. Ia langsung tahu apa yang akan dilakukan David selanjutnya.
"Tunggu," Laila menahan tangan David yang hampir menurunkan celananya. "anda mau ngapain?"
Sejenak, David terdiam. Ia kemudian menatap wanita itu dalam-dalam, menelusuri setiap bagian tubuhnya yang telah dia berikan tanda kepemilikan disana.
David mengembangkan seringainya. Katanya, "menurutmu apa lagi?"
Dengan suara serak ia meneruskan, "tentu saja melanjutkan proses pengobatan ini, Laila."
Srettt.
Tanpa sepatah kata dan basa-basi, David menyelipkan tangannya ke bagian sensual Laila, yang terselip diantara kedua paha.
"Tunggu..."
David tidak menghiraukan ketika Laila hendak menghalau pergerakannya. Malahan, ia buru-buru melepas kain yang membalut benda kenyal berbentuk hati itu, lalu secepat kilat mengangkat kedua kaki Laila dan kemudian ia letakkan di atas kedua pundak kekarnya.
David mengeluarkan miliknya. Sebuah Anaconda berukuran XXL yang bila diperkirakan, panjangnya bisa mencapai dua puluh lima centimeter. Tidak hanya itu, perawakannya juga kokoh dan berurat. Dia terlihat sangat keras juga mengembung karena sudah menegang.
Bola mata Laila langsung membulat lebar. "Be—besar sekali..." lenguhnya dengan pipi memerah dan mulut menganga.
"Laila..." David mendekat lalu berbisik lembut ke Laila. Deru nafasnya hangat, yang entah kenapa membuat Laila berdebar.
"Aku tahu ini agak mendadak. Tetapi mau bagaimana lagi, aku pun sebenarnya tidak ingin mati. Karena jika itu terjadi, aku tak dapat membayangkan apa yang nantinya akan kau alami," ucap David.
"Jadi... Maukah kau membantuku untuk menghilangkan efek racunnya?" pertanyaan itu bagaikan sengatan listrik yang langsung menggetarkan hati Laila.
"Dev, kita kan cuma..." Laila sudah mantap bakal menolak keinginan David yang demikian. Ini terlalu berlebihan. Sebab mereka bukan pasangan sesungguhnya. Hubungan keduanya hanya terikat di atas kontrak, dalam jangka waktu satu tahun saja.
Tetapi, saat pria itu memperlihatkan ekspresinya yang tak berdaya, Laila seketika mati kata. Ia takut sekaligus bingung. Selama beberapa waktu, ia termenung dalam pikirannya.
Sehingga tiada terasa, air mata jatuh mengalir di ujung pelupuknya. Ia sebenarnya tidak mau. Namun, apa boleh buat? Laila pun menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan kasar, seolah telah berpasrah.
Sambil mengepalkan tangan, Laila berkata, "tolong pelan-pelan saja." Kemudian, ia memalingkan pandangannya dari tatapan David.
Pria yang sudah dikendalikan oleh hasrat itu, tersengir samar. Ia puas terhadap keputusan Laila. Dan sebelum mencoblos pertahanannya, terlebih dahulu David menjulangkan tinggi-tinggi kaki Laila, lalu memainkan lidahnya ke sawah sepetak yang tampak berlendir tersebut.
"Ahhh... Dev..." Tanpa sadar, Laila mengalunkan suara merdunya yang bagaikan tenaga pembangkit gairah. Tangannya reflek meremas rambut di pucuk kepala David, yang tengah menyedot sesuatu.
David menyukai reaksi itu. Bahkan membuatnya menggila gara-gara mendengarkan raungan tersebut.
Suara decitan ranjang menggema. Terutama dikala David sukses menerobos benteng pertahan Laila yang tak tahu kenapa terasa sempit, goncangan itu semakin dahsyat seperti gempa.
"Ukkhhh..." David melenguh dengan kening berkerut, ketika ia berusaha masuk.
"Kenapa susah sekali masuknya..." ia sampai membatin kesal, karena Anaconda size XXL-nya susah didorong ke dalam.
"Dev... Sakit..." Laila berkeluh. Badannya terangkat sekilas. Rasa sakit itu membuatnya tersentak dan air matanya terjatuh.
"Punyamu terlalu sempit, Laila... Aku benar-benar kesusahan. Ukhhh..." raung David tengah berusaha.
"Milikku yang sempit... Atau barangmu yang kegedean, tuan David Mendoza?" batin Laila, dengan pipi merona.
Sebenarnya, ia malu mengakuinya. Sebab dibanding milik Dio, empunya David lebih besar dan terlihat memuaskan. Entah hasutan setan atau apa, Laila ingin barang itu cepat-cepat masuk ke bagian intinya.
Jleppp.
"Ahhhh!" Laila terlonjak kaget. Anaconda David, berhasil menembusnya.
Plok... Plok... Plok...
Pelan-pelan tapi pasti, David memaju-mundurkan alatnya.
"Ahhhh... Dev... Hmm..." Laila mencengkram erat seprei, saat David memompanya dengan Anaconda jumbo itu. Matanya terbuka lalu tertutup silih berganti, seakan mengikuti tempo permainan David.
Tubuhnya bergoyang. Sama halnya dengan ranjang yang ikut terguncang.
"Uhhh..." Begitupun David. Ia sangat menikmati atraksinya.
"Milikmu sangat nikmat, Laila..."
Erangan penuh nikmat menggema dalam kamar itu. Gesekan antara tubuh mereka, membuat malam yang seharusnya dingin, terasa gerah hingga mencuatkan keringat.
David mulai mempercepat gerakannya. Tubuh Laila terus bergoyang, isakannya menyebar ke seluruh ruangan. Miliknya sudah sangat becek. Ia merasakan banyak cairan yang keluar dari dalam sana, karena perlakukan David.
Pria itu sangat lihai. Bahkan ketika Anacondanya bergerak, bibir dan tangannya juga tidak mau diam. Bergerak kesana-kemari mencari kenyamanan.
Tangan meraba-raba, sementara bibirnya mengecup ke segala arah lalu berhenti di gunung kembar yang besar itu. Kemudian, ia menyeruputnya. Seperti bayi yang kehausan.
Plak!
"Dev! Jangan digigit..." Namun Laila sedikit kesal ketika David mengigit ujung gunung yang berwarna coklat itu. Entah karena gemas atau memang nikmat. Ia terlihat seperti anak nakal. Laila mendesis kesakitan.
Teguran itu tidak memuat David runtuh. Ia tetap lanjut. Kini, tangannya malah meremas yang satunya lagi. Sementara sebelah tangannya yang lain, mengunci pergelangan tangan Laila ke atas.
Laila sudah tidak dapat bergerak. Ia yang kelihatan compang-camping, mulai bertanya-tanya dalam hati.
"Benar, ini adalah obatnya? Mengapa aku merasa... Dia sangat menikmatinya? Dan aku pun... Seolah menerimanya." batinnya bergumul bingung.
Laila memejamkan kedua mata. Ia malah tenggelam dalam pikirannya, meski pria itu masih beraksi tanpa henti di atasnya.
Laila mencoba mencari-tahu isi hatinya.
Setahunya, orang yang paling ia cintai adalah Dio Hardi. Pria yang menjadi alasannya bekerja siang dan malam, demi biaya pengobatan. Awal pernikahan mereka, tidaklah mulus. sebab Dio tiba-tiba divonis menderita kanker.
Jika kebanyakan wanita memilih untuk meninggalkan pria penyakitan, maka Laila mengambil langkah sebaliknya. Itulah yang membuatnya menjalankan hubungan kontrak dengan David Mendoza.
Tetapi, dengan dirinya melakukan hubungan badan begini bersama David, Laila secara tidak langsung sedang menjual dirinya demi menebus hutang lima ratus juta. Surat kontrak pernikahan, cuman dalih. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa dia menggunakan dirinya sebagai jaminan, atau paling jelas yaitu barang pembelian.
David seolah membeli dirinya dengan harga lima ratus juta. Jadi apapun yang dia lakukan, terserah. Toh dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan Laila. Begitulah kira-kira telaah yang terbesit dalam pikiran Laila.
Laila seharusnya bersedih akan kenyataan itu. Namun mengapa, ia merasa biasa saja?
Kalau diperhatikan, dari hari ke hari ia semakin nyaman dan aman berada disisi David tanpa mengkhawatirkan apapun lagi. Baik biaya kebutuhan sehari-hari, pengobatan, maupun operasi.
Ia tidak perlu bekerja dan selalu diperlakukan spesial. Dibelikan barang-barang mewah, hingga di treatment layaknya seorang putri kerajaan.
Leo, Mia dan para pelayan lain pun sangat menghargainya.
David terkadang menjengkelkan. Tetapi dibalik wajah sangar serta sifat ketusnya itu, ia hangat dan penuh kepedulian.
Mencerna semua itu, Laila menghela nafas. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya dengan batin yang berkata, "sungguh perasaan yang aneh."
"Apa yang kau tertawakan?" tanya David menghentikan aktivitasnya. Ia menaikkan alisnya.
Laila melebarkan senyumannya, hampir seperti orang yang tengah tertawa. Ia menggelengkan kepala dan menyampaikan, "tidak ada apa-apa."
"Tapi kau tersenyum aneh," kening David berkerut. "Pasti ada sesuatu."
"Tidak tuh," bantah Laila yang kemudian membuat David jengkel.
"Kalau begitu..." David menyeringai.
"Rasakan ini..."
Jleppp... Plok... Plokk...
"Ahhhh... David, pelan-pelan..."