Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Ku Ambil Kembali
“Assalamualaikum.”
Nadira menoleh ke arah pintu. Kursi didorong pelan, ia melangkah menuju pintu, dan akhirnya daun pintu dibuka.
“Waalaikumsalam,” sahut Nadira.
“Oh, nduk Nadira di sini?” Mata perempuan itu berkeliling, menilai rumah baru yang masih berbau cat.
“Iya, Bu. Hari ini pindah disini, rumah yang lebih layak.”
“Oalah. Terus rumah lawas itu gimana?”
“Mau dibongkar. Rencananya dijadikan usaha sembako.”
Alis Bu Lurah terangkat. “Kirain kamu ndak peduli sama orang tuamu. Warga sini sampai menyumpahi kamu. Karena si Ratna sama ibunya bilang, kamu ndak pernah kirim uang.”
Rahang Nadira mengeras sesaat. “Astagfirullah, itu fitnah. Saya selalu kirim uang, Bu. Ke ibu sama bapak. Bahkan lebih buat renovasi.” Pandangannya menurun sejenak. “Pas saya pulang, rumahnya tetap begitu. Yang berubah malah rumah bulek saya.”
“Oh pantes.” Bu Lurah berdecak. “Mereka tiap hari makan enak terus, sama ngadain arisan.”
Nadira menarik napas pelan. Dadanya naik turun, entah sesuai apa kedua orangtuanya. Tatapannya terangkat. “Ada perlu apa, Bu Lurah?”
“Oh iya. Besok anak saya, Anggun, mau nikah. Bantu-bantu ya.”
“Anggun?” Nadira tersenyum kecil. “Yang dulu sering main di rawa?”
“Gak terasa, kan?”
“Iya Bu, dulu saya sama Anggun sering tangkap ikan disana,” ucap Nadira sambil terkekeh.
Bu Lurah mengangguk puas. “Ya sudah. Jangan lupa besok. Assalamualaikum.”
“Iya, Bu. Waalaikumsalam.”
Pintu tertutup. Nadira baru berbalik ketika suara dari dalam rumah menyusul.
“Siapa, Nduk?”
“Bu Lurah, Bu. Besok minta bantu-bantu, Anggun mau nikah.”
“Besok ibu ikut.”
Nadira menahan langkah ibunya. “Ibu istirahat saja. Badan ibu belum pulih.”
Tangannya menuntun ibunya kembali ke kamar.
...
Esok harinya, Nadira tiba di rumah Bu Lurah. Halaman sudah ramai. Ibu-ibu berlalu-lalang, sebagian sibuk memasak, sebagian saling bercakap.
“Itu Nadira,” bisik seseorang.
“Nduk, kamu sama orang tuamu pindah ke rumah dekat sawah itu, ya?” tanya seorang ibu.
Nadira mengalihkan pandangan, lalu mengangguk kecil. “Iya, Bu,” jawabnya singkat.
“Wah, rumah itu mahal sekali.”
Bibir Nadira melengkung tipis. “Mau gimana lagi,” ucapnya tenang.
Tatapannya bergeser, menatap lurus ke arah satu orang.
“Gara-gara uang saya sempat salah masuk kantong, mau diambil kembali pasti gak akan balik. Jadi sekalian beli rumah dari pas kembali salah masuk kantong.”
Nadira menyunggingkan senyum tipis.
“Iya, kan, Bulek Ina?”
Bulek Ina memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras.
Nadira menarik napas pelan. “Kasihan sekali orang tua saya. Semoga saja uang yang salah masuk kantong itu benar-benar berkah.”
“Apa maksudmu?” suara Ratna meninggi. Bahu Nadira didorong kasar. “Kamu mau rusak nama baik aku sama ibuku?”
Tubuh Nadira berbalik. Matanya melebar, satu tangannya menutup mulut seolah terkejut. “Aku gak nyebut nama siapa pun, berarti kamu pelakunya.”
Wajah Ratna memerah. “Ayo, Bu. Kita pergi,” ujar Ratna cepat, sambil menarik tangan ibunya.
Langkah mereka menjauh, meninggalkan bisik-bisik.
Nadira terdiam. Pandangannya mengikuti punggung ibu dan anak itu hingga lenyap di balik keramaian.
Apa aku akan diam saja?
Bayangan ibu dan bapaknya yang hidup serba kekurangan menekan dadanya. Jemarinya mengepal tanpa sadar.
Tiba-tiba pelipisnya berdenyut keras. Pandangannya bergetar, warna-warna di sekelilingnya melebur. Tubuhnya oleng.
“Nduk!” seseorang berseru panik.
Beberapa tangan menahan lengannya. Nadira mencoba menggeleng, tapi gelap lebih dulu datang. Suara riuh perlahan menjauh, lalu lenyap.
...
Beberapa saat kemudian, kelopak mata Nadira bergerak. Pandangannya buram sebelum perlahan menangkap cahaya putih di atasnya. Bau obat menusuk hidung.
“Ini… di mana?” suaranya serak.
“Nduk, akhirnya kamu sadar,” ujar Bu Rohiyah lega.
Nadira menoleh. “Bu… ini di mana?” tanyanya pelan.
“Di klinik. Kamu pingsan tadi.”
Tangan ibunya bergerak, mengusap perut Nadira perlahan. Kening Nadira mengernyit, jantungnya berdetak lebih cepat. Tatapannya naik, penuh tanya.
“Bu…?” Nadira menggantungkan suaranya.
“Jaga baik-baik,” ucap Bu Rohiyah lirih, senyum tipis terbit di wajahnya. “Ini titipan dari Yang Maha Kuasa.”
“A-apa?” Nadira tercekat.
Bu Rohiyah mengangguk kecil.
Pandangan Nadira turun. Tangannya gemetar saat menyentuh perutnya sendiri. Usapannya ragu, lalu melembut, seolah takut menyakiti sesuatu yang rapuh.
“Berapa minggu?” tanyanya nyaris berbisik.
“Kata Bu bidan, hampir dua bulan.”
Dua bulan…
Sudut bibir Nadira terangkat. Senyum itu tak ingin ia lepaskan. Dadanya terasa hangat, matanya berkilat.
Akhirnya kamu datang, Nak.
“Bu, tasku di mana?” tanyanya kemudian.
“Ini,” jawab Bu Rohiyah sambil menyerahkan tas.
Nadira merogoh ke dalamnya, mengeluarkan ponsel. Jemarinya berhenti pada satu nama, lalu menekan layar.
Nada sambung terdengar. Lama. Terputus.
Ia mencoba lagi. Dan lagi.
Hanya suara operator yang menjawab.
“Nggak diangkat…” gumam Nadira, menatap layar ponsel. “Apa Mas Ardian lagi sibuk, ya?”
Ia menghela napas pelan. Tangannya kembali bertumpu di perutnya, jemarinya menutup rapat.
“Aku bakal kasih Mas Ardian kejutan,” ucapnya pelan, lebih seperti janji pada dirinya sendiri.
...
Sore merambat pelan saat Nadira kembali ke rumah. Begitu pintu dibuka, aroma masakan hangat menyambut. Nadira berjalan menuju kearah dapur.
Disana, bapaknya tampak sibuk mengaduk panci kecil. Punggung itu sedikit membungkuk, gerakannya pelan namun telaten.
“Pak,” panggil Nadira lirih.
Pak Salim menoleh. Senyum langsung terbit di wajahnya. “Sudah pulang, Nduk?” ucapnya hangat. “Bapak tadi mau jenguk kamu, sekalian bawain bubur ayam. Eh, kamu sudah di rumah.”
Nadira membalas dengan senyum tipis. Ia melangkah mendekat lalu duduk di salah satu kursi. Pandangannya tertahan pada tubuh ayahnya. Kurus. Jalannya ringkih. Namun senyum itu tetap sama, tulus seperti dulu.
“Pak,” ucap Nadira pelan, “jangan kerja serabutan lagi, ya?”
Tangan Pak Salim berhenti mengaduk. Ia menoleh, menatap Nadira lembut. “Kalau bapak nggak kerja, kami mau makan apa?” katanya tenang. “Kami nggak bisa terus-terusan ngandelin uangmu. Apalagi kamu lagi hamil, banyak yang perlu disiapkan. Lebih baik kamu tabung saja buat anakmu.”
Dada Nadira terasa perih. Kepalanya menunduk, jemarinya mengepal di pangkuan. Di saat seperti ini pun, ayahnya masih memilih bertahan tanpa mengeluh.
“Aku masih punya banyak tabungan,” jawabnya pelan.
Pak Salim tak menanggapi. Ia justru mengambil mangkuk dan menyodorkannya. “Ini, makan dulu.”
Nadira mengangguk. Ia menerima mangkuk itu. Asap tipis mengepul, hangatnya langsung menyentuh wajah. Satu suapan masuk ke mulutnya.
Ia terdiam.
“Kenapa, Nduk?” tanya Pak Salim cemas. “Nggak enak, ya?”
Nadira mengusap sudut matanya. Suaranya bergetar saat menjawab, “Enak, Pak. Sangat enak.” Ia tersenyum kecil. “Ini bubur ayam paling enak di seluruh dunia.”
Pak Salim terkekeh ringan. “Bisa saja kamu.”
“Aku mau masukin bubur ini ke menu rumah makanku,” lanjut Nadira. “Boleh, kan, Pak? Nanti resepnya bapak tulis.”
“Boleh,” jawab Pak Salim tanpa ragu.
Nadira ikut terkekeh kecil.
Beberapa detik hening, lalu Pak Salim kembali membuka suara. “Oh iya, gimana keadaan mertuamu, Nduk?”
Nadira terdiam. Pandangannya beralih ke mangkuk di tangannya. “Baik, Pak,” jawabnya akhirnya. “Ayah Marlan baik, peduli. Mirip bapak… baik tapi tegas.”
“Ibu mertuamu?” tanya Pak Salim pelan.
Nadira terdiam lagi. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Banyak kata berdesakan, namun tak satu pun keluar.
“Nduk…” panggil Pak Salim lembut.
“Kayak gitulah, Pak,” ucap Nadira akhirnya. “Baik-baik saja.” Ia mengangkat wajah. “Pak, kalau aku balik ke kota nanti, bapak sama ibu kelola saja warung sembako. Daripada kerja panas-panasan.”
Pak Salim tersenyum. “Iya, Nduk. Bapak mau-mau saja. Yang penting gak ngandelin kamu.”
Nadira menunduk kembali. Tangannya mengusap perutnya perlahan.
...
Malam merayap pelan. Angin berdesir di sela-sela jendela, membawa hawa dingin sebelum hujan turun deras. Nadira berbaring, menatap langit-langit rumah. Matanya menyapu tiap sudut, memastikan tak ada tetes yang merembes turun.
Setelah yakin, tangannya meraih ponsel di samping bantal. Satu nama tertera di layar. Jarinya menekan tanpa ragu.
Beberapa detik kemudian, sambungan terhubung.
“Mbak Luna, aku butuh bantuanmu.”
“Bantuan apa?” tanya Luna di seberang sana.
“Seorang sudah melakukan penipuan, aku kirim bukti transfer, percakapan. Saya mau semua yang sudah di ambil harus kembali pada pemilik aslinya.”
Hening sejenak sebelum Luna menjawab. “Kalau begitu, buktinya masih kurang kuat. Aku perlu bukti pembayaran pembelian. Apa pun yang bisa ditelusuri.”
Nadira menarik napas pelan. “Beri aku satu hari. Aku kirim semuanya.”
“Baik, aku tunggu. Setelah kamu selesai mencarinya, kita bertemu saja.”
Sambungan terputus.
Nadira menggenggam ponselnya erat. Suara hujan di luar kian deras, seirama dengan tekad yang menguat di dadanya.
“Ini salah satu jalan untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik Ibu sama Bapak.”