Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan
Kanaya saat ini sedang menuju ke parkiran kampus, jam kuliahnya sudah selesai begitu pun dengan Raihan yang kini sedang menunggunya, mereka sudah berjanji untuk pulang bersama dan menghabiskan waktu berdua sebagai ganti rencana mereka kemarin yang batal karna pertengkaran mereka, juga karna Raihan, yang memiliki urusan dengan sang ibu.
"Kita mau kemana?"tanya Kanaya begitu mendudukan dirinya di mobil Raihan.
"Kita makan dulu, kamu tadi gak makan siang kan, abis itu kita nonton, gimana?"tanya Raihan yang di angguki Kanaya.
"Ok, mau makan apa?"tanya Kanaya lagi.
"Aku terserah kamu aja deh, yank."jawab Raihan.
"Aku mau makan,,, ayam bakar, ayam geprek, atau apalah gitu yang ayam khas Indonesia."ucap Kanaya, yang Tiba-tiba menginginkan berbagai macam makanan yang terbuat dari ayam.
"Oke, aku tau kok ayam bakar yang enak daerah sini, kebetulan adek sama mommy aku suka beli."ujar Raihan lagi, yang di angguki Kanaya.
Akhirnya Kanaya dan Raihan menuju sebuah restoran khas sunda dimana kata Raihan menu ayam bakar di sana enak, dan Raihan sudah biasa membelinya.
Dan beberapa saat berlalu, mereka kini sudah duduk di sebuah meja di restoran tersebut, Raihan dan Kanaya juga sudah memesan beberapa makanan dan kini mereka tengah menunggu makanan mereka datang.
"Kamu udah biasa kesini berarti?"tanya Kanaya sambil melihat sekelilingnya, restoran itu cukup nyaman dengan suasana yang di buat khas pedesaan yang hijau.
"Iya, mommy aku sama Raina suka banget makanan disini, jadi kita sering makan disini, kadang juga beli makanannya aja, restoran ini favorit Raina sama mommy soalnya. "Jawab Raihan.
Saat mereka tengah berbincang itulah, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi mereka, membuat Kanaya juga Raihan mengalihkan atensinya pada arah orang yang memanggil.
"Rai."panggil suara seorang wanita yang kini menghampiri meja Raihan dan Kanaya. Dan tak jauh dari mereka, seorang wanita paruh baya dan seorang remaja perempuan tengah berjalan ke arah meja Raihan dan Kanaya.
"Mom."ucap Raihan ketika ia melihat sang ibu dan adik perempuannya.
"Kamu ngapain disini, eh ini siapa?"tanya ibu dari Raihan. Sementara Kanaya langsung tersenyum ke arah wanita itu.
"Mmm, mom ini Kanaya pacar aku." Ucap Raihan tampak sedikit gugup." Nay, ini mommy aku sama Raina adikku!"lanjut Raihan pada Kanaya dan ibunya.
Kanaya tersenyum ramah dan mengulur tangannya pada sang ibu, sedang ibu Raihan menatap lekat Kanaya sebelum menerima uluran tangan gadis itu.
"Kanaya tante."Sapa Kanaya ramah, pada Ibu Raihan. Sayangnya, wajah ibu Raihan berubah datar pada Kanaya, namun dia tetap menjawab sapaan Kanaya.
"Risa ,mommy-nya Raihan. "Ucap Risa, nada suaranya terdengar berbeda Kanaya rasakan.
"Kamu... Kanaya yang waktu itu jadi adik kelas Raihan waktu SMP kan?"tanya Risa yang di angguki Kanaya.
"Iya tante, saya Kanaya yang itu, kebetulan saya kuliah disini sekarang. "Jawab Kanaya sopan.
"Kamu gadis problematik itu ya, saya sering mendengar dari beberapa wali murid sekolah kalian dulu."ucap Risa yang membuat Kanaya terkejut begitu pun Raihan yang kaget dengan ucapan sang ibu.
"Mom, mommy ngomong apa sih?"tegur Raihan dengan raut tak suka dengan perkataan sang ibu. Sementara Kanaya tampak mencoba untuk tersenyum walau terlihat Kanaya sudah sangat tidak nyaman dengan suasana di tempat itu.
"Sebenernya saya tipe orang tua, yang tidak suka anak saya berpacaran apalagi ketika anak saya memang belum siap menjalaninya, dan Raihan pun tau itu, saya cukup heran ketika melihat anak saya melakukan sesuatu yang tidak saya sukai."ucap Risa lagi, yang membuat Raihan langsung mendekati Kanaya dan berdiri lebih dekat dengan gadis itu.
"Mom, udah deh, mommy ngomong apa sih. Gak usah ngomong yang aneh-aneh dong."Tegur Raihan yang sangat terlihat tidak suka dengan ucapan sang ibu.
Namun berbeda dengan Raihan, Kanaya justru terlihat tenang."Oh, begitu ya tante, kalo begitu silahkan tante bicara sama Raihan saja, tentang alasan Raihan kenapa berpacaran sama saya, lagi pula bukan saya yang meminta kok tante, Raihan sendiri yang meminta lebih dulu kepada saya untuk menjadi pacarnya."Ucap Kanaya, yang membuat Raihan semakin gelisah.
"Rai, maaf kayaknya aku gak jadi makan deh, aku lupa papah ku baru datang dari bali sore ini."ucap Kanaya tiba-tiba pada Raihan.
"Maaf tante, kalo begitu saya permisi dulu ,takut di tunggu papah saya,"lanjut Kanaya lagi, Setelah itu ia beranjak dan pergi meninggalkan Raihan dan sang ibu serta adiknya.
Tepat saat Kanaya pergi, makanan yang di pesan Kanaya dan Raihan tiba, dan langsung di di tata oleh pelayanan di atas meja Raihan. Raihan menghela napas dalam menyadari apa yang baru saja terjadi padanya dan Kanaya.
"Mom, mommy kenapa sih kayak gitu sama Kanaya, maksudnya mommy apa sih bilang kaya gitu ke Kanaya? Jangan bikin aku gak enak dong, mom."Ucap Raihan sambil menyugar rambutnya kebelakang.
"Tau tu bang,mommy mulutnya pedes banget kaya sambel aja, omongannya ga enak banget di dengar. Mommy kok gitu banget sih, kasian tau, pacar abang."ucap Raina yang ikut berkomentar pada masalah kakaknya dan ibunya.
"Kalo aku jadi pacar abang aku bakal marah banget bang sama ucapan mommy, dan mending putus terus nyari cowok lain, dari pada makan ati nantinya. Soalnya keliatan banget ga di restuinnya."ucap Raina lagi membuat Raihan semakin gelisah.
"Udah ah, apasih kamu, udah Raihan, Raina sekarang makan, tuh makan, makanan pacar kamu yang problematik itu dari pada mubazir. Dan gak usah nyeramahin mommy, mommy tau apa yang mommy lakuin!"ucap Risa tak mempedulikan kegelisahan Raihan dan ucapan putrinya Raina.
Akhirnya Raihan yang tak pernah tidak menuruti ucapan sang ibu pun memilih untuk duduk kembali dikursinya, walaupun kegelisahan tergambar jelas di wajah pemuda tampan itu.
Sementara itu, Kanaya terus berjalan tak tentu arah setelah meninggalkan restoran tempatnya tadi bersama Raihan, Kanaya menangis terisak, kata-kata ibunya Raihan sungguh membekas di hatinya, Kanaya akui kata-kata ibunya Raihan yang mengatakan dirinya gadis problematik memanglah benar adanya, namun haruskah di katakan selugas itu padanya.
Ibu Raihan seolah benar-benar menunjukan rasa tak sukanya pada Raihan. Kehidupan Kanaya dulu memang sulit, sebagai anak yang tumbuh tanpa kasih sayang sang ayah, dan kehilangan sang ibu untuk selamanya, membuat mental Kanaya dulu tak stabil dan sangar rapuh. Hingga mungkin banyak omongan buruk tentang Kanaya yang di dengar oleh anak seumurannya, hingga orang tua murid di sekolahnya dulu.
Kanaya terus berjalan, bahkan ketika tiba-tiba rintik hujan turun, Kanaya seolah tak menyadari, Kanaya terus berjalan sambil menangis tanpa suara, sampai tiba tiba suara klakson mobil terdengar belakangnya.
"Nay...."
-Bersambung