Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 Restu di Antara Sajadah dan Martabak
Di ruang OSIS suasananya sedikit sunyi, senyap yang terdengar hanya suara jam dinding.Arga sang ketua OSIS menarik napas panjang dan menatap Ramdan dan Tari bergantian.
" Ri mau tanya dong apakah tim acara udah dapat orang untuk menjadi MC? Terus kira-kira temanya mengusung apa ya? kira-kira konsepnya seperti apa? Apakah ada opening atau langsung ke penampilan?" ucap Arga
"Astaghfirullah Kak Arga itu pertanyaan apa rel kereta sih kok panjang banget. Sebenernya aku untuk MC akan mengandalkan teman sekelas kak Arga siapa lagi couple legendaris SMA Kusuma Bangsa,Kak Zahra dan kak Arka. Nah untuk tema pensi kali ini adalah HARMONI CINTA Dengan Cinta Kita Kuat, Cinta Hakiki Menjaga Dalam Do'a. Adapun konsep acaranya nanti adalah sebelum penampilan ada pembukaan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan saritilawahnya yang mau bacainnya adalah Ramdan dan Raihan kemudian kita bertiga bawain shalawat Jibril untuk Ramdan selain vocal dia iringi dengan gitar, apakah kalian berdua setuju?"tanya Tari
" Itu sih ide yang sangat brilian. Ri, taglinenya bagus banget cocok buat pasangan yang cinta dalam do'a " kata Ramdan sambil senyum
" Siapa ya Ndan orangnya?"tanya Arga
" Siapa aja boleh" jawab Ramdan datar
" Aku juga sok pasti setuju banget sama ide kamu, karena pensi kali ini berbeda dengan pensi tahun kemarin" kata Arga
"Makasih karena kalian berdua sudah support aku,oh iya kak Arga boleh ga aku minta nomor wa kak Zahra dan kak Arka?atau mau sama kakak aja di sampaikan ke mereka berdua?"tanya Tari pada Arga
" Gini aja Ri, biar sama aku aja di sampaikan sama mereka berdua kebetulan nanti malam aku kerja kelompok jadi bisa aku sampaikan kepada mereka. Oh iya gimana kalau misalnya kita bikin grup wa buat seluruh panitia?" Arga memberikan ide
" Bagus tuh kak Arga, ya udah nanti malam aku bikinin grupnya " kata Tari penuh semangat
" Makasih banyak ya Ri, tapi kamu jangan paksain soalnya tugas sekertaris kamu bisa berbagi sama Raihan, kamu fokus dulu ke acara " kata Ramdan
"siap Waketos ganteng, oh iya aku ada ide nih gimana kalau kita mendatangkan guest Star tapi ini hanya rahasia kita bertiga jadi jangan sampai bocor ke anak-anak maupun pada para guru. Guest Star nya seorang penyanyi muda bertalenta, mukanya imut seperti oppa Korea, suaranya merdu apalagi petikan gitarnya membuat para kaum hawa tergila-gila,dan yang pastinya fansnya ada di mana mana" kata Tari
"Apa Ri?kamu serius, untuk mengundang artis papan atas itu perlu anggaran yang sangat besar dan juga perlu protokol keamanan yang sangat ketat agar tidak terjadi kericuhan " kata Ramdan
" Tenang aja, Ndan. Artis tersebut nggak minta honor normal kok, tapi disesuaikan sama anggaran OSIS kita. Soal protokol keamanan? Lo nggak usah khawatir, para fansnya udah gue kondisikan buat nggak datang ke lokasi," jelas Tari dengan nada tenang, namun penuh penekanan.
Ri kamu serius udah mempersiapkan semuanya itu? memangnya siapa artis papan atas itu? kok kamu punya pengaruh besar sampai fansnya aja nurut sama kamu. Ingat Ri, jangan sampai tugas sekertaris kamu abaikan,demi mengurusi fansnya artis itu" kata Ramdan khawatir
" Santai aja kali Ndan,aku yakin Tari bisa propesional kok" kata Arga
"Ya udah deh Ri,aku dukung ide kamu semoga saja kamu pas pensi berlangsung tidak melupakan tugasmu karena keasyikan mendengarkan suara merdunya " kata Ramdan dengan tatapan yang tajam
"siap Ndan" kata Tari sambil tersenyum manis dan sedikit menatapnya
"Oke berarti fix ya untuk masalah acara pensi udah deal, tinggal kita membahas masalah yang kedua yaitu acara do'a bersama menjelang acara lomba dan pensi .Doa bersama akan di laksanakan pada hari Jum'at pagi. Nah untuk MC nya itu adalah kamu Ri,di dampingi sama teman sekelas aku si Anisa,apa kamu siap?"tanya Arga
" Hah bentar Kak Arga,emang ada lomba apa sih? kalau untuk MC ya udah deh aku siap lagian di dampingi sama Kak Anisa jadi aku juga bisa belajar "ucap Tari sambil menghela napasnya
"Oke makasih ya Ri, dan untuk pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan saritilawahnya adalah seperti biasa duo cowok ganteng andalan OSIS yaitu Ramdan dan Raihan. Terus ada bintang tamu penyanyi shalawat katanya tapi pak kepala sekolah gak kasih tahu namanya katanya suruh kamu aja yang tanyain langsung ke kepala sekolah " kata Arga
" Oh gitu kak. Ya udah deh nanti aku hari Senin tanyain, Kak Arga tadi kakak bilang katanya ada lomba, emang lomba apa? Terus gimana dengan pensi dan persiapannya?" tanya Tari penasaran dan membuat perasaannya tidak karuan
" Lomba matematika tingkat nasional dan tempatnya di Kalimantan, dan jadwal pelaksanaan udah keluar, lombanya hari Sabtu dan yang mewakili adalah Ramdan. Jadi otomatis Ramdan akan absen di hari Sabtu kemungkinan baru gabung Minggu sorenya" kata Arga dengan penuh pertimbangan
"Hah beneran itu Kak? Kakak lagi bercanda kan?"tanya Tari sambil menatap Arga dan Ramdan bergantian
"Serius Ri, apa yang di katakan Arga emang bener adanya jadwal juga tadi pas habis sholat Dzuhur di kasih tahunya. Sebenernya aku juga berat pergi pas di sini lagi krusialnya.Tapi aku percaya sama tim di sini dan juga ada sekertaris yang bisa menghandle semuanya. Aku percayakan sebagian tugasku kamu ambil alih, tenang kamu di bantu sama anak-anak OSIS lainnya. Ini semua tugas aku yang harus kamu kerjakan ada dalam draft ini" kata Ramdan memberikan draf membuat tatapan mereka bertemu.Mata Tari berkaca-kaca namun Tari menahannya agar airmata tidak tumpah
"Siap Ndan,kamu di sana fokus aja sama lombanya biar tugas di sini aku yang handle dan di bantu juga sama yang lainnya. Pulang nanti jangan lupa bawa medali bukan bawa hati dari sana " kata Tari sambil tersenyum
Arga yang melihat interaksi kedua temannya itu hanya geleng-geleng kepala.
" Dari pada gue harus nyimpen misteri cinta kalian lebih baik kalian go publik biar semua satu sekolah tahu kalau kalian itu couple yang sesungguhnya siap bersanding bukan hanya di podium tapi dipelaminan juga" goda Arga
" Fokus Ga, ya udah karena udah sore yuk kita pulang, Ri aku anterin kamu pulang ya . Aku pastikan kamu pulang aman sampai rumah " kata Ramdan
"Aku bisa naik ojol kok Ndan, aku gak mau merepotkan kamu " kata Tari
"Aku gak merasa di repotin,udah nurut aku tidak suka bantahan pokoknya no debat " kata Ramdan yang langsung di angguki oleh Tari
Matahari sudah hampir tenggelam saat mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Ramdan berjalan di sisi luar, memposisikan dirinya sebagai pembatas antara Tari dan lalu lalang kendaraan—sebuah perhatian kecil yang tak pernah ia ucapkan dengan kata-kata.
Tak ada tangan yang bertautan. Jarak tiga puluh sentimeter selalu terjaga di antara mereka. Namun, setiap kali ujung tas mereka bersentuhan secara tidak sengaja, ada sengatan listrik yang membuat Tari menahan napas.
"Helmnya pake, Tar. Talinya dipasang yang bener," ucap Ramdan datar saat mereka sampai di motornya. Ia tidak membantu memasangkannya,ia hanya menunggu dengan sabar sampai Tari selesai, memastikan gadis itu aman dengan caranya sendiri.
Di sepanjang jalan, Tari hanya bisa melihat punggung tegap Ramdan yang terbalut jaket OSIS. Ia tidak memeluk pinggang cowok itu, melainkan mencengkeram erat behel motor di belakangnya.
"Ndan..." panggil Tari pelan di tengah deru angin.
"Hm?"
"Hati-hati di Kalimantan."
Ramdan terdiam sejenak, matanya menatap Tari dari spion motor. "Lo juga. Hati-hati di sekolah... jangan sampe draf lo hilang lagi."
Tari tersenyum di balik helmnya. Meski tak ada tangan yang menggenggam, ia tahu hatinya baru saja dikunci rapat oleh si Juara Satu ini.
Begitu motor berhenti di depan pagar, Tari segera turun. Suasana mendadak canggung. "Makasih ya, Ndan. Lo langsung balik?"
"Iya, nggak enak udah mau asar, lagian lo kan sendirian di rumah, gue nggak mau ada fitnah," jawab Ramdan sambil bersiap menyalakan mesin motornya.Namun, baru saja jempolnya hendak menekan tombol starter, pintu utama terbuka. Sosok pria paruh baya dengan kaos santai tapi berwibawa keluar dari sana. Tari melotot. "Papa?! Kok udah di Jakarta?loh mobil papa mana?apa papa baru nyampe banget tapi biasanya papa kekantor ambil mobil dulu" ucap Tari
"Oh papa udah dari Dzuhur tadi nyampe, mobil papa lagi di pakai sama temen papa karena temen papa lagi bantuin memperbaiki keuangan perusahaan papa" ucap Pak Bambang
Ramdan yang tadinya sudah siap tancap gas, langsung turun dari motor secepat kilat. Nyawanya seolah baru saja ditarik paksa balik ke bumi. Dengan gerakan refleks anak pramuka teladan, ia menghampiri Pak Bambang dan menyalami tangannya dengan sangat takzim.
"Sore, Om. Saya Ramdan, teman sekolah Tari," ucapnya dengan nada suara yang naik dua oktav karena tegang.
Pak Bambang menatap Ramdan dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu tersenyum tipis tipe senyuman yang bikin nyali cowok manapun menciut. "Oh, ini toh yang namanya Ramdan? yang waktu itu telpon om minta izin buat nemenin Tari di rumah karena Tari demam... "kata Pak Bambang
Tari rasanya ingin menghilang ke dalam selokan saat itu juga.
"Jangan pulang dulu, Ndan. Kebetulan Om baru sampai dari Singapura, ada banyak martabak di dalam. Ayo ngobrol bentar, Om mau tahu gimana perkembangan OSIS... atau perkembangan yang lainnya," ajak Pak Bambang sambil menepuk bahu Ramdan.
Ramdan cuma bisa menelan ludah, menatap motornya dengan nelangsa. Rencana pulang cepat gagal total karena undangan dari Sang Raja.Mereka pun semuanya masuk dan duduk di ruang tamu
Pak Bambang berdiri mematung di ambang pintu, matanya sedikit berkaca-kaca melihat putrinya shalat berjamaah dengan Ramdan. Ia merasa tertampar; selama ini ia sibuk membangun kerajaan bisnis di Singapura, tapi anak muda di depannya ini justru sibuk membangun pondasi akhirat untuk putrinya.
Di saat yang sama, Pak Ahmad masuk membawa map dokumen keuangan cabang Jakarta. Ia tersenyum lebar melihat seorang gadis shalat dengan khusyuk di belakang seorang pemuda yang punggungnya terasa sangat familiar.
"Wah, Bambang... kamu beruntung banget punya calon menantu spek malaikat begini," bisik Pak Ahmad bangga tanpa tahu siapa sosok di balik sarung itu.
Begitu salam terakhir terucap, Ramdan memutar tubuhnya untuk menyalami makmumnya—namun gerakannya terhenti. Matanya membelalak sempurna melihat sosok pria yang sangat ia kenal berdiri di samping Pak Bambang.
"Ayah?!" seru Ramdan, suaranya naik satu oktav.
Pak Ahmad nyaris menjatuhkan dokumen di tangannya. "Ramdan?! Kamu... ngapain di rumah temen Ayah?!"
Ramdan hanya diam tapi memberikan senyuman yang sangat sulit untuk di mengerti.
Pak Bambang tertawa menggelegar sampai memegang perutnya. "Hahaha! Jadi ini alasan kamu telpon saya waktu itu, Ndan? Mau jagain Tari sampai ke urusan shalatnya? Ahmad, Ahmad... anak kamu ini emang bener-bener Juara Satu di segala bidang!"
Ramdan segera merapikan sajadahnya dengan gerakan canggung. Ia merasa sudah tidak kuat lagi berada di bawah tatapan menggoda dari dua orang pria yang kini malah asyik membahas dokumen keuangan di meja makan.
"Om Bambang, Ayah... kalau gitu Ramdan pamit pulang duluan,mau istirahat soalnya besok ada tugas Bahasa Indonesia untuk wawancara" ucap Ramdan sambil menyalami tangan kedua pria itu dengan sangat takzim.
"Iya, Ndan. Hati-hati di jalan. Inget pesen Om tadi, ya?" goda Pak Bambang sambil tertawa kecil.
Pak Ahmad menepuk bahu putranya. "Ayah nyusul nanti, Ndan. Masih ada urusan penting yang mau Ayah bicarakan sama Pak Bambang. Kamu langsung istirahat."
Tari mengantar Ramdan sampai ke pagar. Tak ada kata-kata manis, hanya tatapan singkat sebelum Ramdan menyalakan mesin motornya. Namun, saat motor itu menjauh, Tari sempat melihat ayahnya dan Pak Ahmad masih tertawa di dalam rumah sambil sesekali melirik ke arahnya.
Tari menghela napas panjang. Besok dia dan teman - teman sekelompoknya akan pergi ke Taman Kota untuk mengadakan wawancara dengan wakil ketua OSIS yaitu Ramdan