Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Bayangan di Balik Jendela
BAB 34: Bayangan di Balik Jendela
Malam di Desa Sukamaju pada pertengahan Januari 2026 terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara jangkrik dan gesekan daun bambu yang memecah keheningan di sekitar Dapur Satelit Matahari. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu indikator mesin pengemas yang berkedip merah, Maya duduk di atas bangku kayu dengan sebuah senter di tangannya. Matanya yang biasanya hanya menatap layar ponsel mewah, kini awas memperhatikan setiap sudut pintu dan jendela.
Bagas, sang pengawas produksi, berjaga di ruang depan, namun Maya memilih berjaga di dekat gudang bumbu. Ia merasa memiliki tanggung jawab lebih; ini adalah tempat di mana ia menguras keringatnya selama seminggu terakhir. Ia tidak akan membiarkan siapa pun merusak "hasil karyanya".
Pukul dua dini hari, suara derit halus dari jendela belakang terdengar. Maya menahan napas, mematikan senternya, dan bersembunyi di balik tumpukan kardus kosong. Seorang pria dengan jaket hitam penutup kepala merayap masuk. Di tangannya, ia memegang sebuah botol cairan kimia berbau menyengat—tampaknya kali ini tujuannya bukan sekadar mengasinkan bumbu, tapi merusak seluruh stok bahan baku.
Saat pria itu hendak membuka tutup botolnya, Maya melompat keluar dari persembunyiannya. "Berhenti!" teriaknya dengan suara lantang yang membelah kesunyian malam.
Pria itu terkejut, mencoba melarikan diri, namun Maya dengan nekat menarik kaki pria itu hingga terjatuh. Bagas yang mendengar teriakan Maya segera berlari masuk dan membantu melumpuhkan penyusup tersebut. Setelah lampu dinyalakan, betapa terkejutnya mereka saat melihat wajah di balik penutup kepala itu.
"Riko?" gumam Bagas tidak percaya.
Itu adalah Riko, mantan agen pertama Nayla yang dulu diputus kontraknya karena berbuat curang. Rupanya, dendam kesumat selama bertahun-tahun telah membawanya kembali, kali ini sebagai kaki tangan dari seorang distributor besar yang merasa pasarnya terancam oleh sistem pemberdayaan desa milik Nayla.
Pagi harinya, Nayla tiba di lokasi dengan pengawalan kepolisian setempat. Ia melihat Riko yang sudah terborgol, tertunduk lesu di pojok ruangan. Nayla tidak berteriak, tidak juga memaki. Ia hanya menatap Riko dengan tatapan yang sangat dingin sekaligus penuh rasa iba.
"Kamu masih saja di tempat yang sama, Riko," ujar Nayla tenang. "Dulu kamu mencurangi timbangan, sekarang kamu mencoba meracuni makanan. Kamu tidak pernah belajar bahwa matahari tidak bisa padam hanya karena kamu siram dengan air keruh."
Riko mendongak, matanya penuh kebencian. "Kamu terlalu sombong, Nayla! Kamu ambil semua pasar, kamu bikin agen-agen kecil seperti kami mati karena sistem ritel dan satelitmu ini!"
"Sistem ini dibuat untuk menolong orang, bukan untuk mematikan orang jujur," jawab Nayla tegas. "Yang mematikanmu bukan saya, tapi ketidakjujuranmu sendiri."
Nayla kemudian beralih ke arah Maya. Adiknya itu tampak pucat, rambutnya berantakan, dan ada sedikit luka lecet di lengannya akibat pergulatan semalam. Namun, untuk pertama kalinya, Nayla melihat sinar yang berbeda di mata Maya. Bukan sinar kemanjaan, tapi sinar keberanian.
Nayla mendekati adiknya, lalu memeluknya erat. "Terima kasih, Maya. Kamu sudah menyelamatkan ribuan piring makan orang lain malam ini."
Maya terisak di bahu kakaknya. "Mbak... aku baru sadar. Kerja keras itu capek banget, tapi rasanya sakit kalau dihancurkan orang lain gitu aja. Maafin aku ya, Mbak, selama ini aku cuma tahu menghabiskan uang Mbak."
Momen rekonsiliasi kakak beradik itu menjadi saksi bisu di tahun ini bahwa karakter seseorang bisa berubah jika ditempa dengan benar. Nayla memutuskan untuk tetap memproses Riko secara hukum, namun ia juga mengungkap siapa "bos besar" di balik Riko melalui pengakuan pria itu. Ternyata, dalangnya adalah pemilik perusahaan camilan pesaing yang selama ini selalu mencoba menjatuhkan Nayla di tingkat nasional.
Nayla tidak melakukan serangan balik secara kasar. Ia justru mengunggah video kejadian tersebut, termasuk testimoni Maya yang kini viral sebagai "Adik CEO yang Berani". Nayla menunjukkan bahwa integritas Basreng Matahari dijaga bahkan oleh keluarganya sendiri dengan nyawa sebagai taruhannya.
Efeknya luar biasa. Dukungan publik melonjak tajam. Di tahun ini, di mana kepercayaan konsumen sering kali tipis, transparansi Nayla kembali menjadi pemenang. Pesanan di Dapur Satelit Desa justru naik tiga kali lipat setelah kejadian itu.
"Terkadang, musuh dari masa lalu kembali hanya untuk menunjukkan seberapa jauh kita telah melangkah. Sabotase Riko bukan hanya menguji keamanan dapur kami, tapi menguji ketangguhan akar keluarga kami. Maya telah membuktikan bahwa darah Matahari mengalir kuat di nadinya. Kami tidak akan mundur selangkah pun. Jika mereka ingin bermain di kegelapan, biarlah. Kami akan tetap menjadi matahari yang terbit setiap pagi, membongkar semua niat jahat dengan cahaya kejujuran yang tidak bisa dibeli dengan uang."