Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 Ketemu Di mana?
Semalam menginap di Rumah Sakit, tapi hari ini sangat melegakan, keadaan Rihana dinyatakan sehat dan boleh pulang. Tentu hal ini suatu yang dinantikan bagi keluarga, bisa keluar dari ruang perawatan Rumah Sakit dalam keadaan sehat.
"Jadi kita tinggal menunggu pemulihan Rayhan?" ucap Rihana pada Zella.
"Iya, kalau adikmu boleh pulang hari ini, kita semua bisa pergi. Tapi kalau keadaan adikmu masih harus dirawat, kita harus bersabar lagi."
"Ya sudah. Ayok kita pindah ke ruangan Rayhan." Rihana sangat lega karena tangannya sudah tak memakai infus lagi.
Suara notifikasi pesan dari handphone Zella, membuat wanita itu langsung meraih benda yang baru saja berdering. Senyum merekah itu seketika menghiasi wajah Zella setelah membaca pesan yang baru saja dikirimkan ibunya.
"Tante senyum-senyum, dapat pesan dari Ayah ya?" goda Rihana.
"Bukan. Ini kabar bahagia dari mama tante." Zella tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah mendapat kabar kebebasan Saman dan Taufik.
"Udah senyumnya?" tanya Rihana.
"Maaf, tante mau balas pesan mama tante dulu. Dia menanyakan kapan tante balik."
"Bisa balas pesannya di ruang perawatan Rayhan? Aku kangen banget sama adik aku tante."
"Bisa-bisa! Maafin tante ya." Zella langsung menyimpan handphonenya.
2 orang itu bergegas menuju kamar di mana Rayhan menjalani perawatan.
"Tante tahu, kenapa aku memilih sekolah yang ada asrama?" ucap Rihana.
"Biar kamu fokus dengan sekolah kamu, dan tak terganggu dengan keadaan rumah kan?"
"itu alasan lain, sebenarnya karena Nenek lebih menyayangi cucu laki-laki. Aku nggak mau cemburu sama adik aku yang sangat disayang Nenek, makanya aku memilih masuk asrama agar hatiku nggak sakit melihat Nenek selalu mengistimewakan Rayhan tapi mengabaikanku."
Zella mengusap lembut sisi kepala Rihana. "Memang banyak orang tua yang mendewakan keturunan laki-laki. Tapi kamu hebat! Demi mengindari kecemburuan kamu pergi tapi kamu tetap memberi perhatian dan kasih sayang pada adikmu." Kini Zella mengerti, mengapa Melvita hanya menunggu Rayhan, dia hanya sekali menjenguk Rihana, itu pun sangat sebentar.
Tak terasa keduanya sampai di ruang perawatan Rayhan. Di sana tak hanya ada Abi dan Melvita. Tapi juga ada sosok Anjani. Zella langsung menyapa wanita yang akan jadi madunya itu dengan pelukan dan cium pipi kanan dan kiri wanita itu.
"Terima kasih Zella. Akhirnya kamu bisa meyakinkan Abi untuk melanjutkan pernikahan ini," ucap Anjani.
"Aku tak tahu harus bilang apa. Karena di masa depan mungkin saja aku adalah sumber rasa sedihmu, karena aku adalah wanita yang akan bersama suamimu dan pasti akan membuatmu cemburu."
Rihana menatap sinis pada Anjani. Aku sangat berharap kamu cemburu pada tante Zella. Agar kamu merasakan bagaimana tidak diperhatikan Ayah, persis yang ibuku rasakan dulu! Batin Rihana.
Perhatian Anjani tertuju pada Rihana. "Rihana sayang, bagaimana keadaan kamu sekarang?"
"Tante Zella. Katanya tadi mau balas pesan dari mama tante. Tante lupa ya?" Rihana sengaja mengalihkan pembicaraan, karena dia malas merespon Anjani.
"Oh iya tante lupa. Makasih udah diingatin." Zella segera mencari handphonenya.
Zella mengalihkan perhatiannya pada Anjani, dan mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Anjani. "Terima kasih, karena kamu sudah menepati janjimu. Kini Ayah dan Kakakku sudah bebas." bisiknya
"Sama-sama." sahut Anjani.
Zella pamit pada semua yang ada di ruangan, karena dia ingin menghubungi ibunya. Keadaan di ruangan kembali terasa tegang setelah Zella meninggalkan ruangan itu.
"Kakak, Kakak kemana aja?" ucap bocah laki-laki yang masih terbaring di ranjang Rumah Sakit.
"Kesayangan Kakak ...." Rihana berlari menghampiri Rayhan. "Maafin Kakak, Kakak kemaren sakit. Tapi sekarang Kakak udah sembuh."
"Aku masih belum puas main sama Kakak. Nanti kita main lagi ya."
"Tentu! Nanti kita main di kolam renang yang ada di rumah Ayah. Mau?" tawar Rihana.
"Emang boleh main di rumah Ayah?"
"Boleh dong, rumah Ayah rumah kalian juga," sahut Abi.
"Oh iya mas, pendaftaran nikah mas sama Zella gimana?" sela Anjani.
"Masih proses. Karena ini pernikahan poligami banyak hal yang di urus. Tak semudah nikah pada umumnya."
"Semoga prosesnya cepat! Aku udah nggak sabar manggil tante Zella dengan panggilan mama." sela Rihana.
"Kalau mau manggil aku mama nggak harus nunggu aku nikah sama Ayahmu. Mau panggil mama sekarang juga boleh," sela Zella.
"Mama apa bunda?" sambar Melvita.
"Ih, aku kan jadi malu." ucap Rihana.
"Mama tiri yang ini nggak jahat Kak?" sela Rayhan.
"Kamu lupa kalau mama itu yang nyelamatin kamu?"
"Aku nggak tau kak. Yang aku tahu saat aku buka mata ada Ayah sama Nenek di ruangan yang berisik dengan suara tetot-tetot itu."
"Tante Zella saat lihat kamu kejang, dia terjun dari lantai 1 ke kolam renang. Sebab dia sangat panik lihat keadaan kamu, jadi turun lewat lift bagi tante itu sangat lama. Makanya dia nyebur aja agar lebih cepat sampai buat nolong kamu," ucap Abi.
"Hayo ucapin apa sama tante itu?" tanya Rihana.
"Makasih tante, sudah berusaha keras menolong aku," ucap Rayhan.
"Sama-sama. Rayhan cepat sembuh ya. Kasian Kak Rihana sedih kalau lihat Rayhan sakit."
"Anjani, bukankah kita ada rapat di kantor?" ucap Melvita pada menantunya yang duduk di kursi roda itu.
"Iya bu. Aku hampir lupa. Makasih diingetin."
"Ayo kita pergi bareng ke kantor. Ibu nebeng mobil kamu saja."
Anjani kesal dengan ajakan mertuanya. Padahal rapat pemegang saham masih tiga jam lagi. Tapi dia terpaksa mengikuti mertuanya itu. Keduanya pamit pada orang-orang yang ada di ruangan, dan langsung meninggalkan ruangan itu.
Melvita tak sabar untuk meninggalkan Rumah Sakit itu. Dia mendorong sendiri kursi roda yang digunakan Anjani. Agar sampai mobil lebih cepat.
"Bu, kursi ini ada pengendalinya. Ibu tak perlu capek-capek dorong," ucap Anjani.
"Aku ingin secepatnya sampai mobil! Aku tak sabar lagi ingin melepas emosiku!" sahut Melvita.
Seperti mobil Abi yang dipermudah untuk pengguna kursi roda. Mobil yang Anjani miliki juga serupa. Agar dirinya tak merepotkan orang lain saat masuk atau keluar dari mobil. Setelah duduk dengan nyaman di bagian belakang, Melvita langsung menaikan sekat pembatas antara supir dan bagian belakang yang dia tempati dengan Anjani.
"Kamu nemu dimana wanita itu? Kamu sadar dia berbahaya buat rencana yang kita jalankan selama ini??" pertanyaan bernada makian tertuju pada Anjani.
"Mana aku tahu kalau Zella sangat mudah mendekati Rihana. Jujur aku juga terkejut!"
"Sekarang dia bukan lagi orang yang mempermudah misi kita! Tapi batu sandungan!"
"Ibu sudah marah-marahnya?" ucap Anjani.
"Marah sampai mataku keluar pun tak akan meredakan suasana hatiku."
"Kalau sudah, ya aku mau minta supir buat jalan."
"Ya sudah. Langsung ke kantor!"