NovelToon NovelToon
THE FORGOTTEN PAST

THE FORGOTTEN PAST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Dark Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?

Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.

Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.

Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.

*
karya orisinal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Makan malam kedua di rumah itu, Karina datang lebih cepat agar tidak terlambat. Namun saat tiba di depan pintu, penjaga disana mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.

“Hari ini Tuan tidak makan di ruangan ini, Nona.”

“Kenapa?” Tanya Karina.

“Tuan memang mempunyai kebiasaan unik, dia akan makan di ruangan yang berbeda setiap harinya.”

Karina ingin mengumpat mendengar itu. Jadi setiap hari dia harus menebak dimana ruang makan itu dan mencarinya hingga ketemu sebelum jam tujuh?

Itu benar-benar melelahkan.

Karina memutar badannya, masuk kembali ke rumah besar sambil memikirkan dimana kira-kira ruang makan malam ini.

Saat hendak masuk melalui pintu dapur, ia menoleh sebentar ke tengah taman. Ia teringat dengan anak kecil yang tadi pagi dilihatnya. Siapa anak itu? Apa dia anak Hugo? Kenapa dia menatap Karina seolah hendak mengatakan sesuatu?

Entah apa yang mendorongnya, perlahan kakinya melangkah ke taman itu. Tidak jadi masuk ke dalam. Ia menyusuri jalan setapak dalam taman dengan langkah lebar sembari memperhatikan sekeliling.

“Apa yang aku pikirkan? Anak itu tidak mungkin masih ada disini, dia pasti sudah masuk ke dalam.” Gumam Karina setelah tiba di tengah taman dan tidak menemukan siapapun. Di barat sana, matahari perlahan mulai tenggelam menyisakan semburat jingga.

'sudah berapa lama kamu tidak menikmati keindahan ini? Apakah sejak mengejar ambisi yang tidak pernah selesai?’

Karina tersentak, mundur selangkah. Itu bukan suara hatinya, tapi ia mendengarnya. Tanpa sadar tangannya mencengkram kuat ujung baju – ia sudah lama tidak menikmati keindahan alam apapun.

Padahal dulu, ia sering menatap ke ufuk barat hanya untuk melihat matahari tenggelam. Ia sering bangun pagi hanya untuk melihat embun yang tersisa di atas daun. Dan ia sering pergi ke pantai, hanya untuk memperhatikan ombak yang berdebur keras.

Perlahan ia memang mulai lupa semua kesukaannya. Banyak hal telah berubah, hidupnya, dan yang paling ia lupakan adalah ia telah lama kehilangan dirinya sendiri demi sebuah ambisi.

“Apa ini? Kenapa aku merasa sedih?” Karina menjatuhkan diri di atas rumput di tengah taman, ia mulai menangis. Ingatan membawanya ke masa lalu, ke saat-saat terindah di desa kecil yang begitu membahagiakan.

“Mama…” Karina memeluk dirinya yang rapuh di bawah siraman cahaya terakhir matahari di hari itu.

“Kenapa nangis?” Satu suara kecil, halus dan lembut menegurnya dari arah belakang.

Karina seketika menoleh, mendapati anak kecil bergaun putih yang tadi pagi ia lihat sedang berdiri menatapnya dengan tatapan bingung.

“Kamu,” Karina berdiri sambil mengusap air matanya. “Kamu siapa?” Tanyanya.

Anak itu hanya diam, dengan langkah kecilnya ia mendekat. Ia mengulurkan tangannya membuat Karina refleks menurunkan kepalanya agar anak itu bisa menyentuh wajahnya. Tangan kecil itu mengusap air mata yang tersisa di sudut matanya.

Setelah melakukan itu, anak itu berbalik lalu berlari kearah ujung taman. Sama seperti pagi tadi.

“Hei, kamu mau kemana?!” Karina berteriak, ikut berlari menyusul anak itu.

Karina tidak sadar bahwa waktunya untuk mencari ruang makan semakin menipis, tapi seakan terhipnotis oleh anak itu, Karina terus berlari hingga akhirnya tiba di ujung taman.

Ada tembok tinggi yang memisahkan pekarangan rumah ini dengan dunia luar, di sepanjang tembok tumbuh pohon-pohon yang sudah dewasa. Namun, Karina tidak menemukan keberadaan anak itu. Dia hilang.

“Apa yang anda lakukan disini, Nona?”

Terdengar suara langkah mendekat, dan berhenti di sampingnya. Karina meliriknya, ternyata itu Ranra.

“Eum… Ranra, apa kamu tahu kemana anak itu pergi?” Tanya Karina spontan.

“Tidak ada anak kecil disini, Nona. Anda pasti sedang berhalusinasi.” Jawab Ranra.

“Nggak, aku tahu apa yang aku lihat. Tadi ada anak kecil berlari kesini, katakan apa ada pintu rahasia disini?” Karina yakin sekali anak itu benar-benar ada.

“Nona Joram, sudah hampir pukul tujuh malam. Apakah anda tidak ingin bergabung ke ruang makan? Tuan tidak suka jika ada yang terlambat.” Kata Ranra mengingatkan.

“Astaga!” Karina melebarkan matanya, ia baru ingat kalau ia harus menemukan ruang makan. “Aku harus pergi kalau begitu,”

Karina kembali berlari dengan panik, tapi kali ini berlari untuk menyelamatkan hidupnya.

“Ruang tanpa nama ketiga dari tangga,”

Suara Ranra tidak keras, tetapi Karina mendengarnya. Ia menoleh tanpa menghentikan langkahnya, apa Ranra baru saja memberitahunya dimana ruang makan berada untuk malam ini?

Seakan tahu isi pikiran Karina, Ranra mengangguk kecil sebagai persetujuan.

Kenapa?

Kenapa Ranra membantunya?

Karina melirik jam tangannya, pukul tujuh kurang sepuluh menit. Sial! Ia benar-benar tidak punya waktu untuk berbalik dan bertanya.

Ia sudah melewati pintu dapur, berlari ke ke dekat tangga. Ia baru menghela nafas lega saat menemukan pintu tanpa nama ketiga. Sebelum masuk, Karina menarik nafas dalam-dalam.

Pintu terbuka.

Ternyata sudah banyak yang datang; ada Alam, Kate, Miller, si pak tua genit yang akhirnya Karina ketahui bernama David dan seorang pria lain yang tidak pernah bicara sejak datang. Jika di tambah Karina maka yang ada di ruangan itu hanya lima orang, dua orang belum datang.

'kemarin juga katanya ada sepuluh orang, yang datang tujuh lalu datang terlambat satu tapi langsung dibunuh. Bagaimana nasib orang yang tidak sempat datang sama sekali?’

“Karin, sini!” Alam melambaikan tangan. Karina menutup pintu, lalu duduk di samping Alam. Setidaknya di rumah ini, Alam satu-satunya yang lumayan ramah padanya.

“Hai, kamu sudah lama datang?” Tanya Karina dengan suara rendah.

“Aku datang setelah Miller,” jawab Alam.

Karina melirik Miller, wajahnya tampak sangat tenang. Saat mata mereka tak sengaja bertemu, pria itu mengangkat sebelah alisnya. Karina buru-buru mengalihkan pandangan, namun kali ini bersitatap dengan David. Pria tua itu melotot padanya, Karina balas mencibir.

“Jangan cari masalah dengannya, dia orang yang berbahaya.” Kate yang duduk di sebelah kiri Karina berbisik.

“Apa lebih berbahaya dari tuan rumah?” Tanya Karina.

“Tentu saja tidak, tapi diantara kita semua dia yang paling berbahaya.” Kata berhenti sebentar, saat tidak ada yang memperhatikan mereka barulah ia melanjutkan. “Di luar rumah ini, dia tangan kanan seorang mafia kelas kakap. Dia terbiasa membunuh orang.”

Karina terdiam. Ia pikir pria itu hanya bapak-bapak tua mesum yang temperamental, ternyata lebih dari itu. Kalau identitas David saja seperti itu, bagaimana dengan yang lainnya? Apakah mereka juga berasal dari latar belakang yang berbahaya.

“Kamu diam, berarti kurang lebih kamu sudah menebaknya. Orang-orang yang di undang ke rumah ini bukan orang biasa.” Kate membuat garis-garis di meja menggunakan jarinya. “Miller, seorang pengkhianat militer yang sudah menjadi bandar judi online. Pria pendiam itu bernama Sam, dia punya bisnis yang bergerak di human trafficking. Pria ramah yang duduk disamping kananmu…”

Itu merujuk pada Alam.

“Dia penipu ulung, kalau kamu terlena mungkin kamu akan jadi korban selanjutnya.” Kate melanjutkan sambil tersenyum tipis.

Karina teringat sesuatu. “Kalau begitu apakah Tasya juga…”

“Ya, dia partner Alam. Pasangan penipu, apakah dia menipumu?” Kate menjawab sebelum Karina menyelesaikan kalimatnya.

‘sial.’ Karina mengepalkan tangannya, merasa sangat tertipu. Jadi sakit ibunya itu hanya sandiwara Tasya untuk menarik simpatinya? Karina bahkan menyerahkan tubuh dan kehormatan demi menolongnya, tetapi ternyata ia sudah ditipu habis-habisan.

“Kamu marah? Berati aku benar.” Kate mendekat dan berbisik. “Kamu juga harus hati-hatiku denganku,”

“Ya, kamu pasti juga bukan cuma wanita cantik yang hobi belajar atau shopping. Identitasmu pasti tak kalah seram dari mereka.” Sarkas Karina dengan wajah datar.

“Aku bukan siapa-siapa kalau bukan karena identitas ayahku, aku anak Martin Garrix.”

Oh! Karina tentu tahu nama itu, Martin Garrix adalah penjabat yang korupsi beberapa tahun lalu. Selain itu, dia juga memiliki rekan jejak yang sangat buruk. Benar-benar kumpulan orang-orang bermasalah yang di undang ke rumah ini.

“Aku malah penasaran kenapa kamu ada disini. Hanya kamu satu-satunya yang hidupnya normal.” Gumam Kate.

Normal? Karina bahkan tidak merasa hidupnya normal selama ini, ia hanya duduk di depan laptop untuk menulis puluhan ribu kata setiap harinya.

Pintu terbuka, Hugo masuk dengan langkah lebar. Wajahnya menunjukkan senyum tipis sambil menatap semua orang secara sekilas.

“Selamat malam semuanya, hari ini yang datang lebih sedikit lagi.” Kata Hugo duduk di kursinya. Ranra dengan setia berdiri di belakangnya.

Seperti kemarin, Ranra memanggil beberapa pelayan untuk mengambilkan makanan untuk semua orang.

Kali ini pelayan tidak mengambilkan daging untuk Karina, hanya ada makanan sehat di pintu piringnya. Karina menoleh pada Hugo, apa dia yang meminta pelayan menyiapkan makanan sehat untuknya karena kemarin Karina menolak makan daging?

“Tuan Fuller, sebenarnya kenapa anda mengundang kami semua?” Tanya David.

“Ah, anda sudah tidak berakting takut lagi seperti kemarin. Semua orang tampak santai hari ini, apakah semua orang sudah memutuskan untuk tidak berpura-pura lagi?” Tanya Hugo tersenyum lebar.

“CK! Anda sudah tahu siapa kami, jadi saya rasa saya tidak perlu berpura-pura lagi.” Sahut Miller. “Anda bisa mengatakan tujuan anda mengurung kami semua di rumah ini.”

“Hahaha. Bagus, kita akan bicara setelah ini.” Hugo tertawa keras, semua orang juga mengikutinya tertawa. Hanya Karina yang tidak, ia ngeri sendiri saat menyadari ia berada dalam kelompok orang-orang paling berbahaya.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Maya Sari
Sangat menarik,seru ceritanya,bikin penasarn.
Maya Sari
Ceritanya seru….apa ada kelanjutan nya kk?
Nda
apakah yg berdiri di seberang jln itu hugo
Nda
makin penasaran thor,jangan sampe karina ketahuan Hugo.
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
Nda
double up donk thor🤭,makin penasaran😩
Nda
duhh.. makin penasaran,apa jgn² benar Hugo itu vampir
Nda
novelmu keren thor
Nda
ditunggu double up-nya thor
Nda
duh,tunggu kelanjutanya thor makin penasaran,apakah itu fto karina🤭
lisa_lalisa
duhh, makin penasaran 😞
Nda
sebenarnya Hugo manusia vampir atau kanibal
di tunggu double up-nya thor
Kevin
Next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!