NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi itu rumah keluarga Alya ramai sebelum matahari benar-benar naik. Kursi plastik berjajar di teras, kain putih menutup meja panjang, dan aroma bunga melati bercampur dengan bau kopi panas yang diseduh terburu-buru.

Tetangga datang satu per satu.

“Alhamdulillah ya, akhirnya jadi juga,” kata seorang ibu sambil membetulkan kerudungnya.

“Iya, saya kira batal,” sahut yang lain, menurunkan suara. “Soalnya dulu kan—”

“Ah, itu mah yang lama. Sekarang rezekinya Relia,” potong ibu di sebelahnya cepat, seolah takut kalimat itu terdengar terlalu jauh.

Di sudut ruang tamu, Relia duduk rapi. Tangannya dilipat di pangkuan, punggungnya tegak. Ia tersenyum kecil setiap kali ada yang menyapanya. Senyum yang dilatih tidak terlalu lebar, tidak terlalu kaku.

Randa keluar dari kamar dengan beskap yang sudah disiapkan. Ayahnya berdiri, membetulkan lipatan kerah.

“Jangan tegang,” katanya singkat.

Randa mengangguk. “Iya, Yah.”

Tak ada nama lain yang disebut. Tak ada satu pun yang bertanya, yang dulu ke mana? Mereka seolah lupa dengan satu hati yang tersakiti. Bahkan cenderung menganggapnya sebuah takdir.

Di dapur, ibu Alya, kini yang menjadi ibu mempelai, menyusun piring dengan gerakan efisien. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Kemudian tanpa ia sadari seorang tetangga lama mendekat, menurunkan suara.

“Yang satu itu… nggak datang ya?”

Ibu itu berhenti sejenak. Hanya sejenak.

“Dia ada urusan,” jawabnya datar. “Lagipula ini hari bahagia. Jangan dibawa ke mana-mana.”

“Oh, iya, iya. Maaf,” tetangga itu tersenyum kikuk, lalu berlalu.

Kata itu menggantung di udara, kata urusan seolah hanya sekedar menutup mulut tetangga agar tidak terlalu banyak bertanya di hari yang seharusnya bahagia.

Ayah Alya duduk di kursi tamu kehormatan, berbincang dengan penghulu. Suaranya stabil, pilihan katanya rapi.

“Semua berkas sudah lengkap.”

“Anaknya siap?”

“Siap,” jawab sang ayah tanpa ragu.

Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan yang menyelinap. Di barisan kursi belakang, bisik-bisik kembali beredar.

“Dulu yang mau nikah itu kakaknya, kan?”

“Iya, tapi katanya terlalu keras kepalanya.”

“Pantes. Orang tua sekarang mah pengin yang nurut.”

“Nurut itu penting. Rumah tangga butuh stabilitas.”

Kata stabilitas meluncur ringan, seperti barang dagangan yang wajar ditukar, dan semua tetangga begitu entengnya dengan gosip yang beredar.

Relia menunduk, menahan senyum. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia menahannya rapat-rapat di balik kain kebaya. Ibunya mendekat, membenarkan bros di dadanya.

“Jangan banyak mikir,” bisik sang ibu. “Kamu sekarang yang di depan.”

Relia mengangguk.

“Yang penting orang tua sudah setuju,” lanjutnya, suaranya dingin tapi pasti.

Penghulu datang, dengan senyum yang ramah, semua orang tamu undangan dan para saksi sudah mulai duduk memenuhi kursi yang disediakan.

Di ruang tamu, akad dimulai. Lafaz ijab kabul terucap lancar, sekali napas, tanpa perlu diulang. Tepuk tangan pecah. Ucapan sah menggema.

Senyum orang tua mengembang penuh, merasa lega, karena akhirnya bisa menikahkan keduanya anaknya, begitu juga mempelai berdua yang nampak tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, tanpa peduli hati lain yang disuruh menunggu tapi dilupakan begitu saja.

"Dia sekarang sudah menjadi milikku, aku yang berkuasa atas suamiku," batin Ralia.

Di tengah-tengah kebahagian yang melanda keluarga ini. Tiba-tiba seorang bapak tetangga berkomentar sambil mengangguk puas, “Bagus. Nggak ribet. Anak-anak sekarang kebanyakan drama.”

Ibu Alya tersenyum kecil mendengarnya. Senyum yang sama seperti di foto, ia terlihat tenang, puas, seperti tidak menyisakan bayang siapa pun.

Setelah acara, foto keluarga diambil.

“Yang rapi, ya. Dekat-dekat,” kata fotografer.

Ayah Alya berdiri di samping Randa. Ibunya di sisi Relia. Bahu mereka saling bersentuhan, formasi sempurna.

“Keluarga lengkap,” ujar fotografer.

Klik.

Tak ada yang merasa kurang. Tak ada yang menoleh ke sisi kosong. Di antara tamu, seseorang membuka ponsel, mengirimkan foto itu ke grup lama.

Akhirnya jadi juga.

Di rumah yang sama, tawa mengalir ringan, semua tamu bergantian bersalaman dan mengucapkan selamat kepada mempelai berdua, senyum sang ibu dan ayah sumringah, bahkan sangking sumringahnya sampai lupa jika ada satu nama di alat itu yang tidak hadir. Seolah nama itu sudah tidak diperlukan lagi.

☘️☘️☘️☘️☘️

Embun sudah menguap ketika Alya selesai membersihkan sepatunya. Lumpur masih tersisa di sela-sela sol, tak benar-benar hilang meski sudah disikat berkali-kali. Ia menatapnya sebentar, lalu meletakkannya di sudut kamar, membiarkannya kering sendiri.

Ponselnya bergetar di atas meja kayu.

Satu getaran, dua getaran tidak ada yang menghiraukan. Alya awalnya mengabaikan. Ia mengira itu grup obrolan biasa teman lama, iklan, atau Halimah yang menyuruhnya turun membantu lagi. Tapi getaran ketiga membuatnya menoleh.

Nama itu muncul. Dina. teman sekamarnya dulu di kota. Alya mengernyit, lalu membuka pesan itu, tidak ada kata yang tertulis hanya potongan gambar, suatu pernikahan. Refleks tangannya berhenti bergerak. Foto itu terbuka penuh di layar.

Relia duduk anggun dalam balutan kebaya putih gading. Wajahnya berseri, senyum tipisnya rapi, senyum yang sangat dikenali Alya, karena dulu sering ia lihat di cermin, saat sedang bahagia. Di sampingnya, Randa mengenakan beskap, wajahnya sumringah, matanya penuh percaya diri.

Di belakang mereka, dua pasang orang tua berdiri sejajar. Ayah dan ibu Alya ada di sana. Tersenyum. Bangga. Tegap. Seolah-olah tak pernah ada anak perempuan lain yang pernah mereka punya.

Jari Alya gemetar. Dadanya terasa mengeras, seperti ada tangan tak terlihat yang mencengkeram kuat dari dalam.

Pesan Dina menyusul.

“Al… aku bingung mau bilang gimana. Ini tadi pagi. Akadnya lancar.”

Kata itu menancap lebih sakit daripada yang Alya bayangkan, satu keluarga kecil yang dulu ia anggap rumah paling aman ternyata berubah menjadi ujung belatih yang siap menancap pada siapapun yang dikehendaki.

Matanya turun lagi ke foto. Ke tangan Randa yang menggenggam Relia. Ke ekspresi bahagia yang utuh. Tidak ada raut ragu. Tidak ada jejak kehilangan. Tidak ada rasa bersalah.

Alya menelan ludah. Tenggorokannya perih, lima tahun, bukan waktu singkat untuk sekedar dihapus. Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya ketika pesan lain masuk.

“Orang tuamu kelihatan bahagia banget, Al.”

Alya tersenyum kecil. Senyum yang tak sampai ke mata.

“Iya,” gumamnya pelan, meski tak sedang membalas pesan. “Memang bukan aku yang mereka tunggu.”

Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk. Caping besar yang tadi pagi ia pakai tergantung di dinding, sedikit miring. Ia menatapnya lama, lalu menunduk.

Di luar, suara sawah masih hidup. Angin berdesir, daun padi bergesek pelan. Dunia desa berjalan seperti biasa, tenang, sederhana, tidak tahu apa-apa tentang akad nikah di kota.

Kontras itu membuat dadanya sesak. Tanpa sadar, setetes air jatuh ke layar ponsel.

Alya buru-buru mengusap wajahnya. Menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seperti yang Bayu ajarkan pagi tadi saat mengusir burung.

Dudu sekabenahe kudu anter.

Tidak semuanya harus keras.

Ia mematikan layar ponsel, lalu membaliknya menghadap meja. Bukan karena ia kuat tapi karena untuk saat ini, ia memilih tidak runtuh.

Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki.

“Al,” suara Bayu terdengar dari teras. “Wis siap? Halimah nyuruh makan.”

Alya menatap pintu. Matanya masih basah, tapi ia bangkit. Mengusap pipinya sekali lagi, lalu menarik bahu agar tegap.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku keluar.”

Saat melangkah melewati ambang pintu, Alya sadar satu hal. Di kota, ia telah kehilangan segalanya tanpa diberi pilihan.

Tapi di tanah Osing ini setidaknya ia masih diberi ruang untuk bernapas, dengan kejadian-kejadian kecil yang membuat senyum kecilnya kembali merekah, ia tidak pernah memilih untuk dilahirkan di keluarga yang seperti apa, namun di saat kehancuran itu mendekat ia berhak memilih untuk menjauh.

Dan memulai sesuatu yang baru, di mana kehadirannya akan dihargai bukan dibutuhkan.

Bersambung ...

Double up ya....

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!