NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — Pilihan yang Tidak Netral

“Itu yang sedang coba ku mengerti.”

Kalimat Arlan tidak langsung hilang dari kepala Aira.

Sepanjang hari, suaranya terus terulang. Tidak dingin. Tidak tajam. Justru terlalu jujur.

Dan kejujuran dari pria seperti Arlan Dirgantara jauh lebih mengganggu daripada kebencian.

Malam datang lebih cepat dari yang ia kira.

Jam menunjukkan pukul enam tiga puluh.

Setengah jam lagi.

Aira berdiri di depan cermin apartemennya, menatap bayangannya sendiri. Ia tidak mengenakan gaun mencolok. Hanya dress hitam sederhana dengan potongan tegas—cukup profesional, cukup menjaga jarak.

Ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang sedang datang untuk pertemuan pribadi.

Ini bukan pertemuan pribadi.

Ini strategi.

Setidaknya itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri.

Ponselnya menyala.

Satu pesan masuk.

Arlan:

Kau tetap pergi?

Aira menatap layar cukup lama sebelum membalas.

Ya.

Balasan datang cepat.

Lokasinya sudah ku ketahui.

Tentu saja sudah.

Aku tidak akan mengikutimu, lanjut pesan berikutnya.

Tapi kau tidak sendirian.

Aira tidak tahu kenapa kalimat itu membuat napasnya sedikit lebih ringan.

Namun juga sedikit lebih berat.

Karena itu berarti Arlan peduli.

Dan itu membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit.

Restoran itu berada di lantai paling atas sebuah hotel bisnis. Area privat, pencahayaan hangat, terlalu elegan untuk sekadar pertemuan santai.

Aira datang tepat waktu.

Seorang staf langsung mengantarnya ke ruang khusus di ujung koridor.

Pintu terbuka.

Mahendra sudah duduk di sana.

Ia lebih tua dari Arlan, dengan aura tenang yang tidak perlu menunjukkan kekuasaan. Jasnya sederhana, tapi tatapannya tajam.

“Terima kasih sudah datang,” katanya.

Aira duduk tanpa tersenyum.

“Saya tidak datang untuk basa-basi.”

Mahendra mengangguk pelan. “Bagus. Aku juga tidak.”

Beberapa detik hening.

Tidak ada menu yang disentuh.

Tidak ada minuman yang dipesan.

Ini bukan makan malam.

Ini negosiasi.

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku menghubungimu,” Mahendra memulai.

“Saya bisa menebak.”

“Coba.”

“Untuk memancing reaksi Arlan.”

Mahendra tersenyum tipis.

“Sebagian benar.”

“Sebagian?”

“Aku ingin kau melihat sisi lain dari pria yang kau bela.”

“Saya tidak membelanya.”

“Tidak? Kau menolak mundur meski dia menyakitimu.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya.

Aira menjaga ekspresinya tetap netral.

“Langsung saja ke intinya.”

Mahendra menyandarkan punggungnya.

“Lima tahun lalu, ada proyek besar yang gagal. Publik hanya tahu perusahaan mitra yang bangkrut. Tapi tidak tahu siapa yang mengatur skemanya.”

Aira tidak menyela.

“Arlan tahu proyek itu berisiko. Tapi ia tetap melanjutkannya. Dan ketika semuanya runtuh—ia membiarkan satu nama jatuh sendirian.”

“Siapa?”

Mahendra menatapnya lurus.

“Ayahmu.”

Dunia seperti berhenti satu detik.

Aira tidak bergerak.

Tidak bernapas.

“Itu tidak masuk akal,” katanya pelan.

“Dokumen publik memang tidak menunjukkan keterlibatannya secara langsung. Tapi keputusan terakhir ada di tangannya.”

“Kenapa baru sekarang Anda mengatakannya?”

“Karena dulu kau tidak akan percaya.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang kau mulai melihat retakan pada dirinya.”

Hening panjang.

Aira berusaha menjaga logikanya tetap berdiri.

“Kalau itu benar, kenapa Anda tidak membongkarnya sejak awal?”

Mahendra tersenyum lagi—kali ini lebih tipis.

“Karena menghancurkan reputasi seseorang terlalu cepat tidak akan menyakitinya cukup dalam.”

Kalimat itu dingin.

Berbahaya.

“Anda ingin balas dendam.”

“Aku ingin keseimbangan.”

“Dengan melibatkan saya?”

“Kau bukan alat.”

“Lalu?”

“Kau adalah variabel yang tidak ia prediksi.”

Kata itu lagi.

Variabel.

Aira berdiri perlahan.

“Jika tujuan Anda hanya membuat saya meragukannya, Anda berhasil.”

Mahendra ikut berdiri.

“Aku tidak meminta kau mempercayaiku. Aku hanya ingin kau bertanya padanya.”

“Apa?”

“Apakah ia benar-benar tidak punya pilihan waktu itu.”

Kalimat itu menggantung.

Dan untuk pertama kalinya, Aira tidak yakin ia ingin tahu jawabannya.

Di luar restoran, udara malam terasa lebih dingin.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan.

Arlan:

Sudah selesai?

Aira menatap layar dengan tangan sedikit gemetar.

Ia bisa saja berbohong.

Bisa saja mengatakan semuanya biasa.

Tapi satu pertanyaan Mahendra terus terngiang.

Apakah ia benar-benar tidak punya pilihan waktu itu.

Aira mengetik satu kalimat.

Kita perlu bicara.

Balasan datang cepat.

Sekarang.

Tidak ada tanda tanya.

Tidak ada ragu.

Hanya kepastian.

Dan untuk pertama kalinya—

Aira tidak tahu apakah ia siap mendengar kebenaran.

Aira tidak langsung pulang.

Ia masuk ke dalam mobil, tapi tidak memberi instruksi apa pun pada sopir. Ia hanya menatap lurus ke depan, sementara pikirannya berputar tanpa arah.

Ayahnya.

Nama itu seperti sesuatu yang lama terkubur dan tiba-tiba dipaksa muncul ke permukaan.

Selama ini, ia percaya kebangkrutan itu murni kesalahan manajemen. Risiko bisnis. Kegagalan biasa.

Tapi kalau benar ada keputusan terakhir di tangan Arlan…

Tangannya mengepal di atas paha.

“Bu?” suara sopir memecah lamunannya. “Kita langsung ke apartemen?”

Aira terdiam beberapa detik.

Lalu berkata pelan, “Ke kantor.”

Gedung pusat perusahaan masih menyala meski sudah hampir pukul sembilan malam.

Arlan memang jarang pulang sebelum pekerjaan selesai.

Lift terasa lebih sunyi dari biasanya.

Detak jantung Aira justru yang terdengar paling keras.

Pintu ruang CEO terbuka setelah ia mengetuk sekali.

Arlan berdiri di dekat jendela, jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya sedikit kusut—sesuatu yang jarang terlihat.

Ia berbalik ketika Aira masuk.

“Kau cepat,” katanya pelan.

“Aku tidak ingin menunda.”

Arlan mengangguk sekali. Ia sudah tahu ini bukan percakapan ringan.

“Apa yang dia katakan?”

Aira menatapnya langsung.

“Dia bilang lima tahun lalu… ada proyek yang kau lanjutkan meski tahu itu berisiko.”

Ekspresi Arlan tidak berubah.

“Ada banyak proyek seperti itu.”

“Yang ini membuat satu pihak bangkrut.”

Hening.

“Ayahku,” lanjut Aira.

Itu pertama kalinya ia menyebutkannya dengan suara keras di depan Arlan.

Ruangan terasa mengecil.

Arlan tidak segera menjawab.

Dan justru itu yang membuat dada Aira terasa sesak.

“Jawab aku,” suaranya lebih pelan dari yang ia kira. “Apa kau terlibat?”

Arlan berjalan perlahan ke meja kerjanya. Tidak untuk menghindar—tapi seperti sedang memilih kata yang tidak akan merusak lebih banyak dari yang sudah rusak.

“Aku tahu proyek itu tidak stabil,” katanya akhirnya.

“Tapi kau tetap menyetujuinya.”

“Karena saat itu, jika aku mundur, seluruh perusahaan akan jatuh.”

“Dan kau memilih menyelamatkan perusahaan… dengan mengorbankan mitra?”

“Aku memilih menyelamatkan ribuan karyawan.”

Jawaban itu rasional.

Masuk akal.

Dan tetap menyakitkan.

“Jadi memang tidak ada pilihan?” tanya Aira.

Arlan menatapnya tajam.

“Selalu ada pilihan.”

“Lalu kenapa?”

Hening panjang.

Untuk pertama kalinya, Arlan terlihat seperti pria biasa—bukan CEO, bukan penguasa kontrak.

“Hari itu,” katanya pelan, “aku mencoba mencari investor tambahan. Aku mencoba menunda penandatanganan akhir. Tapi ayahmu bersikeras proyek itu harus berjalan.”

Aira menggeleng.

“Itu tidak membebaskanmu.”

“Aku tidak sedang membebaskan diriku.”

Nada suaranya berubah.

Lebih rendah.

“Jika kau ingin membenciku karena itu, kau berhak.”

Kalimat itu membuat napas Aira tercekat.

“Aku tidak tahu harus merasa apa.”

“Marah saja,” jawab Arlan tanpa ragu. “Itu lebih sederhana.”

“Tapi aku tidak hanya marah.”

Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan.

Arlan mendekat satu langkah.

“Lalu apa?”

Aira menatapnya—dan di situlah masalahnya.

Jika ini hanya soal dendam, semuanya akan mudah.

Tapi tidak.

“Aku ingin percaya kau tidak sekejam itu.”

Arlan terdiam.

Hujan tipis mulai terdengar di luar jendela.

“Aku memang membuat keputusan yang menyakiti,” katanya akhirnya.

“Tapi bukan untuk menghancurkan keluargamu.”

“Lalu kenapa kau membuat kontrak itu denganku?”

Pertanyaan itu lebih dalam dari proyek lima tahun lalu.

Arlan menghela napas panjang.

“Karena waktu kau pergi dulu… aku kehilangan lebih dari sekadar mitra bisnis.”

Ruangan kembali sunyi.

“Apa maksudmu?” suara Aira nyaris berbisik.

“Aku marah,” katanya jujur. “Bukan hanya karena proyek itu. Tapi karena kau pergi tanpa menjelaskan apa pun. Aku menyamakan semua rasa kehilangan itu menjadi satu hal: dendam.”

Aira merasakan sesuatu runtuh perlahan di dalam dirinya.

“Jadi kontrak itu…?”

“Awalnya untuk membuatmu tetap di sisiku. Dengan cara yang paling salah.”

Kejujuran itu tidak lembut.

Tidak romantis.

Tapi nyata.

“Aku tidak tahu kapan semuanya berubah,” lanjut Arlan pelan.

“Mungkin saat kau mulai melawan. Mungkin saat kau berhenti takut.”

Tatapan mereka bertemu lagi.

Dan kali ini—

tidak ada jarak profesional.

Hanya dua orang yang sama-sama membuat pilihan buruk di masa lalu.

“Aku tidak bisa membatalkan masa lalu,” kata Arlan.

“Tapi aku tidak akan lari dari konsekuensinya.”

Aira merasakan air matanya hampir jatuh—dan ia membencinya.

Ia tidak ingin terlihat rapuh.

“Mahendra ingin membuatmu memilih,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.”

“Memilih antara apa?”

Arlan tidak menjawab segera.

Lalu ia berkata pelan—

“Antara mempertahankan kekuasaan… atau mempertahankanmu.”

Detak jantung Aira seakan berhenti.

“Dan jika aku bilang aku tidak ingin menjadi pilihan?” tanyanya.

“Kau bukan pilihan.”

“Lalu?”

“Kau alasan.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Berbahaya.

Karena setelah itu—

tidak ada lagi yang bisa dianggap sebagai permainan bisnis biasa.

“Kau alasan.”

Kalimat itu masih menggantung di antara mereka ketika jarak keduanya tanpa sadar semakin menipis.

Aira bisa merasakan hangat napas Arlan. Tidak ada lagi meja kerja, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi topeng CEO.

Hanya dua orang yang terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa semuanya sudah berubah.

“Apa kau sadar betapa berbahayanya mengatakan itu?” bisik Aira.

Arlan tidak mundur.

“Aku sudah hidup dalam bahaya sejak lima tahun lalu.”

Sunyi.

Hujan di luar semakin deras, mengetuk kaca seperti sesuatu yang ingin masuk dan merusak ketenangan yang baru saja terbentuk.

Dan tepat ketika Aira hampir mengatakan sesuatu—

Ponsel Arlan berdering.

Nada khusus.

Bukan panggilan biasa.

Arlan tidak langsung mengangkatnya.

Namun layar yang menyala cukup untuk membuat ekspresinya berubah.

Nama yang tertera: Direktur Keuangan.

Ia mengangkat panggilan itu tanpa memutus tatapan dari Aira.

“Ya.”

Suara panik terdengar bahkan dari jarak Aira berdiri.

Arlan mengeraskan rahangnya.

“Berapa persen?”

Hening.

“Sejak kapan bocornya?”

Aira merasakan sesuatu dalam dirinya mendingin.

Arlan menutup telepon perlahan.

“Ada apa?” tanya Aira.

Ia tidak langsung menjawab.

Seolah sedang memastikan dirinya tetap tenang sebelum mengatakan sesuatu yang akan mengubah arah semuanya.

“Saham turun dua belas persen dalam satu jam.”

Aira menelan ludah.

“Kenapa?”

Arlan berjalan ke meja, membuka tablet, dan menyerahkannya padanya.

Judul berita terpampang jelas di layar:

PROYEK GAGAL LIMA TAHUN LALU KEMBALI DISOROT — DUGAAN KELALAIAN INTERNAL TERUNGKAP

Di bawahnya, satu paragraf yang membuat napas Aira tercekat.

Nama ayahnya tertulis di sana.

Dan tepat di bawahnya—

Nama Arlan Dirgantara.

“Apa ini kerja Mahendra?” tanya Aira pelan.

“Timing-nya terlalu rapi untuk kebetulan.”

“Ini baru dipublikasikan?”

“Dua puluh menit lalu.”

Dua puluh menit.

Artinya—

Saat ia masih duduk berhadapan dengan Mahendra.

Perut Aira terasa kosong.

“Dia sudah merencanakannya,” gumamnya.

“Bukan hanya untuk menjatuhkan saham,” Arlan menambahkan dingin. “Tapi untuk memaksamu memilih sisi.”

Ruangan yang tadi terasa sempit karena ketegangan emosional, kini terasa berat karena ancaman nyata.

Ini bukan lagi soal dendam pribadi.

Ini serangan terbuka.

Ponsel Aira ikut bergetar.

Pesan masuk.

Nomor tak dikenal.

Ia membukanya perlahan.

Sebenarnya ini baru permulaan.

Pilih dengan bijak, Aira.

Tangannya membeku.

Arlan melihat ekspresinya berubah.

“Apa dia menghubungimu?”

Aira mengangguk pelan, lalu memperlihatkan layar ponselnya.

Mata Arlan mengeras.

“Dia tidak akan berhenti di sini.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Aira.

Arlan menatap layar berita beberapa detik, lalu mematikan tablet.

Ketika ia kembali menatap Aira, ekspresinya sudah berbeda.

Bukan pria yang baru saja mengaku.

Bukan pria yang hampir menyentuhnya.

Tapi CEO yang siap berperang.

“Aku akan menghancurkan balikannya.”

Nada suaranya tenang.

Terlalu tenang.

“Dan jika itu berarti membuka semua yang terjadi lima tahun lalu?” tanya Aira.

“Termasuk kesalahanku.”

Hujan di luar terdengar seperti tepuk tangan sunyi untuk keputusan yang baru saja dibuat.

Aira menatapnya lama.

Kini ia mengerti.

Mahendra tidak hanya ingin menjatuhkan perusahaan.

Ia ingin memaksa mereka berdiri di sisi yang berlawanan.

Namun untuk pertama kalinya—

Aira tidak merasa berdiri sendirian.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “jangan sembunyikan apa pun dariku lagi.”

Arlan mengangguk.

“Mulai sekarang, tidak ada lagi kontrak yang mengikatmu.”

Kalimat itu jatuh seperti kunci yang akhirnya dilepas.

Namun di luar sana—

perang baru saja dimulai.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!