Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Cahaya putih dari proyektor di ruang rapat tim Inafis menebar silau, memotong kabut kesuraman yang menggumpal di udara. Layar itu seperti jendela menuju dunia lain, menampilkan paspor hijau dengan foto seorang wanita muda bernama Siti Aminah. Senyumnya lebar, matanya berbinar penuh rencana—sebuah kontras menyakitkan dengan kenyataan bahwa hanya sisa-sisa jasaddiahnya yang ditemukan di dalam koper biru kusam di tepian Sungai Han. Bau kopi instan yang terlalu kuat menguar dari cangkang-cangkang kertas di sudut meja, bercampur dengan aroma keringat ketegangan dan debu dari berkas-berkas lama. Suasana ruangan terasa padat, seperti udara sebelum badai.
Kapten Inafis, pria berusia lima puluhan dengan garis-garis lelah di sudut mata, berdiri di samping layar. Suaranya bergema, datar namun sarat beban, memuat setiap kata dengan timah hitam. “Korban teridentifikasi sebagai warga negara Malaysia. Berusia dua puluh tiga tahun. Masuk ke Seoul melalui Bandara Incheon lima hari yang lalu, tujuan dinyatakan sebagai liburan.” Jarinya menunjuk ke data imigrasi yang muncul berikutnya. “Berdasarkan catatan, dia datang tidak sendirian. Teman perjalanannya, pria bernama Firman Halim, satu kamar hotel yang sama. Pria ini telah melewati gerbang keberangkatan di Incheon enam jam setelah koper itu ditemukan. Tujuan: Johor Bahru.”
𝘑𝘰𝘩𝘰𝘳 𝘉𝘢𝘩𝘳𝘶. Nama itu menggantung di udara, asing namun penuh ancaman.
Di sisi meja, Ahn Lisa duduk kaku. Jemarinya saling bertaut erat di bawah meja, hingga buku-buku jarinya memutih. Punggungnya lurus, sebuah sikap disiplin yang bertarung dengan gemuruh di dalam dadanya. Dia menatap foto Siti Aminah—senyum itu, kehidupan yang dipotong begitu saja. Di sampingnya, Sam berdiri membisu, bayangannya jatuh memanjang di lantai. Sejak kontak mereka di tepi sungai tadi pagi, dengan air yang berlumpur dan teriak bisu arwah yang terjebak, Sam seperti tertutup kabut. Ada kedalaman baru di matanya yang biasanya teduh, seolah ia masih menyimpan gema penderitaan yang menyentuh esensinya.
“Johor Bahru…” Bisik Sam dengan suara begitu pelan, hampir seperti gesekan kertas kering di tengah kesunyian. Hanya Lisa yang menangkapnya.
Lisa melirik ke arahnya, gerakan mata yang cepat dan diam-diam. Sam sudah bergerak mendekati layar proyektor, wajahnya yang biasanya santai kini terpaku serius. Matanya setengah terpejam, seolah bukan gambar digital yang ia lihat, tetapi sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia mengulurkan tangan, tidak menyentuh layar, tetapi seakan meraba-raba udara di depannya. Lisa bisa merasakan energi ruangan berubah menjadi lebih dingin dan berat.
“Lisa.” Panggilan Sam kali ini lebih mendesak, menusuk langsung ke kesadarannya. Sam menunduk, bahunya sedikit membungkuk, seperti seseorang yang sedang menyimak suara dari dalam sumur. “Dia… masih di sini. Rantainya masih panjang. Dia terus mengulangi tempat itu. Johor Bahru. Dia bilang, ada sesuatu yang ditinggalkan di sana. Sesuatu yang tersembunyi.”
Lisa menahan napas. Jantungnya berdebar kencang di dalam sangkar tulang rusuknya.
“Di bawah lantai kayu.” Sam melanjutkan, membuka mata. Tatapannya yang kini berkilat tajam tertuju pada Lisa. “Firman menyimpan buktinya di bawah lantai kayu rumah lamanya. Dia pikir bukti itu aman disimpan disana. Dia pikir hukum Korea tidak akan pernah menjangkau sana. Dia merasa menang.”
Monolog batin Lisa bergejolak. 𝘓𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘺𝘶? 𝘉𝘶𝘬𝘵𝘪? 𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯? 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘒𝘢𝘱𝘵𝘦𝘯? 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘏𝘦𝘯𝘥𝘳𝘺?
Hendry, duduk di seberang meja dengan tangan terlipat di dada, sudah mengerutkan kening. Matanya, tajam dan penuh kalkulasi, menatap Lisa yang terlihat aneh itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Lisa menarik napas dalam, mengumpulkan semua keberanian yang tersisa.
“Kapten.” Ujarnya, mengangkat tangan sedikit. Semua mata tertuju padanya. “Saya mengajukan diri untuk berangkat ke Johor Bahru. Awal yang informal saja—koordinasi dengan kepolisian setempat, pengawasan terhadap tersangka. Sebelum prosedur ekstradisi resmi yang bisa memakan waktu berminggu-minggu.”
Hendry langsung mendongak. “Apa? Apa kau sekarang sudah hilang akal? Surat perintah internasional belum ada, bukti fisik penghubung Firman dengan pembunuhan masih minim. Kau mau terbang ke negara lain hanya berdasarkan dugaan? Kau hanya akan jadi beban, dan mempermalukan tim!”
Tantangan itu terasa seperti tamparan. Pipi Lisa memanas, tetapi suaranya tetap tenang dan terkendali. “Bukti itu mungkin tidak pernah sampai ke sini, Senior. Dia membuang korban, tapi mungkin dia menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri—sesuatu yang bisa menjeratnya. Jika kita menunggu birokrasi, dia akan punya waktu untuk memusnahkan semuanya. Dia sudah merasa aman di zona nyamannya.” Lisa menatap Kapten, mencoba menyalurkan keyakinan membara yang berasal dari bisikan Sam tadi. “Berikan saya empat puluh delapan jam. Saya akan bekerja sama dengan otoritas lokal. Jika tidak ada perkembangan, saya akan pulang. Tidak ada yang rugi.”
“Tidak ada yang rugi? Waktu, sumber daya, kredibilitas!” Sergah Hendry, mendorong kursinya mundur hingga berderit.
Kapten tidak segera menjawab. Ia mengamati Lisa, matanya yang bijak menyelami setiap lekuk ekspresi di wajah detektif muda itu. Ia mencari keraguan, ketakutan, atau gegabah. Yang ia temukan hanyalah tekad baja dan sebuah kepastian misterius yang membuatnya penasaran.
“Johor Bahru bukan kota kecil, Lisa.” Kata Kapten akhirnya dengan suara rendah. “Rumah ‘lama’ Firman bisa di mana saja. Apa yang membuatmu yakin bisa menemukan sesuatu yang spesifik seperti… ‘lantai kayu’ itu?” Ada penekanan halus pada kata terakhir, seolah ia menangkap sesuatu dari interaksi Lisa dengan Sam tadi.
Lisa merasakan detak jantungnya di telinga. Ini itunya. Dia tidak bisa menyebutkan Sam. Tidak bisa. “Insting, Kapten. Dan pola. Pelaku sering kali menyimpan trofi, sesuatu yang mengingatkan mereka pada kejahatan, di tempat yang mereka anggap paling pribadi dan terkendali. Rumah lama adalah kandangnya. Saya yakin ada sesuatu di sana yang menunggu untuk ditemukan.” Itu bukan sepenuhnya bohong, hanya… versi yang disensor.
Hendry mendengus sinis. “Insting. Bagus. Kita sekarang mempertaruhkan misi lintas negara pada ‘insting’ seorang detektif.”
“Lebih baik pada insting yang bergerak cepat daripada pada prosedur yang tertidur dan membiarkan kebenaran berlari jauh.” Balas Lisa, sedikit ketus. Dia segera menyesali nada itu, tetapi kata-kata sudah terlanjur meluncur.
Ruangan kembali sunyi. Kapten mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kayu.
𝘛𝘰𝘬. 𝘛𝘰𝘬. 𝘛𝘰𝘬.
Suara itu mengisi kekosongan.
“Baiklah.” Ujar Kapten tiba-tiba, membuat Lisa hampir terlonjak. “Kau boleh berangkat. Malam ini juga. Ambil penerbangan terakhir.” Ia menunjuk Hendry yang wajahnya memerah. “Diam, Hendry. Ini keputusan saya. Lisa...” Tatapannya kembali pada Lisa, penuh peringatan. “Kau di sana sebagai tamu kepolisian Malaysia. Koordinasi, observasi, dan hanya itu. Jangan mengambil tindakan gegabah. Jangan menyamar. Jangan memasuki properti pribadi tanpa izin atau pengawasan langsung dari pihak berwenang setempat. Apakah jelas?”
Lisa membungkuk dalam-dalam, rasa lega dan adrenalin membanjiri tubuhnya. “Jelas, Kapten. Terima kasih.”
“Empat puluh delapan jam.” Ingat Kapten. “Lapor setiap perkembangan. Sekarang, persiapkan semuanya.”
Pertemuan bubar dengan gumaman dan raungan kursi. Hendry berdiri dengan kasar dan keluar ruangan tanpa memandang Lisa. Yang lain beringsut pergi dengan wajah-wajah yang masih bingung.
Lisa segera merapikan berkas-berkasnya, tangannya sedikit gemetar. Saat ia berjalan keluar ke lorong yang terang tetapi sepi, Sam muncul di sampingnya, melayang dengan langkah yang tiba-tiba terasa lebih ringan.
“Kau benar-benar nekat, Detektif Ahn.” Goda Sam, senyum kecil muncul di bibirnya.
Lisa terus berjalan cepat menuju ruang kerjanya. “Ini semua gara-gara ‘firasat’mu, Sam.” Bisiknya, memastikan tidak ada seorangpun di lorong. “Jadi, untuk keselamatanku dan karirmu, pastikan ‘lantai kayu’ itu benar-benar ada. Kalau tidak, aku akan mendepak rohmu yang usil ini kembali ke Hotel Emerald dan kunci di sana.”
Sam tertawa, suara tawanya yang hangat dan manusiawi itu anehnya menenangkan di tengah kekacauan ini. “Percayalah. Kita punya janji untuk ditepati, bukan? Kepada dia.” Ia menunjuk ke arah ruang rapat di belakang mereka, di mana bayangan Siti Aminah mungkin masih melayang.
Memasuki ruang kerjanya yang sempit, Lisa langsung membuka laptopnya. Penerbangan, hotel, kontak Interpol Malaysia—segudang tugas menunggu. Di balik jendela, langit Seoul mulai memelas, awan kelabu berarak menggantikan siang. Johor Bahru menunggu, dengan panasnya, bahasanya yang asing, dan rahasia di bawah lantai kayu sebuah rumah.
Sam duduk di tepi meja, mengamatinya. “Dia tidak akan tenang sampai barang itu ditemukan. Rasanya… seperti janji yang terpatahkan. Mungkin bukti itu adalah sesuatu yang dia coba lindungi juga.”
Lisa berhenti mengetik, menatap layar kosong sejenak. “Kita akan menemukannya.” Gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri. Bukan hanya untuk menyelesaikan kasus, bukan hanya untuk Kapten atau untuk mengalahkan Hendry. Tetapi untuk senyum lebar di foto paspor itu, untuk bisikan penuh keputusasaan di tepi sungai, dan untuk arwah yang masih berpegangan pada dunia karena sebuah kebenaran yang terkubur.
Perjalanan ini adalah taruhan. Taruhan pada kemampuannya, pada petunjuk Sam, pada insting yang lebih dalam dari logika.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ