Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Bukan Nyumpahin
Di bawah cahaya lampu senthir yang bergoyang pelan ditiup angin malam, Mira Utami tersenyum teduh.
Tangannya yang mulai kasar karena kerja ladang dengan telaten membasuh kaki suaminya, Kang Jaka, di dalam baskom seng penyok.
Air hangat bercampur sedikit garam itu meluruhkan daki dan lelah seharian di sawah.
"Mas, mbok ya jangan terlalu ngoyo," bisik Mira pelan, memijat betis suaminya.
"Badan itu titipan Gusti, harus dijaga."
Kang Jaka hanya bergumam nikmat, matanya terpejam.
Lelaki itu memang tak banyak bicara, tapi pundaknya sekeras baja menanggung beban keluarga besar mereka.
Tak lama, dengkuran halus terdengar. Kang Jaka tertidur sambil duduk di amben bambu.
Mira membereskan baskom dengan hati-hati agar tidak berisik, lalu membaringkan tubuh di samping suaminya.
Di balik kelambu lusuh itu, rasa syukurnya meluap meski hidup pas-pasan.
Pagi di desa selalu dimulai dengan kabut tipis dan bau tanah basah.
Kehidupan di rumah Abah Kosasih kembali berjalan normal.
Tak ada yang mengungkit kejadian kemarin di rumah keluarga Mira. Bagi orang kecil, asal nyawa masih nempel di badan, itu sudah cukup.
Namun, Mira terusik melihat satu pemandangan di sudut halaman belakang.
Di dekat lumbung padi yang mulai kosong, Sulastri, sedang jongkok sendirian.
Matanya yang bulat bening menatap barisan semut yang mengangkut remah nasi.
Anak lima tahun itu terlalu tenang. Terlalu sunyi.
"Dik Kinar," panggil Mira pada adik iparnya yang sedang menjemur pakaian.
"Si Nduk Lastri itu lho, kok ya ngelamun terus. Kasihan, nggak ada temannya. Gimana kalau kita mintakan anak kucing di rumah Lik Ipah? Dengar-dengar kucingnya baru beranak."
Kinar menoleh, menatap putrinya dengan pandangan sendu.
Sejak kembali ke desa, Lastri memang dikucilkan.
Anak-anak desa dilarang orang tuanya bermain dengan "anak pembawa sial".
"Boleh, Mbak? Apa nggak ngerepotin?" tanya Kinar ragu.
"Halah, ngerepotin apa. Kucing kampung buat teman main, biar Nduk nggak kesepian."
Mira menghampiri Lastri, mengusap kepala bocah itu.
"Nduk, Lastri... Suka kucing nggak? Mau piara anak kucing?"
Lastri mendongak.
Senyum tipis namun manis terbit di bibirnya.
"Kucing?"
"Iya, buat nemenin Lastri," Kinar ikut bergabung, berjongkok di sebelah anaknya.
Lastri tampak berpikir sejenak ala orang dewasa.
"Lastri lihat dulu ya, Bu. Kalau kucingnya jodoh, Lastri mau."
Mereka bertiga pun berjalan keluar pekarangan.
Ini kali pertama Lastri benar-benar berjalan menyusuri jalan desa.
Sepanjang jalan, tatapan warga menusuk tajam.
Beberapa ibu-ibu yang sedang mencari kutu di lincak langsung buang muka.
Ada yang buru-buru membanting pintu saat mereka lewat.
Lastri bisa merasakan udara di sekitarnya memberat.
Energi penolakan itu terasa seperti jarum-jarum halus.
Tiba-tiba saja, tanaman pagar di rumah warga yang baru saja meludah ke arah mereka, mendadak layu daunnya, menguning seketika seolah ikut merasakan sakit hati Lastri.
"Amit-amit jabang bayi... Sial, sial!"
Seorang wanita paruh baya tiba-tiba menyiramkan air bekas cucian beras ke jalanan tepat setelah tumit Kinar lewat.
Kinar meremas tangan kecil putrinya.
Hatinya perih.
Menjadi janda cerai yang pulang ke rumah orang tua adalah aib besar.
Lastri mendongak, menatap ibunya.
"Ibu hebat. Jangan sedih. Nanti rezeki Ibu banyak."
Ucapan polos itu membuat dada Kinar sesak sekaligus hangat.
"Makasih ya, Nduk."
Tujuan mereka adalah rumah Lik Ipah dan Mang Udin di ujung desa.
Rumah mereka sedang direnovasi, tumpukan batu bata merah menggunung di halaman.
"Kulo nuwun..." sapa Mira sopan.
Lik Ipah keluar sambil mengelap tangan ke daster.
Begitu melihat rombongan "keluarga aib" itu, wajahnya langsung masam.
"Eh, Yu Mira. Ada apa?" Nadanya ketus, matanya melirik sinis ke arah Kinar.
"Ini lho, Lik. Mau nanya, apa ada anak kucing yang bisa diadopsi?" tanya Mira.
"Buat mainan keponakanku ini."
Lik Ipah berkacak pinggang, menghalangi pintu.
"Waduh, telat Yu. Udah dipesan orang semua. Lagian kucingku kucing bagus, takutnya malah mati kalau dipegang anak kecil yang... ya gitulah."
Alasan yang dibuat-buat.
Jelas sekali dia takut ketularan "sial".
Lastri yang sedari tadi diam, tiba-tiba menatap lekat wajah Lik Ipah.
Di mata batin anak itu, ada kabut hitam pekat yang menyelimuti dahi wanita itu.
Kabut kematian.
"Lik," suara Lastri terdengar jernih, memotong keheningan.
"Kalau Mang Udin belum pulang sampai jam dua belas malam nanti, Lik Ipah harus jemput ya. Jangan dibiarkan pulang sendiri."
Wajah Lik Ipah memerah padam.
Dia merasa disumpahi.
"Heh! Bocah edan! Ngomong apa kamu?! Masih kecil mulutnya nggak dijaga! Pergi sana! Jangan bawa sial di rumahku!"
"Maaf Lik, namanya juga anak kecil..." Mira mencoba menengahi, tapi Lastri sudah menarik tangan ibunya.
"Ayo pulang, Bu. Kucingnya nggak ada yang cocok," kata Lastri tenang.
Dalam perjalanan pulang, Kinar bertanya cemas.
"Nduk, kenapa ngomong gitu?"
"Muka Lik Ipah gelap banget, Bu. Kayak langit mau badai," jawab Lastri.
"Di situ nggak ada kehidupan.
Itu tandanya bahaya."
Kinar merinding.
Di belakang mereka, jejak kaki Lastri meninggalkan bekas samar di tanah; rumput-rumput kecil tumbuh lebih hijau di sana.
Malam harinya, di rumah Lik Ipah.
Mang Udin baru saja selesai mandi ketika temannya, Mang Darta, datang mengajak minum tuak dan makan belut rica-rica.
"Bu! Aku ke rumah Darta ya! Kunci aja pintu, tapi jangan dipalang!" teriak Udin.
"Yo! Jangan mabuk lho!" sahut Lik Ipah dari dapur.
Jam dinding tua berdentang sepuluh kali.
Desa sudah gelap gulita karena belum ada listrik, hanya diterangi obor dan bulan yang timbul tenggelam.
Lik Ipah gelisah di atas ranjang.
Matanya sulit terpejam.
Kata-kata bocah tadi siang terngiang-ngiang seperti kaset rusak.
"Kalau Mang Udin belum pulang sampai jam dua belas malam..."
"Ah, setan alas! Mikir apa sih aku," umpatnya.
Waktu merayap pelan.
Sunyi desa terasa mencekam.
Lik Ipah terbangun kaget saat jam berdentang dua belas kali. Sisi kasurnya masih kosong dan dingin.
Jantungnya berdegup kencang.
Perasaannya tidak enak.
Dengan tangan gemetar, dia menyalakan lampu obor bambu.
"Bismillah... Bodo amat dibilang istri cemburuan."
Jalanan desa gelap gulita.
Bayangan pohon pisang tampak seperti hantu yang berdiri diam.
Lik Ipah berjalan cepat, sandalnya menepuk-nepuk tanah becek sisa hujan.
Hampir sampai di dekat tikungan, dia melihat siluet orang berjalan sempoyongan.
Itu pasti suaminya.
"Dasar laki-laki!" batin Lik Ipah geram.
Dari kejauhan, dia melihat Udin berjalan miring, lalu... BRUK!
Tubuh Udin ambruk ke depan.
Lik Ipah membuang muka, pura-pura tidak melihat, ingin memberi pelajaran.
Satu menit berlalu. Hening.
Dua menit. Masih hening.
Tak ada gerakan bangkit.
Perasaan Lik Ipah berubah panik.
Dia berlari mendekat, mengarahkan obornya ke bawah.
"Gusti Allah!" jeritnya histeris.
Udin jatuh telungkup tepat di sebuah kubangan air bekas ban gerobak.
Airnya dangkal, cuma semata kaki, tapi wajah Udin terbenam pas di sana!
Tubuhnya kaku—mungkin serangan stroke ringan atau kelumpuhan akibat alkohol—membuatnya tak bisa mengangkat kepala.
Hidung dan mulutnya terendam lumpur cair.
Dia sedang tenggelam di genangan air setinggi mata kaki!
"Tolong! Toloooong! Kang Udin matiiii!"
Lik Ipah membalikkan tubuh suaminya yang berat.
Wajah Udin sudah biru, matanya membelalak putih.
"Uhuk! Hoek!" Udin memuntahkan air keruh bercampur lumpur.
Napasnya tersengal seperti ikan di darat.
Teriakan Lik Ipah membangunkan warga.
Mang Darta yang baru masuk rumah dan tetangga lain berlarian membawa lampu petromax.
Udin segera digotong ramai-ramai ke rumah.
Setelah diberi minum air kelapa muda dan dipijat, napas Udin mulai teratur.
"Alhamdulillah... telat sedikit saja, lewat ini nyawanya," kata Pak Mantri desa.
"Tenggelam di kobokan itu namanya mati konyol."
Udin menatap istrinya dengan pandangan nanar.
"Bue... makasih ya. Kalau kamu nggak datang jemput... aku sudah lewat."
Warga berdecak kagum.
"Wah, firasat istri memang tajam ya, Pah," puji Mang Darta.
Lik Ipah masih sesenggukan, wajahnya pucat pasi.
Mendengar pujian itu, dia menggeleng kuat-kuat.
Rasa takut, hormat, dan bersalah campur aduk.
"Bukan... bukan aku..." suaranya gemetar.
"Si Lastri... Anaknya Kinar..."
Semua orang terdiam.
"Siang tadi... dia bilang kalau Udin belum pulang jam dua belas, aku wajib jemput," Lik Ipah menelan ludah.
"Dia ngotot. Bocah itu... dia bukan nyumpahin. Dia nyelamatin lakiku. Padahal tadi siang aku usir mereka. Ya Allah... kualat aku."