Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Tetap Menyelidiki
Rangga pergi ke kantor lebih cepat dari yang seharusnya. Saat dalam perjalanan barulah dia kembali mengingat tentang Dita. Lagi-lagi hatinya terasa sakit. Apalagi saat melihat ada anak kecil yang memanggil Dita mama.
"Mulai sekarang aku harus melupakannya," gumam Rangga. Dadanya terasa sesak. Matanya juga berkaca-kaca, namun dia berusaha agar tidak menangis. Yang ada dipikiran Rangga, Dita sudah menikah dan hidup bahagia bersama lelaki lain. Tak lama dia tiba di kantor. Saat itulah dirinya mengetahui kalau Dian ada di dalam penjara.
"Dian! Kenapa kau ada di dalam sini? Siapa yang memasukkanmu?" cecar Rangga.
"Bukankah kau yang memasukkanku? Aku bersalah, jadi aku memang seharusnya di penjara," jawab Dian.
"Apa kau sudah di interogasi oleh rekan-rekanku?"
Dian menggeleng. "Aku didiamkan saja di sini sejak tadi. Aku sudah pasrah, dan aku juga sudah puas dengan yang terjadi pada Fira dan Nadia. Katanya mental mereka tertekan," ucapnya sambil tersenyum miring.
Rangga membisu. Dia bisa melihat senyuman miring Dian yang membuatnya sedikit bergidik. Kala itu dirinya sadar bahwa apa yang sudah menimpa Mirna, membuat Dian sampai kehilangan akal sehat.
Rangga mengangguk dan memilih beranjak dari sana. Dia melihat Riki berdiri di ambang pintu.
"Kapolsek katanya ingin bicara denganmu. Dia menunggu di ruangannya," ujar Riki.
Rangga segera pergi ke ruangan kapolsek. Dia berdiri di hadapan Pak Bagas yang duduk di kursinya. Kebetulan atasan Rangga itu baru masuk ke kantor setelah mengalami sakit selama dua hari.
"Aku dengar kau yang menangkap pelaku?" tanya Pak Bagas.
"Benar, Pak!" sahut Rangga.
"Kerja bagus. Mulai sekarang kau nggak usah mengurus kasus ini lagi. Kita serahkan semua urusannya ke Polres. Pelakunya akan dapat hukuman setimpal. Dia sudah membuat mental korban tertekan," kata Pak Bagas.
"Pak, pelaku cerita padaku kalau korban sudah melakukan pembullyan parah pada adiknya. Apa kita tidak perlu mengusutnya? Mereka--"
"Lalu kau mau menuntut korban? Kau punya bukti? Lagi pula, kedua korban masih di bawah umur! Apa yang terjadi pada mereka sudah cukup membuat mereka trauma. Kedua keluarga korban ingin pelaku dihukum setimpal!" potong Pak Bagas cepat. Sengaja menyudutkan Rangga.
"Bolehkan aku tahu dari mana Bapak mengetahui tentang keadaan mental korban? Apa keluarga korban yang memberitahunya?" balas Rangga tak kenal takut.
"Menurutmu?! Apa kau menuduhku berbohong?!"
"Bukan begitu, aku hanya ingin memastikan saja."
"Kau selalu saja begini. Bertingkah lain dari pada yang lain. Sulit banget di atur! Aku dengar kau mengurus kasus tidak penting juga ya? Nambah-nambahin kerjaan aja," omel Pak Bagas.
"Kasus nggak penting?" Rangga mengerutkan dahi tak mengerti.
"Itu kasus apartemen perempuan kemasukan orang. Menurutku kasus seperti ini tidak perlu diselidiki," jelas Pak Bagas. Dia menyinggung perihal kasus Astrid.
"Tapi, Pak. Ini kasus penguntitan! Wanita itu merasa tidak aman," sahut Rangga.
"Terus kau mau apa? Mengawalnya seperti presiden? Enggak kan?!"
"Tapi setidaknya kita harus melakukan sesuatu, Pak. Sebelum hal buruk terjadi. Orang yang punya obsesi itu biasanya berbahaya!"
"Ck, itu menurutmu saja. Kau--"
"Terserah Bapak mau bilang apa, tapi aku akan tetap menyelidikinya!" tegas Rangga. Dia membungkuk sejenak dan segera pergi dari ruangan.
"Eh, eh... Ngeyel kau ya!" Pak Bagas hanya bisa menggelengkan kepala. Rangga memang selalu seperti itu dan dia sangat membenci bawahan pembangkang seperti itu.
Kini Rangga sudah naik ke motornya. Dia berniat akan pergi mendatangi dua lelaki yang dicurigai Astrid sebagai penguntitnya. Selain itu, Rangga juga berniat memeriksa keadaan Fira dan Nadia.
Saat hendak pergi, Beben datang. Rangga langsung mengajaknya untuk ikut. Beben hanya bisa mendengus kasar.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄