Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Sudah tujuh jam lamanya jet pribadi milik Bradley membelah angkasa. Selama itu pula, Bradley sedikit pun tak mengistirahatkan tubuhnya.
Di hadapannya, Peter tampak sibuk dengan tablet dan MacBook-nya, memantau pergerakan pasar gelap yang kian memanas.
Bradley sedang mendalami laporan pengiriman barang ilegal ke Dubai. Sesuatu yang membuatnya tertawa sinis adalah fakta bahwa barang-barang itu memiliki stempel izin resmi dari pemerintah.
"Lucu sekali," gumam Bradley pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin pesawat. "Mereka yang memberi izin, tapi mereka juga yang masih membutuhkan tangan kotor ini untuk melakukannya."
"Karena mereka tidak ingin disalahkan, Tuan. Mereka harus tetap terlihat bersih di depan publik, sementara kita yang memikul dosanya," sahut Peter tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Besok siang kita akan langsung ke pelabuhan untuk mengatur pengiriman itu, Pet," Bradley kemudian melirik ke arah Megan yang tertidur pulas di kursi captain seat di sampingnya. "Akan kutunjukkan padanya, bahwa pekerjaanku ini selalu berjalan berdampingan dengan para penegak hukum yang selalu ia banggakan."
"Anda benar-benar akan membawa Nona Megan ke sana?" tanya Peter ragu.
"Mungkin."
Bradley menoleh sepenuhnya pada Megan. Ia mengulurkan tangan, menyibak helai rambut pirang yang menutupi wajah cantik namun tampak kuyu itu.
"Kau tahu, Meg? Monster ini tidak berdiri sendiri," bisik Bradley pada wanita yang terlelap itu. "Keadaan yang memaksaku untuk mencari kekuatan sebesar ini, agar aku bisa membalas setiap tetes darah yang keluar dari masa laluku."
Megan yang tampak begitu kelelahan bahkan tak merasa terganggu saat jemari Bradley menyentuh kulit wajahnya.
"Tuan, kita akan segera mendarat. Bersiaplah," Peter mengingatkan, memecah keheningan di dalam kabin mewah itu.
***
London City Airport – 21.00 PM
Landasan pacu yang licin oleh salju London menyambut jet pribadi Obsidian yang mendarat dengan sempurna tepat pukul sembilan malam. Bradley, yang tak tega membangunkan Megan, memilih untuk mengangkat tubuh wanita itu dengan hati-hati ke dalam gendongannya.
Bradley menuruni tangga pesawat dengan Peter yang berjalan sigap di belakangnya. Dua bodyguard bertubuh tegap segera bersiaga membawakan payung besar untuk melindungi Bradley, memastikan butiran salju tidak mengusik tidur lelap Megan.
Mereka menyusuri koridor VIP pintu kedatangan dengan pengawalan ketat hingga sampai di area parkir khusus. Di sana, sebuah mewah hitam mengkilap sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus.
Bradley masuk ke dalam kabin mobil yang hangat, sementara Megan masih belum juga terjaga.
Namun, di kegelapan sudut bandara yang tak terjangkau lampu, sebuah lensa kamera jarak jauh diam-diam bekerja. Sejak jet itu menyentuh aspal, setiap gerak-gerik Bradley yang sedang menggendong Megan telah terekam dengan sempurna.
Hingga ban Rolls-Royce itu berhenti di depan pilar-pilar megah Obsidian Mansion, Megan bahkan belum membuka matanya. Kelelahan fisik dan mental seolah telah merampas seluruh energinya.
Bradley kembali menggendong Megan masuk, melintasi koridor luas yang dingin menuju kamar utama, ruangan di mana malam kelam pertama mereka terjadi.
Bradley merebahkan Megan di atas ranjang king size dengan sangat hati-hati, seolah-olah wanita itu adalah barang pecah belah yang paling berharga. Ia menyelimuti tubuh Megan, lalu terdiam sejenak memandangi wajah damai tawanannya di bawah temaram lampu nakas.
"Aku membenci keadaan ini, Meg. Jika bukan karena bayiku, kau sudah kuhancurkan sejak lama," batin Bradley pedih. Namun, sedetik kemudian, jemarinya bergerak tanpa izin, membelai garis wajah Megan yang lembut.
"Tapi kau juga satu-satunya manusia yang masih mengingatkan sisi baik pada iblis yang bersarang di tubuhku ini."
Baru saja Bradley mengecup kening Megan dengan sisa-sisa kelembutannya, Peter sudah berdiri di ambang pintu, memberi kode darurat. Bradley menghela napas, memasang kembali topeng dinginnya, lalu melangkah keluar.
"Ada masalah, Pet?" tanya Bradley tajam.
"Tuan, Alice memberitahu jika ada tikus kecil yang mengirim pesan anonim kepada Arthur Ford. Seseorang menginfokan bahwa Nona Megan berada di Mansion ini sekarang," lapor Peter dengan wajah tegang.
Bradley menyeringai sinis, kilat predator muncul di matanya yang lelah. "Apa dia sudah bosan hidup dan ingin segera pergi ke neraka? Bawa hama kecil itu ke hadapanku besok jam sepuluh pagi. Jangan terlambat satu detik pun. Aku tidak suka menunggu."
"Baik, Tuan. Segera saya kirimkan unit pemukul untuk menjemputnya."
Setelah memberikan perintah maut itu, Bradley kembali ke dalam kamar. Rasa panas yang menjalar dari luka jahitan di punggungnya kini mulai memberontak, mengingatkannya pada hantaman lampu kristal di Virginia. Dengan napas yang tertahan, ia merebahkan diri di samping Megan.
"Esok akan kutunjukkan padamu, Meg... bahwa kau memang punya pahlawan. Tapi sayangnya, takdirmu adalah bersamaku," bisik Bradley di tengah kesunyian. "Tidak ada yang bisa membebaskanmu dariku, kecuali aku sendiri yang menyuruhmu pergi."
Bradley melingkarkan lengannya di pinggang Megan, menarik wanita itu mendekat hingga tak ada celah. Ia menghirup dalam-dalam aroma rambut Megan yang selalu sanggup memabukkan akal sehatnya. Di luar sana, salju London semakin tebal, namun di dalam kamar itu, sang 'Hantu London' baru saja mengunci mangsanya dalam dekapan yang paling mematikan.
***
London menyambut pagi dengan salju yang kian tebal di balik jendela kaca besar Obsidian Mansion. Sekitar pukul tujuh pagi, Megan membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat yang melingkar di pinggangnya, lalu matanya menyapu setiap sudut ruangan.
Pandangan Megan jatuh pada lambang serigala Obsidian yang terukir besar di dinding marmer kamar itu. Seketika, memori kelam dua bulan lalu menghantamnya tanpa ampun.
Suara gaun sutra yang robek paksa, rasa dingin yang menusuk tulang, dan rasa sakit yang sanggup meremukkan seluruh martabatnya sebagai seorang agen. Semuanya kembali berputar di kepalanya seperti film horor yang tak kunjung usai.
Rahang Megan mengeras, tangannya terkepal kuat hingga Bradley yang sedang tertidur bisa merasakan pergerakan kasar itu.
"Kau sudah bangun, Meg?" suara serak Bradley terdengar tepat di telinganya.
"Kenapa kau membawaku kembali ke neraka ini, Brown?! Apa kau sengaja ingin mengingatkanku betapa bejatnya dirimu?!" desis Megan tajam.
"Bisakah kau tenang sedikit saja? Kau tidur sejak di pesawat, tidak mungkin aku membawamu menempuh perjalanan jauh ke Surrey," jawab Bradley, mencoba meraih bahu Megan.
Namun, amarah Megan sudah di ubun-ubun. Dengan seluruh sisa tenaganya, ia mendorong tubuh Bradley yang tidak siap.
BUGH!
Bradley terjatuh dari ranjang, menghantam lantai dengan suara yang cukup keras. Megan tersentak, ia baru teringat luka jahitan di punggung Bradley yang belum pulih.
"Oh, shit..." Bradley bangkit perlahan, meringis menahan nyeri yang membakar punggungnya. Ia menatap Megan dengan kilat amarah yang tertahan. Jari telunjuknya terangkat tepat di depan wajah Megan, namun gerakannya membeku di udara. Bradley menarik napas panjang, menekan iblis di kepalanya, lalu memilih berbalik masuk ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun.
Megan terengah-engah, matanya menyapu ruangan hingga jatuh pada sebuah benda di atas nakas. Glock milik Bradley. Emosinya yang memburu membuatnya kehilangan kendali. Ia menyambar senjata itu, mengarahkannya tepat ke lambang Obsidian di dinding.
DOOOORRRR!
"Untuk setiap inci rasa sakitku, Brad!" teriak Megan.
DOOOORRRR!
"Untuk ketidakberdayaanku!"
DOOOORRRR!
"Dan untuk ayahku yang bahkan tidak pernah mencariku!"
Tangan Megan gemetar hebat saat Bradley keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Kamar itu sudah berantakan, bau mesiu memenuhi udara. Namun, Bradley tidak peduli pada kerusakan dindingnya; matanya hanya tertuju pada Megan.
"Hentikan, Meg!" Bradley melangkah mendekat dengan sangat hati-hati, tangannya terentang untuk meredam ketakutan Megan.
"Jangan mendekat, Brown! Aku membencimu!" teriak Megan, moncong pistol itu kini beralih ke dada Bradley.
Bradley tetap melangkah maju hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Ia tahu persis bagaimana cara menenangkan Megan setelah dua bulan hidup bersama. Ia meraih tangan Megan yang gemetar, mengambil senjata itu dengan satu gerakan tenang, lalu melemparnya ke lantai.
Glodag!
Bradley merengkuh pinggang Megan, mengunci tubuh wanita itu dalam dekapan yang menyesakkan. Ia tahu bagaimana cara menaklukkan wanita ini. Meskipun Megan menolak, tapi Bradley tahu bayi di dalam kandungan itu tidak akan pernah menolak ayahnya. Bradley merangkul pinggang Megan, membisikkan kata-kata yang mengunci takdir mereka.
"Semuanya sudah terjadi, Meg... kau milikku. Darahmu di nadiku adalah bukti bahwa takdir sudah mengunci kita," bisik Bradley parau. Ia menunduk, mencium bibir Megan dengan penuh tuntutan, sebuah ciuman yang awalnya ditolak namun perlahan melumpuhkan saraf Megan.
Bradley beralih menciumi leher Megan, menghirup aroma yang selalu sanggup menjinakkan monster di dalam dirinya.
"Bencikah aku sesukamu, tapi jangan pernah sakiti dirimu sendiri lagi. Karena di dalam sana," Bradley menyentuh perut Megan yang masih rata, "ada nyawaku yang sedang tumbuh. Dan aku tidak akan membiarkanmu membawanya ke neraka bersamamu."
Satu jam berlalu dalam keheningan yang hanya ada suara deru napas keduanya yang saling beradu, Bradley memungut kembali handuk putihnya, berdiri tegak sambil menatap sinis ke arah Megan.
Di mata Bradley, Megan justru tampak begitu cantik dengan rambut pirang yang berantakan, sisa-sisa peluh yang membanjiri tubuhnya, dan deru napas yang masih sedikit memburu.
"Bersiaplah, Meg. Aku akan menunjukkan sesuatu padamu," ucap Bradley dingin. "Tepat jam sepuluh, turunlah dan temui Peter. Minta dia mengantarmu ke tempat yang sudah kusiapkan."
Megan memalingkan wajah, menyembunyikan rasa penasaran yang mulai merayap di benaknya. Ia bangkit dari ranjang dengan langkah sedikit goyah, berniat membersihkan diri di kamar mandi.
Namun, Bradley justru bergerak lebih cepat dan masuk bersamanya.
"Kau mau apa lagi, Brown?!" tanya Megan geram.
Bradley tak menjawab. Dengan gerakan kilat, ia menarik Megan dan mengurungnya di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ia merapatkan tubuhnya, membiarkan Megan merasakan panas tubuhnya, lalu mendaratkan ciuman singkat di leher jenjang Megan.
"Minggir dari hadapanku! Tak ingatkah kau baru saja menjadi singa yang kelaparan, dan sekarang kau ingin mengunciku di sini?" desis Megan, mencoba mendorong dada bidang Bradley.
Bradley hanya terkekeh, suara rendah yang terdengar seperti dengusan puas. Ia melepaskan Megan, membiarkan wanita itu berendam di dalam bathtub mewah yang sudah terisi air hangat, sementara ia sendiri mengguyur tubuhnya di bawah kucuran shower dingin untuk mendinginkan kepalanya.
***
Tepat pukul sepuluh, Megan yang sudah tampil rapi dengan gaun simpel namun elegan, menuruni tangga utama dan mendapati Peter sudah berdiri tegap menantinya.
"Di mana Brown?" tanya Megan ketus.
"Mari ikut saya, Nona," jawab Peter tanpa banyak bicara.
Megan mengikuti langkah Peter yang membawanya jauh ke sayap kiri mansion. Ia mulai merasa asing; mansion mewah ini terasa seperti labirin tanpa ujung. Pilar-pilar beton megah mengelilingi mereka saat menyusuri koridor panjang yang didominasi warna gelap.
Hanya ada lampu dinding berwarna oranye temaram yang menyisakan bayangan panjang, menciptakan suasana yang kian mencekam.
"Kita akan kemana, Pet? Tempat apa ini?" gumam Megan, insting agennya mulai waspada.
"Ke ruang bawah tanah, Nona," sahut Peter datar.
"Ruang bawah tanah? Apa yang ada di sana? Kenapa kau membawaku ke sana?"
"Tuan sudah menunggu Anda di dalam."
Megan bergidik ngeri. Koridor itu semakin menurun dan udaranya terasa semakin dingin serta berbau logam.
Saat Peter berhenti di depan sebuah pintu besi berat dengan sistem pemindai biometrik,jantung Megan berdetak tak karuan, ia mendengar suara erangan yang sangat ia kenali.
Begitu pintu terbuka,Peter mundur satu langkah. “Masuklah, Nona”
Megan melangkah.
Dan saat ia melihat apa yang ada di dalam— lututnya gemetar hampir menyerah. Air matanya jatuh tanpa suara. “Tidak… ini tidak mungkin…itu Nathan”