“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#20
“Hari ini pak camat mau datang ke rumah kita. Katanya mau meresmikan gedung kepala desa yang baru. Mereka mau datang bersama keluarganya.”
“Rinto juga ikut?”
“Sepertinya iya.”
Rinto anak camat yang baru adalah teman semasa smp ayunda dulu sebelum bapaknya menjadi camat seperi sekarang. Mereka tidak cukup akrab karena ayunda dan Rinto selalu saja bertengkar di setiap pertemuan mereka.
“Penasaran, udah kayak apa dia sekarang.”
Rumah ayunda begitu ramai. Nunung masak cukup banyak untuk menyambut kedatangan pak camat dan keluarganya.
Waktu terus berjalan, pak camat pergi ke acara peresmian gedung kades yang baru. Usai acara, dia pun datang ke rumah ayunda.
Pak Mul menyambut nya dengan hormat. Bagaimana pun juga, camat adalah orang yang di hormati di sana.
“Silakan, silakan.”
Pak camat dan keluarganya pun duduk. Mereka ngobrol basa basi.
“Ini anak Pak Mul yang gede? Kuliah di mana sekarang? Dia satu angkatan dengan anak saya ya kalau tidak salah.”
“Hahaha, iya. Cuma anak saya gak kuliah.”
“Loh, kenapa? Kuliah dong, neng. Sayang duit bapak kamu nganggur. Hahahah.”
Mereka tertawa.
“Pak, mari makan dulu. Saya sudah masak banyak.”
“Iya, baik. Kebetulan tadi di desa saya sengaja makan sedikit karena ingin makan di sini. Ayo, kita makan dulu.” Pak camat mengajak keluarganya.
“Rinto mana, Pah?” Tanya istri camat.
“Tadi masih ngobrol di luar sana. Sama temen nya mungkin.”
Saat para orang dewasa pergi menuju meja makan, ayunda keluar untuk mencari Rinto.
“Woiiiii.” Ayunda memanggil Rinto. Laki-laki itu tersenyum lebar saat melihat Ayunda.
“Wuiiih, keren ya sekarang. Udah gak gemuk, gak dekil dan gak jamet lagi kayak dulu.”
“Aku berubah?”
“Iya, pangling banget.”
“Tapi kamu kok sama aja ya. Gak ada berubah sedikitpun. Sama kayak dulu, sama-sama jelek.”
“Rintoooo!”
Anak laki-laki yang dulu gemuk itu, kini tumbuh menjadi anak yang tinggi dan kurus. Dia berlari menuju ruang makan menyusul orang tuanya.
“Eh, ada apa ini? Jangan ribut di rumah orang, Rinto.” Ibu camat memarahi anaknya yang berlarian dikejar Ayunda.
“Itu mah, dikejar anjing gila.”
“Rinto!” Pak camat sedikit meninggikan suaranya. Bagaimana pun juga ayunda adalah anak pemilik rumah yang sedang mereka pijak.
“Udah lama gak ketemu, badan nya doang yang berubah. Akhlak nya tetep sama buruk.”
“Yundaaa.”
“Tapi bener loh, Pak. Dari dulu dia emang nyebelin. Dasar babon!”
“Eh, aku udah kurus ya. Gak lihat? Matamu ganti sana sama mata kodok!”
“Tetep aja kamu itu babon! Babi bongsor!”
“Dasar anak bekantan!”
“Kalian berhenti!” Nunung mulai naik darah mendengar ucapan kedua bocah tersebut. Semua terdiam. Sementara pak camat hanya menggelengkan kepala.
“Sibuk apa sekarang?” Tanya Rinto pada Ayunda saat mereka makan.
“Sibuk ngunyah.”
“Semua orang juga tau, tapi maksudnya bukan itu.”
“Lah, itu semua orang aja tau. Masa kamu masih harus nanya.”
“Wis lah, angel ngomong sama ayam kate.”
“Babon!”
Ekhemmm. Pak camat berdehem.
Ayunda dan Rinto kembali mengunyah makanan sambil sesekali saling melotot satu sama lain.
Selepas makan siang, orang tua kembali berbincang tentang obrolan orang dewasa. Sementara ayunda dan Rinto pergi berjalan-jalan.
Mereka nampak canggung saat berdua. Tidak seperti di awal pertemuan yang saling menyerang satu sama lain.
“Udara di desa ini masih sama kayak dulu. Sejuk dan segar.”
“Hmmm.”
“Masih suka naik pohon kelapa?”
“Udah jarang. Makin gede, rasa takut aku makin gede juga. Entahlah, keberanian aku tidak sebesar dulu.”
“Udah waktunya berubah lagian. Masa mau hidup gini-gini terus?”
“Apa yang harus dirubah? Aku menikmati kehidupan yang sekarang sedang dijalani.”
Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak di antara sawah yang membentang luas.
“Setidaknya kamu harus tahu, makin kamu dewasa, orang tua kamu makin tua. Yakin mau bersikap seperi anak-anak terus? Siapa yang akan mengurus orang tua kamu nanti?”
Langkah ayunda melambat.
“Sorry, bukan maksud menyinggung cuma, gimana ya?”
Ayunda menghentikan langkahnya. Lalu dia berbalik agar bisa menghadap Rinto yang berjalan di belakangnya.
“Setidaknya saat mereka tua nanti, mereka tidak mencemaskan kehidupan kamu, Tan.”
Ayunda tertawa. “Kamu masih sempet ngatain aku bahkan saat sedang memberi nasihat.”
Rinto menghela nafas.
“Aku dengar jika pekerjaan Bapak kamu bermasalah. Bahkan penyebab sabotase kerjaan Bapak kamu karena Pak Herman. Bapak dari laki-laki yang selama ini kamu perjuangan. Coba lah Tan kamu mikir. Mencoba memikirkan orang lain, setidaknya pikirkan orang tua yang mulai kehilangan kekuatan fisik, tenaga dan pikiran nya.”
“Ya, aku tahu.”
“Kamu itu loh pinter banget dari kita smp. Sayang otak kamu kalau gak dipakai. Mungkin sekarang kamu masih ingin menjadi wanita yang hanya mengabdikan diri untuk suami, ya kalau suami kamu Zayan. Kalau suatu saat kamu suka sama pria lain, terus keluarganya gak setuju karena kamu cuma lulusan sma, gimana? Nih, kalaupun suatau saat kamu menikah dengan Zayan dan cuma ingin menjadi ibu rumah tangga, gak akan rugi kok. Ilmu kamu gak akan berat dibawa. Bahkan bisa berguna untuk anak-anak kamu kelak. Lagian, masa istri dokter bodoh sih? Gimana kamu bisa menyesuaikan diri pas semisal ketemu teman-teman nya.”
Ayunda menatap kagum pada Rinto yang sangat jauh berbeda dengan Rinto teman smp nya dulu.
“Kamu banyak berubah ya, aku salut.”
“Karena jaman pun ikut berubah. Kalau kita tidak mengikutinya, kita akan terlihat seperti manusia kuno. Ikuti jaman, asal jangan terbawa arus yang buruk.”
Ayunda mengangguk pelan. “Kamu benar.”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan setapak menuju kebun milik orang tua ayunda. Mereka memetik beberapa buah manggis yang mulai menhitam karena matang.
“Cukup kayaknya.”
“Kurang banyak itu, biar sekalian dibawa pulang ke rumah kamu nanti.”
“Iya deh boleh. Aku mau ngasih pacar aku juga.”
“Laku?”
“Ya laku lah, emang nya kamu ngejar tahunan berakhir dicampakkan.”
“Nih, rasain.” Ayunda melempar mangir kecil ke kepala Rinto.
“Sakit anjirrrr!”
“Makanya dijaga itu mulutnya.”
Rinto menggosok kepalanya yang terasa sakit, sambil memungut manggis yang dijatuhkan Ayunda dari atas.
“Wah, terimakasih banyak loh Pak Mul atas jamuan nya. Ini juga dibawakan banyak sekali makanan.”
“Sama-sama pak, apa atuh ini cuma hasil bumi kebun saya.”
“Justru ini sangat berharga. Saya bosan kalau dikasih oleh-oleh kue dan bolu begitu. Hahaha. Mending ini bisa dipakai sarapan pagi buat temen ngopi.”
“Hahaha. Benar, Pak.”
Mereka berpamitan.
“Jangan lupa berkabar,” ujar Rinto.
“Ogah!”
Mereka tertawa.
Mobil pak camat berlalu sampai menjauh dari pandangan mata. Sementara ayunda masih berdiri di tempat yang sama. Dia memikirkan ucapan Rinto yang dirasanya benar.
Bagaimana dia bisa menjalani hidup yang sama seperti ini terus, padahal orang tuanya semakin lama semakin keriput.