Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENING
Tidak hanya Sandrina yang ketakutan memegang ponsel, Amar pun juga begitu, sejak pagi para petinggi jurusan ataupun kampus mulai menghubungi dirinya, sang adik sempat memberi tahu perihal video yang diunggah oleh Melani tengah malam tadi.
Jelas sudah menyampai ke telinga para petinggi, karir yang selama ini ia bangun sejak muda siap-siap mengalami kehancuran akibat keteledorannya. Apa mungkin ini waktunya sudah stop untuk bermain-main dengan banyak perempuan dan harus bisa setia pada Melani.
Melani sendiri semalaman tidak tidur, menangis sepanjang hari. Ia juga tak menggubris sang bayi. Sebenarnya kalau sudah tahu lama, ia akan lebih terima bukan. Menganggap biasa dan ya masa bodoh, tapi ini dia baru melahirkan. Baru juga mempertaruhkan nyawanya untuk memberi keturunan pada Amar, sudah diberi hadiah semenyedihkan ini.
Bagi Melani ia sangat malu dan rasanya campur aduk menghadapi masalah ini. Kesalahan di masa lalu, saat dia belum kenal Amar, malah menjadi boomerang dan disakiti begitu dalam. Tidak ada baginya, dan ia yakin Amar sebelum menikah dengannya tak mungkin masih perjaka juga. Kenapa dia menuntut Melani sesuci itu?
"Bangsat kau Amar, bangsat!" teriak Melani sudah semakin menjadi. Ia belum puas kalau Amar tak hancur.
Melani membuat rekaman video lagi. "Buat perempuan yang bernama Sandrina, mahasiswi bimbingan Mas Amar di kampus X, kok kamu mau sih demi kelancaran skripsi kamu sampai melakukan serendah ini. Kalau tak sanggup mengerjakan skripsi, ya gak usah dilakukan. Kenapa pakai jalan pintas, kamu perempuan. Sudah tahu kalau Mas Amar punya istri, tapi kenapa kamu dengan mudahnya menyodorkan diri sampai hamil? Kalian tahu, dia datang sembari membawa tespack, tega banget bukan. Kemudian aku marah aku share ke media sosial ini salah kah? Kalau hukum agama sudah tak bisa menjerat kalian, bolehkan aku memakai hukum sosial buat menampar kelakuan bejat kalian?" ucap Melani diiringi tangisan yang menyayat hati. Bahkan mata sembap dan bengkak. Bagi siapa saja yang melihatnya, sangat tak tega dan menganggap dia otw stress.
Seperti biasa tanpa edit langsung share begitu saja. Ia ingin semua yang menyakitinya hancur. Tak hanya Sandrina, ia pun membuat rekaman video lagi. "Untuk Fika, kamu seorang guru, tapi kelakuan kamu ikut bejat. Apa sih yang membuat kalian bisa melakukan hubungan di belakang aku? Bangga? Kamu selalu mengingatkan anak didikmu untuk tidak melakukan pergaulan bebas, tapi kamu sendiri melakukan bersama Mas Amar, suami orang. Kamu perempuan, kenapa kamu tidak punya perasaan? Suamiku begitu bejat, kenapa kamu yang berpendidikan tak mengingatkan hal itu. Setan kalian semua!" Melani kembali berteriak, dan mematikan rekaman langsung unggah kembali.
Tentu saja menarik perhatian netizen. Berbagai komentar mendukung maupun menghujat Melani tak ia gubris, ia hanya ingin semua orang tahu kalau Amar dan perempuan-perempuannya telah kelewat batas.
Sandrina sudah overthinking, ia tak berani keluar hingga ART lapor ke orang tuanya. Mama Sandrina langsung mengecek sang anak, yang hanya menutup tubuhnya dengan selimut dan tak berani keluar kamar. Dipanggil pun Sandrina tak menyahut, sang mama yakin putrinya hanya pura-pura. Terlebih ponselnya sejak tadi plentang-plenting terus.
Beliau pun mengecek ponselnya, betapa kagetnya karena banyak pesan dari temannya yang menanyakan kabar Sandrina.
San, yang ramai di video itu bakan lo kan?
San, lo ada kaitan sama video itu?
Lo hamil anak Pak Amar.
Dan berbagai pesan dari teman membuat mama Sandrina mendelik seketika, "Bangun!" beliau langsung menarik selimut Sandrina, bahkan tangan perempuan itu langsung ditarik oleh mamanya.
"Apa sih, Ma!" protes Sandrina masih belum sadar kalau sang mama sudah memegang ponselnya.
"Buka mata kamu, dan lihat mama. Jelaskan apa yang ada dalam ponsel kamu, teman-teman kamu menanyakan kamu hamil apa tidak? Apa maksud semua ini?" tanya Mama tak kalah histeris. Badan beliau gemetar, berharap apa yang beliau baca bukan Sandrina anaknya.
"Benar, mereka benar semua, Ma. Sandrina hamil, Sandrina tersandung kasus dengan dosen Sandrina. Aku tak mau menutupi lagi, karena aku hampir gila memikirkan sendiri. Maafkan Sandrina, Ma!" ucap sang putri sembari memeluk kaki mama.
Mama terpaku, apa yang diucapkan sang putri serasa petir yang menyambar begitu kencang, bahkan otak beliau saja tak sampai. "Kamu kamu," mama terbata, masih tak percaya.
Sandrina sudah menangis, ia menceritakan kronologi kedekatan dengan dosen hingga terjadi hubungan intim mereka. Sandrina juga bilang siapa dosen dan latar belakangnya. Kepala mama semakin pusing, setelah mendengar bahwa dosen itu sudah punya istri, da video yang diunggah ke media sosial itu adalah video dari sang istri dosen.
Mama terduduk kaget, tiba-tiba nge-blank. "Maaf kan Sandrina, Ma. Maaf," ucap Sandrina penuh penyesalan. Sang mama menangis, dan mendorong tubuh sang putri.
"Kamu gila, kamu bodoh. Harusnya kamu melakukan begini pakai otak, di mana otak cerdas kamu, hah. Sebelum berhubungan intim dengan laki-laki, pikirkan soal akibatnya. Apalagi sama dosen. Bodoh kamu keterlaluan, Sandrina!" teriak beliau.
Keduanya menangis, hingga papa Sandrina masuk, karena tidak mendapati anak istri di ruang makan. "Ada apa ini?" tanya papa dengan suara tegasnya. Aneh saja, Sandrina di lantai dan sedang menangis sesenggukan.
"Anak kamu bodoh, usir saja sekalian, Pa. Bikin malu saja!" ucap mama tak mau tahu, beliau beranjak pergi. Sedangkan papa sudah menatap tajam pada sang putri.
"Maaf, Pa!"
"Jelaskan!" Sandrina menelan ludah kasar, ia tak tahu respon sang papa bagaimana, mendengar suara beliau saja Sandrina sudah takut setengah mati.
Sandrina bercerita setelah menunggu lama, dan papa masih menunggu, beliau masih di tempat dengan tatapan tajam. Sandrina dengan terbata menceritakan apa yang terjadi, mulai dari kedekatan, hubungan intim, kehamilan hingga namanya terseret di video yang diunggah oleh istri dosen.
"Bagus! Sekalian saja hancur, urus sendiri, papa tidak mau mencampuri urusan kamu, karena saat kamu mengambil keputusan untuk berhubungan dengan dosen itu, papa sama sekali tidak kamu libatkan, dan sekarang tanggung sendiri," ucap beliau tegas, tanpa emosi berlebihan. Langsung keluar kamar Sandrina, dan segera menghubungi anak buahnya.
"Bawa dosen dari kampus X Jurusan X namanya Amar, saya gak mau tahu nanti siang sudah harus di dalam ruangan saya!" ujar beliau, meski bilang angkat tangan pada sang putri, sebagai ayah tentu tak bisa lepas begitu saja. Beliau berpikir realistis saja, sudah terjadi tak perlu bertanya kenapa. Yang harus dipikirkan sekarang, bagaimana caranya sang putri melahirkan nanti sudah punya suami, kalau perlu beliau menyuruh sang putri tinggal di luar pulau atau negeri.