Di dunia yang penuh dengan keajaiban, di mana yang Abadi mampu membelah lautan dan menghancurkan gunung, di mana Akar Roh menjadi penentu antara yang fana dan yang Abadi, jiwa lain bangkit di tubuh manusia fana.
Dengan kitab harta karun yang ia peroleh, jiwa itu membawa tekad untuk bertahan di dunia yang kejam. Ia melangkah ke dunia kultivasi, menciptakan klan kultivasinya sendiri. Setiap langkah adalah perlawanan, setiap kemajuan dipenuhi berbagai rintangan dan cobaan.
Namun ia ditakdirkan untuk tidak menjadi biasa-biasa saja.
Ia ditakdirkan untuk mencapai sesuatu yang besar.
Saksikan bagaimana seorang manusia fana memulai jalan kebangkitan untuk klannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hdibibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.6 - Sebuah rahasia
Yan Lei terkekeh pelan. “Sesuatu yang dapat membantu kalian menjadi Yang Abadi.”
Ia tidak menyebutkan tentang Kitab Ungu Surgawi. Bukannya Yan Lei tidak mempercayai mereka, hanya saja lebih baik jika rahasia itu disembunyikan seorang diri agar tidak mengundang masalah yang tidak perlu di kemudian hari. Lagipula Biji Akar Roh Surgawi saja sudah menentang surga, apalagi keberadaan Kitab Ungu Surgawi itu sendiri.
Sedikit saja kebocoran dan seluruh mata di dunia kultivasi akan tertuju pada mereka.
Ruangan itu hening. Bahkan Yan Xie, yang baru saja melompat seperti monyet, berpura-pura ikut termenung dengan serius.
“Hei, berhenti bercanda,” Yan Jun menepis keheningan itu dengan tawa pelan. Namun melihat ekspresi Yan Lei yang tetap teguh, tawanya perlahan-lahan mengecil seiring waktu.
Melihat keterkejutan dan keraguan di wajah mereka, Yan Lei menghela napas pelan. Seperti yang kuduga, pikirnya. Ia lalu membuka pintu dan berjalan menuju halaman belakang, di mana batu setinggi sekitar satu meter, dengan tebal 10 inci tergeletak.
Tindakan Yan Lei semakin mengundang kebingungan dari mereka. Namun kebingungan itu hanya berlangsung sementara.
Ketika Yan Lei mengayunkan tinjunya dengan setengah kekuatan dan menghantam batu tersebut, batu itu hancur berkeping-keping dan meledak ke segala arah, serpihannya beterbangan dan berjatuhan seperti hujan batu.
“Apa-apaan..” bola mata Yang Wei terbuka sangat lebar, takjub dengan apa yang baru saja ia saksikan. Yang Sue tak percaya dan bahkan Yang Jun yang selalu pandai menyembunyikan emosinya kini melongo seperti baru saja melihat hantu.
“Wah hebat! Kakak hebat..” hanya Yan Xue yang berteriak dan bertepuk tangan dengan gembira. Pikirannya masih lugas dan sederhana. Ia tidak memahami arti dari tindakan Yan Lei.
Yan Lei berjalan mendekat, tersenyum tipis dan kembali memperlihatkan Biji Akar Roh Surgawi di tangannya dan berkata, “Saya adalah buktinya.”
Ruangan itu sunyi untuk beberapa saat sebelum disela oleh Yan Wei dengan ekspresi yang serius. “Benda ini, apakah ada orang lain yang mengetahuinya?”
Dan ketika Yan Lei menanggapinya dengan gelengan kepala, hati Yan Wei menjadi lega. “Bagus sekali,” katanya, “Dan kalian! Jangan katakan apa pun pada orang lain mengenai hal ini!? Cukup kita saja yang tahu!”
Yan Jun dan Yan Sue mengangguk setuju, mereka tentu tahu keseriusan masalah ini, dan bahkan si kecil Yan Xie mengangguk-angguk dengan bahagia.
Mulut Yan Wei berkedut melihat Yan Xie yang tampak ikut-ikutan. “Yan Xie, apa kau mendengarku? Jangan katakan pada siapa pun! Kalau tidak, saya dan kakakmu bisa mati.”
Pada titik itu, Yan Xie yang masih menikmati permainan-nya sontak terdiam. Tubuhnya tegang. Wajahnya panik. “Kakak, benarkah?” tanyanya buru-buru.
Anak kecil itu tidak pernah merasakan kasih sayang langsung dari orang tuanya dan justru karena itu, ia sangat lengket pada setiap saudaranya dan selalu berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.
“Ya benar,” Yan Lei ikut menimpali, sambil mengelus kepalanya dengan pelan, “jadi biarpun itu teman-temanmu, Xie’er jangan pernah membicarakannya, oke? Cukup kita berlima saja yang tahu.”
Yan Xie merupakan anak yang cerdas. Sejak umur 5 tahun, Yan Lei sudah mengajaknya ikut belajar. Dia sudah banyak membaca berbagai buku dan cerita, yang menyebabkan pikirannya lebih fleksibel dari anak seumurannya.
“Ya, kakak, Xie’er berjanji tidak akan membicarakannya pada siapa pun, bahkan pada paman dan bibi! ” Yan Xie mengangguk patuh seperi ayam mematuk nasi, dan bahkan menggumamkannya berulang-ulang kali, seolah itu adalah caranya untuk mengungkapkan sebuah janji.
“Bagus, saya percaya pada Xie’er, ” puji Yan Lei dengan senyuman.
Di sisi lain, Yan Wei kembali mengarahkan pandangannya pada telapak tangan Yan Lei dan bertanya, “bagaimana cara menggunakannya?”
Ia bersama yang lain bahkan tidak bertanya dari mana asal benda itu. Mereka mempercayai Yan Lei sepenuhnya. Jika Yan Lei tidak mengungkapkannya sendiri, mereka tidak mau repot-repot mempertanyakannya. Hal itu sudah merupakan pemahaman diam-diam di antara mereka.
Yan Lei lalu menjelaskan, mulai dari konsep dasar kultivasi, tentang Akar Roh, pentingnya keseimbangan di antara elemen, dan tentang kesulitan-kesulitan yang mungkin akan mereka hadapi.
"Tapi tenang saja. Selama kalian menyeimbangkan elemen-elemen kalian terlebih dahulu sebelum menyerapnya ke titik akupuntur, segalanya akan baik-baik saja.”
“Tapi, kakak ketiga,“ Yan Sue berbicara ragu, “kami mungkin mampu mengatasinya, tapi bagaimana dengan Xie’er yang masih kecil?”
“Jangan khawatir. Saya akan membimbingnya secara pribadi.”
Setelah mendengar konfirmasi dari Yan Lei, mereka bertiga menghela napas lega. Setelah itu, dibawah tatapan serius Yan Lei, mereka tanpa ragu-ragu menelan Biji Akar Roh Surgawi dan duduk bersila.
Setengah jam berlalu, namun belum ada reaksi apa pun dari mereka.
“Bukankah saat aku mengonsumsinya, energi spiritual langsung menyerbu masuk ke dalam tubuhku?” Yan Lei berbicara sedikit ragu dalam hatinya, “apakah persepsiku terhadap energi spiritual setinggi itu? Mungkin karena pengaruh perpaduan dua jiwa?”
Tanpa memperoleh jawaban yang pasti, Yan Lei segera menepis pikiran-pikiran tersebut.
Ia mendekati Yan Xie dan memintanya duduk bersila.
“Sekarang tutup matamu, dan lakukan persis yang saya katakan tadi.”
“Baik, kakak..” Yan Xie mengangguk patuh dan menutup matanya setelah menelan Biji Akar Roh Surgawi.
Yan Lei turut duduk bersila. Berkat persepsinya, bahkan tanpa perlu menutup mata, ia mampu merasakan keberadaan energi spiritual. Ia lalu menatap Yan Xie yang sesekali berkerut tidak nyaman, dan mencoba memperhatikan aliran energi spiritual di sekitarnya.
Beberapa saat berlalu dan Yan Lei menemukan energi spiritual berwarna biru dan emas sesekali berkedip-kedip samar di sekitar Yan Xie. Jika bukan karena persepsi spiritualnya yang tinggi, ia tidak mungkin memperhatikan kejanggalan itu.
“Cahaya dan air..Akar Roh dua elemen. Bocah ini..” bibir Yan Lei membentuk senyuman tipis. Bakat ini, bahkan jika ditempatkan di sekte atau klan besar manapun akan selalu menjadi salah satu yang terbaik.
Yan Xie sepertinya masih belum bisa merasakan keberadaan energi spiritual sehingga Yan Lei membantunya dengan cara mengganggu energi di udara menggunakan energi spiritualnya sendiri. Ia menciptakan gangguan yang cukup besar hingga energi itu menghasilkan gelombang riak yang semakin jelas dari waktu ke waktu.
Dan benar saja, berkat gangguannya, Yan Xie segera merasakan keberadaan energi spiritual itu dan menyerapnya. Dan pada saat itu juga, ekspresi serius pada wajahnya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang nyaman.
Yan Lei di sisi lain dengan hati-hati mengontrol masukan energi ke dalam tubuh Yan Xie.
Setiap kali energi spiritual tertarik terlalu banyak karena ulah Yan Xie yang terlalu serakah, Yan Lei segera memobilisasi kekuatan spiritualnya dan secara paksa mengusir energi spiritual di sekitar Yan Xie untuk menahan laju penyerapannya.
Terkadang ia sengaja melonggarkan batasan sedikit demi sedikit, dan ketika ekspresi Yan Xie mulai berubah tidak nyaman, ia akan segera membatasinya kembali.
Yan Xie masih kecil, kekuatan mentalnya masih dalam tahap awal pertumbuhan. Yan Lei khawatir bocah itu akan kewalahan menyeimbangkan elemen Akar Rohnya sendiri jika energinya terlalu besar.
Yan Lei tidak mengharapkan kecepatan dari adik mungilnya. Ia hanya ingin agar bocah itu terbiasa terlebih dahulu sampai ia belajar mengendalikannya dengan stabil.
Rencana saya update 2 chapter/hari.
Bagi kawan2 yang menyukai cerita ini, bantu like dan komen skuyy.
Dukungan kalian jadi motivasi buat Author.
Salam membaca, Salam dari dunia kultivasi. Gua tunggu lu pada di sana.