"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Proyek "Cucu"
Setelah insiden rak buku "Menara Pisa" yang berakhir tragis, Devan sedang sibuk mencoba membersihkan sisa-sisa tepung di telinganya ketika bel rumah berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang elegan bergema di lorong marmer.
Mama Widya dan Papa Surya masuk dengan wajah berseri-seri, membawa tumpukan bingkisan oleh-oleh dari perjalanan singkat mereka ke luar kota.
"Shena! Sayang, apa kabar?" Mama Widya langsung memeluk Shena, namun matanya segera memicing saat melihat dapur yang berantakan dan wajah Devan yang masih tercoreng debu kayu. "Devan, kenapa rumah kalian berantakan sekali? Dan kenapa bajumu bau ragi?"
"Ini namanya seni domestik, Ma," jawab Devan santai sambil merangkul bahu Shena. "Aku sedang belajar menjadi suami serba bisa. Meskipun sementara ini kemampuanku baru sampai tahap 'merusak'."
Mereka duduk di ruang tengah. Papa Surya sibuk membahas perkembangan saham dengan Devan, namun Mama Widya memiliki agenda yang jauh lebih mendesak. Ia menatap perut Shena, lalu menatap Devan bergantian dengan tatapan penuh kode.
"Mama lihat bulan madu kalian di Bajo kemarin sangat privat ya?" mulai Mama Widya sambil menyesap tehnya. "Mama cuma mau bilang, rumah besar kami itu sepi sekali sekarang. Rasanya butuh suara langkah kaki kecil yang lari-larian..."
Shena yang sedang minum teh langsung tersedak. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini. "Ma, kami kan baru saja—"
"Iya, Mama tahu kalian baru menikah lagi secara resmi," potong Mama Widya penuh semangat. "Tapi Mama sudah siapkan kamar bayi di rumah utama. Lengkap dengan wallpaper awan-awan. Jadi, kapan Mama bisa dapat cucu?"
Shena menunduk dengan wajah semerah kepiting rebus. Ia melirik Devan, berharap suaminya itu akan memberikan jawaban diplomatik atau mengalihkan pembicaraan.
Bukannya menghindar, Devan justru menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gaya CEO yang sedang mempresentasikan laporan tahunan yang sukses. Ia melirik Shena dengan kedipan mata nakal.
"Tenang saja, Ma," ucap Devan dengan nada sangat gampang seolah sedang membicarakan kontrak kerja. "Sudah diproses, kok. Kemarin selama di Bajo, kami sudah mengerjakan 'proyek' itu dengan sangat intensif pagi, siang, dan malam."
Shena membelalakkan matanya, nyaris menjatuhkan cangkir tehnya. "Mas Devan!"
Papa Surya yang sedang membaca koran sampai menurunkan korannya, sementara Mama Widya menutup mulutnya dengan tangan, antara kaget dan girang.
"Tapi ya namanya juga proyek besar, Ma," lanjut Devan tanpa dosa, sambil menarik Shena lebih dekat ke pelukannya. "Kami ingin hasilnya maksimal. Jadi, rencana kami adalah memulai proses pengerjaan kedua kalinya nanti malam setelah Papa dan Mama pulang. Ya kan, Sayang?"
Devan menoleh ke arah Shena dengan senyum paling menawan sekaligus menyebalkan miliknya. "Kita harus pastikan kualitasnya nomor satu, kan?"
Shena rasanya ingin tenggelam ke dalam pori-pori sofa saat itu juga. Wajahnya sudah tidak lagi merah, tapi hampir terbakar.
"Mas Devan... bicaranya!" bisik Shena sambil mencubit pinggang Devan dengan sangat keras.
"Aduh! Sakit, Sayang," seru Devan pura-pura mengaduh. "Ma, lihat kan? Dia semangat sekali kalau bahas proses pengerjaan."
Mama Widya tertawa renyah, wajahnya berbinar puas. "Bagus! Begitu dong, Devan! Harus proaktif! Papa, dengar itu? Anakmu memang benar-benar Adiguna sejati, tidak suka menunda-nunda pekerjaan."
Papa Surya hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Jangan terlalu dipaksa, Devan. Tapi ya kalau bisa cepat, kenapa harus lambat?"
Begitu pintu depan tertutup setelah kepulangan orang tua mereka, Shena langsung berbalik dan mengejar Devan yang berlari kecil menuju tangga.
"Mas Devan! Beraninya kamu bilang begitu di depan Papa dan Mama!" teriak Shena sambil melempar bantal sofa ke arah Devan.
Devan menangkap bantal itu dengan cekatan dan tertawa terbahak-bahak. "Lho, aku kan cuma melaporkan progres kerja kepada pemegang saham tertinggi, Sayang! Lagipula, aku tidak bohong kan? Kita memang punya jadwal 'lembur' nanti malam."
"Mas!"
Devan berhenti di anak tangga, lalu turun kembali mendekati Shena. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Shena, menatapnya dengan penuh cinta yang kini bercampur dengan binar jenaka.
"Habisnya kamu cantik sekali kalau sedang marah dan malu begitu," bisik Devan lembut.
"Jadi, Nyonya Adiguna... apakah kita harus mulai meninjau 'berkas proyek' itu sekarang, atau mau makan martabak dulu?"
Shena akhirnya tidak bisa menahan senyumnya. "Makan martabak dulu! Aku butuh tenaga untuk menghadapi suamiku yang sudah gila ini."
"Siap, laksanakan! Martabak datang, cucu menyusul!" seru Devan semangat sambil segera meraih ponselnya untuk memesan makanan.
...****************...