NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kembali pada Masa Awal kuliah itu adalah satu-satunya celah di mana kendali Pricillia hampir goyah. Clarissa bukanlah gadis sembarangan, dia adalah badai. Cantik, berani, dan memiliki aura yang membuat Danesha yang saat itu baru masuk kuliah merasa tertantang untuk menjadi "pria dewasa".

Clarissa adalah senior yang populer. Dia tidak menunggu didekati, dia yang memilih. Dan saat itu, targetnya adalah Danesha. Danesha yang merasa selama ini terlalu aman di bawah ketiak Pricillia, merasa egonya terpancing.

Suatu malam setelah acara makrab (malam keakraban) jurusan di sebuah vila di Puncak, suasana sangat dingin. Danesha sedang duduk di pinggir kolam renang, memandangi bintang. Clarissa datang dengan jaket kulitnya, membawa dua botol minuman.

"Lo itu cakep, Dan. Tapi kenapa gue ngerasa lo kayak anak kecil yang takut pulang telat?" sindir Clarissa sambil duduk di sampingnya.

Danesha tertawa, mencoba terlihat tangguh.

"Gue nggak takut. Gue cuma... menghargai orang rumah."

"Basi," bisik Clarissa. Dia mencondongkan tubuh, aroma parfum mahalnya menutupi segalanya. "Lo mau tahu rasanya jadi pria yang bener-bener bebas?"

Di bawah remang lampu taman, Clarissa menarik kerah baju Danesha. Danesha terpaku. Sebelum otaknya sempat memikirkan Pricillia, bibir Clarissa sudah menempel di bibirnya. Itu adalah ciuman yang liar, menuntut, dan penuh teknik—sesuatu yang belum pernah dirasakan Danesha sebelumnya.

Danesha kehilangan akal sehatnya. Hormon masa mudanya meledak. Dia membalas ciuman itu dengan kikuk namun penuh gairah. Di detik itulah, dia merasa Clarissa adalah dunianya.

"Cla..." bisik Danesha terengah-engah setelah tautan itu terlepas. "Gue rasa... gue sayang sama lo. Lo beda dari semua cewek yang pernah gue kenal."

Clarissa tersenyum penuh kemenangan. "Gue tahu, Dan. Karena gue bukan sahabat lo."

Sentuhan Clarissa yang menuntut entah bagaimana membuat Danesha merindukan kelembutan yang biasa ia temukan di rumah. Tanpa sadar, napasnya yang memburu mengeluarkan satu nama yang terkunci rapat di lubuk hatinya.

"Ah... Pris... Pricillia..." gumam Danesha lirih, tepat di bibir Clarissa.

Seketika, Clarissa membeku. Ciuman itu terhenti seperti kaset yang ditarik paksa. Keheningan di itu terasa begitu mencekik.

Clarissa mendorong bahu Danesha dengan kasar. "Apa kamu bilang?!"

Danesha tersentak, matanya yang tadi sayu karena gairah mendadak membelalak kaget. "Cla... maksud gue..."

"Lo panggil nama dia?! Di saat lo lagi ciuman sama gue, lo panggil nama sahabat lo itu?!" suara Clarissa meninggi, penuh dengan penghinaan. "Gila ya lo, Dan! Gue pikir gue spesial, ternyata gue cuma jadi pengganti buat fantasi lo tentang si Pricillia itu?!"

.

.

Keesokan harinya, Danesha pulang dengan wajah berseri-seri. Dia langsung menemui Pricillia di kafe biasa. Tanpa menyadari perubahan raut wajah Pricillia, Danesha bercerita dengan semangat yang meluap-luap.

"Pris! Gue udah jadian sama Clarissa!" serunya bangga. "Gue baru ngerasa hidup, Pris. Semalam... dia cium gue. First kiss gue diambil sama dia, dan rasanya gila banget!"

Pricillia membeku. Sendok tehnya berdenting keras menabrak cangkir. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka, ada orang lain yang menyentuh bibir yang seharusnya menjadi miliknya.

Di dalam hati, Pricillia meraung, namun wajahnya tetap sedingin es.

"Oh ya? Selamat ya, Dan," ujar Pricillia dengan nada datar yang menusuk. "Semoga dia bisa tahan sama sifat manja lo."

Meskipun Danesha sedang mabuk kepayang dengan Clarissa, Pricillia tidak tinggal diam. Dia tidak melarang, dia justru mendukung dengan cara yang manipulatif.

Setiap kali Danesha mau kencan, Pricillia akan mendadak butuh bantuan.

"Dan, ban mobil gue kempes di jalan sepi," atau "Dan, kucing gue sakit parah, gue bingung mau ke mana."

Danesha yang sudah terbiasa menjadi pelindung Pricillia, selalu berakhir meninggalkan Clarissa demi Pricillia.

Hingga puncaknya, saat Danesha sedang bercumbu dengan Clarissa di dalam mobil, Danesha secara tidak sadar menggumamkan nama yang paling sering dia sebut sepanjang hidupnya.

"lagi Pris..."

Clarissa menampar Danesha saat itu juga.

Itulah awal kehancuran hubungan mereka. Clarissa sadar, meski dia memiliki bibir Danesha, jiwa Danesha sudah dikunci di laci meja kamar Pricillia sejak mereka masih kecil.

Setelah putus dari Clarissa, Danesha datang ke rumah Pricillia sambil frustrasi. Dia merasa gagal menjadi pacar yang baik.

Pricillia menarik Danesha ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan penuh kemenangan yang tersembunyi.

Danesha mendongak, menatap mata Pricillia yang tenang. Di saat itu, rasa bersalahnya terhadap Clarissa menguap begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang menyesakkan.

"Jangan pergi ya, Pris. Gue rasa gue beneran nggak bisa hidup tanpa lo," ujar Danesha parau.

"Gue nggak akan ke mana-mana, Dan. Gue bakal selalu di sini... "

Malam itu, Danesha tidur di ranjang samping Pricillia sambil menggenggam tangan gadis itu.

Flashback Off

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!