NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Zidan Hampir Putus Asa

#

Hari kelima setelah debt collector datang. Zidan duduk sendirian di teras kontrakan jam sebelas malam. Baru pulang dari kerja parkir. Badan remuk. Mata perih. Kepala pusing luar biasa.

Di tangannya ada uang hasil kerja hari ini. Seratus dua puluh ribu. Dia itung lagi. Seratus dua puluh ribu. Dia kumpulin uang lima hari terakhir. Total enam ratus ribu.

Masih kurang empat juta empat ratus ribu.

Tinggal dua hari lagi.

Tanggal lima belas.

Hari dimana debt collector akan datang lagi.

Dan dia nggak punya uang yang mereka minta.

Dia tatap uang receh di tangannya sambil air mata mulai jatuh. Jatuh pelan. Satu. Dua. Tiga. Terus mengalir nggak berhenti.

"Kenapa? Kenapa susah banget sih? Aku udah kerja keras. Aku udah kerja dari subuh sampai tengah malam. Aku udah nggak tidur dengan bener. Aku udah nggak makan dengan bener. Tapi kenapa tetep nggak cukup? Kenapa?"

Suaranya pelan. Parau. Bergetar.

"Ya Allah, kenapa Engkau kasih aku ujian seberat ini? Apa salah aku? Apa dosa aku? Aku udah sholat lima waktu. Aku udah puasa. Aku udah sedekah sekali sekali meski cuma recehan. Aku udah jadi suami yang baik buat Naura. Aku udah sayang sama Faris. Terus kenapa? Kenapa hidup aku tetep susah? Kenapa?"

Dia pegang kepalanya dengan kedua tangan sambil membungkuk. Nangis makin keras tapi masih ditahan biar nggak keluar suara. Takut Naura bangun.

"Aku cape. Aku cape banget. Aku nggak kuat lagi. Badan aku sakit semua. Tulang tulang aku rasanya mau copot. Mata aku perih nggak bisa liat dengan jelas. Kepala aku pusing terus menerus. Tapi aku tetep harus kerja. Harus cari uang. Karena kalau aku berhenti, keluarga aku mau makan apa? Mau tinggal dimana?"

Tangannya gemetar pegang uang receh itu.

"Tapi hasilnya apa? Cuma segini. Cuma enam ratus ribu. Padahal aku butuh lima juta. Lima juta! Dari mana aku cari empat juta lebih dalam dua hari? Dari mana?"

Dia lempar uang itu ke tanah dengan frustasi. Uang receh berserakan. Lima ribuan. Sepuluh ribuan. Dua puluh ribuan. Berhamburan di lantai teras yang retak.

"Percuma. Semua percuma. Aku kerja kayak orang gila tapi hasilnya tetep nggak cukup. Aku nggak akan pernah bisa bayar hutang itu. Nggak akan pernah."

Dia berdiri terus jalan ke pinggir teras. Ngeliat ke luar. Jalanan kampung yang gelap. Hanya ada satu dua lampu rumah yang masih nyala. Sisanya gelap.

Kayak hidupnya sekarang.

Gelap.

Nggak ada cahaya.

Nggak ada harapan.

"Mungkin... mungkin lebih baik aku mati aja. Biar Naura dan Faris nggak susah gara gara aku. Biar mereka bisa hidup lebih tenang tanpa aku yang cuma bikin masalah."

Pikirannya mulai kemana mana. Ke tempat tempat gelap. Ke pikiran pikiran yang menakutkan.

Kalau dia mati, Naura bisa nikah lagi sama lelaki yang lebih baik. Lelaki yang punya uang. Yang bisa kasih hidup layak. Faris bisa punya ayah baru yang lebih berguna.

Dia cuma beban.

Beban yang nggak berguna.

"Iya. Mungkin itu jalan terbaik. Aku mati. Mereka hidup tenang."

Tangan dia pegang pagar teras dengan erat. Matanya kosong natap kegelapan.

Tiba tiba ada suara dari belakang.

"Mas?"

Zidan langsung berbalik. Naura berdiri di ambang pintu dengan baju daster lusuh. Rambutnya acak acakan. Mata sembab mungkin baru bangun.

"Naura? Kamu kenapa bangun?"

"Aku bangun karena Faris nangis. Terus aku liat Mas nggak ada di kasur. Mas lagi ngapain di sini?"

Zidan langsung hapus air matanya cepet cepet terus maksa senyum. "Nggak ngapa ngapain. Cuma mau istirahat sebentar sebelum tidur."

Tapi Naura ngeliat uang yang berserakan di lantai. Dia ngeliat mata suaminya yang merah. Wajah yang pucat. Tubuh yang gemetar.

Dia langsung tau.

Suaminya lagi nggak baik baik aja.

Dia jalan pelan ke arah Zidan terus berdiri di sampingnya. Nggak ngomong apa apa. Cuma berdiri di sana.

Hening lama.

Zidan yang akhirnya bicara duluan dengan suara serak.

"Naura, maafin aku ya. Aku... aku nggak berguna. Aku suami yang gagal. Aku nggak bisa kasih kamu kehidupan yang layak. Aku nggak bisa lindungin kamu dan Faris dari orang orang jahat. Aku... aku payah."

Suaranya mulai bergetar lagi.

"Aku udah kerja sekuat tenaga. Tapi hasilnya tetep nggak cukup. Dua hari lagi debt collector akan datang lagi. Dan aku nggak punya uang yang mereka minta. Mereka akan sita semua barang kita. Mereka akan usir kita dari rumah ini. Dan itu semua gara gara aku. Gara gara aku yang berhutang. Gara gara aku yang bodoh."

Naura diem aja dengerin. Nggak nyela. Cuma dengerin sambil tatap wajah suaminya yang hancur.

"Aku cape Naura. Aku cape banget. Aku nggak kuat lagi. Rasanya pengen mati aja. Biar kamu nggak susah gara gara aku. Biar kamu bisa hidup lebih baik sama orang lain."

Naura terdiam sebentar. Lalu dia angkat tangannya pelan. Tempelkan di pipi suaminya yang basah.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zidan.

Zidan melotot kaget. Naura nggak pernah mukul dia. Nggak pernah sekalipun.

"Mas gila apa? Mas mau mati? Mas pikir kalau Mas mati aku akan seneng? Aku akan hidup lebih baik? Mas pikir Faris akan lebih bahagia tanpa ayahnya?"

Suara Naura bergetar marah. Tapi matanya berkaca kaca.

"Aku nggak butuh suami yang kaya! Aku nggak butuh rumah besar! Aku nggak butuh mobil mewah! Yang aku butuh cuma Mas yang hidup! Mas yang sehat! Mas yang ada di samping aku!"

Air matanya jatuh.

"Kalau Mas mati, aku mau hidup buat apa? Aku mau jaga Faris sendirian gimana? Faris mau tumbuh tanpa ayah? Mas egois! Mas cuma mikirin diri sendiri!"

Zidan terdiam. Pipinya masih panas bekas tamparan. Tapi hatinya lebih panas lagi.

Naura peluk suaminya erat erat sambil nangis di dadanya.

"Aku tau Mas cape. Aku tau Mas udah kerja keras banget. Tapi please jangan menyerah. Jangan tinggalin aku dan Faris. Kita masih butuh Mas. Sangat butuh."

Zidan balas pelukan istrinya sambil nangis juga. Nangis keras. Nggak ditahan lagi.

"Maafin aku. Maafin aku Naura. Aku lemah. Aku hampir menyerah. Aku..."

"Nggak apa apa Mas. Manusia boleh lemah. Boleh nangis. Tapi jangan menyerah. Kita masih punya Allah. Allah nggak akan kasih cobaan di luar kemampuan kita. Kita pasti bisa lewatin ini. Pasti."

Mereka berpelukan lama di teras yang dingin itu. Nangis berdua. Saling menguatkan.

Setelah lama, Naura melepas pelukan terus pegang wajah suaminya dengan dua tangan. Menatap dalam.

"Mas, dengerin aku. Uang cuma uang. Hutang cuma hutang. Yang penting kita sehat. Kita hidup. Kita masih punya satu sama lain. Kalau debt collector mau ambil barang barang kita, biarin. Kalau mereka mau usir kita dari rumah ini, biarin. Kita cari tempat lain. Kita mulai dari awal lagi. Yang penting kita bareng."

"Tapi Naura..."

"Nggak ada tapi tapian. Aku serius Mas. Aku rela hidup di bawah jembatan sekalipun asal Mas ada di samping aku. Asal Mas sehat. Asal Mas nggak ninggalin aku."

Zidan megang tangan istrinya yang masih di pipinya. "Kamu yakin? Kamu rela hidup susah terus terusan kayak gini?"

"Aku udah buktiin kan dari awal? Aku nikah sama Mas waktu Mas nggak punya apa apa. Aku tetep stay waktu kita tinggal di kontrakan sempit. Aku tetep sabar waktu cuma bisa makan nasi sama kecap. Aku nggak pernah ngeluh. Karena aku sayang Mas. Bukan sayang uangnya Mas. Bukan sayang hartanya Mas. Tapi sayang orangnya Mas."

Air mata Zidan jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata putus asa. Tapi air mata terharu.

"Kenapa kamu bisa sebaik ini? Kenapa kamu nggak marah sama aku yang udah bikin hidup kamu susah?"

"Karena ini bukan salah Mas. Ini ujian. Ujian dari Allah buat kita berdua. Dan kita harus lewatin bareng. Nggak boleh ada yang menyerah. Mengerti?"

Zidan ngangguk pelan. "Iya. Aku mengerti."

Naura senyum sambil usap air mata di pipi suaminya. "Sekarang yuk kita masuk. Dingin di luar. Mas harus istirahat. Besok harus kerja lagi kan?"

"Iya."

Mereka masuk ke kontrakan sambil Naura pungut uang yang tadi berserakan. Dia kumpulin satu satu dengan teliti. Nggak ada yang ketinggalan.

Di dalam, Faris lagi tidur pulas di boks. Napasnya teratur. Wajahnya damai.

Naura dan Zidan duduk di pinggir boks sambil liat anak mereka.

"Mas, liat Faris. Dia tidur dengan nyenyak. Dia nggak tau apa apa tentang masalah kita. Dia cuma tau dia punya Ayah dan Ibu yang sayang dia. Kita nggak boleh ngecewain dia Mas. Kita harus kuat buat dia."

Zidan usap kepala Faris pelan. "Iya. Aku janji akan kuat. Demi dia. Demi kamu."

Mereka tidur malam itu dengan saling berpelukan. Faris tidur di boks di samping kasur. Suara napasnya yang lembut jadi musik pengantar tidur mereka.

Besoknya pagi, Zidan bangun dengan semangat baru. Matanya masih sembab. Badan masih sakit. Tapi hatinya lebih ringan.

Dia sholat subuh dengan khusyuk. Doanya lebih panjang dari biasanya.

"Ya Allah, maafin aku yang kemarin hampir putus asa. Maafin aku yang hampir menyerah. Aku lemah ya Allah. Tapi aku akan coba kuat lagi. Demi keluarga aku. Kuatkan aku ya Allah. Berikan aku jalan. Aku percaya Engkau pasti kasih jalan. Aamiin."

Setelah sholat, dia ke pasar kerja kayak biasa. Angkat kardus. Dapat dua puluh ribu. Terus nyetir angkot. Dapat tujuh puluh ribu. Malem kerja parkir. Dapat tiga puluh ribu.

Total seratus dua puluh ribu lagi.

Besoknya terakhir. Tanggal lima belas. Hari dimana debt collector akan datang.

Dan dia cuma punya tujuh ratus dua puluh ribu.

Masih kurang empat juta dua ratus delapan puluh ribu.

Tapi dia nggak putus asa lagi.

Dia percaya.

Percaya Allah akan kasih jalan.

Entah bagaimana caranya.

Tapi pasti ada jalan.

Dan dia akan tetep berjuang.

Sampai nafas terakhir.

Demi Naura.

Demi Faris.

Demi keluarga kecilnya yang sangat dia sayangi.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!