Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Zidan Hampir Putus Asa
#
Hari kelima setelah debt collector datang. Zidan duduk sendirian di teras kontrakan jam sebelas malam. Baru pulang dari kerja parkir. Badan remuk. Mata perih. Kepala pusing luar biasa.
Di tangannya ada uang hasil kerja hari ini. Seratus dua puluh ribu. Dia itung lagi. Seratus dua puluh ribu. Dia kumpulin uang lima hari terakhir. Total enam ratus ribu.
Masih kurang empat juta empat ratus ribu.
Tinggal dua hari lagi.
Tanggal lima belas.
Hari dimana debt collector akan datang lagi.
Dan dia nggak punya uang yang mereka minta.
Dia tatap uang receh di tangannya sambil air mata mulai jatuh. Jatuh pelan. Satu. Dua. Tiga. Terus mengalir nggak berhenti.
"Kenapa? Kenapa susah banget sih? Aku udah kerja keras. Aku udah kerja dari subuh sampai tengah malam. Aku udah nggak tidur dengan bener. Aku udah nggak makan dengan bener. Tapi kenapa tetep nggak cukup? Kenapa?"
Suaranya pelan. Parau. Bergetar.
"Ya Allah, kenapa Engkau kasih aku ujian seberat ini? Apa salah aku? Apa dosa aku? Aku udah sholat lima waktu. Aku udah puasa. Aku udah sedekah sekali sekali meski cuma recehan. Aku udah jadi suami yang baik buat Naura. Aku udah sayang sama Faris. Terus kenapa? Kenapa hidup aku tetep susah? Kenapa?"
Dia pegang kepalanya dengan kedua tangan sambil membungkuk. Nangis makin keras tapi masih ditahan biar nggak keluar suara. Takut Naura bangun.
"Aku cape. Aku cape banget. Aku nggak kuat lagi. Badan aku sakit semua. Tulang tulang aku rasanya mau copot. Mata aku perih nggak bisa liat dengan jelas. Kepala aku pusing terus menerus. Tapi aku tetep harus kerja. Harus cari uang. Karena kalau aku berhenti, keluarga aku mau makan apa? Mau tinggal dimana?"
Tangannya gemetar pegang uang receh itu.
"Tapi hasilnya apa? Cuma segini. Cuma enam ratus ribu. Padahal aku butuh lima juta. Lima juta! Dari mana aku cari empat juta lebih dalam dua hari? Dari mana?"
Dia lempar uang itu ke tanah dengan frustasi. Uang receh berserakan. Lima ribuan. Sepuluh ribuan. Dua puluh ribuan. Berhamburan di lantai teras yang retak.
"Percuma. Semua percuma. Aku kerja kayak orang gila tapi hasilnya tetep nggak cukup. Aku nggak akan pernah bisa bayar hutang itu. Nggak akan pernah."
Dia berdiri terus jalan ke pinggir teras. Ngeliat ke luar. Jalanan kampung yang gelap. Hanya ada satu dua lampu rumah yang masih nyala. Sisanya gelap.
Kayak hidupnya sekarang.
Gelap.
Nggak ada cahaya.
Nggak ada harapan.
"Mungkin... mungkin lebih baik aku mati aja. Biar Naura dan Faris nggak susah gara gara aku. Biar mereka bisa hidup lebih tenang tanpa aku yang cuma bikin masalah."
Pikirannya mulai kemana mana. Ke tempat tempat gelap. Ke pikiran pikiran yang menakutkan.
Kalau dia mati, Naura bisa nikah lagi sama lelaki yang lebih baik. Lelaki yang punya uang. Yang bisa kasih hidup layak. Faris bisa punya ayah baru yang lebih berguna.
Dia cuma beban.
Beban yang nggak berguna.
"Iya. Mungkin itu jalan terbaik. Aku mati. Mereka hidup tenang."
Tangan dia pegang pagar teras dengan erat. Matanya kosong natap kegelapan.
Tiba tiba ada suara dari belakang.
"Mas?"
Zidan langsung berbalik. Naura berdiri di ambang pintu dengan baju daster lusuh. Rambutnya acak acakan. Mata sembab mungkin baru bangun.
"Naura? Kamu kenapa bangun?"
"Aku bangun karena Faris nangis. Terus aku liat Mas nggak ada di kasur. Mas lagi ngapain di sini?"
Zidan langsung hapus air matanya cepet cepet terus maksa senyum. "Nggak ngapa ngapain. Cuma mau istirahat sebentar sebelum tidur."
Tapi Naura ngeliat uang yang berserakan di lantai. Dia ngeliat mata suaminya yang merah. Wajah yang pucat. Tubuh yang gemetar.
Dia langsung tau.
Suaminya lagi nggak baik baik aja.
Dia jalan pelan ke arah Zidan terus berdiri di sampingnya. Nggak ngomong apa apa. Cuma berdiri di sana.
Hening lama.
Zidan yang akhirnya bicara duluan dengan suara serak.
"Naura, maafin aku ya. Aku... aku nggak berguna. Aku suami yang gagal. Aku nggak bisa kasih kamu kehidupan yang layak. Aku nggak bisa lindungin kamu dan Faris dari orang orang jahat. Aku... aku payah."
Suaranya mulai bergetar lagi.
"Aku udah kerja sekuat tenaga. Tapi hasilnya tetep nggak cukup. Dua hari lagi debt collector akan datang lagi. Dan aku nggak punya uang yang mereka minta. Mereka akan sita semua barang kita. Mereka akan usir kita dari rumah ini. Dan itu semua gara gara aku. Gara gara aku yang berhutang. Gara gara aku yang bodoh."
Naura diem aja dengerin. Nggak nyela. Cuma dengerin sambil tatap wajah suaminya yang hancur.
"Aku cape Naura. Aku cape banget. Aku nggak kuat lagi. Rasanya pengen mati aja. Biar kamu nggak susah gara gara aku. Biar kamu bisa hidup lebih baik sama orang lain."
Naura terdiam sebentar. Lalu dia angkat tangannya pelan. Tempelkan di pipi suaminya yang basah.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zidan.
Zidan melotot kaget. Naura nggak pernah mukul dia. Nggak pernah sekalipun.
"Mas gila apa? Mas mau mati? Mas pikir kalau Mas mati aku akan seneng? Aku akan hidup lebih baik? Mas pikir Faris akan lebih bahagia tanpa ayahnya?"
Suara Naura bergetar marah. Tapi matanya berkaca kaca.
"Aku nggak butuh suami yang kaya! Aku nggak butuh rumah besar! Aku nggak butuh mobil mewah! Yang aku butuh cuma Mas yang hidup! Mas yang sehat! Mas yang ada di samping aku!"
Air matanya jatuh.
"Kalau Mas mati, aku mau hidup buat apa? Aku mau jaga Faris sendirian gimana? Faris mau tumbuh tanpa ayah? Mas egois! Mas cuma mikirin diri sendiri!"
Zidan terdiam. Pipinya masih panas bekas tamparan. Tapi hatinya lebih panas lagi.
Naura peluk suaminya erat erat sambil nangis di dadanya.
"Aku tau Mas cape. Aku tau Mas udah kerja keras banget. Tapi please jangan menyerah. Jangan tinggalin aku dan Faris. Kita masih butuh Mas. Sangat butuh."
Zidan balas pelukan istrinya sambil nangis juga. Nangis keras. Nggak ditahan lagi.
"Maafin aku. Maafin aku Naura. Aku lemah. Aku hampir menyerah. Aku..."
"Nggak apa apa Mas. Manusia boleh lemah. Boleh nangis. Tapi jangan menyerah. Kita masih punya Allah. Allah nggak akan kasih cobaan di luar kemampuan kita. Kita pasti bisa lewatin ini. Pasti."
Mereka berpelukan lama di teras yang dingin itu. Nangis berdua. Saling menguatkan.
Setelah lama, Naura melepas pelukan terus pegang wajah suaminya dengan dua tangan. Menatap dalam.
"Mas, dengerin aku. Uang cuma uang. Hutang cuma hutang. Yang penting kita sehat. Kita hidup. Kita masih punya satu sama lain. Kalau debt collector mau ambil barang barang kita, biarin. Kalau mereka mau usir kita dari rumah ini, biarin. Kita cari tempat lain. Kita mulai dari awal lagi. Yang penting kita bareng."
"Tapi Naura..."
"Nggak ada tapi tapian. Aku serius Mas. Aku rela hidup di bawah jembatan sekalipun asal Mas ada di samping aku. Asal Mas sehat. Asal Mas nggak ninggalin aku."
Zidan megang tangan istrinya yang masih di pipinya. "Kamu yakin? Kamu rela hidup susah terus terusan kayak gini?"
"Aku udah buktiin kan dari awal? Aku nikah sama Mas waktu Mas nggak punya apa apa. Aku tetep stay waktu kita tinggal di kontrakan sempit. Aku tetep sabar waktu cuma bisa makan nasi sama kecap. Aku nggak pernah ngeluh. Karena aku sayang Mas. Bukan sayang uangnya Mas. Bukan sayang hartanya Mas. Tapi sayang orangnya Mas."
Air mata Zidan jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata putus asa. Tapi air mata terharu.
"Kenapa kamu bisa sebaik ini? Kenapa kamu nggak marah sama aku yang udah bikin hidup kamu susah?"
"Karena ini bukan salah Mas. Ini ujian. Ujian dari Allah buat kita berdua. Dan kita harus lewatin bareng. Nggak boleh ada yang menyerah. Mengerti?"
Zidan ngangguk pelan. "Iya. Aku mengerti."
Naura senyum sambil usap air mata di pipi suaminya. "Sekarang yuk kita masuk. Dingin di luar. Mas harus istirahat. Besok harus kerja lagi kan?"
"Iya."
Mereka masuk ke kontrakan sambil Naura pungut uang yang tadi berserakan. Dia kumpulin satu satu dengan teliti. Nggak ada yang ketinggalan.
Di dalam, Faris lagi tidur pulas di boks. Napasnya teratur. Wajahnya damai.
Naura dan Zidan duduk di pinggir boks sambil liat anak mereka.
"Mas, liat Faris. Dia tidur dengan nyenyak. Dia nggak tau apa apa tentang masalah kita. Dia cuma tau dia punya Ayah dan Ibu yang sayang dia. Kita nggak boleh ngecewain dia Mas. Kita harus kuat buat dia."
Zidan usap kepala Faris pelan. "Iya. Aku janji akan kuat. Demi dia. Demi kamu."
Mereka tidur malam itu dengan saling berpelukan. Faris tidur di boks di samping kasur. Suara napasnya yang lembut jadi musik pengantar tidur mereka.
Besoknya pagi, Zidan bangun dengan semangat baru. Matanya masih sembab. Badan masih sakit. Tapi hatinya lebih ringan.
Dia sholat subuh dengan khusyuk. Doanya lebih panjang dari biasanya.
"Ya Allah, maafin aku yang kemarin hampir putus asa. Maafin aku yang hampir menyerah. Aku lemah ya Allah. Tapi aku akan coba kuat lagi. Demi keluarga aku. Kuatkan aku ya Allah. Berikan aku jalan. Aku percaya Engkau pasti kasih jalan. Aamiin."
Setelah sholat, dia ke pasar kerja kayak biasa. Angkat kardus. Dapat dua puluh ribu. Terus nyetir angkot. Dapat tujuh puluh ribu. Malem kerja parkir. Dapat tiga puluh ribu.
Total seratus dua puluh ribu lagi.
Besoknya terakhir. Tanggal lima belas. Hari dimana debt collector akan datang.
Dan dia cuma punya tujuh ratus dua puluh ribu.
Masih kurang empat juta dua ratus delapan puluh ribu.
Tapi dia nggak putus asa lagi.
Dia percaya.
Percaya Allah akan kasih jalan.
Entah bagaimana caranya.
Tapi pasti ada jalan.
Dan dia akan tetep berjuang.
Sampai nafas terakhir.
Demi Naura.
Demi Faris.
Demi keluarga kecilnya yang sangat dia sayangi.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja