Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA BELAS: BAYANGAN SERIGALA
Mobil hitam mewah itu kembali melaju membelah kegelapan malam yang pekat, meninggalkan jejak debu di depan panti asuhan yang kini tampak semakin mengecil di kejauhan. Bagi Seraphina, setiap putaran roda mobil itu terasa seperti tarikan rantai yang membawanya semakin jauh dari satu-satunya tempat di mana ia merasa memiliki identitas sebagai manusia merdeka. Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma parfum mahal, suasana terasa sangat kontras. Giselle Valentinus masih tidak melepaskan pelukannya pada Seraphina, seolah-olah takut jika ia melonggarkan pegangannya, gadis itu akan menguap menjadi asap.
Giselle terus menghujani puncak kepala Seraphina dengan ciuman-ciuman kecil yang terasa berlebihan, sementara tangannya tidak berhenti membelai lengan Seraphina yang masih terasa dingin. Suaranya yang melengking ceria memenuhi ruangan sempit itu, merencanakan masa depan yang terdengar seperti dongeng bagi orang awam, namun terdengar seperti hukuman bagi Seraphina.
"Nanti kita akan mengubah seluruh dekorasi kamar Nana menjadi warna merah muda yang paling cantik! Mama akan memesan boneka beruang raksasa dari toko mainan terbaik di London, dan selimut bulu yang super lembut agar kulitmu yang halus tidak tergores! Kamu suka warna pink, kan, Sayangku?" Giselle berseru penuh semangat, namun ia sama sekali tidak menunggu jawaban. Baginya, persetujuan Seraphina hanyalah formalitas yang tidak diperlukan. "Dan besok pagi, kita tidak akan sarapan di meja makan yang kaku itu. Mama akan menyuruh pelayan membawakan pancake dengan sirup maple yang melimpah dan whipped cream yang menggunung langsung ke ranjangmu! Pasti akan sangat menyenangkan sekali, bukan?"
Seraphina hanya bisa mengangguk pelan dengan gerakan yang kaku. Kepalanya terasa sangat berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang menekan kesadarannya. Rasa lelah yang luar biasa, bercampur dengan trauma fisik dan mental, membuatnya kehilangan tenaga bahkan hanya untuk sekadar bicara. Tubuhnya masih sedikit gemetar, bukan karena dinginnya AC mobil, melainkan karena rasa perih yang terus berdenyut di antara kedua kakinya—sebuah pengingat yang sangat nyata dan kejam tentang kebuasan Orion yang baru saja ia alami beberapa jam lalu.
Ia mencoba memejamkan mata, namun aroma parfum Giselle yang terlalu manis dan menyengat justru membuatnya merasa mual. Di sisi lain, ia bisa merasakan kehadiran Orion yang duduk diam di kursi depan. Pria itu tidak mengeluarkan suara, namun aura dominasinya seolah memenuhi seluruh kabin mobil. Melalui pantulan di spion tengah, Seraphina sesekali melihat mata gelap Orion yang sedang mengawasinya. Tatapan itu tidak mengandung rasa bersalah atau kasihan; tatapan itu adalah tatapan seorang pemilik yang sedang memeriksa barang berharga yang baru saja ia amankan.
Narasi internal Orion mencibir dalam kegelapan pikirannya sendiri. "Lihatlah dia, kelinci kecilku yang malang. Sekarang kau sudah sepenuhnya masuk ke dalam sangkar emas yang aku siapkan. Kau mungkin merasa sedikit lega berada di bawah sayap pelindung ibuku yang gila itu, tapi kau terlalu polos untuk menyadari bahwa Giselle hanyalah bagian dari jebakan yang lebih besar. Semakin dia memanjakanmu, semakin dia membuatmu merasa nyaman di rumah ini, maka semakin sulit bagimu untuk memiliki keinginan untuk melarikan diri. Dan ketika pertahananmu sudah benar-benar lumpuh oleh kemewahan, saat itulah aku akan merobekmu kembali tanpa ada yang bisa menghalangi."
Mobil akhirnya memasuki gerbang besar mansion Valentinus yang berdiri megah seperti benteng pertahanan. Lampu-lampu kristal yang menerangi jalan masuk membuat bangunan itu terlihat seperti istana dalam mimpi, namun bagi Seraphina, setiap pilar marmer yang ia lihat terasa seperti jeruji penjara yang sangat kuat. Mobil berhenti dengan sangat halus di depan pintu utama.
Begitu pintu mobil dibuka oleh Jay, Giselle langsung menarik Seraphina keluar dengan energi yang seolah-olah tidak pernah habis. Ia menggandeng tangan Seraphina dengan erat, menuntunnya masuk ke dalam kemegahan mansion yang kini terasa semakin menyesakkan bagi Seraphina.
"Ayo, Nana! Mama sudah tidak sabar menunjukkan kamarmu! Mama yakin kau akan langsung jatuh cinta pada tempat itu!" teriak Giselle sambil menarik Seraphina menaiki tangga melingkar yang megah.
Orion turun dari mobil dengan gerakan yang sangat tenang dan penuh wibawa. Ia berdiri di lobi bawah, menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap punggung kedua wanita itu yang mulai menjauh. Sebuah seringai tipis yang mengandung kelicikan terukir di bibirnya yang kaku. Ia membiarkan ibunya melakukan semua pekerjaan kotor untuk menjinakkan Seraphina. Ini adalah strategi yang sempurna; biarkan Giselle yang memberikan kenyamanan, sementara ia sendiri yang akan memberikan kenikmatan yang menyakitkan nantinya.
Giselle membawa Seraphina ke lantai atas, melewati koridor yang dihiasi oleh lukisan-lukisan klasik dan vas bunga antik yang harganya mungkin bisa menghidupi seluruh anak panti asuhan selama setahun. Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda berbahan kayu jati yang sangat besar. Dengan gerakan teatrikal, Giselle membuka pintu itu lebar-lebar.
"Ini dia! Selamat datang di kamar putri Mama!"
Seraphina terkesiap, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Kamar itu bukan sekadar kamar; itu adalah sebuah paviliun pribadi yang ukurannya jauh lebih luas daripada gabungan seluruh ruang tidur di panti asuhannya dulu. Ruangan itu didominasi oleh warna-warna lembut yang elegan, dengan ranjang king size yang dihiasi oleh kanopi sutra yang menjuntai indah. Ada sofa beludru yang terlihat sangat empuk, meja rias antik yang berkilauan, dan balkon pribadi yang menghadap langsung ke taman belakang yang luas.
"Ini... ini semua untukku?" Seraphina bertanya dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak percaya bahwa ada tempat seperti ini di dunia nyata.
"Tentu saja, Sayangku! Ini semua milikmu sekarang! Bagaimana? Kamu suka, kan?" Giselle bertanya sambil mencium pipi Seraphina lagi, matanya berbinar penuh kebanggaan. "Mama tahu ini masih kurang merah muda, tapi besok kita akan belanja besar-besaran! Kita akan menghias setiap sudut ruangan ini sampai kau merasa seperti putri sungguhan!"
Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita paruh baya bernama Bibi Yani masuk ke dalam kamar. Ia membawa troli yang berisi handuk-handuk putih yang sangat bersih, pakaian tidur berbahan sutra yang mengkilap, dan berbagai macam botol lotion dengan aroma yang sangat harum.
"Ah, ini dia Bibi Yani! Pelayan setia Mama," Giselle memperkenalkan dengan riang. "Bibi Yani, ini adalah Nana, putri baru ku yang paling cantik! Tolong mandikan dia dengan sangat lembut, pakaikan dia baju tidur yang paling halus, dan jangan lupa oleskan lotion ke seluruh tubuhnya sampai dia wangi dan bersinar! Mama tidak mau ada sisa bau panti asuhan yang tertinggal di kamar ini!"
Bibi Yani hanya membungkuk hormat dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, meskipun sebenarnya ia merasa sangat iba melihat kondisi Seraphina. Sebagai pelayan yang sudah lama bekerja untuk keluarga Valentinus, ia sudah sangat terbiasa dengan kegilaan dan sikap posesif Nyonya Besar Giselle. Namun, ia juga bisa melihat trauma yang terpancar dari mata Seraphina—sebuah ketakutan yang ia tahu berasal dari tuan mudanya, Orion.
"Baik, Nyonya Besar. Saya akan melaksanakan semua perintah Anda," ucap Bibi Yani dengan suara yang menenangkan. "Mari, Nona Seraphina. Saya sudah menyiapkan air hangat dengan aroma terapi untuk Anda."
Seraphina melirik ke arah Giselle dengan ragu, lalu kembali menatap Bibi Yani. Ia merasa seolah-olah identitasnya sebagai manusia sudah habis, digantikan menjadi sebuah boneka yang hanya bisa mengikuti ke mana pun tangan orang lain mengarahkannya. Tanpa kata, ia mengikuti Bibi Yani menuju kamar mandi yang ukurannya bahkan jauh lebih megah daripada kamar tidurnya yang lama.
Di luar kamar, Orion masih berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen pintu kayu yang kokoh. Ia mengamati setiap gerak-gerik Seraphina yang tampak sangat rapuh di bawah perlindungan ibunya. Seringai di bibirnya semakin melebar saat ia membayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya pada tubuh gadis itu.
"Mama akan memastikan Nana merasa sangat nyaman di sini, Orion," ucap Giselle sambil berbalik menatap putranya. "Kau sudah cukup membuatnya takut malam ini. Sekarang giliran Mama yang mengambil alih. Mama akan tidur di kamar Nana malam ini untuk memastikan dia tidak merasa kesepian atau ketakutan di lingkungan barunya."
Orion mengangkat satu alisnya, sedikit terkejut namun juga merasa bahwa ini adalah ide yang sangat brilian. Giselle akan menjadi pengawas yang sangat efektif bagi Seraphina tanpa wanita itu sadari. Jika Giselle berada di sana, Seraphina tidak akan memiliki kesempatan untuk mencoba melarikan diri atau melukai dirinya sendiri karena putus asa.
"Baiklah, Mama. Jika itu yang Mama inginkan," jawab Orion dengan nada yang sengaja ia buat terdengar patuh. "Mama benar. Dia membutuhkan kenyamanan. Aku tidak akan mengganggunya malam ini."
Giselle tersenyum bangga, ia merasa telah berhasil menjinakkan sisi liar putranya. "Nah, itu baru anak kesayangan Mama! Mama tahu jauh di lubuk hatimu kau juga menyayangi Nana, kan? Kau pasti juga merindukan sosok adik perempuan untuk kau lindungi."
Orion hanya memberikan anggukan tipis sebagai jawaban, meskipun pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang sangat bertentangan dengan kata "melindungi". Baginya, melindungi berarti mengurung. Menyayangi berarti memiliki sepenuhnya, termasuk setiap helai rambut dan setiap rintihan sakit yang keluar dari bibir Seraphina. Ia membiarkan ibunya bermain dengan "boneka" barunya untuk saat ini. Ia tahu bahwa semakin nyaman Seraphina di dalam sangkar emas ini, semakin ia akan lupa cara untuk memberontak. Dan ketika saatnya tiba, ketika Giselle mulai lengah, Orion akan hadir kembali untuk menagih haknya sebagai pemilik sejati dari kelinci kecil itu.
Seraphina kini berada di dalam bak mandi yang penuh dengan busa melimpah, sementara Bibi Yani dengan sangat hati-hati menggosok punggungnya. Air hangat itu seolah mencoba mencuci semua dosa dan rasa sakit yang menempel di kulitnya, namun Seraphina tahu bahwa noda yang ditinggalkan Orion tidak akan pernah bisa hilang hanya dengan sabun dan air. Di balik pintu kamar mandi, ia bisa mendengar suara tawa centil Giselle yang masih terus bercerita tentang rencana belanja besok. Ia terjepit di antara kegilaan Giselle dan kekejaman Orion, di dalam sebuah istana kaca yang indah namun siap pecah kapan saja dan melukai dirinya sendiri.