Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
CEMBURU YANG MENGUJI CINTA
Hari Rabu sore, Khatulistiwa sedang duduk di kamar kamarnya, melihat foto-foto yang dikirim Tenggara selama KKN di Desa Bontomanai. Dia tersenyum melihat gambar-gambar pemandangan desa yang indah dan aktivitasnya bersama teman-teman KKN. Namun tiba-tiba, dia menemukan sebuah foto yang membuat hatinya terasa seperti sesak– foto Tenggara sedang tertawa riang bersama seorang wanita cantik yang mengenakan baju adat lokal, dengan tangan wanita itu berada di bahu Tenggara.
Di bawah foto tersebut tertulis caption: "Bersama Kak Yuni, pengrajin tenun songket terbaik di desa ini. Dia telah mengajari kita banyak hal tentang teknik tenun tradisional."
Meskipun tahu bahwa itu hanya teman kerja atau guru lokal, Khatulistiwa tidak bisa mengendalikan rasa cemburu yang muncul dalam hatinya. Dia melihat foto tersebut berulang kali – ekspresi bahagia Tenggara dan kedekatan mereka membuatnya merasa tidak nyaman. Pikiran negatif mulai muncul dalam benaknya: Apakah mereka lebih dekat dari yang dia bilang? Apakah Tenggara sudah menemukan orang lain yang lebih sesuai dengannya?
Dia mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan mengerjakan tugas kuliah, namun pikirannya terus kembali pada foto itu. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Tenggara: "Aku melihat foto kamu bersama wanita itu.!?
Di sisi lain, Tenggara baru saja selesai membantu mengajar anak-anak desa ketika ponselnya berbunyi. Dia melihat pesan Khatulistiwa dan langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dari nada katanya. Dia cepat menjawab: "Oh, itu Kak Yuni – dia adalah pengrajin tenun yang sangat ahli di desa ini. Dia sedang mengajari kami cara membuat pola songket tradisional. Foto itu diambil ketika kami sedang membahas teknik tenun yang sulit."
Namun jawaban itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa cemburu Khatulistiwa. Dia menjawab dengan nada yang dingin: "Tidak apa-apa saja.oke lanjutkan.!!!
Tenggara merasa hatiinya terasa sakit mendengar kata-kata itu. Dia tahu bahwa kekasihnya sedang cemburu dan merasa tidak aman karena jarak yang memisahkan mereka. Namun sinyal internet di desa sangat buruk sehingga dia tidak bisa melakukan panggilan video untuk menjelaskan dengan jelas. Dia hanya bisa mengirim pesan panjang: "Sayangku, kamu salah paham. Kak Yuni sudah menikah dan punya dua anak .Dia hanya mengajar kami tentang tenun songket dan memperhatikan kami seperti kakak sendiri. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku cintai di dunia ini. Jangan biarkan rasa cemburu merusak kepercayaan kita ya."
Khatulistiwa membaca pesannya namun rasa cemburu masih tetap ada di dalam hatinya. Dia merasa sangat tidak aman karena tidak bisa berada di sisi Tenggara dan melihat secara langsung apa yang terjadi. Malam itu dia tidak bisa tidur dengan tenang, terus memikirkan foto itu dan apa yang mungkin terjadi di sana.
Hari berikutnya, Khatulistiwa menerima panggilan video dari Tenggara. Dia ragu-ragu untuk menjawab namun akhirnya memutuskan untuk menerima. Di layar ponselnya muncul wajah Tenggara yang penuh dengan khawatir, dan di belakangnya berdiri seorang wanita dengan wajah ramah bersama suami dan anak-anaknya.
"Hai Bee," ucap Tenggara dengan suara lembut. "Ini Kak Yuni yang aku ceritakan padamu, dan ini suaminya Pak Joko serta anak-anak mereka."
Kak Yuni segera mendekat ke kamera dengan senyum hangat. "Hai Khatulistiwa! Tenggara sudah sering bercerita tentangmu. Dia selalu menunjukkan foto kamu dan bilang bahwa kamu adalah orang yang paling penting dalam hidupnya. Kami sangat senang bisa bertemu denganmu meskipun hanya melalui video call."
Pak Joko juga menyapa dengan ramah. "Tenggara adalah anak yang sangat baik dan pekerja keras. Dia selalu membantu kami di desa dan sangat antusias belajar tentang budaya kami. Kami berharap bisa bertemu denganmu langsung suatu hari nanti."
Khatulistiwa merasa wajahnya memerah karena malu dengan prasangka yang dia miliki. "Halo pak Joko dan kak Yuni salam kenal
Setelah berbicara dengan Kak Yuni dan keluarganya, Khatulistiwa merasa lega dan menyadari bahwa dia telah salah paham besar. Tenggara kemudian mengambil kesempatan untuk berbicara dengannya secara pribadi setelah Kak Yuni dan keluarganya pergi.
"Sayangku, maafkan aku jika tidak bisa membuatmu merasa aman selama aku berada di sini," ucap Tenggara dengan suara penuh cinta. "Aku harus lebih memperhatikan perasaanmu dan memberi tahu kamu lebih banyak tentang apa yang terjadi di sini. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku cintai, dan tidak ada yang bisa menggantikanmu dalam hatiku."
Khatulistiwa merasa matanya berkaca-kaca mendengar kata-kata itu. "Maafkan aku juga, Bee Aku tidak boleh menyalahkanmu tanpa tahu kebenarannya. Aku terlalu cemburu dan tidak percaya padamu
Mereka berbicara lama tentang perasaan mereka dan cara untuk menjaga hubungan mereka tetap kuat meskipun dipisahkan oleh jarak. Tenggara berjanji untuk selalu memberi tahu Khatulistiwa tentang apa yang terjadi di desa dan mengirimkan foto-foto dengan jelas menjelaskan konteksnya. Khatulistiwa juga berjanji untuk lebih mempercayai Tenggara dan tidak membiarkan rasa cemburu menguasai dirinya.
Sebelum mengakhiri panggilan, Tenggara menunjukkan sebuah kain songket yang baru saja dia selesaikan dengan bimbingan Kak Yuni. "Ini untukmu, bee Kak Yuni mengajarkanku cara membuat pola yang sama dengan kalung yang kamu kenakan. Setiap benangnya aku buat dengan cinta dan doa agar kita bisa segera bertemu lagi."
Khatulistiwa merasa sangat tersentuh dengan hadiah itu. "Ini sangat cantik, Bee. Aku akan menyimpan kain ini dengan baik dan mungkin akan membuatnya menjadi baju untuk hari ketika kita bertemu lagi."
Setelah mengakhiri panggilan, Khatulistiwa merasa hatiinya kembali damai dan penuh dengan cinta. Dia menyadari bahwa kepercayaan adalah dasar dari setiap hubungan yang kuat, dan dia harus belajar untuk mempercayai Tenggara sepenuhnya. Meskipun jarak dan rasa cemburu terkadang menjadi tantangan, mereka berhasil mengatasinya dengan komunikasi yang terbuka dan cinta yang tulus – membuktikan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup dan tumbuh kuat.