NovelToon NovelToon
Pengagum Rahasia

Pengagum Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.

Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Astaga, Narendra!

Mendengar perkataan yang keluar begitu saja dari mulut Narendra, mata Kanaya membelalak. Kanaya tidak percaya pria di depannya ini bisa menganggap remeh benda yang bahkan lebih mahal daripada gaji Kanaya selama bertahun-tahun.

​"Narendra, jam ini harganya dua puluh tiga juta rupiah! Kamu tahu tidak, dengan uang sebanyak itu, aku bisa hidup tenang tanpa takut diusir dari kosan selama bertahun-tahun dan kamu bilang malah nyuruh aku buang, kamu sengaja memberikan ini untuk merendahkan harga diriku," ucap Kanaya.

​Narendra menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kafe, wajahnya masih tetap tenang yang begitu kontras dengan Kanaya yang tampak meledak-ledak.

"Aku tudak pernah merendahkan harga dirimu, bagiku itu hanya sebuah jam, kalau menurutmu itu beban, kenapa harus disimpan? Buang saja, agar kamu tenang," ucap Narendra.

​"Kamu nggak mengerti!" seru Kanaya memajukan duduknya dengan suaranya yang kini tertahan namun tajam.

"Kamu yang nggak mengerti Kanaya," ucap Narendra.

"Sudahlah, percuma aku bahas ini. Ini jamnya aku kembalikan, aku nggak mau buang jam itu, jadi kamu buang aja," ucap Kanaya lalu pergi meninggalkan Kanaya.

Narendra menatap kepergian Kanaya, ia menggenggam kotak jam tangan seolah siap menghancurkannya, Narendra berdiri dan mengejar Kanaya yang sudah keluar dari kafe.

Kanaya melangkah lebar menyusuri trotoar dengan sisa amarah yang masih membakar dadanya, ia tidak peduli lagi pada tatapan orang-orang di sekitar stasiun yang melihatnya berjalan setengah berlari. Air matanya hampir jatuh lagi, bukan karena sedih, tapi karena merasa sangat tidak berdaya di hadapan kesombongan Narendra.

​Tiba-tiba, sebuah deru mesin mobil yang halus namun bertenaga terdengar mendekat dan mobil hitam mewah milik Narendra memotong jalannya dan berhenti mendadak tepat di samping Kanaya, menghalangi langkah gadis itu.

​"Masuk," ucap Narendra pendek setelah menurunkan kaca jendela.

​"Nggak mau! Aku bisa pulang sendiri," tolak Kanaya tanpa menoleh sedikit pun.

​Narendra tidak membalas dengan kata-kata, ia keluar dari mobil, melangkah cepat dan langsung mencekal pergelangan tangan Kanaya. Tenaganya tidak menyakiti, tapi sangat kuat dan tak terbantahkan. Tanpa memedulikan protes Kanaya, Narendra membukakan pintu penumpang dan setengah memaksa Kanaya masuk ke dalam.

​Begitu pintu terkunci otomatis dari dalam, suasana kabin mobil yang kedap suara itu mendadak terasa menyesakkan. Kanaya membuang muka ke arah jendela, enggan menatap pria di sampingnya. Narendra tidak langsung menjalankan mobilnya, ia justru menyandarkan kepalanya di setir sejenak, mengembuskan napas panjang.

​"Kanaya," panggil Narendra.

​Kanaya tetap diam, bahunya naik turun menahan isak yang mulai pecah. ​"Maafkan aku," lanjut Narendra.

​Kalimat itu membuat Kanaya tersentak, ia menoleh perlahan dan mendapati Narendra tengah menatapnya dengan raut wajah yang tidak lagi keras. Tidak ada aura otoritas atau kesombongan di sana, yang ada hanyalah penyesalan yang jujur.

​"Aku minta maaf karena menganggap remeh semuanya. Aku terlalu terbiasa menyelesaikan segalanya dengan materi sampai aku lupa bahwa bagimu, itu adalah beban moral yang berat," lanjut Narendra dan suaranya kini terdengar sangat tulus, jauh berbeda dengan nada bicaranya di kafe tadi.

Kanaya tentu saja tidak percaya dengam apa yang dia dengar, selama Kanaya mengagumi Narendra, ini adalah pertama kalinya kata maaf keluar dari pria tampan ini.

Kanaya terpaku, tangannya yang tadi mencengkeram tas kain dengan erat kini perlahan melemas. Keheningan di dalam mobil itu terasa begitu pekak, hanya menyisakan suara detak jantung Kanaya yang berpacu. Ia menatap Narendra, mencoba mencari kebohongan di mata pria itu, namun yang ia temukan hanyalah sepasang manik mata yang terlihat lelah dan penuh kejujuran.

​"Kamu... kamu minta maaf?" tanya Kanaya dengan suara serak dan hampir tidak percaya.

Narendra mengangguk pelan, ia merogoh laci dasbor, tapi bukan untuk mengambil jam tangan itu kembali, melainkan selembar tisu yang kemudian ia ulurkan pada Kanaya.

​"Aku tidak bermaksud merendahkan harga dirimu, aku hanya ingin memberikannya sebagai ucapan terima kasih. Aku tidak mungkin memberikanmu barang murah, karena itu aku membelikan jam tangan ini agar kamu bisa memakainya, aku benar-benar membelinya sebagai hadiah tanpa maksud lain," ucap Narendra.

"Tapi, aku tidak bisa menerimanya," ucap Kanaya.

"Aku mohon," ucap Narendra.

"Maaf, aku tidak bisa," ucap Kanaya.

Narendra terdiam, tangannya yang memegang kemudi mengencang sejenak sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang, ia menyadari bahwa memaksa Kanaya saat ini hanya akan membuat gadis itu semakin menjauh. Dengan gerakan tenang, Narendra memindahkan tuas transmisi dan mulai menjalankan mobilnya perlahan.

​Sepanjang perjalanan menuju kosan Kanaya, suasana di dalam mobil terasa begitu kaku. Kanaya terus menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan toko dan kendaraan yang berlalu-lalang, sementara Narendra fokus pada jalanan di depannya. Tidak ada musik jazz yang lembut kali ini, hanya suara deru mesin mobil yang halus dan gesekan ban dengan aspal.

Begitu mobil memasuki kawasan desa pinggiran tempat tinggal Kanaya, ketegangan kembali merayap di dada gadis itu. Benar saja, dari kejauhan ia melihat Bu Ratna dan beberapa warga masih setia nongkrong di depan rumah.

"Turunkan aku di depan gang, Narendra," ucap Kanaya pelan dan nyaris berbisik.

​Narendra tidak menggubris, ia justru terus melajukan mobilnya masuk ke dalam dan membuat beberapa anak kecil yang sedang bermain lari berhamburan ke pinggir, mobil mewah itu berhenti tepat di depan rumah warga, sama seperti sebelumnya.

​"Narendra, aku bilang di depan tadi," ucap Kanaya menoleh dengan tatapan protes.

"Kenapa? Sebelumnya kan aku juga mengantar sampai depan gang," tanya Narendra.

"Aku keluar dulu, kamu jangan anterin aku. Awas kalau kamu anterin aku," ucap Kanaya.

Setelah itu, Kanaya keluar dari dalam mobil Narendra dan ia berlari di gang sempitnya menuju kosnya, Narendra yang melihatnya pun bertanya-tanya.

"Kanaya kenapa?" gumam Narendra lalu ia meninggalkan jalanan sempit dan ramai itu.

Sesampainya di kosnya, Kanaya merebahkan di kasur, napasnya masih tersengal setelah berlari menghindari tatapan menyelidik para tetangga. Dengan tangan gemetar, ia membuka tas kainnya untuk mengambil botol minum, namun jemarinya justru menyentuh sesuatu yang keras dan bertekstur beludru.

​Jantung Kanaya seolah berhenti berdetak dan menarik benda itu keluar, ​"Astaga, Narendra!" pekik Kanaya tertahan.

​Kotak beludru itu kembali ada di tangannya, Kanaya teringat saat di mobil tadi, ada momen ketika ia membuang muka ke jendela dan Narendra sempat bergerak mendekat ke arah tasnya yang diletakkan di bawah dasbor. Ternyata, pria itu memanfaatkan kelengahan Kanaya untuk menaruh kotak jam tangan di tas Kanaya.

​Kanaya menatap kotak itu dengan perasaan campur aduk, marah, lelah, tapi ada sebersit rasa hangat yang aneh karena permintaan maaf tulus Narendra tadi. Pria itu keras kepala, namun ia juga menunjukkan sisi rapuh yang belum pernah Kanaya lihat sebelumnya.

​"Kenapa kamu harus sesulit ini sih, Narendra," gumam Kanaya sambil memandangi kotak itu.

Kanaya bangkit dan melangkah menuju lemari plastiknya, ia membuka gemboknya, menyingkirkan tumpukan baju dan meletakkan kembali kotak itu di tempat persembunyiannya yang paling dalam. Kali ini, Kanaya tidak berniat mengembalikannya lagi hari ini, ia sudah terlalu lelah secara mental untuk berdebat dengan pria sekuat Narendra dan Kanaya memilih pasrah, setidaknya untuk saat ini.

.

.

.

Bersambung.....

1
dika edsel
setelah ini giliran ke rumahnya naya...,minta restu ke emak bapaknya naya juga jgn lupa itu?? semoga lancar sampe hari H😊
Aidil Kenzie Zie
Narendra mau memperkenalkan Kanaya sebagai calon istrinya 👍👍
Naufal Affiq
semoga calon mertua tidak bermuka dua
Pcy
semoga mama dan papanya narendra benar2 menerima kanaya
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah diterima dengan baik
leahlaurance
semoga bakal ibu bapa mertua tulus,ya jangan hanya pura pura depan anaknya.
partini
wow di luar perdeksi BMKG,apa berkelanjutan atau cuma awal
Ana
mudah2an kanaya ditrimah
Indriani Kartini
apakah Kanaya akan di tolak atau Mlah sebaliknya ya, mudah2an keluarga Narendra menerima kanaya
Naufal Affiq
lanjut kak,gak bisa komen,naren nya gercep banget mau mengenal nara sama keluarganya,
Isma Nayla
semoga naren dpt melindungi naya seumpama naya di pandang rendah oleh keluarganya naren.
dika edsel
ya ampun....anak siapa sih ini,maen dirumah org gk kenal waktu...?? udah ditolak masih gk pulang dasar tebal muka...,gktau diri.. katanya anak orang kaya tp makan masih numpang..,sarapan numpang, makan siang numpang eh masih nungguin makan mlm juga...😌
leahlaurance: semoga naya enga di permalukan.
total 1 replies
partini
sat set sekali si Naren,OMG semoga ada something setelah melihat Kanaya like someone in the past
dyah EkaPratiwi
semoga orang tua Narendra bisa terima
Kusii Yaati
kayaknya bau" perjodohan mulai tercium 😌
Naufal Affiq
beneran naren,kamu ajak nikah naya,jangan buat di sakit hati
Naufal Affiq
aku pada mu naren
partini
ngajak nikah apa ngajak masuk neraka ren
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
minat
dika edsel
ini masih konflik di area gang sempit blm ke konflik keluarga naren, pastinya lbh berat lagi..!?! klo cinta bilang..jgn menggantung hati anak orang,lindungi naya apapun yg terjadi..,aku yakin kau mampu naren.
dika edsel: diliat dr modelan bapaknya naren yg nyebelin pasti menentang keras pilihan anaknya, udah pasti ituh..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!