Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 Harus Menerima
"Maaf, saya adalah tipe wanita yang sangat privasi dan saya tidak bisa mengatakan siapa saya karena itu urusan pribadi saya dan apa hubungan kami itu juga merupakan urusan kami berdua," ucap Jiya.
"Begitu....Hmmmm, baiklah kamu sebaiknya tunggu di lobby saja," ucap wanita itu membuat Jiya menganggukkan kepala dan kemudian berlalu.
Jiya menghentikan langkahnya ketika sudah berhadapan dengan sang adik. Jiya tersenyum dan kemudian melanjutkan langkahnya dengan menghampiri Aluna.
"Kenapa Kakak bisa ada di sini?" tanya Aluna dengan datar.
"Apa tidak boleh datang untuk mengunjungi adiknya?" tanya Jiya.
"Kakak ingin mengunjungiku tetapi kenapa harus bertanya mengenai Ravindra?" tanya Aluna sudah pasti dapat mendengar pembicaraan sang Kakak dengan sekretaris suaminya.
"Kenapa kami menjadi posesif seperti ini Aluna. Apa salahnya bertanya mengenai adik ipar dan jika bertemu juga tidak salah bukan untuk menyapanya," jawab Jiya.
Tatapan mata Aluna terlihat jelas bahwa dia sangat muak melihat Kakaknya itu dan merasa percuma saja berbicara dengan wanita yang selalu pintar merangkai kata-kata dan terlihat seolah-olah Aluna berlebihan.
"Ini. Kakak membawakan makan siang untuk kamu," ucap Jiya yang langsung memberikan paper bag yang sejak tadi dia pegang.
"Kakak khusus belanja ke pasar pagi-pagi dan membeli bahan makanan untuk membuat makanan kesukaan kamu, bukankah kamu pasti merindukan masakan Kakak dan kakak juga melebihkan untuk suami kamu," lanjut Jiya.
Aluna menghela nafas, mengambil paper bag tersebut dengan terpaksa untuk menghargai sang Kakak.
"Makasih!" ucap Aluna.
"Kamu tidak akan memakannya?" tanya Jiya.
"Aku akan memakannya," jawab Aluna.
"Kakak pulanglah dan aku rasa apa yang kakak tanyakan tadi dengan sekretaris Ravindra tidak sungguh-sungguh untuk menemui dan aku tidak tahu apa keperluan kakak tiba-tiba saja menemuinya," ucap Aluna.
"Baiklah Aluna. Kalau kamu memang tidak menyukai Kakak datang ke kantor kamu. Maka tidak apa-apa. Kalau begitu Kakak pulang dulu, kamu kerjanya yang baik dan jangan lupa makan. Assalamualaikum!" ucap Jiya tersenyum dengan mengusap bahu sang adik membuat Aluna tidak menanggapi dan hanya menjawab salam itu dengan pelan.
Ketika mendapatkan jatah makan siang dari sang kakak membuat Aluna kembali ke mejanya dengan mengeluarkan kotak bekal dari makanan tersebut dan ternyata benar makanan itu adalah makanan kesukaannya dan cukup banyak karena memang Jiya bukan hanya membuat untuknya tetapi juga Ravindra.
Aluna menghela nafas dengan mulai menikmati makanan tersebut karena perut kosongnya sudah menuntut sejak tadi.
"Kamu yakin jika wanita manis berhijab itu adalah calon istri dari pak Ravindra?" Aluna mendengarkan celetukan membuatnya menghentikan makannya sejenak.
"Sudah pasti iya. Masa iya ada wanita cantik seperti itu dengan penampilan yang berbeda dari wanita-wanita sampai dengannya dan hanya ingin bertemu dengan pak Ravindra," sahut yang satunya.
"Orang seperti pak Ravindra, memang sudah pasti akan mencari istri yang sempurna untuk menjadi Ibu dari anak-anaknya,"
Aluna harus kembali diperdengarkan gosip membuatnya menyergah nafas.
"Apa-apaan Kak Jiya, dari perkataannya seolah-olah membuat statemen bahwa dia adalah wanita yang sangat dekat dengan Ravindra. Kak Jiya benar-benar keterlaluan membuat spekulasi orang-orang berpikiran bahwa dia adalah orang spesial dari Ravindra," batin Aluna terlihat begitu kesal.
"Biarkan sajalah, dia ingin menjadikan dirinya seperti apa dan membuat orang-orang berpikir begitu dia wanita yang seperti apa dan apa hubungannya dengan Ravindra, semua itu juga bukan urusanku," ucap Aluna.
Dia ingin menekankan kepada dirinya bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan Ravindra menjadi khayalan dari Jiya tidak berurusan dengannya tetapi dari perkataannya yang sejak tadi mengoceh telah menunjukkan wajahnya tampak begitu kesal dengan wajah-wajah penuh dengan kecemburuan.
"Issss, aku sudah tidak selera makan!" Aluna tiba-tiba saja tidak melanjutkan untuk menikmati makanan yang harus diakui memang masakan kakaknya itu sangat enak.
Aluna juga tidak memiliki niat untuk memberikan satu bekal makanan itu kepada suaminya yang sudah disiapkan khusus oleh Jiya.
****
Walau pasangan suami istri itu seperti orang asing di perusahaan demi tidak terikat pernikahan, tetapi saat ini keduanya sama-sama berada di dalam mobil yang sudah berhenti di kediaman mereka.
Wajah Aluna sejak tadi tampak begitu cemberut, tidak ada senyuman di wajahnya dan begitu juga dengan Ravindra sudah pasti tidak akan mengajaknya berbicara.
Mereka seperti pasangan yang memiliki dunia masing-masing, sama-sama membuka sabuk pengaman dan kemudian keluar dari mobil tersebut.
Aluna ternyata berhenti di tempat sampah. Aluna mengeluarkan kotak bekal dari dalam paper bag yang sejak tadi dia pegang dan membuang ke dalam tong sampah.
Apa yang dilakukan Aluna sempat mendapat perhatian Ravindra, tetapi pria dingin itu tidak peduli dan melanjutkan langkahnya memasuki rumah dan kemudian disusul Aluna.
Dirung tamu ada Rima, Risma dan Haryono.
"Asalamualaikum!" sapa Ravindra.
"Walaikum salam," jawab orang-orang yang ada di ruang tamu tersebut.
Ravindra sudah pasti seperti biasa akan mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan begitu juga dengan neneknya. Aluna menghormati dan mengikuti hal tersebut walau dia takut takut melakukan itu kepada Rami yang sudah pasti tidak menyukainya.
"Kalian harus bercerai!" Aluna dan Ravindra sama-sama kaget mendengar tiga kata yang keluar dari mulut Rami.
"Ma!" tegur Haryono.
"Saya tidak akan pernah menerima wanita ini menjadi menantu di rumah ini, haram bagi saya untuk dia menjadi bagian dari keluarga ini!" tegas Rami secara blak-blakan tidak menyukai Aluna.
Aluna hanya diam saja, seperti biasa wajahnya tampak pasrah dengan apa yang telah diaterima.
"Keluarga ini akan siang dengan keberadaan wanita ini. Saya akan memaafkan kalian semua yang tidak melibatkan saya dalam pernikahan ini dengan syarat mereka berdua harus berpisah!" tegas Rami.
"Ma, untuk apa harus membicarakan hal seperti ini. Ini semua salah saya dan jangan berbicara terlalu kasar kepada Aluna," sahut Risma.
"Benar, ini adalah kesalahan kamu dan kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan fatal yang telah kamu lakukan kepada cucu saya dengan menikahkannya pada wanita sial seperti ini. Wanita kekanak-kanakan yang tidak tahu diri, wanita jangan mempermainkan pernikahan dan tidak punya adab sopan santun, kelakuannya benar-benar sangat menjijikkan tidak bermoral!"
Aluna menelan semua kata-kata penghinaan itu. Rasa sakit sudah tidak bisa diungkapkan lagi dan hanya melanggar bahwa semua itu adalah resiko dari apa yang telah dia lakukan di masa lalu.
"Nenek hentikan berbicara seperti ini, ini masalah rumah tangga saya dan saya juga tidak suka jika ada orang yang ikut campur!" tegas Ravindra.
Meski niatnya menikah dengan istrinya juga ingin memberi pelajaran kepada Aluna. Tetapi Ravindra merupakan orang yang dewasa dan bijak, harga dirinya justru akan jatuh jika membiarkan istrimu mendapat penghinaan sekasar meski dari keluarganya sendiri.
"Kamu membela wanita ini?" tanya Rami.
"Kami sudah menikah dan ini sudah terjadi. Apapun yang terjadi dalam pernikahan kami untuk urusan kami berdebar dan saya tidak mengizinkan untuk siapapun ikut campur!" tegas Ravindra.
"Ayo naik!" titah Ravindra ada istrinya itu ketika dirinya berjalan terlebih dahulu.
Aluna menganggukkan kepala dan juga menundukkan kepala menghormati orang-orang yang ada di ruang tamu tersebut dan kemudian menyusul suaminya.
Bersambung......