𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 20
...왕신...
...----------------...
“Ini kamarmu selama tinggal di sini. Mulai besok, kau bisa langsung bekerja. Schedule lengkap akan kukirimkan padamu dalam dua jam. Jadi, Wang Shin ... bekerjalah sesuai yang kami harapkan.”
Pria itu Han Tae-ja, pengacara pribadi, sekaligus orang kepercayaan Lim Suyu, baru saja meninggalkan ruangan setelah jawaban, “Kau bisa mengandalkanku,” dari Wang Shin dengan nada datarnya.
Raut intimidasi orang itu tidak digubris, Shin menutup pintu lalu mengedar ruang dengan matanya.
“Untuk seorang pengawal, bukankah ini terlalu bagus?” cicitnya, berkomentar untuk ruangan.
Satu ranjang medium dari jati grade A dengan matras tinggi, lemari dua pintu bercorak mahal, buku-buku random bersusun rapi di sebuah rak, dan meja dengan komputer serta pernak-perniknya di sudut kanan.
Ada jendela di satu sisi yang ketika dibuka menyuguhkan view halaman belakang, ditumbuhi pohon-pohon perdu. Yang menarik, satu paludarium berdiri gagah dengan konsep ala hutan, dihuni ikan-ikan hias yang 'tak kecil tidak juga terlalu besar.
Shin baru saja menikmatinya, dengan memberi tanggapan, “Nyonya Pimpinan yang menyukai pepohonan. Semuanya hijau.”
Setelahnya mencampakkan itu dan jendela yang dibiarkan terbuka begitu saja.
Gerak kakinya tidak terdengar saat melangkah menuju ranjang. Tas yang hanya berisi beberapa helai pakaian, deodorant, parfum dan sisir, digamit dari kasur lalu dibawa menuju lemari, akan ia tata di sana sebagai tanda jadi penghuni baru.
Saat pintu lemari melebar terbuka oleh tangannya, dia kembali dibuat takjub. “Waah.”
Setelan-setelan pengawal terjejer rapi dengan ukuran dan warna senada. Bahkan pakaian rumahan yang terdiri dari t-shirt dan jaket-jaket, celana, sepatu dan kaos kaki, hingga jam tangan, lengkap untuk semua moment.
“Apa aku pernah berjanji akan bekerja dengannya sampai melewati semua musim? ... Kurasa tidak,” celotehnya sambil menjewer sehelai kupluk rajut berwarna abu.
Satu setelan diambilnya setelah memakaikan kupluk tadi ke kepalanya, dibawa ke atas kasur dan membentangkannya di sana. Melengkung senyuman tipis di sudut bibir seiring perasaan menggelitik di dalam dada.
“Apa yang akan kutemukan dari ini selain uang? Jabatan? Ilmu? ... Yeah, mungkin pengalamanーyang sedikit berbeda. Semoga tidak membosankan.”
__
Lima belas jam kemudian saat malam pamit berlalu.
Kursi berderak saat ditarik Shin untuk didudukinya. Dia tidak sendiri untuk menikmati sepiring sarapan sehat di meja makan sesuai yang diarahkan Han Taeja.
Ada dua pelayan perempuan yang muda-muda, satu wanita tua dan seorang lelaki baya.
Kemunculan Shin menahan aktifitas mereka karena perasaan asing.
Sudah diberitakan oleh Han Taeja bahwa akan ada pengawal baru nyonya mereka, pagi ini sarapan pertama di meja yang sama.
Itu kabar biasa saja. Tapi setelah melihat sosoknya ... mereka seolah tidak punya kelopak mata.
Benarkah hanya seorang pengawal? Cicit dari semua hati. Tidak sampai ekspektasi bahwa sosoknya akan semenonjol itu.
“Hallo, aku Wang Shin, pengawal baru Presdir Lim. Senang bertemu kalian.”
Suara Shin yang bagai petikan bass itu segera menyentak mereka ke kenyataan.
“Ah, iya. Senang bertemu kau juga, Pengawal Wang!” Pria paruh baya yang lebih dulu menjawab perkenalannya. “Aku Noh Seung-kyu. Panggil Pak Noh saja.”
Shin mengangguki dengan balasan senyum.
Menyusul yang lain memperkenalkan diri satu per satu. Dua gadis nampak masak dengan sikap kikuk mereka, sebelum kemudian saling bercanda untuk memecah suasana akrab dimulai oleh Pak Noh.
Shin mungkin bunglon, akan berubah warna tergantung tempat di mana dia berpijak.
Jika di rumahnya adalah seorang tuan, di mata Seo Jiho adalah seorang kakak dan senior bisnis yang super keren, maka di luar, dia bisa menjadi siapa saja.
Ritual selesai, meja makan ditinggalkan.
“Tugas pertamamu hari ini adalah mengawal Bu Presdir ke perusahaan, ada rapat penting hari ini. Jangan pernah lengah, di mana pun ... tidak ada tempat yang aman untuknya.”
Penjelasan Han Tae-ja dipahami Shin tanpa ada pertanyaan, selain satu anggukan dan tanggapan singkat, “Percayakan saja padaku.”
Han Taeja dalam posisi menahan sikap, tidak ingin menegur kelakuan pengawal baru yang baginya terlalu sinting. “Sebentar lagi Nyonya keluar, kau siapkan mobil di depan. Ini kuncinya.”
“Oke.” Kunci dilahap dalam genggaman, Shin segera berlalu, bergerak sesuai arahan.
Han Taeja mendelik sebelum kemudian ikut berlalu.
__
Bersama Lim Suyu di dalam mobil, Shin berperan gandaーsebagai pengawal, juga supir.
Mulanya Han Taeja keberatan karena Shin orang baru yang belum bisa dipastikan kejujurannya, tapi mengalah saat sang nyonya kukuh sendiri.
Kepercayaan tertanam tanpa memerlukan ujian panjang, Lim Suyu mungkin sedikit gegabah menentukan, tapi dia bukan manusia yang sembarang memilih orang. Shin adalah pilihan tepat.
Tae-ja langsung diam setelah nada tinggi Suyu menyemburnya, “Geokjeonghajima!” Yang maknanya jangan cemaskan pilihannya.
Jarak LC Group masih sekitar lima kilo lagi, Lim Suyu membuka obrolan setelah mencampakkan sehelai dokumen yang terus diamati sepanjang mobil bergerak.
“Ada yang ingin kau tanyakan?”
Shin melirik melalui spion yang tergantung di atas kepala. Diam sebentar untuk berpikir, lalu menjawab, “Ya.”
“Katakan.”
Tepat saat itu mobil berhenti di lampu merah, kesempatan diambil Shin sambil menunggu menjadi hijau. “Nyonya ... aku sekarang pengawal Anda, apa pun harus kupertaruhkan untuk menjaga Anda dari bahaya. Benar begitu, bukan?”
Pandangannya bertemu dengan pandangan Lim Suyu saat menoleh meminta tanggapan untuk pertanyaannya dari wanita yang uzurnya setara ibunya Yoo Ana.
“Yaa ... Lalu?”
“Para berandal jalanan tiga hari lalu itu ... siapa mereka?”
Mobil kembali melaju saat pertanyaan itu. Kecepatan diambil standar agar mengalir obrolan yang nampaknya mulai ke tahap serius.
Shin masih menunggu jawaban untuk pertanyaannya, tapi saat menoleh, ada hal yang merisaukan, sorot mata Lim Suyu menunjukkan itu.
“Setidaknya aku harus tahu siapa saja yang harus diwaspadai di sekitar Anda,” dia menambahkan.
Itu garis besar sebagai pengawal, dan Lim Suyu tidak boleh mengabaikan itu. Tatapannya terus menyorot selaksa jalanan bergerak di balik kaca, berpikir untuk mencari jawaban tepat.
Detik termakan banyak, Shin berkata lagi, “Semalam aku berkeliling hampir seluruh bagian rumah Anda, kecuali kamar-kamar yang memang terkunci.”
Berhasil menjemput pandangan Lim Suyu padanya. “Lalu? Apa yang kau temukan?”
“Dua puluh kamera pengawas berukuran kecil.”
“Apa?!”
“Di sela pot bunga, guci, patung dinding, rak buku, lukisan, lampu, sampai di mata patung burung ... di atas lemari pendingin. Apa keselamatan Anda ... seterancam itu ... Pimpinan Lim?”
Dibanding ketidakpercayaan, tatapan lebar Lim Suyu lebih kepada takjub.
“Kau ... menemukan semuanya?” Suaranya kaku terbata dan hampir ke tahap gemetar.
“Ya. Mereka terlalu jelas.”
“Bagaimana bisa?”
Shin mengedik bahu, “Entahlah. Mungkin firasat.”
Mana mungkin?!
“Anak Muda, kau ... sungguh lebih gila dari yang kubayangkan."
Pria itu malah terkekeh. “Jangan gunakan kata gila untuk memujiku. Seharusnya gunakan istilah yang jujur saja, seperti ... kau hebat sekali misalnya.”
Lim Suyu mendengus, membuang muka sambil tersenyum kalah. “Ya, sepertinya aku akan terus kalah,” cicitnya.
Seumur hidupnya benar-benar belum pernah setakjub dan sekagum itu pada manusia, ini kali pertama.
Belasan pengawal sebelumnya tidak ada yang segila ini, tidak ada yang memiliki kepekaan sampai sedetail hal-hal rumit yang dibuatnya untuk banyak tujuan. Mereka cenderung hanya bekerja di garis besar, mengawal pergi keluar, lalu tidur setelah usai. Tujuan utama hanya mendapat gaji dan dirinya aman, tidak ada yang benar-benar menarik.
Karena itu melalui Han Tae-ja, Suyu memecat siapa pun yang dasarnya sudah tidak berguna.
Rasa kagumnya pada Shin sudah tertanam, sekarang waktunya dia mengakui.
“Kau benar, Wang Shin ... seperti saat kau menolongku di jalanan, nyawaku selalu dalam ancaman.” Mata lelahnya menerawang ke slide-slide acak yang sekejap berganti-ganti. “Entah mereka dari pesaing bisnis, atau ... justru kerabatku sendiri. Aku tidak bisa main hukum secara asal saat belum ada bukti apa pun yang kukantongi.”
“Seharusnya kubawa mereka atau salah satunya dari mereka sebagai sandra untuk menekan jawaban.”
“Sayangnya terlalu banyak orang yang menyaksikan sampai terpaksa harus polisi juga yang dilibatkan.”
“Baiklah. Lain kali aku yang akan melakukannya.”