NovelToon NovelToon
Ibu Susu Bayi Sang Duda

Ibu Susu Bayi Sang Duda

Status: tamat
Genre:Duda / Janda / Selingkuh / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Hari yang seharusnya menjadi momen terindah bagi Hanum berubah menjadi mimpi buruk. Tepat menjelang persalinan, ia memergoki perselingkuhan suaminya. Pertengkaran berujung tragedi, bayinya tak terselamatkan, dan Hanum diceraikan dengan kejam. Dalam luka yang dalam, Hanum diminta menjadi ibu susu bagi bayi seorang duda, Abraham Biantara yaitu pria matang yang baru kehilangan istri saat melahirkan. Dua jiwa yang sama-sama terluka dipertemukan oleh takdir dan tangis seorang bayi. Bahkan, keduanya dipaksa menikah demi seorang bayi.

Mampukah Hanum menemukan kembali arti hidup dan cinta di balik peran barunya sebagai ibu susu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. pelan pelan saja

Subuh itu, cahaya samar menembus gorden kamar. Hanum perlahan membuka matanya, tubuhnya masih terasa berat setelah semalam diguncang mimpi buruk. Begitu pandangannya beralih, ia terperanjat.

Di sisi ranjang, tepat di bawah, Abraham tertidur dengan posisi duduk bersandar. Jas yang kemarin masih melekat kini sudah terlepas, menyisakan kemeja yang tampak kusut. Kepala pria itu sedikit tertunduk, sementara tangan Hanum masih menggenggam tangannya erat.

Hanum membeku, hatinya berdegup cepat. Ia tak pernah membayangkan Abraham, pria dingin yang selalu menjaga jarak, bisa tertidur di sampingnya seperti itu. Ada rasa hangat sekaligus bingung menyergap dadanya.

Pelan-pelan Hanum berusaha melepaskan genggamannya. Namun saat ia menarik tangannya, justru jemari Abraham bergerak spontan, menarik balik dengan cukup kuat hingga Hanum hampir terjerembap ke arahnya.

“Ah...” Hanum terkesiap, tubuhnya sedikit condong ke depan. Mata Abraham terbuka seketika. Pandangan tajamnya bertemu dengan sorot terkejut Hanum. Sesaat, keduanya sama-sama terdiam, hanya degup jantung mereka yang terdengar dalam hening ruangan itu. Abraham berkedip pelan, seolah baru menyadari posisinya. Rahangnya mengeras, ia segera hendak menarik tangannya, tapi genggaman itu malah membuatnya ragu.

Hanum buru-buru menunduk, pipinya merona. “T-tuan … kenapa tidur di sini?” suaranya lirih, nyaris berbisik. Abraham tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Hanum beberapa detik, ada sesuatu yang tak biasa bergejolak di matanya. Baru kemudian dia berdiri, merapikan kemejanya dengan gerakan kaku.

“Tidurmu gelisah semalam,” katanya singkat, suaranya berat, hampir berusaha menutupi sesuatu. “Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.”

Hanum terdiam, jantungnya kembali berdebar keras mendengar kalimat sederhana itu.

Cahaya matahari itu juga menembus tirai jendela ruang keluarga. Suara burung bercicit terdengar samar di halaman. Hanum sejak subuh sudah bangun, menyiapkan sarapan sederhana untuk Abraham. Meski pria itu jarang benar-benar menyentuh sarapan di rumah, Hanum tetap menyiapkannya, seperti yang Siska ajarkan padanya beberapa hari lalu, “Wanita yang baik selalu memastikan rumah tangga berjalan hangat, meski suaminya dingin.”

Abraham turun dari lantai dua dengan kemeja rapi dan dasi sudah terikat sempurna. Wajahnya masih menyimpan ketegasan, seolah setiap menit sudah dijadwalkan untuk urusan penting. Dia menuruni tangga sambil menatap jam di pergelangan tangan.

“Selamat pagi, Tuan…” Hanum menyapanya dengan hati-hati, meletakkan roti dan segelas kopi di meja. Abraham hanya mengangguk singkat. Namun, matanya sekilas melihat kotak bekal yang Hanum letakkan di atas meja samping, persis seperti kemarin. Ada perasaan aneh di dadanya, entah kenapa ia tidak langsung mengabaikannya seperti biasanya.

Namun sebelum Abraham bisa duduk atau sekadar meraih tas kerjanya, suara tangisan Kevin terdengar dari kamar atas. Tangis itu keras, memecah keheningan pagi, membuat Hanum buru-buru berdiri.

“Aku ambil Kevin dulu,” ucap Hanum sambil berlari kecil ke lantai dua. Beberapa menit kemudian, Hanum turun sambil menggendong bayi mungil itu. Wajah Kevin memerah karena menangis tak henti-henti. Hanum sudah mencoba menenangkan dengan mengusap punggungnya, bahkan menawarkan ASI, tapi Kevin menolak. Tangisnya makin keras, membuat Hanum mulai panik.

“Shhh … Kevin sayang, jangan rewel." Hanum mencoba bersuara lembut sambil mengayun-ayun tubuh bayi itu. Namun Kevin justru meronta, tangannya menepis botol susu. Abraham yang sudah hampir keluar pintu menghentikan langkahnya. Dia menoleh, keningnya berkerut saat melihat Hanum kesulitan. Tanpa banyak bicara, ia mendekat, berdiri di hadapan Hanum.

“Berikan padaku.” Suaranya terdengar tegas namun tak terbantahkan.

Hanum terkejut, kedua matanya membesar. “T-tuan mau … menggendong Kevin?”

Abraham hanya mengangguk singkat. Dengan hati-hati, Hanum menyerahkan Kevin ke pelukan pria itu. Awalnya Kevin masih menangis keras, tapi begitu berada di dekapan Abraham yang hangat, tangisnya perlahan mereda. Bayi itu menatap wajah Abraham dengan mata berbinar, lalu menyandarkan kepala mungilnya ke dada bidang pria itu.

Hanum membeku, nyaris tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kevin, yang biasanya hanya tenang saat digendong olehnya atau pengasuh, kini diam dalam pelukan Abraham. Abraham menunduk, menatap wajah Kevin yang mulai tertidur. Ada sekilas senyum samar yang hampir tak terlihat, bibirnya sedikit melengkung, menandakan sesuatu yang jarang ditunjukkannya.

“Lihat? Dia butuh rasa aman," Suaranya rendah, nyaris seperti gumaman, tapi Hanum mendengarnya jelas. Hanum merasa dadanya menghangat. Ada sisi lain Abraham yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, sisi lembut seorang ayah yang bersembunyi di balik sikap dingin.

Namun momen itu tidak berhenti di sana. Tangan mungil Kevin yang mulai terlelap justru bergerak, mencari sesuatu. Jarinya menggenggam erat tangan Hanum yang masih berada di dekat tubuh bayi itu. Genggaman itu kuat, seakan Kevin tidak ingin melepaskan Hanum sekalipun ia sudah nyaman dalam pelukan Abraham.

Hanum terdiam, matanya bergetar menatap Kevin, lalu beralih ke Abraham. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan saat melihat bayinya memaksa menggandeng mereka berdua.

Abraham menatap Hanum sebentar. Pandangan itu tajam, tapi kali ini tidak sedingin biasanya. Ada sorot ragu yang samar, seolah pria itu sendiri kaget dengan apa yang ia rasakan. Hening menyelimuti ruangan, hanya suara napas Kevin yang tenang terdengar, menggantungkan arti di antara mereka.

“Dia … sepertinya ingin kita tetap di sini,” ucap Hanum akhirnya, suaranya lirih, seolah bicara lebih pada dirinya sendiri. Abraham tidak menjawab, tapi genggaman tangannya pada Kevin makin erat. Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha melepaskan atau menghindar.

Dia terus memperhatikan Hanum yang mengusap lembut kepala Kevin, seulas senyum terukir di bibirnya.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Waahh sudah tamat saja... karya Author bagus... aku suka.👍👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Love buat kalian.🫶🫶🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
memberi maaf memang membantu meringankan hati dan fisik... beban terangkat meski memory ga bisa melupakan.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Ehemmm... ehemmmm... sweet bangetbsih bikin ngiri aja.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
maaf Thor mau koreksi kalimat Hanum "Menatap Ketiganya padahal di kamar itu ada Si kembar, Abraham dan Kevin jadinya berEmpat Thor".🙏🙂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: Kayak penampakan dong..🤣🤣
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
bahagia selalu buat kalian.👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sampe nahan nafas karena tegang.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Wkwkwk... ga apa² Abraham nikmati saja mungkin twins lagi ga mau berbagi kasih sayang kamu buat abangnya.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Wow... selamat Hanum Abraham kalian mau nambah anggota baru lagi.👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah cuma gitu doang ngasih pelajarannya sama Rania, Abraham... hadeuuuhh kurang atuh... harusnya kamu turun tangan sendiri lah kan siluman Rania sudah ngebahayain istri mu loohh tapi kamu sebagai suaminya malah ga mau turun tangan nyiksa dia cuma karna alasan klasik ga mau ngotorin tanganmu sendiri... di luar nurul.🤦‍♀️🤦‍♀️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sayangnya waktu ga bisa di putar tapi di perbaiki selagi ada kesempatan buat berubah Galih meskipun Hanum ga mungkin jadi milik kamu lagi... tar yang ada Oleng dong waktunya.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Obsesi g1l4, itu mah udah masuk sak1t j1w4 kayaknya siluman Rania perlu di bawa ke RSJ.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya sadar juga kamu Abraham, kalau sampe terjadi kamu terkecoh sama tipuan mereka Aku bakal bantuin Hanum buat getok kepala kamu pake ulekan sekalian sama cobeknya gratis cabe setannya..🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
halaahh padahal kamu juga hampir tertipu sama permainan Alma palsu dan siluman Rania kan Abraham.... mungkin kalau Alma palsu ga ketauan kamu bakalan ninggalin Hanum tuh... plin plan kadi laki².
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah loohh Julio kamu yang harus bertanggung jawab dalam masalah ini karna kamu yang mengusulkan bahkan maksa Abraham untuk nerima kerja sama perusahaan denga siluman Rania kaann
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
So Sweet banget sih kalian.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa Aku yang Salfok ya, BUKANNYA SKETSA YANG DI BUAT HANUM ITU PAS DI RUANG KERJA KANTOR ABRAHAM BUKAN DI RUANG KERJA RUMAHNYA, tapi kok di bab ini SKETSANYA ADA DI TEMPAT RUANG KERJA RUMAH... 🤔🤔

mungkin karna di sini kadang ga di tulis jeda waktu antara sedang berada di rumah dan tiba² sudah dikantor jadi bacanya harus teliti apa gimana Thor.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: Oowhh... Lanjut Thor.🙂
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hmmm... pemandangan keluarga yang menyejukan.👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
mulai drama belatung muncul.🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!