Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Suasana di dalam kabin pesawat begitu tenang dan syahdu, hanya terdengar suara mesin yang menderu halus di ketinggian ribuan kaki. Cahaya lampu kabin diredupkan, menciptakan atmosfer yang sangat privat bagi pasangan pengantin baru itu.
Ayyan, yang biasanya sangat menjaga jarak dan selalu terlihat formal, kini tampak begitu santai. Ia membiarkan lengannya dipeluk erat oleh Namira, sementara kepalanya miring bersandar pada kepala istrinya. Sesekali, Ayyan terbangun sedikit, membetulkan posisi duduknya agar Namira tidak terbangun, lalu kembali terlelap.
Tiba-tiba, suara pengumuman dari pramugara memecah keheningan.
"Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Juanda. Silakan tegakkan sandaran kursi dan kencangkan sabuk pengaman Anda..."
Goncangan kecil saat pesawat mulai turun membuat Namira terusik. Ia mengerjapkan matanya, merasa ada sesuatu yang sangat empuk dan hangat di bawah pipinya. Bau parfum maskulin yang khas langsung menusuk hidungnya.
Lho? Kok bantal pesawatnya wangi banget? Terus kok bisa napas? batin Namira yang nyawanya belum terkumpul seratus persen.
Namira mendongak perlahan, dan sedetik kemudian matanya yang bulat langsung melotot lebar. Wajahnya tepat berada beberapa sentimeter di bawah rahang tegas Ayyan. Ia baru sadar kalau tangannya memeluk lengan kekar Ayyan dengan sangat posesif.
"AW!" Namira memekik pelan, refleks menjauhkan kepalanya sampai hampir terbentur kaca lagi.
Ayyan terbangun, membuka matanya yang sayu khas orang bangun tidur namun tetap terlihat tajam. Ia menoleh ke arah Namira dengan tenang. "Sudah bangun?" tanya Ayyan dengan suara serak yang terdengar sangat dalam.
Namira mendadak kaku, wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus. "I-itu... Mas... kenapa nggak bangunin?! Kok... kok saya tidur di situ?!"
Ayyan merapikan kerah baju kokonya yang sedikit kusut karena ulah Namira, lalu melirik bahunya. "Kamu yang cari posisi sendiri tadi. Saya mau bangunkan, tapi kamu tidurnya nyenyak sekali... sampai ada yang 'basah' sedikit di baju saya."
Namira langsung menutup mulutnya dengan tangan, panik luar biasa. "HAH?! Masa sih?! Mas bohong ya?! Mana ada saya ngiler!" Namira buru-buru memeriksa bahu baju Ayyan dengan wajah panik sekaligus malu yang luar biasa.
Ayyan hanya menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang sangat langka. "Bercanda. Tidak ada apa-apa. Sudah, pakai lagi sepatumu, kita sudah mau mendarat."
Namira menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Ya Allah, mau ditaruh di mana muka Ibu Nyai ini nanti kalau ketemu santri! Baru hari pertama sudah malu-maluin di depan Mas Kulkas!
Dari kursi belakang, terdengar suara tawa kecil Umi Fatimah yang rupanya menyaksikan momen "sadar diri" Namira itu.
Saat pesawat benar-benar berhenti sempurna dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman padam, para penumpang mulai berdiri untuk mengambil bagasi kabin. Begitu juga dengan Ayyan yang langsung sigap mengambil tas milik Namira dan Umi.
"Ayo, Namira. Jangan melamun terus, nanti ketinggalan rombongan," ucap Ayyan sambil menoleh ke arah istrinya yang masih duduk mematung.
Namira mencoba berdiri dengan semangat. "Iya, iya, Mas! Ini juga mau ba—ADUH!"
Baru saja kakinya menumpu beban tubuh, Namira langsung terduduk kembali sambil meringis kesakitan. Wajahnya berkerut, tangannya memegangi betis kanan.
"Kenapa?" tanya Ayyan, guratan cemas muncul di dahinya.
"Kaki Mira... Mas, kakinya nggak bisa gerak! Kram! Duh, sakit banget, kayak ditusuk-tusuk jarum!" rengek Namira. Sepertinya posisi tidur "nempel" di pundak Ayyan tadi membuat aliran darah di kakinya tidak lancar karena ia tidak bergerak sama sekali selama berjam-jam.
Ayyan berjongkok di depan kursi Namira. "Coba diluruskan pelan-pelan."
"Nggak bisa, Mas! Sakit banget! Aduh, gimana ini? Masa Ibu Nyai jalannya diseret kayak zombie?" Namira mulai panik, matanya berkaca-kaca antara menahan sakit dan malu karena penumpang lain mulai memperhatikan mereka.
Ayyan melihat ke arah pintu pesawat yang mulai padat, lalu menatap Namira yang benar-benar tidak bisa berdiri. Tanpa banyak bicara dan tanpa aba-aba, Ayyan menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Namira dan satu lagi di punggungnya.
Hup!
Dalam sekejap, tubuh mungil Namira sudah terangkat dalam gendongan bridal style oleh Ayyan.
"E-eh?! Mas Ayyan! Turunin! Malu dilihatin orang!" pekik Namira tertahan, tangannya refleks mengalung di leher Ayyan agar tidak jatuh. Jantungnya kini berdetak sepuluh kali lebih cepat daripada saat kram tadi.
Ayyan tetap tenang, wajahnya lempeng seperti tidak membawa beban apa-apa. "Daripada kamu menghambat jalan orang lain, lebih baik begini. Diam, atau saya jatuhkan?"
Namira langsung bungkam seribu bahasa, wajahnya disembunyikan di dada bidang Ayyan karena terlalu malu.
Umi Fatimah yang berjalan di belakang mereka bersama Abah Kyai langsung menutupi mulutnya, tertawa geli melihat pemandangan langka itu. Umi mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Ayyan.
"Ciee... Gus Ayyan sekarang sudah pinter ya," goda Umi Fatimah dengan nada berbisik tapi cukup keras untuk didengar. "Biasanya jangankan gendong perempuan, ada santriwati lewat aja matanya langsung lihat ke bawah. Sekarang malah pamer kemesraan di depan umum."
"Umi, tolong jangan mulai," jawab Ayyan datar, meski telinganya terlihat memerah padam.
"Duh, beruntung banget ya kakinya kram di saat yang tepat," timpal Abah Kyai sambil terkekeh. "Ayo lanjut, Yan. Gendong terus sampai parkiran, hitung-hitung olahraga pagi."
Namira yang wajahnya masih tenggelam di dada Ayyan hanya bisa bergumam pelan, "Ini gara-gara Mas Kulkas bahunya terlalu nyaman... Mira kan jadi korban."
Ayyan hanya diam, namun ia mempererat dekapannya, memastikan istri kecilnya itu aman dalam gendongannya saat mereka melangkah keluar dari pintu pesawat menuju garba rata.