Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: PERISAI INFORMASI
Pagi di mansion Dirgantara tidak pernah terasa begitu mencekam bagi Alana. Setelah kejadian di gudang bawah tanah semalam, Arkano benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak lagi mengurung Alana di kamar, tapi ia mengurung Alana dengan kehadirannya.
Alana duduk di meja makan panjang, sementara Arkano duduk di ujung meja sambil membaca koran bisnis dan sesekali meminum kopi hitamnya. Di sudut ruangan, Marco berdiri seperti patung, mengawasi setiap gerak-gerik Alana.
"Makan sarapanmu, Alana. Kau butuh tenaga untuk melakukan tugas pertamamu hari ini," ucap Arkano tanpa mengalihkan pandangan dari korannya.
Alana menatap piringnya dengan seleranya yang hilang. "Kau sudah berjanji akan melepaskan Rian jika aku menuruti kemauanmu."
Arkano menurunkan korannya, menatap Alana dengan mata gelapnya yang tajam. "Rian sudah berada di mobil ambulans pribadi klan Dirgantara. Dia akan diturunkan di dekat rumah sakit pusat dalam waktu satu jam. Namun, keselamatan nyawanya tetap tergantung pada apa yang kau ucapkan di telepon nanti."
Arkano memberi isyarat pada Marco. Marco melangkah maju dan meletakkan sebuah ponsel satelit yang sudah dienkripsi di atas meja, tepat di depan Alana.
"Hubungi Hendra. Katakan bahwa data yang kau kirim kemarin adalah asli dan kau berhasil mendapatkan kepercayaan penuh dariku," perintah Arkano.
Tangan Alana gemetar saat meraih ponsel itu. Ini adalah poin tanpa jalan kembali. Jika ia berbohong pada Hendra, ia secara resmi mengkhianati sumpahnya. Namun jika ia jujur, Rian akan mati.
Alana menekan nomor rahasia markas. Suara statis terdengar sejenak sebelum suara Hendra yang berat terdengar.
"Silent Cat, melapor," ucap Alana, suaranya terdengar datar meski jantungnya berdegup kencang.
"Laporan diterima. Bagaimana status target?" tanya Hendra di seberang sana.
Alana melirik Arkano. Pria itu menatapnya dengan seringai tipis, seolah menikmati tontonan ini.
"Target... target sudah sepenuhnya percaya padaku. Data yang dikirim semalam adalah daftar distribusi senjata utama. Aku menyarankan untuk segera melakukan penggerebekan di sektor utara malam ini berdasarkan data tersebut," ucap Alana sesuai dengan naskah palsu yang disiapkan Arkano.
Di seberang sana, Hendra terdiam sejenak. "Bagus, Alana. Kau melakukan pekerjaan hebat. Jika ini berhasil, kenaikan pangkatmu sudah di depan mata. Tetaplah di posisimu sampai kami memberi aba-aba untuk penjemputan."
"Dimengerti, Komandan."
Alana mematikan ponsel itu dengan perasaan mual. Ia baru saja mengirim rekan-rekan polisinya ke sebuah jebakan di sektor utara—lokasi yang menurut Arkano hanyalah gudang kosong yang sudah dipasang jebakan pelacak.
"Pilihan yang cerdas, Sayang," ujar Arkano. Ia berdiri, berjalan mendekati Alana dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Sekarang kau benar-benar menjadi perisaiku di kepolisian. Istri yang sangat berguna."
"Aku membencimu," bisik Alana lirih.
Arkano tertawa rendah, suara baritonnya bergema di telinga Alana. "Kebencian adalah awal dari gairah, Alana. Aku tidak keberatan kau membenciku, selama kau tetap berada di jangkauan tanganku."
Siang harinya, Arkano membawa Alana ke area butik pribadi di dalam mansion. Di sana, puluhan gaun malam dan pakaian desainer ternama sudah berjajar.
"Mulai sekarang, kau tidak akan memakai seragam polisi atau pakaian taktis lagi. Kau adalah Nyonya Dirgantara. Kau harus terlihat anggun di setiap pertemuan klan," ujar Arkano sambil memilihkan sebuah gaun berwarna hitam dengan potongan yang sangat elegan.
Alana hanya diam saat beberapa pelayan mulai mengukur tubuhnya. Ia merasa seperti boneka yang sedang didandani oleh tuannya. Namun, di tengah proses itu, ia menyadari sesuatu. Arkano tidak pernah membiarkannya sendirian, bahkan di ruang ganti sekalipun.
"Kenapa kau begitu terobsesi menjadikanku istrimu?" tanya Alana saat para pelayan keluar sebentar. "Ada banyak wanita di luar sana yang bersedia menjadi istrimu tanpa perlu kau paksa."
Arkano yang sedang duduk di sofa ruang ganti sambil memperhatikan Alana, menyipitkan matanya. "Karena mereka menginginkan namaku, hartaku, atau perlindunganku. Tapi kau... kau menatapku dengan keinginan untuk menghancurkanku. Itu jauh lebih menarik."
Arkano berdiri dan melangkah mendekati Alana yang hanya mengenakan slip dress tipis untuk pengepasan. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Alana, menariknya hingga tidak ada jarak.
"Dan karena aku tahu, di balik identitas polisimu itu, kau adalah wanita yang kesepian. Hendra hanya memanfaatkanmu, Alana. Dia melihatmu sebagai angka, sementara aku melihatmu sebagai mahkota."
Tangan Arkano merayap naik, mengusap leher Alana dengan posesif. "Kau pikir kenapa namamu ada di daftar investasiku? Karena sejak hari pertama kau lulus dari akademi, aku sudah mengawasimu. Aku yang memastikan kau terpilih untuk misi ini. Aku yang menarikmu ke duniaku."
Alana terbelalak. "Apa? Jadi misi penyamaran ini... kau yang mengaturnya?"
"Hendra butuh uang untuk ambisi politiknya. Aku memberinya dana, dan sebagai gantinya, aku meminta 'hadiah' terbaiknya. Yaitu kau," ungkap Arkano dengan jujur yang menyakitkan.
Dunia Alana seakan runtuh untuk kedua kalinya dalam 24 jam. Jadi, penyamarannya bukan karena prestasinya, melainkan karena ia telah dijual oleh atasannya sendiri kepada pemimpin mafia ini.
Air mata amarah menggenang di mata Alana. Ia merasa dikhianati oleh segala hal yang ia percayai selama ini. Institusi yang ia bela ternyata hanya menjadikannya barang dagangan.
"Sekarang kau paham?" bisik Arkano, suaranya melembut namun tetap mendominasi. Ia menghapus air mata di pipi Alana dengan ibu jarinya. "Tidak ada tempat kembali bagimu, Alana. Kepolisianmu sudah menjualmu, dan rekan-rekanmu akan menganggapmu pengkhianat setelah jebakan malam ini. Satu-satunya tempat yang menerimamu adalah di sampingku."
Alana merasa sesak. Arkano telah memutus semua jembatan pelariannya. Ia kini benar-benar terjebak dalam sangkar emas ini, bukan karena rantai di kakinya, melainkan karena tidak ada lagi tempat di dunia ini yang bisa ia sebut rumah.
Arkano mencium bibir Alana, kali ini tidak dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan yang manipulatif. Alana tidak membalas, namun ia juga tidak lagi memiliki kekuatan untuk mendorong pria itu menjauh.
"Malam ini, kita akan menonton bagaimana 'keadilanmu' hancur berkeping-keping," ujar Arkano setelah melepaskan ciumannya.
Alana menatap pantulan dirinya di cermin besar butik itu. Ia melihat seorang wanita cantik dengan pakaian mewah, namun di matanya, ia hanya melihat seorang prajurit yang kehilangan benderanya.
Apakah ia benar-benar harus menjadi bagian dari dunia gelap Arkano? Ataukah masih ada cara untuk membalas dendam pada Hendra tanpa harus kehilangan jiwanya pada sang monster?