NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asap tembakau

  Mobil hitam tampak terparkir di jalan, Tya tahu bahwa itu milik ayahnya.

  "Kak Rama, ayah datang." Kata Tya sambil menarik-narik kaos Rama, "ayo kita ke sana!" ajaknya.

  Rama mengangguk, "ayo!" Seru Rama, lalu berlari ke arah Adit.

  "Ayah, ayah!" Panggil Tya dan Rama sambil berlari ke arah Adit, lalu mereka memeluknya.

 Adit membalas pelukan yang sama pada Tya dan juga Rama. "Ayah datang...!" ucapnya.

   "Gimana tugas hari ini, ayah?" Tanya Rama penasaran.

  "Emm, lumayan berat, Rama. Tapi, ayah dan tim berhasil menyelesaikan misi dengan baik," katanya.

   "Wah, ayah keren, aku bangga pada ayah!" ucap Rama.

 "Aku juga bangga pada ayah!" timpal Tya. Yang membuat Adit semakin menyayangi mereka.

  Mereka mengandeng tangan Adit menuju rumah bu Siti, karena Galih dan Arumni sedang berada di sana.

  "Selamat datang, pak! Gimana tugas hari ini?" Sambut Galih sambil menjabat tangan, sesampainya Adit di depan rumah bu Siti.

 Adit tertawa, "terimakasih, bro. Tugas lumayan berat, tapi selesai juga." Jawabnya.

  Bu Siti turut menyambut, "selamat datang, pak AKBP. Bagaimana kabarnya?"

  "Adit, bu siti. Aku lagi nggak pakai seragam." Ucapnya, yang membuat bu Siti kembali mengulang pertanyaan.

  "Oh, iya, aku ulang, ya?" Kata bu Siti yang membuat semua jadi tertawa. "Apa kabar, Dit?" ulang bu Siti sambil tertawa.

  "Baik, bu Siti. Bu Siti sendiri apa kabar?"

  "Baik juga, Dit." Kata bu Siti, "ayo kita masuk, aku sudah masak, mumpung ada kesempatan kita makan bersama." Ajak bu Siti.

  "Sebentar bu Siti. Sepertinya ada yang belum nyapa, aku." Kata Adit yang membuat semua jadi bingung.

  "Siapa?"

  Adit menatap wajah bahagia yang mengukir senyum manis, berdiri di samping bu Siti, yang membuat semua orang mengerti maksudnya.

  Lalu mereka saling memeluk erat, dalam keheningan yang penuh makna. Tidak ada kata yang terucap, karena dengan pelukan itu sudah cukup untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.

  Galih mencoba mengalihkan perhatian, namun pandangannya terus kembali pada mereka. "Aku tidak tahu apa yang membuatku merasa seperti ini, tapi aku tidak suka melihat pemandangan ini." Bathin Galih.

  Galih menahan kuat perasaanya, tangannya ingin bergerak untuk menarik keluar dari pelukan itu, namun apalah daya? dia bukan lagi siapa-siapa.

  Adit menatap jam tangannya, "sebaiknya kita pulang sekarang." Ujarnya.

  "Aku masih betah di sini, ayah." Rengek Tya yang juga mendapat dukungan dari Rama.

  "Iya, ayah. Aku masih mau nunggu mas Ayub dan kawan-kawan pulang mancing," timpal Rama.

  "Rama, Tya, ini sudah sore. Kita pulang sekarang, ya?" ajak Arumni. "Ibu janji, lain hari kita akan ke sini lagi."

  "Iya, bu." Jawab keduanya dengan lesu.

  "Kita makan dulu ya, Dit?" ajak bu Siti lagi.

  "Terimakasih bu Siti, mungkin lain kesempatan kita akan makan di rumah bu Siti." Katanya, lalu mereka berpamitan dari rumah bu Siti.

  Mereka bersiap pulang, mengemasi barang bawaan dari rumah Arumni. Mereka baru tersadar, Galih tidak ada di sana.

  "Di mana, Galih?" tanya Adit yang hanya dijawab gelengan kepala oleh semua.

  "Nggak tahu, mas." Jawab Arumni, lalu melempar tanya pada Rama, "di mana ayah mu, Rama?"

  "Nggak tahu, ibu." Jawab Rama, lalu melempar tanya pada Tya, "kamu lihat nggak, Tya?"

  "Nggak lihat juga." Kata Tya.

  "Ya sudah, kita duduk santai dulu, sambil menunggu Galih." Kata Adit.

  Tya yang tidak bisa berdiam diri, berjalan keluar rumah. Dari kejauhan, ia melihat Galih sedang merokok di bawah pohon yang tadi untuk bermain gitar. "Ayah, om Galih di sana!" teriak Tya yang membuat semua berjalan keluar.

 Seperti ada yang menusuk hatinya, sejak melihat pemandangan itu, membuat Galih jadi merasa tidak nyaman.

 Galih menghembuskan asap tembakau yang berputar-putar, berharap bisa mengeluarkan rasa cemburu yang membakar di dada, namun tetap tidak berhasil. Asap itu hanya membawa rasa pahit dan getir, mengingatkannya pada takdir yang tidak bisa membawanya kembali pada Arumni.

  "Ayah!" panggil Rama. "Ayo kita pulang!" teriaknya.

  Galih tak menghiraukan panggilan Rama, ia berpura-pura tidak mendengarnya.

 "Ayah nggak dengar, Rama. Coba kamu susul!" ucap Arumni.

  Rama mengangguk lalu berlari ke arah pohon itu. "Ayah, kita mau pulang." Ucap Rama sesampainya di sana.

  Galih melirik tanpa jawaban, lalu Rama duduk di sebelahnya.

"Ayah, aku tahu ayah tadi merasa cemburu pada ibu, kan?"

Galih kembali menghembuskan asap tembakau, "tahu apa kamu, Rama?"

"Nggak banyak, ayah. Aku hanya tau, kalau ibu masih kekasih ayah. Oleh sebab itulah, ayah masih belum mau mencari ibu penganti buat aku." Ucap Rama yang membuat Galih terdiam.

"Jadi benar, apa yang baru aku ucapkan ya, ayah?" ledek Rama.

"Halah, sok tahu urusan hati orang tua, kamu." Elak Galih.

"Ya taulah, kan tadi ayah sendiri yang bilang, kau masih kekasih ku, gitu kan yang ayah katakan?"

"Kapan ayah bilang gitu?"

"Tadi." Kekeh Rama.

"Nggak, ayah nggak bilang gitu."

Keduanya terkekeh oleh pendapat masing-masing. Rama masih saja mengoda ayahnya, meski sang ayah tak juga mengakui perasaannya.

"Kamu panggil Galih, gih!" titah Adit.

"Nggak mau, kamu saja!" tolak Arumni.

"Diperintah suami nggak mau, nih? Mulai nggak mau nurut?" gurau Adit.

"Bukan gitu, mas—"

"Sudah cepat, panggil kakak mu. Kita sudah harus pulang, kan?" kekeh Adit yang membuat Arumni mengelengkan kepalanya cepat.

"Nggak, nggak! Jangan aku."

"Kenapa? seharian ini kamu bersamanya, masih saja canggung?" gurau Adit lagi.

"Ck, cuma manggil om Galih doang kalian nggak ada yang mau? Apa susahnya sih? ya sudah biar aku saja yang panggil om Galih." Kata Tya.

"Jangan!" seru keduanya yang membuat Tya menatap keheranan.

"Ya sudah, kita sama-sama saja, sekalian kita pulang." Kata Adit, lalu mereka berjalan menuju Galih dan Rama.

"Galih, kita mau pulang." Ucap Adit setelah sampai di sana.

Galih tersenyum paksa, "duluan saja, Dit. Aku masih nunggu Ayub pulang mancing." Alasannya.

Adit mengangguk, "Rama mau ikut sama ibu? Besok masih libur, loh." Katanya.

Sebenarnya Rama ingin ikut mereka, namun membiarkan ayahnya sendiri dalam suasana hati yang belum bisa Rama pahami, bukanlah ide baik, menurutnya.

"Nggak, ayah. Aku juga mau nunggu mas Ayub datang dulu."

"Ya sudah, kalau begitu ayah, ibu, sama Tya pulang dulu, ya?" pamit Adit

Rama mencium tangan keduanya, lalu mereka pulang duluan, meninggalkan Rama dan Galih di bawah pohon itu.

Kedua bola mata Rama dan Galih beradu pandang, setelah kepulangan mereka.

"Kenapa lihat ayah begitu?"

"Ayah juga, kenapa?"

"Nggak papa."

"Kalau begitu, aku juga!"

Ayah dan anak itu sama-sama bertanya, lalu Rama menirukan gaya duduk sang ayah.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!