NovelToon NovelToon
Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Status: tamat
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Action / Anime / Sci-Fi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: rexxy_

​"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
​Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
​Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
​Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Brankas Memori yang Terkubur

Hologram Kakek Haruki perlahan memudar, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam ruangan tatami yang luas itu. Sayuri masih menggenggam jari jariku, nafasnya terasa hangat di kulitku, kontras dengan udara ruangan yang seolah membeku oleh waktu.

"Di bawah lantai ini..." bisik Miyuki sambil menunjuk ke arah tengah ruangan, tepat di bawah meja kayu pendek.

Ken segera membantu menggeser meja itu. Di sana, terdapat sebuah penutup lantai kayu yang memiliki ukiran melingkar yang rumit. Di tengahnya, ada lubang berbentuk persegi persis dengan bentuk koin yang kita bawa dari kuil Fuji.

"Lex, Gas!!!," ucap Ken singkat.

Aku berlutut, menggunakan koin yang sudah kembali saat membuka pintu dimensi. Tanganku gemetar bukan karena takut, tapi karena aku merasa bahwa begitu koin ini dimasukkan, kehidupanku yang tenang sebagai "perantau" selama dua tahun ini akan berakhir selamanya. Aku akan menjadi seseorang yang benar-benar berbeda.

KLIK.

Begitu koin itu masuk dan kuputar, mekanisme roda gigi kuno terdengar berputar di bawah tanah. Lantai kayu itu bergeser secara otomatis, memperlihatkan sebuah tangga batu menuju ruang bawah tanah yang dipenuhi oleh cahaya biru redup dari layar-layar monitor tua yang masih menyala.

Kami turun perlahan. Di tengah ruangan itu, ada sebuah tabung kaca besar yang sudah kosong, dan di sampingnya, sebuah Layar monitor menampilkan:

PROJECT BRIDGE - SUBJECT 00.

"Apa ini, SUBJECT 00?" Mona menatap layar monitor yang menampilkan data grafik otak yang sangat kompleks. "Ini data dari sepuluh tahun lalu..."

Miyuki mendekati monitor itu, jarinya menari di atas tuts yang berdebu. Matanya membesar.

"Alexian... lihat ini."

Aku mendekat. Di layar itu tertera sebuah foto anak laki-laki berusia sekitar 13 tahun dengan wajah yang sangat kukenal. Wajahku sendiri. Tapi ada sesuatu yang salah. Di bawah foto itu tertulis:

Subjek 00: Mizuki Sora (Penerima Donor Memori).

Status: Eksperimen Pemindahan Jiwa Antar Dimensi.

Catatan: Berhasil dikirim ke 'Dunia Luar' (Indonesia) untuk perlindungan setelah penghapusan memori total.

Duniaku mau runtuh kurasa. Aku mundur selangkah, hampir terjatuh jika Ken tidak menahan bahuku.

"Jadi... Aku bukan orang indonesia?" suaraku tercekat.

"Aku bahan eksperimen?"

Miyuki menggeleng cepat, air mata mulai mengalir di pipinya.

"Nggak hanya itu, Lex. Baca bagian bawahnya. Kakek melakukan ini karena kau adalah anak yang paling ia percaya untuk menjaga Kakakku.

Saat The Eraser menyerang, kau menawarkan diri untuk menjadi Jangkar pelindung bagi Kak Sayuri di dunia nyata.

Kau meminta Kakek menghapus memorimu dan mengirimmu sejauh mungkin agar The Eraser tidak bisa menemukan 'Kunci' untuk menarik Kak Sayuri kembali."

Sayuri mendekatiku, wajahnya penuh dengan kesedihan yang mendalam.

"Itulah sebabnya kau merasa baru dua tahun di sini, Alexian. Karena dua tahun lalu adalah saat di mana efek penghapusan memori itu mulai memudar, dan takdir mulai menarikmu kembali ke Jepang untuk menemuiku lagi."

Aku membuka brankas logam itu dengan tangan yang lemas. Di dalamnya, tidak ada emas atau senjata. Hanya ada selembar sapu tangan lama berwarna biru tua yang sudah kusam, dan sebuah buku paspor lama atas namaku yang diterbitkan sepuluh tahun lalu di Kyoto.

Di dalam sapu tangan itu, ada secarik kertas tulisan tangan anak kecil:

"Sayuri, aku pergi dulu ya! . Nanti kita bertemu lagi oke."

"Itu tulisanku..." bisikku pedih.

Air mataku jatuh mengenai sapu tangan itu.

Sekarang semuanya masuk akal. Kenapa aku terpilih, kenapa jiwaku selaras, dan kenapa aku merasa pernah berjanji padanya. Aku bukan sekadar orang asing yang beruntung. Aku adalah bagian dari eksperimen ini aku adalah "Jembatan" yang hidup.

"Lex... Lihat, ada satu lagi di brankas ini," Mona menunjuk sebuah flashdisk berwarna merah dengan simbol The Eraser yang disilang.

"Mungkin ini cara untuk menghancurkan mereka secara permanen."

Tiba-tiba, suara alarm melengking keras dari lantai atas. Monitor di ruang bawah tanah itu berubah menjadi merah.

"Penyusup Terdeteksi Protokol Penghapusan Dimulai."

"Gawatt!! Mereka menembus gerbang Torii!" teriak Ken.

"Mereka tidak hanya melacak kita, mereka merobek dimensi ini!"

Aku menghapus air mataku dan berdiri dengan tegak. Rasa bingung itu kini berganti menjadi amarah yang dingin. Aku menatap Sayuri, lalu ke arah Sahabatku.

"Miyuki, ambil data itu. Ken, Mona, siapkan diri kalian," kataku dengan suara rendah namun penuh otoritas.

"Sepuluh tahun lalu aku melarikan diri untuk melindunginya. Tapi sekarang, aku tidak akan lari lagi."

Aku menggenggam sapu tangan itu erat, merasakan energi jingga di tubuhku meluap lebih kuat dari sebelumnya.

Musuh sudah di depan pintu, dan aku harus melawannya sekarang juga. Sedikit keraguan menyelimuti perasaanku. Karena ku merasa musuh yang di depan pintu sudah pasti orang yang berbahaya.

1
rexxy_
Terima Kasih banyak kak, Saya selaku Author sangat senang atas pujian kakak.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
𝓗ᥲᥱᥣִᥱᥲꤪꤨꤪᥒᥲ.𝜗𝜚
karyanya bagus btw mampir yah di novelku 🤭
Roulina Damanik
1. Check-in : Melaporkan kehadiran di suatu tempat (hotel/ bandara).

2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.
rexxy_: Terima kasih atas Saran anda.
Saya selaku penulis meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulisan saya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!