Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masalah lagi
Elena berteman baik dengan Roxane dan Daniel. Untuk hubungannya dengan Theor masih sebatas HTS, karena Elena masih belum menerima lamaran aneh Theor. Apalagi sang Duke masih belum memberikan restu sedikit pun.
Elena berpikir akan bergerak di waktu yang tepat, jika terlalu buru-buru justru Theor akan merasa aneh padanya. Sangat bagus membuat Theor yang merasa penasaran padanya, dia yang akan mencaritahu dan tertarik akan sosok Elena.
Setelah Theor mulai mendambakan Elena, saat itu lah Elena akan memberikan sedikit bumbu-bumbu asmara. Untuk membuat Theor semakin jatuh hati pada Elena, Elena tau jika perasaan Theor saat ini hanya di batas tertarik dan menyukai lawan jenis saja.
Belum ada cinta atau pun rasa sayang, karena itu Elena masih menahan diri untuk tidak menggatal. Dia harus menjadi pribadi yang menjunjung tinggi martabat, karena segala sesuatu yang terlalu terburu-buru hanya akan memberikan penyesalan mendalam.
"Jika cinta itu belum datang, maka hubungan hanya sebatas ranting kering yang mudah patah. Aku ingin Theor menyatakan perasaannya secara tulus, karena dia benar-benar mencintaiku dan menginginkanku. Bukan hanya dengan alasan cinta lama, balas budi, rasa penasaran atau hal biasa lainnya." Batin Elena.
"Nona, anda melamun lagi." Tegur Merida.
Deg.
"Eh... ah, ada apa?." Elena sedang memikirkan banyak hal.
"Tuan Duke mengatakan Tuan besar datang berkunjung, anda harus segera datang menemui beliau." Ucap Merida.
"Hah? lagi? kakek tua itu sebenarnya untuk apa datang terus, katanya dia tidak suka padaku tapi selalu saja datang." Gerutu Elena.
"Tuan Duke sudah menunggu anda, nona." Merida hanya bisa tersenyum tertekan.
"Yayaya." Elena keluar kamar dengan langkah kaki kesal.
Elena akhirnya datang ke ruang kerja Duke, di sana sudah ada sang Kakek dan tangan kanannya. Elena berdecih sinis, dia langsung duduk begitu saja tanpa perlu memberi salam.
"Dasar tidak sopan." Ucap Kakek.
"Iyaiya." Elena malas.
"Gabriel, jangan mengulur waktu lagi. Karena kau tidak memiliki keturunan laki-laki, maka gelar Duke akan di berikan pada menantumu. Untuk hal itu, kau harus memilih menantu yang benar. Aku sudah membawa semua daftar kandidat yang cocok, semuanya keturunan dari teman-teman bangsawan ku. Setidaknya anak itu akan berguna setelah menikah." Ucap Kakek.
"Apa yang Ayah bicarakan, Elena masih kecil untuk apa membahas pernikahan." Duke tidak senang.
"Kau yang bicara apa, dia sudah memasuki usia dewasa. Cepat pilih salah satu dari mereka, kau harus tau balas budi." Kakek menatap tajam Elena.
"Maaf Kakek, aku sudah memiliki calon suami." Ucap Elena datar.
"Apa? jadi kau sudah diam-diam memiliki kekasih, apa kau berkencan dengan rakyat jelata saat kau di panti asuhan?!. Dengar baik-baik, penerus Duke harus bangsawan." Kakek merendahkan.
"Wah berani sekali Kakek merendahkan seleraku, calon suamiku itu sangat tampan, kuat, memiliki jabatan dan kuasa. Dia tidak banyak bicara, tapi kekuasaan itu nyata adanya." Elena sangat puitis.
"tcih... membual untuk apa, kau pikir ada bangsawan besar yang mau dengan gadis urakan sepertimu?." Sinis si kakek.
"Astaga Ayah, lihat Kakek berani merendahkan calon menantu Ayah yang sangat sempurna itu." Elena dramatis.
Duke hanya bisa tersenyum pahit, dia tidak mau mengakui Theor tapi di saat seperti ini memang menggunakan nama bocah itu adalah pilihan tepat. Lagi pula masih jauh waktu bagi Elena untuk menikah, dia masih bisa menghajar Theor jika berani merayu putrinya.
"Kakek, biarkan Elena menikah dengan pilihannya. Untuk apa membicarakan penerus, aku masih muda dan masih bisa menjabat sebagai Duke sampai 50 tahun lagi." Ucap Duke tegas, saat ini Duke baru berusia 36 tahun.
Bagaimana bisa begitu muda? karena memang masih muda. Duke Gabriel Van Denilen menikah di usia 19 tahun dan memiliki anak di usia 20 tahun, dari hasil pernikahan itu Gabriel memiliki satu anak perempuan yaitu Elena.
Karena sang Istri meninggal dunia, maka pabrik pun tutup meskipun dia masih begitu muda dan prima. Begitu lah kisahnya, Gabriel ini jenius dia bahkan bisa menjadi teman akademi Kaisar meskipun usia mereka terpaut 10 tahun.
Kakek yang mendengar jawaban Duke menggeram marah. Dia sebenarnya tidak senang dengan pilihan Duke yang memilih menduda, dia ingin memilki cucu laki-laki yang bisa menjadi penerus Duke.
"Kalau begitu kau saja yang menikah, kau masih bisa memiliki keturunan laki-laki." Ucap Kakek tidak mau mengalah.
"Kenapa tidak Ayah saja yang menikah lagi? Ayah masih bisa memiliki anak lagi kan?." Sinis Duke.
"Bajingan ini, kau selalu saja membangkang. Intinya dia harus cepat menikah, jangan sampai dia menjadi prawan tua dan semakin mempermalukan keluarga Danilen." Ucap Kakek emosi.
"Sayangnya dari semua Daftar yang kakek bawa, tidak ada yang sebanding dengan calon suamiku." Ucap Elena sombong.
"Pftt Hahahahahahha, bicara apa bocah gila ini." Kakek merendahkan sekali.
"Berani sekali Kakek menertawakan seorang Grand Duke Van Delon." Ucap Duke dingin.
Deg.
"Apa katamu?!." Kaget Kakek.
"Benar Kakek, calon suami dari gadis pembangkang ini adalah yang mulia Grand Duke Theor George Van Delon." Ucap Elena penuh penekanan.
Kakek langsung terdiam membisu, teringat dengan masa muda Gabriel dulu saat masih berteman dengan Kaisar dan adiknya yakni Ayah Theor.
Meskipun mereka tidak berteman dekat, tapi Ayah Theor dulu sering datang untuk mengurus pekerjaan. Kakek mengenal sosok tampan dan dingin itu, sosok yang di percaya sangat mengancam posisi Kaisar saat ini.
"Apa kau tau asal usul pria itu?." Kakek berucap lirih, tapi matanya tajam.
"Hmm sejauh ini aku tau semua tentangnya." Ucap Elena santai.
"Ayah dari Grand Duke saat ini adalah anak dari mendiang Kaisar terdahulu bersama seorang Selir. Dia lahir sebagai ancaman sang putra mahkota alias Kaisar saat ini, dia hidup dengan jeratan kekang di lehernya untuk menjadi anjing untuk Kakaknya sendiri. Dia hidup seperti manusia terkutuk, menjadi pemimpin di castle terkutuk penuh monster. Dia juga sulit memiliki keturunan, saat keturunan nya lahir dia justru mati mengenaskan. Apa kau yakin ingin menikah dengan keturunan terkutuk itu?." Ucap Kakek dingin.
"Terkutuk? Kakek benar-benar kejam." Elena merasa sakit hati untuk Theor.
"Dia hidup meneruskan kutukan Ayahnya, memiliki mata merah yang menjijikan. Hidup di tempat penuh monster, harus melayani Putra mahkota seumur hidupnya seperti anjing. Grand Duke hanyalah jabatan palsu, dia sejak lahir tidak berbeda dari seekor hewan." Ucap Kakek tidak berhati.
"Semakin Kakek tidak menyukainya, maka semakin aku akan menikah dengannya." Ucap Elena, sakit hati.
"Keras kepala!! Gabriel, kau tau betul asal usul anak itu benar-benar penuh kutukan. Bagaimana bisa kau membiarkan anakmu bersama dengannya." Ucap Kakek marah.
"Hentikan, kita bahas ini lain kali. Pergilah Ayah, aku benar-benar sakit kepala saat ini." Duke mengusir Ayahnya.
Kakek pergi dengan emosi mendalam, Elena terdiam merasa sakit hati atas ucapan sang Kakek. Dia tau segala hal buruk di zaman ini akan selalu menjadi kutukan, dan semua orang benci kutukan.
Menjadi istri dari seorang anjing kaisar? tentu saja itu merupakan mimpi buruk yang teramat sangat buruk. Tapi, Elena tidak bisa berhenti dia harus tetap melaju demi janjinya pada Bumi, demi kebahagiaan Theor dan juga kebahagiaan nya.
kami tunggu karya selanjutnya💪💪💪💪
terbaik thor 😍
tetap semangat, semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
utamakan kesehatan 🥰
biar bisa berkarya lagi😍