NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 3 bagian 6

Hani dan Daniel keluar dari rumah Yulia tepat pukul 09.00 Setelah menempuh perjalan dari rumah kurang lebih 35 menit dan menunggu kurang lebih 10 menit, mereka hanya singgah di rumah Yulia tidak lebih dari 20 menit. Mereka tidak langsung pulang, namun pergi menjauh ke pusat kota. Hani tidak mengerti apa yang ada dalam otak Daniel, karena sejak memasuki rumah itu moodnya tampak tidak bagus. Ia juga tidak mengatakan sepatah kata pun hingga saat ini.

Suasana kota masih mendung dan sudah mulai gerimis, namun Daniel tidak kunjung menghentikan laju motornya. Ia malah berkendara semakin cepat. Jalanan yang cenderung lenggang membuatnya semakin leluasa menarik gas motornya, tidak memperdulikan Hani yang protes karena ketakutan. Tidak pernah ada orang yang berani memboncengnya dengan kecepatan seperti ini, bahkan Andre pun tidak pernah berkendara secepat ini.  Daniel yang datang dengan motor itu sudah hal yang tidak biasa, ditambah kebut-kebutan itu adalah hal yang luar biasa.

Mereka sudah berkendara setidaknya 1 jam. Melewati stasiun kota, jalan protokol yang penuh dengan bunga, lapangan golf besar, sebuah bar yang tampak baru saja dibuka dan berakhir di taman kota. Taman itu tidak terlalu ramai,  hanya ada beberapa pedagang makanan kecil dan beberapa orang bercadar yang sedang belajar memanah. Padahal ini hari libur, dan biasanya taman ini dipenuhi oleh orang-orang yang akan melakukan Car Free Day. Sepertinya kasus tahun baru itu membuat beberapa hal terlupakan.

 Gerimis semakin deras dan angin semakin kencang, Daniel memarkirkan motornya di sebuah restoran kecil yang letaknya bersebrangan dengan taman. Kebingungannya berlanjut, Daniel tidak langsung mengajaknya masuk. Ia malah mengobrol dengan petugas parkir yang berteduh di pos satpam. Hani memperhatikan postur tubuh Daniel dari belakang, orang yang menyebalkan itu ternyata sangat tinggi, pundaknya kokoh dan rambut acak-acakan. Tidak heran ada begitu banyak siswi yang menyukainya.

Ada begitu banyak gosip yang tersebar di sekolah, dan Daniel adalah salah satunya. Dari sekian banyak gosip yang ia dengar mungkin hanya satu yang menjadi fakta baginya. Daniel jelas bukan siswa biasa. Dia tampak lebih terpelajar daripada siswa kebanyakan. Dia tidak sempurna namun cukup menonjol diantara siswa-siswa yang ia kenal.

Daniel berjalan kecil menuju pintu masuk restoran dan mengamati sesuatu yang ada di seberang jalan. Sora tidak melihat apa pun, namun sepertinya Daniel melihat sesuatu. Dahinya mengerut dalam selama beberapa detik. Taman itu jelas tempat ditemukannya mayat itu, hutan buatan kecil yang sedikit jauh dari keramaian. Dia tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika orang yang menemukan mayat itu adalah dirinya. Wajahnya bahkan sudah tidak dapat dikenali. Ia bergidik membayangkannya.

“Kau akan kesurupan jika terlalu banyak melamun” tegur Daniel. Setelah mengatakan itu ia berbalik dan masuk ke dalam restoran yang tampak sepi itu.

“Kesurupan apa? Hantunya takut padaku” jawab Hani bergegas mengejar Daniel. Hujan semakin deras dan kerudungnya kini basah. Untung saja buku yang tadi ia bawa kini tertinggal di tempat Yulia, jika tidak buku itu pasti sudah tidak berbentuk.

“Apa kau sedang bilang kalau hantunya itu dirimu sendiri?” tanya Daniel begitu mereka duduk di meja yang berdekatan dengan jendela kaca besar. Seorang pelayan datang dengan sebuah buku menu, namun Daniel dengan enggan menolaknya. Ia hanya memesan segelas coklat panas dan menyerahkan sisa pesanan pada Hani.

Ia tidak tahu apa yang Daniel suka jadi ia hanya memesan apa yang ia suka. Ia juga memesan coklat panas, namun dengan tambahan beberapa kue manis dan salad buah.

“Aku heran gigimu masih baik-baik saja dengan gula sebanyak ini” tegur Daniel begitu melihat pesanan Hani datang.

Hani mengabaikannya.

“Kita sudah ada di tempat yang tenang dan kamu tidak sedang berkendara, ayo cepat katakan apa yang terjadi hari ini. Aku masih tidak bisa mencerna nya dengan baik” ucap Hani sambil memakan sebuah kue coklat dengan begitu banyak toping.

“Dari mana aku harus mulai? Itu terlalu rumit” tanya Daniel.

“Dari awal, semuanya” jawab Hani tanpa ragu.

“Apa kau benar-benar kura-kura, hingga ada begitu banyak hal yang tidak kau mengerti”  ucap Daniel. Ia memandang Hani tajam.

“Kau tidak mengatakan apa pun. Bagaimana caranya aku mengerti?” jawab Hani tanpa rasa bersalah. Ia ingin balas dendam, Daniel sudah mendiamkannya sejak tadi, ia juga sudah mengajaknya menantang maut dengan kebut-kebutan. Tentu ia tidak akan memaafkan semudah itu.

“Rumah Miki jelas tidak punya masalah makanya aku melewatinya begitu saja. Perasaannya tentang diikut seseorang itu hanya rasa paranoid nya sendiri selebihnya tidak ada. Sedangkan untuk Yulia, jelas ia punya masalah besar. Rumahnya, itu tampak seperti istana iblis daripada rumah yang ditinggali manusia”

Hani menghentikan makannya dan memperhatikan Daniel yang kini tampak sangat serius. Tatapannya menerawang seolah dapat melihat tembus pandang.

“Apa maksudmu? Aku tahu tempatnya tidak sebersih rumahmu tapi bukan berarti kamu bisa mengatakan kalau itu istana iblis” ucap Hani setelah menelan potongan kuenya.

“Apa kau ingat apa yang dikatakan Yulia saat tahu kita akan berkunjung hari ini?” Tanya Daniel pada Hani.

“Orang tuanya akan pergi. Tapi kita malah datang sebelum mereka pergi, apa Yulia akan dalam masalah? Seharusnya kita menunggu sampai orang tuanya pergi dulu” jawab Hani sedikit panik. Sejak awal ia merasa orang tua Yulia memang tidak dekat dengannya, namun ia tidak menyangka akan sejauh itu.

“Jika kita datang tanpa sepengetahuan mereka Yulia mungkin akan ada dalam masalah besar. Ada entitas yang akan melaporkan setiap gerak gerik Yulia dan aku yakin itu bukan hanya arwah atau entitas panggilan. Itu jelas jauh lebih kuat. Jika Yulia berbohong maka hidupnya akan dalam bahaya. Apa kau memperhatikan beberapa luka memar yang ada di tubuhnya, itu mungkin salah satu hukuman yang ia dapat karena tidak menuruti aturan” jelas Daniel.

Hani terdiam mendengarnya. Ia kembali mengingat Yulia, badannya memang lebih kurus dari teman-temannya dan memang terkadang ia melihat beberapa luka memar di tubuhnya. Tapi ia tidak pernah berpikir kalau itu perbuatan orang tuanya. Miki dan Harry adalah atlit judo sekolah dan setahunya Yulia juga menekuni jenis olahraga yang sama. Meski tidak sehebat kedua temannya, dia juga siswa yang teladan. Ia pikir memar-memar itu adalah hasil latihannya sehari-hari.

“Lalu apa kau memperhatikan halaman yang penuh dengan sampah itu?” tanya Daniel lagi.

“Ya, itu sangat kotor. Bagaimana mungkin ada rumah sebesar itu tanpa pembantu, padahal orang tua Yulia terkenal sebagai orang yang kaya. Kenapa mereka enggan untuk mempekerjakan orang? Jika tidak ingin pasangannya selingkuh, mengapa tidak mempekerjakan orang yang sudah berumur, banyak kok yang masih bisa bekerja dengan benar” jawab Hani.

Tidak ada seorang pun pekerja muda di rumahnya. Semuanya adalah orang-orang yang sudah ber-rumah tangga. Karena sebenarnya orang-orang ini lah yang lebih membutuhkan pekerjaan. Mereka pasti punya niat yang baik dalam bekerja.

“Aku menyebutnya istana iblis karena itu memang dipenuhi hal-hal seperti itu. Hantu, iblis atau apa pun menyukai tempat yang tertata namun tidak bersih, dan rumah Yulia adalah salah satunya. Jika aku tidak salah seharusnya keluarga itu punya tempat pembuangan sampah sendiri, dan orang yang bertugas membersihkan rumah itu adalah Yulia. Itu pun tidak boleh setiap hari, makanya mereka tidak perlu pembantu” jelas Daniel.

“Kasian sekali Yulia, apa itu salah satu alasan kakaknya pergi dari rumah? Mungkin dia tidak ingin melakukan apa yang Yulia lakukan” sahut Hani murung. 

Sekarang Hani paham mengapa Daniel ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Beruntung dia tidak melihat apa yang Daniel lihat, jika iya mungkin ia akan lebih memilih tidur dan tidak sadarkan diri. Tapi bagaiman jika saat dia tidak sadarkan diri makhluk-makhluk astral itu akan memakannya? Sepertinya lebih baik tidak berteman dengan orang-orang yang rumahnya berhantu.

‘aku ini berpikir apa sih?’ ucap Sora dalam hati.

“Apa Yulia punya saudara lain kecuali Danila ini?” Tanya Daniel lagi. Ia seperti mencoba memastikan sesuatu.

“Setahuku tidak. Aku tidak pernah melihat berkas yang ia punya, tapi hanya Danila ini yang selalu ada. Keluarga itu sangat misterius dan mencurigakan. Mereka adalah pendatang baru, bisnisnya pun tidak tampak di sebelah mana tapi uangnya seperti ada saja” jawab Hani.

“Sebenarnya apa pekerjaan orang tua Yulia?”  tanya Daniel lagi.

“Tidak ada yang tahu. Mungkin dia adalah seorang agen rahasia, Yulia bahkan tidak tahu orang tuanya bekerja sebagai apa. Dulu saat pertemuan wali murid di kelas 10, ayahku pernah mengajak ayah Yulia untuk berbisnis dan melakukan perkumpulan rutinan. Namun dia dengan tegas menolaknya, dia beralasan kalau saat itu bisnisnya belum stabil jadi dia belum berani untuk unjuk gigi. Tapi hingga saat ini tidak ada yang tahu bisnisnya yang sebenarnya itu apa” jawab Hani. Ia memperhatikan rintik hujan yang jatuh dari tepi atap bangunan, jatuh ke sebuah kolam kecil yang berisi sekumpulan ikan koi. Apa ikan-ikan itu akan terganggu dengan derasnya hujan?

“Masih menjadi misteri ya? Padahal keluarga itu jelas kaya, semua barang di dalam rumah itu berharga sangat fantastis, bahkan bingkai foto keluarga itu adalah emas padat”  sahut Daniel. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada sesuatu di luar restoran.

“Benar-benar ada arwah di kamar Yulia?”  Tanya Hani penasaran.

“Ada, dan itu lebih dari satu. Tapi mereka tidak menganggu, sebenarnya aku heran bagaiman mereka bisa masuk ke kamar Yulia. Seharusnya tidak ada arwah yang dapat masuk ke rumah itu, ada begitu banyak entitas yang menghuni tempat itu dan aku yakin mereka tidak akan membiarkan siapa pun masuk” jawab Daniel. Dia mengingat 2 arwah yang ia lihat di dekat meja belajar Yulia.

“Lebih dari satu? Apa mungkin kakaknya Yulia itu sebenarnya sudah mati?” Tanya Hani. Kini ia tidak tertarik lagi pada kue dihadapannya.

“Sebenarnya aku ingin mengatakan hal itu sejak awal, karena arwah yang dilihat oleh Yulia di balkon kamar itu Danila. Meski ada kemungkinan tentang arwah hidup, tapi setahuku itu tidak akan bertahan lama. Arwah ini benar-benar punya kemauan yang kuat hingga bisa menampakkan dirinya pada Yulia” jawab Daniel sambil memejamkan mata.

Hani benar-benar terkejut mendengar apa yang Daniel katakan. Ia hanya mengarang pertanyaan tadi, kenapa pula itu bisa menjadi kebenaran?

“Yang benar saja? Dari mana kamu tahu itu kakaknya Yulia, kamu tidak pernah melihatnya langsung” ucap Hani kaget.

“Dari foto, apa kamu tidak lihat ada foto sebesar tembok terpajang di ruang tamu? Aku tahu yang mana Yulia, jadi gadis yang satunya pasti kakaknya yang bernama Danila ini. Aku tidak mungkin mengatakan kalau itu arwah Danila, jika dia tidak percaya itu akan menjadi masalah. Kita perlu menyelidiki kasusnya” jawab Daniel agak kesal. Ia mengambil salah satu kue milik Hani dan memakannya tanpa rasa bersalah.

“Itu punyaku” teriak Hani.

“Kamu masih punya 3, sudahlah seperti kura-kura jangan pula hilang gigi” jawab Daniel tanpa mengembalikan kue milik Hani.

Hani memandang Daniel dengan tidak percaya. Bagaimana bisa kalimat seperti itu keluar dari mulutnya? Dia tahu bahwa dirinya memang tidak terlalu pintar, namun bukan berarti selambat kura-kura.

“Tadi kamu bilang ada arwah hidup, apa itu arwah hidup?” Tanya Hani mengalihkan pembicaraan.

“Arwah yang keluar dari jasad yang hidup. Terkadang itu terjadi pada orang yang kritis atau orang-orang yang berlatih dengan ilmu ketenangan atau apa lah aku tidak terlalu memahaminya.  Yang pasti sangat sedikit orang yang bisa melakukan hal itu” jawab Daniel.

Hani mengangguk faham. Ia pernah menonton drama seperti itu. Mungkin konsepnya sama. Arwahnya tidak bisa kembali ke tubuh aslinya sebelum waktu yang dijanjikan selesai.

“Apa Yulia itu benar-benar anak kandung?” Tanya Daniel akhirnya.

“Aku tidak tahu, sekali lagi aku tekan kan. Tidak ada satu pun dokumen milik Yulia yang pernah aku lihat. Sebenarnya aku juga curiga sejak lama tapi menepisnya, apa gunanya tahu hal-hal pribadi orang lain?” jawab Hani masih dengan wajah cemberutnya.

“Kamu ini benar-benar kura-kura ya?” ucap Daniel sambil memandang Hani.

“Namaku Hani, dan aku manusia bukan kura-kura” balas Hani berteriak.

“Apa kau tau konsekuensi tidak punya data diri? Pekerjaan orang tuanya tidak jelas, hubungan dengan keluarganya juga tidak jelas. Sebenarnya siapa orang yang mendaftarkan dia sekolah hingga saat ini?” ucap Daniel.

“Aku sudah bilang aku tidak pernah melihat dokumennya, bukan berarti dia tidak punya. Mungkin sebaiknya bertanya pada Miki atau Harry, mereka sepertinya lebih tahu” bantah Hani.

Daniel akhirnya menghela nafas pasrah. Hujan semakin deras membuat mereka terjebak di tempat ini. Sebenarnya tidak terjebak sih, Daniel sudah membawa jas hujan cadangan. Ia hanya tidak ingin  kembali dengan tangan kosong, perjalanan mereka ke tempat ini akan sia-sia. Ia ingin melihat TKP itu secara langsung, mungkin ada sesuatu yang tertinggal. Bukan jejak asli yang sepertinya sudah tersapu air hujan, tapi petunjuk lain yang ingin ditunjukkan oleh arwah Danila.

“Kira-kira apa reaksi Yulia begitu tahu kakaknya meninggal ya?” Tanya Hani pelan.

“Aku tidak tahu, tidak peduli juga”  jawab Daniel tanpa mengalihkan perhatiannya dari taman di sebrang jalan. Hujan sudah berangsur reda, namun masih ada saja rintik air yang jatuh.

“Tunggu di sini sebentar, aku perlu memastikan sesuatu.”

Daniel tidak menunggu persetujuan Hani, ia pergi untuk meminjam payung pada seorang pegawai restoran dan keluar begitu saja. Ia tidak bisa menunggu lagi, atau hujan akan semakin deras. Dia berlari ke seberang jalan dan kembali setelah kurang lebih 15 menit mencari sesuatu. Ia mengembalikan payung yang ia pinjam, membayar semua pesanan dan berteriak,

“Han, ayo pulang sebelum hujan lagi”

Sekali lagi Hani hanya menurut. Ia membenahi dirinya dan bergegas keluar dari restoran. Ia kira Daniel tidak akan membayar pesanannya, jadi ia memberanikan diri memesan banyak kue. Siapa yang mengira orang menyebalkan itu tahu bagaimana caranya berbuat baik.

Sekali lagi Daniel tidak mengunakan jalan utama untuk pulang, dia malah kembali melewati jalan yang sebelumnya mereka lewati.

“Kenapa tidak lewat jalan utama?”  Tanya Hani.

“Hanya ingin memastikan sesuatu, aku perlu ke rumah Andre juga”  jawab Daniel.

Daniel mengendarai motornya dengan kecepatan konstan, dan melambat begitu menemukan sebuah bangunan usang yang halamannya penuh dengan semak. Ia memperhatikan sekitar tempat itu dan menemukan 2 mobil yang terparkir di sisi lain bangunan.

Seperti dugaan Andre. Kasusnya jelas tidak sederhana, dan dia tidak bisa melakukannya sendiri.

 

1
humairoh anindita
terima kasih sudah mampir, siap kakak.
ysl
kenapa kyanya namanya kebolak balik ya jadi bingung... ini Sora apa Hani?
humairoh anindita: terima kasih atas koreksinya ya, itu Hani.
total 1 replies
Rahmawaty24
Lanjut thor sumpah ceritanya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!