Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15.Menutupi kepergiannya.
Pagi di rumah Tabib desa Ying selalu datang pelan.
Tidak ada suara ayam berkokok yang keras. Tidak ada hiruk-pikuk orang berlalu-lalang. Hanya bunyi kayu di tungku yang berderak kecil dan aroma ramuan pahit yang merayap di udara seperti kabut tipis yang enggan pergi.
Beberapa hari telah berlalu sejak Yun Lan meninggalkan desa.
Beberapa hari yang terasa jauh lebih panjang bagi ibunya daripada perjalanan apa pun yang pernah ia tempuh.
Jenderal Li—yang kini hanya dipanggil Tuan Li oleh warga desa—masih terbaring di dipan bambu di sudut ruangan. Tubuhnya memang sedikit membaik. Wajahnya tidak lagi sepucat kertas. Napasnya lebih teratur.
Tetapi batuk itu…
Masih datang sesekali.
Dalam.
Mengguncang.
Seperti sisa perang yang tidak pernah benar-benar pergi dari tubuhnya.
Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui celah dinding bambu, jatuh tepat di sisi wajahnya.
Kelopak matanya bergerak pelan.
Ibu Yun Lan yang duduk di kursi kecil di sampingnya langsung bangkit.
“Suamiku…”
Jenderal Li membuka mata setengah sadar.
Pandangan itu belum sepenuhnya jernih. Ia terlihat seperti orang yang masih terjebak di antara mimpi dan kenyataan.
Bibirnya bergerak.
Serak.
“…air…”
Istrinya segera membantu Tabib desa Ying menyuapkan beberapa teguk air hangat.
Setelah itu, Jenderal Li memejamkan mata sebentar. Napasnya panjang, berat, tapi tidak lagi tersendat seperti malam-malam sebelumnya.
Lalu perlahan, ia kembali membuka mata.
Dan kali ini… pandangannya lebih fokus.
Matanya langsung mencari sesuatu di ruangan itu.
Sesuatu yang tidak ada.
“Di mana… Yun Lan?apa dia sendirian di rumah?.”
Pertanyaan itu datang karena khawatir.
Tanpa peringatan.
Tanpa jeda.
Seolah itu hal pertama yang muncul di pikirannya ketika sadar.
Jantung Ibu Yun Lan bergetar.
Meski ia sudah menyiapkan jawaban ini berkali-kali di kepalanya, tetap saja ketika harus mengucapkannya, rasanya seperti menelan duri.
Ia tersenyum lembut.
Senyum seorang istri yang terbiasa menenangkan hati suaminya.
“Yun Lan sekarang berada di rumah saudaraku di Desa Ning.”
Jenderal Yun mengerutkan alis.
“Desa Ning?”
“Iya. Bibi mengirim kabar. Ia sedang sakit. Yun Lan bersikeras ingin menjenguknya sendiri.”
Hening.
Jenderal Li menatap langit-langit bambu beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Anak itu…”
Nada suaranya melembut.
“Tidak biasanya dia mau pergi sendirian tanpa kita?.”
Kalimat itu menusuk hati Ibu Yun Lan.
“Putri kita juga bukan anak kecil lagi,jarak desa Ying ke desa Ning juga tidak terlalu jauh. Dan juga keluarga bibi sangat menyayangi Yun lan kita. ”ucapnya yang tidak berani menatap suaminya.
Karena dirinya tidak mampu membohongi suaminya,tapi hanya dengan seperti ini kepergian Yun lan tidak akan ketahuan.
Dan kepergian… putrinya hanya untuk menyelamatkan ayahnya.
Ia menunduk sedikit agar suaminya tidak melihat mata yang mulai memerah.
Jenderal Li menarik napas panjang.
“Baguslah… dia tidak melihat kondisiku seperti ini,kalau tidak dia akan merengek dan menangis terus.”
Ibu Yun Lan terdiam.
“Jangan katakan padanya,” lanjutnya pelan. “Jangan buat dia khawatir. Biarkan dia di Desa Ning sampai aku pulih.”
Kali ini, kebohongan itu terasa semakin berat.
Karena suaminya… justru memintanya untuk melanjutkan kebohongan itu.
Ia mengangguk pelan.
“Iya.”
Di sudut ruangan, Tabib desa yang sedang menumbuk ramuan menghentikan gerakannya sejenak.
Ia mendengar semuanya.
Dan alis tuanya berkerut dalam.
Jenderal Li mencoba mengangkat tubuhnya sedikit.
Refleks seorang prajurit yang tidak suka berbaring terlalu lama.
Tabib desa langsung mendekat.
“Jangan bergerak terlalu cepat.”
“Aku sudah cukup berbaring,” gumam Jenderal Li pelan. “Aku harus segera kembali bersiap.”
Tabib desa menatapnya tajam.
“Bersiap untuk apa?”
“Untuk kembali ke medan perang.”
Kalimat itu keluar dengan tenang.
Seolah itu hal yang wajar.
Hal yang pasti terjadi.
Ibu Yun Lan langsung menoleh.
“Suamiku—”
Tabib desa lebih cepat berbicara.
“Tidak.”
Suaranya keras.
Lebih keras dari biasanya.
Jenderal Li menoleh padanya.
Tabib desa berdiri tegak.
“Tubuhmu belum siap melakukan perjalanan jauh. Bahkan duduk terlalu lama saja bisa membuat napasmu berat kembali.”
“Aku sudah merasa lebih baik.”
“Itu karena kau berbaring dan tidak menggunakan tenagamu.”
Suasana ruangan mendadak tegang.
Tabib desa menatapnya tanpa ragu.
“Kalau kau memaksakan diri pergi sekarang, kau tidak akan sampai ke kamp.”
Ibu Yun Lan menahan napas.
Jenderal Li menatap tabib itu lama.
Tatapan dua pria tua yang sama-sama keras kepala.
“Aku tidak bisa mengabaikan titah kaisar.”
“Dan aku tidak bisa membiarkan pasienku mati di jalan.”
Sunyi.
Ketegangan itu terasa nyata di udara.
Jenderal Li mencoba duduk lagi.
Istrinya langsung menahannya pelan.
“Dengarkan tabib,” ucapnya lembut.
Jenderal Li menoleh padanya.
“Aku harus pergi.”
“Tidak sekarang,” jawab istrinya pelan.
“Aku ini prajurit.”
“Dan kau juga suamiku.”
Kalimat itu membuat Jenderal Li terdiam.
Ibu Yun Lan menggenggam tangannya.
Tangannya dingin.
Tapi genggamannya kuat.
“Turuti tabib. Pulihkan tubuhmu dulu. Setelah itu… kau bisa pergi.”
Jenderal Li menatapnya lama.
Ada sesuatu di tatapannya.
Ragu.
Konflik.
Tabib desa melipat tangan di dada.
“Setidaknya butuh beberapa bulan. Tidak boleh melakukan perjalanan jauh. Tidak boleh menggunakan tenaga dalam. Tidak boleh memaksakan diri.”
“Beberapa bulan itu kapan tabib?,” gumam Jenderal Li.
“Kalau tidak patuh, tidak hanya beberapa bulan saja tapi satu hari pun tubuhmu akan tumbang. Bukannya membantu negara,tapi malah menyusahkan para bawahanmu nantinya,” balas Tabib desa tegas.
Kalimat itu menghantam ruangan seperti batu jatuh.
Ibu Yun Lan tahu.
Tabib tidak sedang melebih-lebihkan.
Jenderal Li menutup mata.
Napasnya berat.
Ia tidak terbiasa dipaksa seperti ini.
Ia tidak terbiasa merasa lemah seperti ini.
Lalu perlahan, ia berkata pelan.
“…Yun Lan tidak boleh tahu.”
Istrinya mengangguk.
“Dia tidak akan tahu.”
Beberapa saat sunyi.
Lalu Jenderal Yun berkata lagi.
“Kalau kondisiku sudah cukup kuat untuk duduk di kuda… aku akan pergi.”
Tabib desa hendak membantah.
Tapi Ibu Yun Lan lebih dulu berbicara.
Dengan suara yang sangat pelan.
Sangat tenang.
Tenang yang justru menakutkan.
“Kalau kau pergi sebelum tubuhmu siap…”
Jenderal Li menoleh.
“…aku akan mengakhiri hidupku di depanmu.”
Ruangan membeku.
Tabib desa terdiam.
Jenderal Li menatap istrinya dengan mata melebar.
Ia tidak pernah mendengar istrinya berbicara seperti itu.
Tidak pernah.
Untuk pertama kali setelah sekian lama menikah, istrinya membantah keputusannya.
“Apa yang kau ucapkan, istriku?. ”
Wajah Ibu Yun Lan tidak berubah.
Matanya lurus.
Tidak ada air mata.
Tidak ada gemetar.
Hanya kepastian.
“Aku sudah hidup bersamamu puluhan tahun. Aku tahu kau akan memilih negeri di atas tubuhmu sendiri. Tapi kali ini… pilihlah kami.”
Sunyi itu panjang.
Sangat panjang.
Jenderal Li menatap istrinya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia lawan.
Bukan amarah.
Bukan tangisan.
Tetapi tekad.
Tekad yang sama persis seperti miliknya.
Akhirnya…
Ia menghela napas panjang.
“Baiklah,” ucapnya pelan. “Aku akan menunggu sampai tubuhku membaik.”
Ibu Yun Lan memejamkan mata.
Tubuhnya hampir lemas karena lega.
Tabib desa mengangguk pelan.
“Bagus, suami yang keras memang harus dilawan dengan tekad istri.”
Jenderal Li menatap langit-langit.
Ibu Yun lan bisa bernafas dengan lega, walaupun dengan berbohong bisa menyelamatkan suaminya dirinya rela untuk bersikap egois.
Dan tanpa mereka sadari…
Waktu yang mereka ulur itu…
Adalah waktu yang Yun Lan butuhkan.
Untuk masuk ke kamp.
Sebagai prajurit biasa.
Dengan identitas baru.
Dengan takdir baru yang sedang ia bentuk sendiri.