Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Suara decit sepatu basket yang beradu dengan lantai lapangan indoor SMA Nusantara terdengar memekakkan telinga, bersahutan dengan bunyi pantulan bola dan peluit pelatih. Di pinggir lapangan, tribun mulai terisi oleh beberapa siswi yang sengaja tinggal setelah jam sekolah berakhir hanya untuk melihat tim kebanggaan sekolah mereka berlatih.
Ayra berdiri di depan pintu masuk gedung olahraga dengan perasaan ragu. Di tangannya, ia meremas sebuah handuk kecil berwarna putih bersih dan sebotol air mineral yang masih dingin hingga berembun.
"Ayo, Ay! Keburu penuh tribunnya. Nanti kita nggak dapet spot paling depan buat liat 'pangeran' kamu itu," goda Sinta sambil menarik lengan Ayra.
Ayra menahan langkahnya, ia menarik Sinta ke sudut tembok yang agak sepi. Wajahnya tampak cemas, matanya melirik ke arah lapangan di mana Alano sedang melakukan lay-up dengan sangat lincah.
"Sin, dengerin aku dulu," bisik Ayra dengan nada sangat serius.
Sinta mengernyitkan dahi. "Apaan sih? Kok kayak mau transaksi rahasia gitu?"
"Nanti kalau Alano tanya, kamu jawab kamu yang ngajak aku nonton ya? Bilang kamu yang maksa-maksa aku ke sini karena kamu pengen liat Bima. Jangan pernah bilang ini kemauan aku sendiri. Plis, Sin... harga diriku taruhannya!" pinta Ayra dengan tatapan memohon yang sangat dalam.
Sinta melongo, mulutnya sedikit terbuka. "Hah? Apa? Kamu mau aku jadi tumbal?"
"Sin, plis... sekali ini aja. Aku nggak mau dia makin besar kepala kalau tau aku beneran dateng karena omongan dia tadi siang di perpustakaan. Kamu kan sahabat aku yang paling baik, paling cantik, paling pengertian..." Ayra mulai mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
Sinta memutar bola matanya, namun akhirnya ia mendesah pasrah. "Ya ampun, Ay... Gengsi kamu itu lebih tinggi daripada ring basket itu tau nggak? Iya, iya, nanti aku yang ngaku kalau aku yang nyeret kamu ke sini. Puas?"
"Makasih, Sinta! Kamu emang yang terbaik!" Ayra memeluk Sinta sekilas sebelum akhirnya mereka berjalan menuju tribun.
Mereka duduk di barisan kedua tribun. Ayra berusaha sebisa mungkin untuk tampak tidak tertarik. Ia sesekali berpura-pura mengecek ponselnya atau mengajak Sinta mengobrol tentang tugas ekonomi, padahal sudut matanya terus mengikuti gerak-gerik cowok bernomor punggung 30 itu.
Alano tampak sangat perkasa di lapangan. Keringat yang mengucur di pelipisnya membuatnya terlihat dua kali lebih tampan. Saat ia berhasil melakukan slam dunk, sorakan dari tribun pecah. Alano tersenyum lebar, ia menyapu pandangannya ke seluruh tribun, seolah sedang mencari seseorang.
Dan begitu matanya menangkap sosok Ayra, gerakan Alano sempat terhenti sejenak. Ia menyeringai nakal ke arah tribun, lalu memberikan kedipan mata yang sangat cepat ke arah Ayra.
"Tuh kan! Dia liat kamu, Ay! Langsung seger gitu mukanya," bisik Sinta sambil menyenggol lengan Ayra.
"Ih, apa sih! Dia kedip ke fans-fansnya kali, bukan ke aku," elak Ayra, padahal jantungnya sudah serasa mau lompat dari tempatnya.
Setelah satu jam latihan yang menguras tenaga, pelatih akhirnya meniup peluit panjang tanda latihan selesai. Para pemain mulai berjalan ke pinggir lapangan untuk beristirahat.
"Ayo, Ay. Itu dia ke sini," bisik Sinta.
Ayra mendadak panik. Ia menyembunyikan handuk dan botol minumnya di balik punggungnya. "Aduh, Sin... aku deg-degan. Kamu aja yang ngasihin!"
"Nggak! Kamu yang bawa, kamu yang kasih!" Sinta mendorong Ayra maju saat Alano sudah berdiri di depan tribun mereka.
Alano berjalan mendekat sambil menyeka keringat di wajahnya dengan jersey-nya, memperlihatkan sedikit perutnya yang atletis—pemandangan yang membuat Ayra buru-buru membuang muka.
"Gue kira lo nggak bakal dateng, Ay," ucap Alano dengan napas yang masih terengah-engah. Suaranya terdengar sangat maskulin saat lelah seperti ini.
Ayra berdehem, mencoba memasang wajah sedatar mungkin. "Tadi Sinta yang maksa-maksa aku ke sini. Katanya dia pengen liat Bima, tapi dia nggak berani sendirian. Jadi ya... aku terpaksa nemenin."
Sinta yang berdiri di belakang Ayra langsung melotot, namun ia terpaksa mengangguk saat Alano meliriknya. "I-iya, Kak Lan. Aku yang maksa Ayra tadi."
Alano menaikkan sebelah alisnya, ia tahu betul Ayra sedang berbohong, tapi ia memilih untuk mengikuti permainan gadis itu. "Oh, jadi terpaksa ya? Kasihan banget sekretaris OSIS gue yang satu ini."
Alano kemudian menunjuk ke arah tangan Ayra yang masih bersembunyi di balik punggung. "Terus itu apa? Lo bawa tongkat ajaib buat nyihir gue jadi ganteng?"
Ayra dengan sangat canggung mengeluarkan handuk dan botol minum itu. "Ini... ini juga tadi Sinta yang beli. Tapi karena dia malu kasih ke Bima, ya udah... mending buat kamu aja daripada mubazir."
Alano tertawa kecil. Ia menerima botol minum dingin itu. "Sinta beli air mineral merek kesukaan gue? Dan handuknya juga warna putih favorit gue? Wah, Sinta perhatian banget ya sama gue, bukan sama Bima."
Sinta hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, sementara wajah Ayra sudah semerah tomat matang.
Alano membuka tutup botol itu dan meminumnya hingga setengah. Ia kemudian mengambil handuk dari tangan Ayra. Bukannya mengusap wajahnya sendiri, Alano justru menarik tangan Ayra lembut.
"Ay, tangan lo dingin banget. Lo masih agak demam ya?" tanya Alano, nada bicaranya tiba-tiba berubah menjadi sangat khawatir, menghilangkan kesan jahilnya.
"Enggak, aku cuma... cuma agak kedinginan karena AC gedung ini terlalu kenceng," jawab Ayra gugup.
Alano meletakkan punggung tangannya di dahi Ayra sejenak. "Nggak panas sih. Tapi jangan kelamaan di sini kalau gitu. Pulang yuk?"
"Nanti, nunggu Sinta selesai ngobrol sama Bima," jawab Ayra sambil melirik ke arah Sinta yang ternyata sudah asyik mengobrol dengan Bima di sudut lapangan.
Alano kembali mendekatkan wajahnya ke arah Ayra, membuat Ayra refleks mundur satu langkah. "Lain kali kalau mau kasih gue minum, bilang aja, 'Ini buat kamu, Lano'. Nggak usah bawa-bawa nama Sinta. Gue lebih suka minum air yang dikasih karena lo peduli, bukan karena 'mubazir'."
Ayra terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa lagi mencari alasan. Gengsinya yang setinggi langit seolah baru saja dipukul jatuh oleh kejujuran Alano.
"Udah, jangan cemberut terus. Ayang gue makin cantik kalau lagi salting begini," bisik Alano sambil mengusap kepala Ayra dengan handuk putih tadi sebelum berlari kembali ke tengah lapangan untuk mengambil tasnya.
Ayra berdiri terpaku, memegangi rambutnya yang habis diusap Alano. Ia menoleh ke arah Sinta yang memberikan jempol dari jauh.
"Tuhan... aku beneran gagal jadi sekretaris OSIS yang tegas kalau di depan dia," batin Ayra pasrah. Ternyata, meskipun ia membawa seribu alasan untuk mengelak, hatinya sudah tertinggal di tengah lapangan basket itu, bersama cowok yang selalu memanggilnya "Ay".