Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 ~ Apa Sebuah Keputusan Yang Benar?
Ketika kembali ke rumah, Raina menatap suaminya yang sedang duduk diam di sofa. Mereka mungkin pulang di jam yang sama, tapi Marvin lebih dulu sampai ke rumah. Melihat tatapannya, kali ini benar-benar berbeda. Tidak seperti tatapan Marvin untuk beberapa hari lalu. Kali ini kenapa Raina merasa tatapannya lebih dingin dari sebelumnya.
"Sudah aku tandatangani tentang permintaanmu setelah perceraian nanti. Tidak ku sangka kau meminta banyak uang juga ya"
Nada bicara yang merendahkan itu, membuat Raina hanya menghela napas sesak. Mungkin jika Marvin tahu yang sebenarnya, dia tidak mungkin akan mengatakan hal itu. Tapi memang sebaiknya dia tidak pernah mengetahui apa-apa soal uang yang di minta Raina padanya selepas peceraian nanti.
"Ya, aku memang membutuhkan uang itu. Lagi pula siapa yang tidak butuh uang? Kan kamu yang menawarkan dan aku bebas meminta berapapun, jadi tidak masalah 'kan?"
Sial, kenapa Raina bisa mudah sekali melontarkan kalimat itu. Bahkan ekspresi wajahnya saja begitu meyakinkan jika Raina adalah perempuan yang hanya menginginkan uang.
Marvin tersenyum sinis, menatap Raina dengan lekat. "Ternyata sikap polosmu selama ini, memang hanya topeng saja. Pantas jika orang tuamu saja bahkan tidak menyukaimu, mungkin karena memang kau adalah perempuan seperti ini. Sangat jauh dengan Amira yang mempunyai ketulusan"
Raina terdiam, tangannya meremas celana panjang yang dia pakai. Bukan hanya karena di bandingkan, tapi karena kenyataan tidak seperti itu. Membuat dadanya bergemuruh, ingin sekali mengatakan yang sebenarnya, tapi Raina urung melakukan itu. Dia akan pergi dengan citranya yang tidak pernah baik di mata Marvin dan orang-orang sekitarnya.
"Kak Marvin, aku hanya berdoa semoga kamu bahagia ketika sudah berpisah denganku"
Raina pergi ke kamarnya setelah mengatakan itu. Bahkan tidak menunggu Marvin menjawab ucapannya. Dia bersandar di pintu kamar, menghembuskan napas panjang hanya untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Menenangkan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Raina, kamu sudah mengambil keputusan ini. Maka lanjutkan dan jangan ragu untuk terus melangkah"
*
Marvin sudah kembali ke kamarnya, tidak lagi satu kamar dengan Raina. Namun, tanpa di sadari hatinya sedikit hampa, seolah ada yang hilang dan pergi dari hidupnya. Hanya satu minggu saja dia tidur satu kamar dengan Raina, tanpa ada hal atau kejadian apapun. Tapi entah kenapa dia merasa kesunyian saat kembali ke kamarnya sendiri.
Berdiri di depan figura foto besar yang terpajang di dinding. Menatapnya dengan lekat, itu adalah foto dirinya dan Amira yang seharusnya terpajang di pernikahan mereka. Namun, semuanya gagal karena pernikahan dirinya dan Amira tidak pernah terjadi.
"Keputusanku sudah benar 'kan Amira? Melepaskan adikmu agar dia tidak terus terikat dengan pernikahan tanpa cinta ini"
Hati yang tiba-tiba meragu, seperti ada hal yang janggal di hatinya sampai membuat Marvin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa keputusan ini sudah yang terbaik dan benar adanya. Padahal sejak awal dia sudah begitu yakin dengan keputusannya untuk melepaskan Raina, tapi entah kenapa mendadak hatinya meragu.
"Amira, aku merindukanmu. Seandainya kamu tidak pergi, mungkin hidupku tidak akan seperti ini. Dan ... adikmu juga tidak akan menggantikanmu dalam pernikahan ini"
Saat masih tenang dan merenungi apa yang akan terjadi, Marvin mendengar suara lantang yang memanggilnya dari lantai bawah. Suaranya semakin terasa dekat sampai pintu kamar di ketok keras, lebih seperti sebuah gedoran.
"Marvin, keluar kamu! Bicara sama Mama sekarang! Marvin!"
Suara Mama terdengar begitu marah, bahkan teriakannya bisa menembus dinding. Marvin segera membuka pintu kamar dan menemui Mamanya. Dan ... plak.. satu tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Sebenarnya tidak seberapa rasa sakit dari tamparan Mama, tapi Marvin hanya merasa terkejut karena tidak pernah Mama menamparnya seperti ini.
"Ma, ada apa?"
"Kamu tanya ada apa? Apa kamu sudah amnesia dan melupakan semua yang telah kamu lakukan, Hah?! Berani-beraninya mengambil keputusan seperti ini tanpa memberitahu Mama dan Papa"
Raina baru saja sampai di lantai atas ketika dia juga mendengar keributan ini, suara lantang Mama yang terus memanggil Marvin tidak mungkin dia tidak mendengarnya.
Mama menoleh pada Raina yang baru saja muncul, air matanya tiba-tiba menetes saat melihat wajah polos menantunya itu. Mama menghampiri Raina dan memeluknya. Terisak pelan tanpa berbicara menjelaskan apa yang membuatnya menangis. Raina juga terkejut dan bingung dengan apa yang Mama lakukan padanya saat ini.
"Ma, ada apa?"
Mama melerai pelukannya, menangkup wajah Raina dan menatapnya lekat. Matanya masih menggenang. "Maafkan anak Mama karena sudah berani membuatmu terluka, bahkan tanpa berpikir dia akan menceraikanmu. Rain, kamu tenang saja ya, Mama tidak akan membiarkan perceraian ini terjadi sampai kapanpun!"
Raina tertegun mendengarnya, jika Mama Sonia memang tiba-tiba tahu tentang perceraian ini wajar saja, karena memang seharusnya dia mengetahui semua ini. Tapi, Raina sama sekali tidak menyangka jika Mama Sonia bahkan sampai menangis karenanya, bahkan ingin membatalkan perceraian ini.
"Ma, tidak perlu" ucap Raina pelan.
Marvin menatap Raina dengan lekat, namun tatapannya sangat sulit di artikan. Sebenarnya kedatangan Mama sudah cukup mengejutkan, tapi sikap Mama yang seperti ini tidak lagi membuat Marvin terkejut, karena dia tahu bagaimana Mama yang menerima Raina dengan lapang sebagai menantunya.
"Ini sudah menjadi keputusan kita berdua, lagian jika terus bersama kita juga akan semakin menyakiti satu sama lain. Mama juga tahu jika pernikahan ini terjadi bukan karena cinta, jadi memang sebaiknya di akhiri saja"
"Tapi Nak..." Mama Sonia tidak melanjutkan bicaranya, dia kembali memeluk menantu perempuannya ini dengan tangisan yang kembali pecah. "Maafkan anak Mama ya, karena dia tidak cukup bersyukur bisa mendapatkanmu"
Sementara Marvin yang mendengar itu, tangannya hanya mengepal erat, tatapan mata yang dingin dan tajam. Seolah hatinya menginginkan jawaban Raina yang tidak seperti itu. Tapi kenapa juga dia harus kecewa dengan jawaban Raina? Bukankah memang benar apa yang diucapkan Raina barusan?
Sial, kenapa aku jadi goyah begini?
*
Akhirnya Raina memberikan pengertian pada Mama Sonia jika pernikahan ini memang sudah tidak mungkin dilanjutkan lagi. Meski pada awalnya Mama Sonia sempat memaksa agar Raina tetap bertahan dengan Marvin, tapi akhirnya Mama bisa menerima juga setelah mengetahui penjelasan dari Raina.
"Ma, kalaupun tetap di paksakan Mama tahu akan seperti apa akhirnya, mungkin kita akan tetap bersama tapi hanya terus saling menyakiti. Ma, Kak Marvin tidak pernah mencintaiku, dan aku berada dalam pernikahan ini juga hanya sebatas pengganti. Jadi, sebaiknya memang pernikahan ini berakhir sampai disini"
Masih mengusap kasar air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Mama mengangguk pelan, mencoba mengerti keputusan yang sudah di ambil oleh menantunya ini.
"Mama mengerti Nak, semoga saja kamu bisa bahagia setelah berpisah dengan Marvin. Meski nanti kamu menemukan pria lain yang membuatmu bahagia, tolong jangan pernah lupakan Mama ya"
"Tentu saja Ma, aku tidak mungkin melupakan Mama. Karena hanya Mama mertua yang paling baik yang pernah aku temui. Terima kasih untuk semuanya ya, Ma" ucap Raina yang memeluk Mama mertuanya, merasakan pelukan hangat seorang Ibu yang tidak pernah dia rasakan selama ini.
"Sama-sama Sayang" Mama membalas pelukan Raina dan mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,