Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan
"Gue salah rekrut orang, gue kira cewek itu bisa di ajak kerja sama buat ngabisin anak si Dahlia." ucap Darius
"Kita harus lakuin sesuatu, gue bakal minta pembunuh bayaran. Buat bunuh itu cewek sama si Anggun." balas Danar, Darwin tak datang. Ia sudah lelah, selalu di tekan oleh adik dan kakaknya. Darwin sadar, bila kedua saudaranya sudah gila.
"Lu ada nama sama foto gadis itu??" tanya Danar, Darius diam dan menggelengkan kepalanya.
"Bodoh, lalu mau kau suruh merek bunuh siapa? Hah?!" Darius menunduk, benar juga... Kenapa dia tak bertanya namanya saat itu?
"Sebaiknya kita ke tempat guru, kita harus selesaikan ini semua. Gue cape bertahun-tahun harus kaya gini, perkara jiwa si Dahlia yang ga bisa kita kirim." ucap Danar, di angguki Darius
.
.
"Bagaimana cara kita ke rumah dukun, yang selalu di datangi oleh pamannya Anggun?" tanya Ilmi
"Tennaaang... gue tau dimana mereka, waktu gue liat masa lalu Anggun. Gue ngeliat sekelebat bayangan hitam, waktu si Danar lempar emaknya Anggun. Dan gue tau, dimana keberadaannya." jawab Cia
"Kalo gitu, kita berangkat sekarang. Tebakan gue, pamannya Anggun bakal gerak sekarang. Dua kali gagal bunuh emaknya Anggun, dan satu kali kegagalan karena kebodohan Darius mencari rekan." sambung Ghava
"Ayo, siapa aja yang bakal berangkat?" tanya Kenan
"Kita bagi kelompok, ada yang ke rumah sakit. Ada yang ke rumah utama keluarga Anggun, cek keberadaan kakek nenek Anggun. Gue yakin, kalo mereka masih hidup. Dan yang bakal habisin dukun itu, biar gue ma Ghava." jawab Cia, Ghava menoleh dan mengangguk setuju.
Udah lama juga, dia ga dapet kasus kek gini.
"Hayu gua mah" ucap Ghava
Mereka pun membagi tim, lalu pergi ke tempat yang diminta Cia.
PLOP
.
.
PLOP
"Di sini Ci??" tanya Ghava, saat mereka telah tiba di sebuah rumah model china kuno.
"Iyup... Lu pikir formasi pemecah jiwa, berasal darimana bambaaaaang??" jawab Cia
"Iya kali aja dari Cilacap atau darimana gitu??? Taunya dari luar negeri." Cia memutar malas bola matanya
"NGACO, CILACAP DI BAWA-BAWA!!!" Kesal Cia
SYUUUTTTT
TAP
"BAKAR GHAV.... BAKAR!!!!" teriak Cia, saat ada kertas jimat berwarna kuning hampir mengenai tubuh mereka. Beruntung mereka memiliki kepekaan yang tinggi, sehingga sempat menghindarinya.
Ghava mengeluarkan cahaya dari jari telunjuknya, lalu ia arahkan pada kertas kuning tersebut. Sampai terbakar dan musnah, Cia dan Ghava mulai waspada.
"Baru juga datang, udah di suguhin jimat kutukan. Kampret emang, mana itu dukun." gerutu Ghava
"Rupanya aku tidak bisa meremehkan kalian" ucap seseorang, yang keluar dari persembunyiannya.
Ghava dan Cia berbalik, mereka menatap sinis pria tua di depan mereka. Tak lama, menyusul dua pria yang Cia kenal. Danar dan Darius....
Cia tersenyum smirk, menatap keduanya.
"Dua orang bodoh, sedang mengadu pada manusia tolol." ucap Cia, mengundang amarah dukun tua itu
"BRENGSEK, SIAPA KALIAN HAH??!" bentak Danar
"Siapa kami, kalian tak perlu tau. Kalian tak tau, tapi aku tau siapa kalian. Sekumpulan orang bodoh, dimana dua bodoh lainnya tertipu oleh seorang penipu tolol. HAHAHAHAHA" tawa Cia pecah
"SIALAN.."
SYUUTT
CLING
Ghava menangkis serangan dukun tersebut, dengan pedang yang terbuat dari kekuatan miliknya.
"WAAAHHHH... Udah pinter ya penjahat sekarang, ga pake aba-aba. Langsung serang,..." Cia mengangguk, ia mengangkat telapak tangan kirinya.
Di sana muncul cahaya berwarna putih, samar merah. Ketiga orang itu kembali terkejut, setelah melihat Ghava tadi. Kini harus melihat lagi, apa yang di perlihatkan Cia.
Syuutt
BRUGH
"DARIUS" teriak Danar, ia berlari menghampiri adiknya. Yang kini tak sadarkan diri, karena di jadikan tameng oleh pria yang ia panggil guru.
Cia terkekeh, seraya menggelengkan kepalanya.
"Kalian lihat, pria yang kalian panggil guru. Lebih memilih mengorbankan adikmu, daripada serangan ku melukainya tadi. Hahahahah.... Asal kalian tau, formasi yang kalian lakukan selama ini. Sampai terus, berusaha menghabisi adik kandung kalian. Itu adalah formasi, untuk menghentikan keturunan. Bukan formasi, yang kalian pikirkan selama ini." ucap Cia, Danar terkejut mendengarnya
"tidak mungkin" gumam Danar, ia menengadahkan kepalanya dan menatap pria tua tersebut.
"Apa yang dikatakannya, tidak benar kan?" tanya Danar, dukun itu menunduk. Ia menatap Danar, dengan tatapan mengejek.
"Kalian yang bodoh, bukan salahku." jawab dukun itu santai
"Asal kalian tau, pria itu menipu kalian. Dengan maksud untuk mengeruk seluruh harta, yang kalian punya. Di saat jiwa adik kalian, ia dapatkan. Maka tujuan utamanya, untuk menguasai kalian. Dan juga harta kalian, akan tercapai." kedua tangan Danar terkepal erat, ia benar-benar marah.
Jadi selama bertahun-tahun ini, ia di bohongi?? Ia diperalat, hanya untuk memperkaya dukun sialan itu??
"Memang benar, formasi ini bisa membuat orang jadi boneka. Dan tujuannya itu adalah kalian, awal mulanya kalian tidak akan bisa mendapatkan keturunan. Bila jiwa adik kalian dia dapatkan, maka kalian yang akan menjadi bonekanya." lanjut Cia
"Kau... " Danar bangun, ia hendak menghajar dukun brengsek itu. Tapi gerakannya terbaca oleh si dukun, dengan mudah dukun itu melumpuhkan Danar hingga batuk darah.
"K-kau... B-ber ber ta hun ta hun a aku menghidupi mu, b-beginikah an anjing yang aku tolong dulu." ucap Danar terputus-putus
"Kalian memang bodoh, hanya demi menguasai harta keluarga. Rela mengorbankan adik kandung kalian, hal itu merupakan makanan yang paling aku sukai. Memecah belah keluarga, menghancurkan rasa kasih antara saudara. Aku suka melihatnya, aku tak peduli siapa yang akan mewarisi harta itu. Karena pada akhirnya, aku yang akan menikmati semuanya. hahahha... AARRGGHHTT" dukun itu terpental mundur, jauh ke belakang.
BUAGH
BUGH
BUGH
Punggung dukun itu, menabrak dua tembok di belakangnya. Kedua tembok itu hancur, saat Cia mengeluarkan kekuatannya. Lalu ia hentakkan telapak tangannya, langsung di area dada dukun tersebut.
SEETT
Gerakan Cia yang cepat, membuat Ghava tak melihatnya. Tiba-tiba Cia sudah berada di depan dukun tersebut, tanpa menunggu dukun utu bicara. Cia menarik baju dan melemparkan dukun itu ke atas, lalu Cia pun melompat tinggi. Kini ia ada di atas dukun tersebut, mengarahkan sikutnya ke perut si dukun. Dan...
BUAGH
BUGH
AAAAAAAARRRRGGGGHHHTTT...
Teriakan dukun itu terdengar menggema, Ghava menggunakan teleport nya. Kini mereka berdiri di depan dukun, yang tengah mengerang kesakitan. Tubuhnya terasa begitu hancur, tapi... Ini belum selesai.
Udara di sekitar berubah dingin, angin seolah berkumpul di saru titik. Dan ya... Seolah ada sesuatu yang berkumpul, mengelilingi tubuh si dukun.
Kabut hitam membentuk vorteks atau pusaran, tepat di atas dada si dukun. Lambat laun kabut itu, masuk ke tubuh si dukun.
KRETEK
KRETEK
BUUUMMM
Ghava dan Cia serempak melompat ke belakang, mereka langsung waspada. Bersiap melawan sesuatu yang besar, berdiri kokoh di depannya.
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
ganbate kak