NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Sepertiga Malam

Malam semakin larut ketika SUV hitam milik Liam perlahan memasuki gerbang rumah. Jakarta di luar sana masih bising, namun di balik dinding rumah ini, yang tersisa hanyalah keheningan yang menenangkan. Liam mematikan mesin mobil, bersandar sejenak di kursi kemudi, dan memejamkan mata. Bayangan percakapannya dengan Dokter Asena dan bisik-bisik perawat di rumah sakit memuai begitu saja, digantikan oleh satu wajah yang menjadi tujuannya pulang.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Harum aroma terapi lavender dan gaharu menyambutnya, pertanda bahwa Ameera telah menyiapkan segalanya untuk menyambut sang imam.

Di ruang tengah, Ameera duduk di atas sofa panjang, mengenakan gamis rumahan berbahan sutra yang lembut. Di pangkuannya, sebuah mushaf terbuka. Ia sedang mengulang hafalannya, bibirnya bergerak lembut melantunkan ayat-ayat suci. Cahaya lampu ruang tamu yang temaram menyapu wajahnya, memberikan efek aura yang begitu teduh.

Liam terpaku di ambang pintu. Pemandangan ini jauh lebih indah dari penghargaan medis apa pun yang pernah ia terima. Inilah alasan mengapa ia tidak pernah sedikit pun melirik wanita lain di rumah sakit; karena di rumah, ia sudah memiliki dunia yang sempurna.

Ameera menyadari kehadiran suaminya. Ia menutup mushafnya, tersenyum lebar hingga matanya menyipit, sebuah senyum yang hanya ia berikan untuk Liam.

"Sudah pulang, Mas?" Ameera berdiri, mendekat, lalu mencium punggung tangan Liam dengan takzim.

Liam mengecup kening Ameera lama, lalu beralih ke perut Ameera yang mulai menonjol di balik gamisnya. "Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah dia merepotkan mu lagi dengan mual-mual itu?"

"Tadi siang sedikit, tapi setelah aku bacakan Ar-Rahman, dia tenang," jawab Ameera sambil mengusap kepala Liam yang kini mulai berlutut di depannya.

Ini adalah ritual favorit Liam setiap pulang kerja. Ia menempelkan telinganya ke perut Ameera, seolah sedang mendengarkan detak jantung yang paling merdu di dunia. Tangan besarnya mengusap lembut permukaan perut itu.

"Assalamualaikum, jagoan kecil Ayah... atau mungkin putri cantik Ayah?" bisik Liam, suaranya berat dan penuh getaran emosi. "Maaf ya, Ayah baru pulang. Hari ini di rumah sakit sangat sibuk, banyak orang sakit yang butuh bantuan Ayah. Tapi sepanjang hari, Ayah hanya memikirkan mu dan Ibu."

Ameera merasakan tendangan kecil dari dalam rahimnya. Ia tertawa pelan, jemarinya menyisir rambut Liam dengan kasih sayang. "Lihat, Mas. Dia merespons suaramu."

Liam tersenyum, sebuah senyum yang sangat lebar yang tidak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun di rumah sakit. "Dengarkan Ayah, Nak. Tumbuhlah yang kuat di dalam sana. Jadilah pelindung bagi Ibumu. Ayah sedang berjuang di luar agar kelak kau bisa tumbuh di tempat yang baik. Dan ingat, hafalan Ibumu sudah sampai di juz yang hebat, kau harus mengikutinya, ya?"

Liam bangkit, lalu membimbing Ameera untuk kembali duduk. Ia tidak langsung mandi, melainkan memilih untuk duduk di lantai, bersandar pada kaki Ameera. Ia merasa lelah fisiknya luruh seketika.

"Ameera," panggil Liam pelan.

"Iya, Mas?"

"Terima kasih sudah menungguku. Terkadang, saat di rumah sakit, aku merasa dunia begitu bising. Orang-orang memujaku karena keberhasilan operasi, wanita-wanita menatapku dengan tatapan yang melelahkan... tapi saat sampai di depan pintu rumah ini, aku merasa menjadi pria biasa yang sangat butuh pulang padamu."

Ameera mengerti arah pembicaraan suaminya. Ia tahu posisi Liam sebagai dokter bedah muda yang tampan pasti membawa banyak godaan, meski Liam tidak pernah menceritakannya secara detail.

"Mas Liam," Ameera menangkup wajah suaminya, memaksa Liam untuk menatapnya. Kini, Liam tidak lagi menunduk. Di hadapan istrinya, ia memberikan tatapan paling dalam dan paling jujur. "Bagiku, kau bukan hanya dokter hebat. Kau adalah pria yang membimbingku saat aku kehilangan arah. Jika dunia di luar sana begitu menyilaukan, ingatlah bahwa di sini, aku dan anak kita adalah cahaya yang tidak akan pernah padam untukmu."

Liam meraih tangan Ameera, mencium telapak tangannya satu per satu. "Kau tahu? Tadi ada dokter baru di rumah sakit. Dia pintar, lulusan luar negeri. Tapi setiap kali dia bicara tentang pencapaian dunia, aku hanya teringat padamu yang sedang berjuang mengeja makhraj huruf dengan air mata setahun lalu. Bagiku, perjuanganmu jauh lebih bernilai daripada gelar doktor mana pun."

Malam itu, keromantisan mereka tidak diisi dengan makan malam mewah atau perhiasan mahal. Mereka menghabiskan waktu dengan saling bercerita tentang mimpi-mimpi untuk anak mereka kelak.

"Aku ingin dia punya mata sepertimu, Ameera," bisik Liam saat mereka sudah berbaring di tempat tidur. "Mata yang selalu mencari kebenaran."

"Dan aku ingin dia punya hati sepertimu, Mas. Hati yang selalu menunduk di hadapan Allah, namun tegak berdiri untuk kemanusiaan."

Sebelum memejamkan mata, Liam menarik selimut untuk Ameera, memastikan istrinya merasa hangat. Ia membisikkan doa perlindungan di telinga Ameera, lalu mencium perutnya sekali lagi.

"Tidurlah, bidadariku. Besok aku akan bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untukmu sebelum aku kembali ke 'medan tempur' itu. Tapi ingat, sejauh apa pun aku melangkah, hatiku terkunci di sini, bersamamu dan amanah kecil kita."

Di bawah naungan malam, Ameera merasa menjadi wanita paling beruntung. Ia menyadari bahwa cinta sejati bukan tentang siapa yang paling lama menatap, tapi tentang siapa yang paling tulus menjaga pandangan demi satu nama yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz.

Ameera tertidur dengan senyum di bibirnya, sementara Liam tetap terjaga sejenak, menatap wajah istrinya dalam diam, mensyukuri setiap detik takdir yang telah membawanya pulang ke pelukan Alif-nya yang kini telah menjadi dunianya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!