Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Revisi Hati
Di jam istirahat kantor biasanya jadi waktu favorit gue buat scrolling mencari promo seblak atau sekadar ghibah tipis-tipis bareng Maya. Tapi siang ini, rutinitas itu hancur total. Genta, si bos yang baru saja mengganti mode ‘Robot’ menjadi ‘Manusia Setengah Matang’ berdiri di samping meja gue sambil ngetuk-ngetuk arlojinya.
“Aruna, sudah jam dua belas lewat lima menit. Efisiensi waktu makan siang itu penting,” ucapnya datar, tapi ada binar yang beda di balik matanya.
Gue mendongak, sengaja nahan senyum. “Jadi, sekarang Bapak merangkap jadi alarm jam makan siang saya juga? Kurang kerjaan ya, Pak?”
Genta berdeham, tangannya masuk ke saku celana. “Banyak bicara. Ayo. Saya tahu tempat makan yang nggak pakai banyak MSG, sesuai keluhan kamu di kolom komentar dua hari lalu.”
Gue mendelik. Sial, dia beneran memantau semua curhatan gue di NovelToon sebagai Kaka’s. Dengan perasaan campur aduk antara malu dan senang, gue akhirnya bangkit juga.
Kami berakhir di sebuah kedai soto di gang belakang kantor. Gue sengaja milih tempat yang agak gerah dan berisik biar dia nggak bisa pasang tampang elitnya. Tapi di luar dugaan, Genta duduk dengan tenang, bahkan dia yang ngambilin sendok dan garpu buat gue setelah dia lap dulu pakai tisu sampai mengkilap, tentu saja.
“Bapak tahu nggak, kalau nungguin Bapak lap sendok itu bikin durasi makan saya berkurang lima persen?” sindir gue sambil menuangkan sambal banyak-banyak ke mangkuk.
Genta melirik mangkuk gue, lalu dahi berkerut. “Sambal itu berlebihan, Aruna. Secara logika, lambung kamu bakal protes sepuluh menit lagi. Itu nggak efisien buat kesehatan.”
“Idih, mulai deh. Ini namanya seni menikmati hidup, Pak. Nggak semuanya harus dihitung pakai logika atau efisiensi naskah,” balas gue sambil menyuap satu sendok penuh. “Lagian, Bapak sendiri ngapain masih panggil saya pakai nama asli? Di aplikasi kan Bapak manggil saya ‘Senja’ pakai nada-nada puitis gitu.”
Wajah Genta mendadak kaku. Dia buru-buru nyeruput teh tawarnya. “Itu... itu urusan profesional di aplikasi. Di sini saya atasan kamu.”
“Halah, bilang aja gengsi,” gumam gue, sengaja pengen ngetes batas kesabarannya. “Gimana kalau kita revisi sedikit hubungan ini? Bapak berhenti jadi robot, dan saya berhenti nulis adegan kematian buat Bapak. Adil kan?”
Genta terdiam sebentar. Dia meletakkan sendoknya dengan rapi, lalu menatap gue lurus-lurus. Tatapan yang bikin gue mendadak lupa cara ngunyah kerupuk.
“Saya sedang berusaha, Aruna. Tapi mengubah gaya bahasa itu nggak segampang menekan tombol backspace,” suaranya merendah, terdengar tulus banget. “Kasih saya waktu buat... merevisi cara saya memperlakukan kamu di luar jam kantor.”
Gue ngerasain desiran aneh di dada. Rasanya kayak ada ribuan kembang api yang meledak pelan di perut gue. Ternyata, melihat Genta yang berusaha keras buat jadi ‘hangat’ itu jauh lebih berbahaya buat kesehatan jantung gue daripada dikasih tinta merah satu halaman penuh.
“Oke, deal,” kata gue sambil nyodorin kelingking. “Tapi kalau Bapak mulai kaku lagi, saya nggak segan-segan bikin tokoh Kastara reinkarnasi jadi tukang siomay yang gagal cinta.”
Genta mendengus, tapi kali ini sudut bibirnya naik. Tipis banget, tapi itu senyum paling nyata yang pernah gue lihat di wajahnya. Dia nggak nyambut kelingking gue, tapi dia malah nambahin perasan jeruk nipis ke mangkuk gue.
“Makan yang benar, Aruna. Habis ini naskah Lentera di Balik Kabut harus selesai. Jangan sampai hati kamu yang direvisi, tapi kerjaan kamu malah berantakan.”
Gue ketawa kecil. Meskipun omongannya masih ada bau-bau bos galak, tapi gue tahu, di balik tembok kakunya, Genta lagi ngebuka pintu lebar-lebar buat gue masuk. Dan entah kenapa, gue nggak sabar buat ngacak-ngacak isi rumahnya.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻