Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dua Dunia
Hujan baru saja reda, menyisakan bau aspal basah yang tajam di area belakang sekolah yang sepi. Aira sedang berdiri di dekat gerbang belakang, hendak pulang melalui jalan tikus agar tidak berpapasan dengan siapa pun. Namun, sebuah bayangan tegap sudah menunggunya di bawah pohon beringin tua.
Abyasa.
Laki-laki itu tidak memakai motornya. Ia berdiri di sana dengan mata yang tampak lebih lelah dari kemarin, namun raut wajahnya menunjukkan kekerasan hati yang belum pernah Aira lihat.
"Sudah selesai lari-larinya?" suara Kara terdengar dingin, menembus udara sore yang lembap.
Aira berhenti, namun tidak berani menatap mata laki-laki itu. "Aku tidak lari. Aku hanya pulang."
"Kamu lari, Aira. Kamu lari dari kenyataan, kamu lari dari aku, dan kamu lari ke dalam lubang hitam yang kamu gali sendiri!" Kara melangkah maju. Langkahnya sedikit goyah, namun ia tetap memaksa mendekat. "Aku sudah tahu semuanya. Tentang Punggelan. Tentang beban yang kamu bawa dari rumah nomor 13 itu."
Aira tersentak. Kepalanya mendongak, matanya berkilat antara marah dan takut. "Kalau kamu sudah tahu, seharusnya kamu lari sejauh mungkin, Kara! Kakekmu pasti sudah bilang, kan? Orang sepertiku tidak punya tempat untuk dicintai. Aku adalah kehancuran yang berjalan!"
"Itu omong kosong!" bentak Kara. Suaranya menggelegar di area yang sunyi itu. "Bagaimana bisa kamu, seorang siswi cerdas, lebih percaya pada bisikan tetangga dan kebetulan-kebetulan pahit daripada pada Tuhan?"
"Kebetulan?" Aira tertawa pahit, air mata mulai mengalir. "Pak Mulyono kritis, teratai itu mati, keluargaku habis... apakah itu semua kebetulan? Dan sekarang lihat matamu, Kara! Matamu merah, kamu sulit melihat, kamu pikir aku buta? Itu karena aku! Karena aku mulai menyukaimu, dan 'mata' ini mulai bekerja menghancurkanmu!"
Aira menunjuk matanya sendiri dengan jari yang gemetar. "Ini bukan mitos, ini kutukan yang nyata!"
Kara meraih bahu Aira, mencengkeramnya dengan kuat agar gadis itu berhenti berteriak. Ia memaksa Aira menatapnya, meskipun pandangan Kara sendiri mulai berbayang parah.
"Dengar aku, Lawana!" Kara menekan setiap katanya. "Logikaku mungkin sedang diuji, dan fisikku mungkin sedang menurun, tapi imanku tidak serendah itu. Takdir itu di tangan Allah, Aira! Bukan di mata kamu! Bukan di tangan kamu!"
Aira terdiam, terengah-engah dalam isaknya.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir kamu Tuhan yang bisa menentukan hidup mati seseorang hanya dengan melihat mereka?" lanjut Kara dengan nada yang lebih rendah namun tajam. "Menjadikan dirimu sendiri sebagai pusat kesialan itu adalah bentuk kesombongan yang paling buruk. Kamu merasa kamu begitu hebat sampai bisa melampaui kehendak pencipta?"
"Aku tidak sombong... aku hanya takut," bisik Aira hancur.
"Kalau kamu takut, lari ke Allah, bukan lari dari kenyataan!" Kara melepaskan cengkeramannya. Ia terhuyung sedikit, kepalanya berdenyut hebat. "Sakit di mataku ini... mungkin memang ada penjelasannya secara medis, atau mungkin memang ini ujian karena aku terlalu mengandalkan logikaku sendiri. Tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan membiarkanmu menggunakan nama 'takdir' untuk membenarkan ketakutanmu."
Aira menatap Kara yang tampak berjuang mempertahankan kesadarannya. "Kara, kamu sakit... tolong, menjauhlah sebelum semuanya terlambat."
"Tidak," sahut Kara tegas. "Aku tidak akan menjauh sampai kamu sadar bahwa samudera tidak pernah menenggelamkan karena ia jahat. Dia menenggelamkan mereka yang tidak tahu cara berenang. Dan aku... aku akan belajar berenang di dalammu, Aira. Meskipun aku harus buta karenanya."
Hening menyergap. Hanya ada suara sisa tetesan hujan dari daun beringin. Aira terpaku, merasa seluruh dinding pertahanannya hancur bukan karena paksaan, tapi karena sebuah pernyataan perang terhadap nasib yang dibawa Kara.
"Pulanglah," ujar Kara pelan, sambil memalingkan wajah karena pandangannya benar-benar mulai gelap. "Besok, aku ingin melihatmu di lab. Bukan sebagai asisten yang ketakutan, tapi sebagai Syaira yang aku kenal."
Kara berjalan pergi dengan langkah yang sangat pelan, meraba pagar sekolah untuk memandunya. Aira berdiri sendirian di sana, memegang dadanya yang terasa nyeri. Perdebatan itu tidak memenangkan siapa pun, tapi di antara logika Kara dan mitos Aira, sebuah luka baru telah terbuka—luka yang hanya bisa sembuh jika salah satu dari mereka benar-benar menyerah pada takdir yang lain.
***
Parah sih 😔😔
Kalian pernah dengar tentang Punggelan? ceritain sedikit, dong 🫣🫣
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰