Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prawan Tua
Pagi itu Anggika Rosalia terbangun dengan jantung berdegup kencang saat suara gedoran keras mengguncang pintu kamarnya.
“ANGGI!”
“Bangun! Jam berapa ini kamu masih molor aja! Rezeki kamu dipatok ayam nanti!” teriak Kulsum lantang dari balik pintu.
“Iya, Mak … iya …” Anggi mengerang malas. “Ini Anggi udah bangun!”
Ia membuka mata setengah, rambutnya awut-awutan. Dengan langkah gontai, Anggi turun dari ranjang dan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Kulsum langsung melotot tajam.
“ASTAGA!”
“Kaya kerbau kamu baru bangun tidur! Ini udah mau jam sepuluh, Anggi!”
Anggi mengucek mata. “Jam sepuluh doang, Mak … ”
“Doang katamu?!” Kulsum berkacak pinggang.
“Anak gadis tuh ya harus rajin! Cepat mandi! Abis itu anterin makanan ke kebun. Bapakmu udah nunggu dari tadi, kasihan sudah kelaparan dia!”
Anggi menguap lebar. “Iya, iya. Anggi mandi dulu …”
“Jangan kebanyakan alasan. GERCEP!” bentak Kulsum.
“Iya, galak amat sih,” gumam Anggi sambil berjalan ke dapur.
Matanya langsung tertuju pada paha ayam goreng di meja. Tangannya refleks menyambar—
“Heh!”
PLAK!
Kulsum menepuk tangan Anggi.
“Belum mandi, belum cuci muka, udah nyomot makanan aja! Jorok tau!”
Anggi meringis. “Ya elah, Mak. Nyobain dikit doang …”
“MANDI!” potong Kulsum tegas.
“Siap, Komandan,” sahut Anggi sambil nyengir kecil lalu kabur ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Anggi keluar dengan rambut masih basah dan wajah setengah segar. Ia berganti pakaian sederhana, lalu melangkah ke ruang depan.
Kulsum sudah menyiapkan rantang di meja.
“Ini makanan buat bapakmu. Habis nganter, langsung pulang. Jangan keluyuran.”
“Iya, Mak.”
“Nanti malam kamu bantu Mak masak. Juragan Huda mau datang ke rumah.”
Anggi berhenti melangkah.
“Emang juragan Huda mau ngapain ke sini?”
Kulsum mendengus. “Jangan banyak tanya. Pokoknya kamu duduk yang manis aja.Jangan lupa dandan yang cantik. Jangan malu-maluin keluarga.”
Alis Anggi langsung berkerut.
“Mak… jangan bilang mau ngejodohin Anggi lagi?”
“Sudah!” bentak Kulsum.
“Cepat ke kebun! Kebanyakan mikir yang engak-enggak!”
“Iya, iya …” Anggi mengalah. “Anggi berangkat.”
Dengan rantang di tangan, Anggika berjalan menyusuri jalan desa. Angin pagi berembus sejuk, tapi pikirannya justru panas.
“Juragan Huda lagi, juragan Huda lagi …”
gumamnya kesal.
Tiba-tiba—
BRUAAAK!
Cipraaaat!
Air genangan muncrat tepat ke celananya.
“WOY!” Anggika melonjak kaget.
“MATA KAMU DI DENGKUL APA GIMANA, SIH?!”
Motor itu berhenti mendadak. Pengendaranya menoleh panik.
“Maaf, Mbak! Maaf banget! Aku nggak sengaja!”
Anggika melotot, menatap pria itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Eh … kamu?! Maryono,kan?!”
Pria itu menghela napas panjang.
“Mario. Namaku Mario. Dari dulu juga kamu selalu gajti-ganti nama orang seenak jidatnya.”
“Ah, sama aja!” bentakAnggika.
“Sekarang sombong banget, ya? Bawa motor nggak pakai otak!”
Mario menyeringai miring.
“Yang sombong itu kamu, Anggi. Baru pulang dari kota udah berasa jalan punya nenek moyang kamu.”
“Jaga mulut kamu!” Anggika menunjuknya.
“Jangan sok tahu hidup orang!”
“Yaudah, aku nggak mau ribut,” ujar Mario santai sambil menstarter motor.
“Oh iya, aku nyalon lurah. Ingat, nyoblos nomor dua.”
Anggika mendengus jijik.
“Najis. Mimpi aja sana!”
Mario tertawa kecil.
“Santai aja. Jangan baper dong calon warga ku.”
Motor itu pun melaju pergi, meninggalkan Anggika dengan celana basah dan emosi mendidih.
“Sialan!”
“Apes banget baru juga mandi, kena air comberan!”
“Kurang ajar emang Mario gak punya akhlak!”
Sesampainya di kebun, Anggika meletakkan rantang di atas gubuk kecil.
“Pak, ini makan siangnya,” katanya sambil membuka tutup rantang.
Bapaknya menoleh dan tersenyum hangat.
“Kamu sudah makan belum, Anggi?”
“Belum, Pak. Nanti aja di rumah.”
Bapaknya mengangguk sambil mulai menyuap nasi.
“Jangan lupa nanti sore dandan yang cantik.”
Anggika langsung menegang.
“Pak … jangan bilang Bapak mau ngejodohin Anggi sama juragan Huda?”
Bapaknya berhenti makan.
“Kenapa kamu mikir ke situ?”
“Soalnya emak bilang dia mau datang malam ini!” suara Anggi meninggi.
“Anggi nggak mau, Pak! Dia udah tua bangka bau tanah!”
Bapaknya menghela napas panjang.
“Anggi, umur kamu sudah 27. Kamu sudah gagal sama orang kota itu. Sekarang ada yang mau melamar, kenapa ditolak?”
Anggika mengepalkan tangan.
“Aku masih bisa cari jodoh sendiri!”
Ia berbalik pergi.
“Kenapa sih kalau belum nikah?! Emang aku nggak laku?!”
“Anggi!” panggil bapaknya.
Namun Anggika terus berjalan.
“Yang bikin mati itu bukan telat nikah, Pak!”
“Tapi nikah sama orang yang salah!”
Ia berhenti, napasnya berat.
“Semua ini gara-gara kamu, Rafly…” gumamnya.
Matanya memanas.
“Kalau kamu nggak selingkuh sama Sinta, aku nggak bakal jadi bahan omongan satu desa!”
Dengan kesal, Anggika menendang sebuah batu.
TAK!
“WOY!”
“Siapa yang lempar batu?!”
Seseorang berteriak dari balik semak.
Wajah Anggika pucat.
“Astaga ... Apa yang sudah ku lakukan?Bisa mati aku,siapa yang sudah kena lemparan baru ku?”
Tangannya gemetar, jantungnya berdegup kencang.