NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

" Papah jangan pergi!!!"

Suara nyaring dan tangisan Cila sudah terdengar pagi-pagi, gadis kecil itu memeluk ayahnya dengan erat seolah enggan melepas kepergian ayahnya. Cila biasanya tidak serewel ini, padahal sebelumnya gadis kecil itu susah terbiasa di tinggal ayahnya bekerja keluar kota. Mbok dan bibi dengan sabar berusaha membujuk Cila supaya luluh dan tenang. Namun Cila memberontak dan malah mendorong mbok dan bibi yang merawatnya.

Adam meliha jam di pergelangan tangannya, jam susah menunjukkan pukul tujuh malam, padahal jadwal keberangkatan pesawatnya pukul delapan. Ia gelisah dan khawatir, jika tidak segera berangkat jalannya akan macet dan mungkin ia akan terlambat. Padahal ia sudah berjanji pada produser dan sutradara akan kembali ke kota hari ini.

" Papah harus pergi sekarang, nak. Kalau perkejaan papah susah selesai, papah janji akan ambil cuti, ya." Bujuk nya.

"Gak mau, Cila mau main dan liburan sama orang tua Cila, kayak teman-temannya Cila yang lain," ucap Cila tersedu-sedu.

" Kemarin kan papah susah lama di rumah. Papah juga perlu bekerja lagi sayang buat beli pakaian kamu. Jajan kamu susu kamu, buat keperluan Cila juga. Tolong ngertiin papah ya, nak."

"Cila udah ngertiin Papah, tapi Allah gak ngerti Cila!"

"Maksud kamu ngertiin Cila dengan menjadikan Tante Vania mamah baru kamu? Dengarin papah ya, nak. Gak semudah itu cari cari dan punya mamah baru. Papah lihat berita tentang Tante Vania, sekarang tantenya lagi ada Maslaah. Jadi kita gak perlu buru-buru ke Tante Vania ya. Tante Vania pasti butuh waktu untuk selesaikan masalahnya dulu. Kalau sudah selesai masalahnya, kita main ke rumah Tante Vania ya. Gimana?"

Cila meregangkan pelukannya dari sang ayah, Farel dengan lembut menyeka air mata putri kecilnya itu dengan jemarinya. Meski ia seorang ayah, ia tidak tega melihat putrinya menangis tersedu-sedu. Farel paham jika Cila butuh kasih sayang dan perhatian dari sosok ibu.

Cila mengangguk." Tapi papah janji ya sama Cila, di sana papah jangan cari mamah baru. Cila maunya cuma Tante Vania yang jadi mamah barunya Cila."

"Iya sayang, sekarang papah boleh pergi ya? Mana senyumannya? Anak papah kan cantik jadi harus sering senyum ya, jangan cemberut gini."

"Iya pah, hati-hati di jalan. Kalau papah udah sampai jangan lupa telepon Cila ya."

"Iyaa nak, baik-baik sama mbok dan bibi ya. Makan yang teratur, jangan nakal. Kamu harus rajin belajar dan nurut sama mbok dan bibi. Doain papah ya, jangan lupa doain mamah di surga ya, nak. Sekarang Cila gak perlu takut ke sekolah, karena udah ada om itu yang jagain Cila."

"Doain Tante Vania boleh gak, pah?"

"Eh? Ya, gak apa-apa nak, kamu doakan saja Tante Vania supaya masalah nya cepat selesai. Kalau gitu papah berangkat ya."

Cila mengangguk, ia mendekati ayahnya kemudian mencium pipi ayahnya setelahnya dia memeluknya. Begitu juga Farel, dia mencium pipi dan membelai hangat rambut Cila. Farel beranjak sambil membawa tas ransel dan koper, tidak lupa melambaikan tangan kepada Cila. Asistennya dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya, kemudian membawa tas serta koper milik artisnya itu ke bagasi,

Mobil yang membawa Farel mulai melaju meninggalkan rumahnya. Dari balik jendela mobilnya Farel terus melambaikan tangan pada Cila. Cila juga terus melambaikan tangannya kepada sang ayah, ketika sang ayah sudah tidak lagi terlihat Cila segera berlari masuk ke dalam rumah, sehingga membuat dia wanita yang merawatnya terkejut.

Gadis kecil itu lantas membuka pintu kamar Farel dan masuk ke dalam sana. Ia mendongak saat melihat pigura foto pernikahan sang ayang dengan mendiang ibunya. Cila duduk di sisi ranjang seraya menatap foto kedua orang tuanya.

"Mah, Cila kangen sama mamah. Gimana si rasanya di sayang sama mamah? Di peluk sama mamah, di bacain dongeng setiap tidur, di buatin makanan, disuapin, main bareng mamah, di dandanin mamah. Cila mau ngerasain itu semua mah. Tapi mamah udah di surga, kata papah kalau mamah udah di surga gak bisa pulang ke sini lagi," ucap Cila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Bibi yang hendak mendekat ke Cila ditahan oleh tangan mbok yang lembut, penuh pengertian. “Biarkan dia, dia butuh ruang,” bisik mbok dengan nada serius. Cila berdiri sendirian, matanya tertuju pada foto ibu kandungnya yang telah lama pergi. Angin sore meniup rambutnya yang panjang, menambah kesan melankolis pada suasana hatinya yang rapuh.

Air mata Cila jatuh sambil memandangi foto tersebut. Tangisnya, yang penuh dengan rasa kerinduan yang mendalam, menggema di ruang sunyi, seakan membawa pesan kesedihan yang tak terperi. Bibi dan mbok hanya bisa mengawasi dari kejauhan, hati mereka serasa ditusuk relung kesedihan yang tak terkatakan.

Selama hidupnya, Cila hanya bisa memandang bayangan kasih sayang ibu yang tidak pernah ia rasakan. Rasa pilu itu makin mendalam tatkala ia menyadari, ia tak pernah berkesempatan bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal pada ibunya yang meninggal hanya beberapa hari setelah ia lahir. Kisah yang membeku di hati Cila ini, kini hanya bisa dia ungkapkan melalui isak tangis yang menghujam jiwa, menyisakan luka yang teramat dalam.

"Mamah tau gak? Kemarin Cila hampir di culik sama om jahat, terus ada Tante yang nolongin Cila. Namanya Tante Vania, tante itu cantik tapi galak dan berani. Cila ngerasa dijagain waktu Tante Vania berhasil buat om jahat itu pergi. Mamah, boleh gak kalau tante Vania nemenin Cila di rumah ini? Mamah tenang aja, Cila pasti akan selalu sayang sama mamah," ujar Cila, tangisannya sudah berhenti berganti dengan ekspresi wajahnya yang ceria begitu menceritakan soal Vania.

Tiba-tiba Cila menguap, lama menangis membuat gadis kecil itu mengantuk. Cila merebahkan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman. Cila menarik guling di dekatnya, memeluknya erat seraya membayangkan sang ibu tangan memeluknya saat ini. Tak lama napasnya menjadi teratur pertanda jika Cila sudah masuk ke alam mimpi.

Melihat Dika yang sudah tertidur pulas di kasur ayahnya, mbok dan bibi dengan sigap memperbaiki posisi tidur gadis kecil itu, setelahnya mengatur suhu pendingin ruangan. Mbok membelai rambut panjang Cila yang menutupi wajahnya. Cila begitu cantik jika sedang tertidur, gadis mungil itu sangat mirip sekali dengan mendiang ibunya.

"Bi tolong buatkan susu buat non Cila ya, takutnya pas bangun nanti Cila nyari susu."

"Iya mbok, kalau gitu saya buat susu dulu," ucap bibi. Wanita itu berlalu meninggalkan mbok dan Cila di kamar Farel.

Mbok yang masih setia membelai rambut Cila, matanya tak lepas memandang putri bos-nya itu. "Gusti, hamba-Mu ini memohon sehatkan non Cila. Berikan yang terbaik untuk anak baik ini. Sejak lahir gadis kecil ini tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Mbok jadi gak tega kalau liat non Cila merengek saat meminta ayahnya mencarikan mamah baru. Mbok cuma bisa mendoakan yang terbaik buat, non Cila."

Mbok lantas memandangi foto pernikahan bos-nya." Bu, putri ibu sekarang sudah besar. Dia pintar dan baik hati, selain itu dia juga aktif sama seperti ibu. Saya yakin, diatas sana ibu pasti bangga punya anak sehebat non Cila. Saya cuma bisa mendoakan non Cila dan Pak Farel supaya sehat dan bahagia selalu."

Mbok menarik selimut dan menutupi setengah badan Cila agar tetap hangat. Ia melihat gadis kecil itu, merasa kasihan dengan Cila yang sudah ditinggal ibunya sejak lahir juga kurang perhatian dari sang ayah. Meski begitu ia tahu, Farel sibuk juga demi menafkahi putri semata wayangnya itu.

Tampaknya Cila sudah benar-benar tidur pulas, sehingga mbok berani meninggalkan Cila di kamar. Namun pintu kamar sengaja dibuka gara sewaktu-waktu Cila bangun dan menangis, ia bisa siaga. Mbok juga merasa aman dan nyaman karena sekarang sekitar rumah dijaga ketat oleh bodyguard.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!