Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Tidur Kinan
Pagi tidak datang dengan perlahan seperti tendangan—tiba-tiba, kasar, tanpa ampun. Cahaya dari celah gorden tipis menusuk mata Raka terbuka lebar sejak semalam. Ia tidak tidur tidak benar-benar tidur hanya terbaring di lantai, memeluk bantal kini sudah tidak lagi berbau istrinya, hanya air mata dan keringatnya sendiri.
Ia mengangkat kepala. Lehernya kaku, punggungnya nyeri, seluruh tubuhnya protes atas posisi tidur yang salah. Tapi semua itu tidak penting yang terpenting adalah suara—atau ketiadaan suara.
Tidak ada suara ketukan panci dari dapur, langkah kaki yang berjentik-jentik di lantai. Tidak ada nyanyian sumbang Kinan sejak bangun tidur, lagu-lagu dangdut tahun 90-an tidak cocok dengan perempuan berusia 28 tahun tapi selalu membuat Raka tersenyum.
Tidak ada apa-apa. Hanya sunyi lengkap menghancurkan, mengingatkannya lagi dan lagi: Kamu sendiri sekarang selamanya.
\=\=
Raka berdiri dengan susah payah. Lututnya gemetar, seolah tulang-tulangnya menjadi kerangka yang tidak dikenali. Ia melihat sekeliling—kamar terlihat asing meski ia tinggal di sini sejak lima tahun lalu. Dindingnya terlihat sakit, warna mual, kebohongan yang tidak pernah terwujud.
Di sudut, tanaman hias dalam pot plastik, lidah mertua. Kinan yang membelinya di pasar bunga, dengan harga tawar yang membuat penjual mengeluh, "Bu, saya rugi." dan ia menjawab dengan senyum manis, "Nanti saya beli lagi, Pak, kalau tanamannya hidup."
Tanaman itu masih hidup sedikit layu, daun-daunnya menguning di ujung, tapi masih hidup. Sedangkan Kinan—
Raka mengalihkan pandangan. Tidak. Jangan lihat. Jangan ingat.
Ia berjalan ke arah dapur, dua kompor gas, beberapa alat alat dapur, panci, talenan, pisau dan lainnya. Di atas meja, cangkir keramik putih dengan gambar kucing—hadiah dari Maya, selalu ia pakai untuk kopi pagi. Kopi hitam, sudah dingin membentuk lapisan tipis di permukaan.
Raka menatap cangkir itu, Kinan marah karena ia lupa membeli gula, sempat tertawa melihatnya panik mencari dompet, mencium pipinya sebelum berangkat dengan kata-kata—"Hati-hati, Mas, ingat doa ya."
Kini cangkir itu hanya cangkir. Kopi itu hanya kopi dingin yang tidak akan pernah diminum. Kata-kata itu hanya gema di kepalanya, semakin pudar, semakin tidak nyata, mimpi yang tidak bisa dipercaya.
Ia tidak menyentuh cangkir hanya menatap segalanya dan tidak melihat apa pun, mencoba mengingat bagaimana rasanya bernapas normal menjadi manusia yang utuh.
\=\=
Ibu Rini datang siang itu.
Raka mendengar ketukan pintu—tiga kali, pelan tapi ia hanya diam dan pintu terbuka. Ibu Rini punya kunci cadangan—Kinan yang memberinya, "Bu, jaga-jaga kalau kami berdua kecelakaan bareng." Kata-kata yang dulu terdengar seperti lelucon, kini seperti ramalan terlalu tepat.
"Nak Ibu bawain makanan."
Raka tidak menoleh duduk di lantai dapur, punggungnya menempel di lemari es memeluk bantal yang sudah tidak berbau apa pun.
Perempuan itu duduk di sebelahnya. Roknya menyentuh lantai yang tak disapu sejak—kapan? Sejak Kinan masih bisa menyapu? Sejak Raka masih peduli?
“Makan, Nak.”
Nasi, lauk pauk, buah. Makanan yang dulu Raka sukai, yang selalu ia nanti-nantikan saat pulang kampung kini terlihat seperti benda asing plastik yang tidak penting.
" Raka nggak lapar, Bu,” suaranya parau. Itu kalimat pertama sejak pemakaman.
“Sedikit saja.”
Mereka duduk dalam sunyi, lama, sangat lama. Sampai nasi di nampan benar-benar dingin, Raka akhirnya mengangkat tangan menyuap nasi, melihat ibunya menangis diam-diam, jika ia tidak makan, ibunya akan pergi.
"Ibu pulang sore, ya," kata Ibu Rini, setelah ia menghabiskan setengah piring—setengah, tidak lebih, tidak sanggup lebih. "Maya bilang dia bakal datang temenin kamu."
Raka mengangguk. Tidak peduli. Maya atau tidak, ibunya atau tidak, semua sama saja. Tidak ada yang bisa mengisi lubang yang kini ada di dadanya. Tidak ada yang bisa mengembalikan suara langkah kaki yang ia tunggu-tunggu.
\=\=\=
Ibu Rini pergi. Raka sendiri lagi.
Kamar terasa lebih sunyi dari dapur.
Ranjang mereka—yang dulu terlalu kecil untuk dua tubuh yang suka berguling—kini terasa besar. Ada bantal guling yang dulu ia peluk, Raka mengangkatnya, mencium perlahan sisa aroma losion melati lemah dan hampir hilang.
Ia merosot di ranjang, memeluk bantal itu, menenggelamkan wajahnya seolah sedang mencari oksigen terakhir.
“Nan…” bisiknya. “Mas pulang kamu di mana sayang?”.
Sunyi.
Tangannya meraba sisi tempat tidur yang kosong. Seprai terlipat terlalu rapi seperti pengkhianatan kecil terhadap kekacauan yang dulu mereka miliki.
Ia menarik seprai, membungkus dirinya, tidur tidak datang walaupun beberapa kali ia memejamkan matanya. Antara setengah sadar bayangan suara itu muncul —
“Mas, bangun. Telat kerja.”
Ia hampir percaya jika membuka mata, Kinan akan ada di sana, tapi hanya dinding tembok kamar. Raka berguling menatap langit-langit bercat putih, noda kecil di sudut selalu janji akan dibersihkan, "Minggu depan, Ya Dik, kalau Mas tidak lembur" Minggu depan yang tidak akan pernah datang.
\=\=\=
Sore datang dengan bunyi ketukan pintu membawa ketukan lain.
“Ra?” suara Maya. “Gue masuk, ya?”
Ia masuk tanpa jawaban.
Maya berlutut di samping ranjang tangannya menyentuh bahunya.
“Lo harus mandi, Ra. Lo nggak bisa begini terus.”
" Nanti aja, May."
“Kinan nggak mau lihat lo kayak gini,” suaranya pecah. “Dia selalu bilang, apa pun yang terjadi, lo harus kuat.”
Buat dia.
Kalimat itu terasa seperti beban.
“Gue nggak bisa, May,” Raka berbisik. “Gue nggak tahu caranya.”
"Satu langkah," kata Maya. "Satu langkah aja. Mandi. Gue tunggu di luar. Nanti kita minum teh. Pelan-pelan, Ra. Pelan-pelan."
Satu langkah. Raka mencoba mengerti konsep itu. Satu langkah dari ranjang ke kamar mandi. Satu langkah dari kematian ke kehidupan. Satu langkah dari tidak ada ke ada, meskipun ada tapi seperti pengkhianatan terhadap istrinya.
Ia berdiri dengan susah payah, seperti baru saja belajar menggunakan tubuh. Maya menahan lengannya, membimbingnya ke kamar mandi, berdiri di luar pintu sementara Raka berdiri di dalam, menatap cermin yang kabur.
Wajahnya. Wajah siapa ini? Pucat, berjanggut tidak dicukur, mata cekung, rambut berantakan. Bukan Raka yang Kinan kenal. yang ia cintai. Bukan.
Raka membuka keran. Air hangat—atau dingin, ia tidak merasakan—mengalir di tangannya. Ia mencuci wajah, perlahan, tanpa hati, hanya mengikuti gerakan yang dulu otomatis. Sabun. Bilas. Keringkan.
Di cermin, wajah itu sedikit lebih bersih. Tetap asing. Tetap salah. Tapi sedikit lebih bersih.
Ia keluar. Maya menunggu dengan dua cangkir teh di tangan. Mereka duduk di teras kecil, menatap tanaman lidah mertua yang semakin layu, menatap langit sore semakin gelap.
"Gue bawain baju lo," kata Maya. "Yang bersih. Yang...bukan yang kemarin."
Raka mengangguk. Mengganti baju. Mengikuti instruksi seperti robot, anak kecil, kehilangan kemampuan untuk memutuskan. Baju bersih. Celana bersih. Tubuh yang terlihat seperti Raka, tapi tidak merasa seperti Raka.
Mereka minum teh. Sunyi. Tidak perlu bicara. Maya sesekali menatapnya, sesekali menangis diam-diam, mencoba tersenyum dan gagal. Raka hanya menatap cangkirnya, menatap uap yang naik, sesuatu yang tidak ada di sana.
"Gue harus pulang," kata Maya akhirnya, saat maghrib tiba. "Besok gue datang lagi. Lo... lo tidur, Ra. Coba tidur."
Tidur. Kata yang terdengar seperti lelucon. Tidur tanpa Kinan di sampingnya tanpa suara napas yang menenangkan. Tidur tanpa tahu bahwa di pagi hari, akan ada seseorang yang membangunkannya dengan ciuman, pukulan bantal atau suara nyanyian sumbang.
Tapi Raka mengangguk. Mengantar Maya ke pintu. Mengunci setelahnya—meski tidak ada yang perlu dikunci, karena tidak ada yang berharga tersisa.
Ia kembali ke kamar berdiri di tengah, menatap ranjang penuh dengan kenangan lalu tidur di sisi kanan dekat jendela yang biasa Kinan tempati. Ia bisa melihat bintang
menatap langit-langit yang sama, tapi dari sudut berbeda. Dari sini, noda di sudut terlihat lebih jelas. Dari sini, suara tetangga berdebat terdengar lebih dekat. Dari sini, dunia terlihat sedikit berbeda, sedikit lebih tidak dikenali, tempat yang bisa ia tinggali sementara.
"Mas di sini, Nan," bisiknya di kegelapan. Mas di sisimu. Mas... mas coba ya."
Ia menutup mata. Tidak tidur—tidak benar-benar tidur—tapi beristirahat. Beristirahat dalam kehancuran, dalam duka, dalam pelukan terakhir yang kini hanya berupa ingatan.
Di luar, malam tiba sepenuhnya. Bintang-bintang muncul satu per satu, diam-diam, tanpa meminta izin. Di dalam, Raka berbaring di sisi yang salah dari ranjang, mencoba menjadi seseorang yang masih bisa bangun pagi, meski tidak ada yang membangunkannya lagi.
mampir 🤭