NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: HARGA DIRI DI ATAS LANTAI DINGIN

BAB 9: HARGA DIRI DI ATAS LANTAI DINGIN

Lorong rumah sakit pusat Simla terasa begitu dingin, namun tidak sedingin tatapan mata Hendra Kashyap yang berdiri dengan angkuh di depan Arlan. Suasana mendadak senyap, hanya suara mesin pendeteksi jantung dari ruang ICU yang terdengar seperti detak bom waktu bagi Arlan.

Arlan berdiri mematung. Pakaiannya masih basah oleh air hujan dan noda merah dari darah ibunya. Luka cambukan di punggungnya yang belum sembuh terasa berdenyut-denyut, seolah-olah setiap cambukan itu kembali menghantamnya sekarang. Namun, rasa sakit fisik itu kalah telak oleh rasa hina yang ditawarkan Hendra.

"Pilih, Arlan," suara Hendra memecah kesunyian, begitu tenang namun mematikan. "Nyawa wanita tua yang melahirkanmu, atau ego keras kepalamu yang tidak berguna itu? Jika kau bersujud di kakiku sekarang dan berjanji akan menghilang dari Simla besok pagi, aku akan menandatangani cek untuk seluruh biaya operasinya. Jika tidak... biarkan dia mati dalam diam."

"Ayah, cukup!" jerit Vanya. Ia memegang lengan ayahnya dengan putus asa. "Bagaimana kau bisa menjadi sekejam ini? Ini bukan lagi tentang bisnis atau kasta, ini tentang nyawa!"

Hendra menepis tangan Vanya dengan kasar. "Diam, Vanya! Kau tidak tahu apa-apa tentang bagaimana dunia ini bekerja. Pria ini sudah berani menantangku di depan seluruh warga Simla. Dia harus tahu posisinya."

Arlan menatap pintu kaca ruang ICU. Di balik sana, Sujati—wanita yang menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini—terbaring dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Arlan teringat bagaimana ibunya selalu tersenyum meski mereka hanya makan nasi dengan garam. Ia teringat bagaimana ibunya selalu mengusap rambutnya dan berkata, "Arlan, jangan pernah tundukkan kepalamu pada siapapun kecuali pada Tuhan."

Tapi sekarang, Tuhan seolah-olah sedang mengujinya dengan cara yang paling brutal.

Arlan melangkah maju satu tindak. Gani, yang berdiri di samping ayahnya, tersenyum mengejek sambil mengeluarkan ponselnya, siap merekam momen kehancuran Arlan.

"Arlan, jangan..." bisik Vanya dengan isak tangis yang tertahan. Ia menggelengkan kepalanya, memohon agar Arlan tidak merendahkan dirinya. Ia tahu, jika Arlan bersujud, sesuatu di dalam jiwa pria itu akan mati selamanya.

Arlan berhenti tepat di hadapan sepatu kulit Hendra yang mengkilap. Ia menarik napas panjang, matanya merah karena menahan amarah dan air mata yang tidak mau ia tumpahkan di depan musuhnya.

"Kau ingin aku bersujud, Tuan Hendra?" suara Arlan terdengar serak, namun tetap dalam.

"Lakukan sekarang, atau aku pergi," jawab Hendra dingin.

Perlahan, sangat perlahan, Arlan mulai menekuk lututnya. Satu lutut menyentuh lantai rumah sakit yang putih dan dingin. Kemudian lutut satunya. Tubuhnya yang biasanya tegap dan menantang, kini membungkuk di kaki sang penguasa Simla.

Vanya menutup mulutnya dengan tangan, tangisnya pecah seketika. Ia jatuh terduduk di kursi tunggu, tidak sanggup melihat pemandangan itu. Hatinya hancur berkeping-keping melihat pria yang ia cintai karena keberaniannya, kini harus menyerah pada kekejaman ayahnya.

Arlan menundukkan kepalanya hingga dahinya nyaris menyentuh sepatu Hendra. "Saya... saya memohon pada Anda. Tolong selamatkan ibu saya. Saya akan melakukan apa saja. Saya akan pergi dari Simla. Saya akan menghilang. Tapi tolong... berikan dia kesempatan untuk hidup."

Hendra tertawa kecil, tawa yang sangat merendahkan. Ia menoleh ke arah Gani yang sedang merekam. "Lihat ini, Gani. Lihatlah 'Singa Simla' yang kemarin begitu berani mendirikan tenda di depan rumah kita. Ternyata dia tidak lebih dari seekor tikus yang ketakutan saat terpojok."

Hendra mengambil selembar cek dari sakunya, menjatuhkannya ke atas lantai tepat di depan wajah Arlan. "Ambil itu. Itu adalah harga untuk kehormatanmu yang sudah hilang. Besok pagi, aku tidak ingin melihat tendamu, sapimu, atau bayanganmu lagi di kota ini. Jika kau melanggar, jangan harap ibumu akan keluar dari rumah sakit ini dengan bernapas."

Hendra berbalik, menarik tangan Vanya dengan paksa. "Ayo pulang, Vanya! Drama ini sudah berakhir."

"Lepaskan aku, Ayah! Arlan!" Vanya meronta, namun pengawal Hendra segera memegangi lengannya. Ia diseret menjauh dari lorong itu, meninggalkan Arlan yang masih bersujud di lantai.

Setelah Hendra pergi, suasana lorong kembali sepi. Arlan masih berlutut. Tangannya gemetar saat mengambil cek yang tergeletak di lantai. Ia menggenggam kertas itu begitu kuat hingga jari-jarinya memutih.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat menyentuh bahunya. Itu adalah perawat yang sejak tadi menyaksikan dari kejauhan. "Nak... bangunlah. Berikan cek ini ke bagian administrasi agar operasi bisa segera dimulai."

Arlan berdiri perlahan. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kesedihan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh tatapan yang begitu dingin dan gelap—sesuatu yang lebih menakutkan daripada kemarahan.

Ia menyerahkan cek itu ke bagian administrasi. Sepanjang malam, Arlan duduk di depan ruang operasi sendirian. Ia tidak bergerak, tidak makan, bahkan tidak berkedip. Di dalam pikirannya, ia sedang membunuh Arlan yang lama—Arlan yang hanya penjual susu yang naif.

"Ayahmu benar, Vanya," batin Arlan. "Dunia ini diatur oleh uang dan kekuasaan. Tapi dia salah satu hal... dia pikir dia sudah menghancurkanku. Padahal, dia baru saja menciptakan musuh yang tidak akan pernah berhenti sampai dia merasakan apa yang aku rasakan malam ini."

Pagi harinya di Simla. Kota itu terbangun dengan kabar mengejutkan. Tenda biru di depan gerbang Hendra sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah bekas abu api unggun yang sudah dingin.

Vanya berdiri di balkon kamarnya, matanya sembab karena menangis sepanjang malam. Ia menatap trotoar kosong itu dengan hati yang hampa. Ia merasa Arlan sudah menyerah, ia merasa cintanya telah kalah sebelum sempat berjuang.

Namun, di sebuah rumah sakit, Arlan sedang berdiri di samping tempat tidur ibunya yang baru saja selesai dioperasi. Sujati masih tak sadarkan diri, namun kondisinya mulai stabil.

Arlan membisikkan sesuatu di telinga ibunya. "Ibu... maafkan aku karena harus merendahkan diriku semalam. Tapi aku berjanji padamu, suatu hari nanti, nama kita akan menjadi nama yang paling ditakuti di Kota Simla ini. Kita akan kembali, bukan sebagai penjual susu, tapi sebagai pemilik takdir kita sendiri."

Arlan mengambil sebuah kalung kecil pemberian Vanya yang ia simpan di sakunya. Ia menatap kalung itu sejenak, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak kecil.

"Selamat tinggal, Vanya," gumamnya. "Untuk saat ini, kau harus membenciku. Kau harus berpikir aku adalah pengecut yang melarikan diri. Karena dengan begitu, kau akan tetap aman sampai aku cukup kuat untuk menjemputmu kembali."

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!