NovelToon NovelToon
Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.

Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak berhenti Bersin

Zurra dan Altezza sekarang sedang menikmati masa tua mereka dengan tenang. Valentine dan Valerie sudah masuk di kampus yang mereka inginkan. Dan setelah perdebatan yang panjang akhirnya mereka memutuskan untuk kuliah di kampus yang berbeda dengan tetap menyembunyikan identitas mereka. Begitu juga dengan Arlo yang ternyata mengikuti Valen di kampus yang sama tapi berbeda jurusan. Ale yang awalnya tantrum dan mengamuk dengan elegan yang selalu dia bilang akhirnya menyetujui keputusan Arlo.

Sedangkan Dean sudah fokus dengan perusahaan sang ayah yang sudah di limpahkan sepenuhnya kepadanya. Dean menjelma menjadi sosok laki laki dewasa yang semakin banyak di kejar banyak perempuan di luar sana. Tapi tetap Valen lah yang menjadi pemenang hatinya.

Setelah kejadian beberapa waktu lalu semua berubah d menjadi lebih baik begitu hubungan Dean dan Altezza kembali harmonis bahkan mereka selalu menjadi partner untuk mengembangkan perusahaan mereka.

Dan pagi ini kembali terjadi kehebohan di meja makan karena ulah si kembar yang membuat kepala Zurra ingin meledak rasanya.

"Pi, Mi. Valen mau segera menikah dengan kak Dean biar bisa cepet bikin dedek bayiny," celetuk Valen santai.

Byurrr...... Uhukkkk....

Altezza menyemburkan kembali kopi yang tengah dia minum, sementara Zurra sudah melongo mendengar ucapan Valen barusan.

Ale berjingkat jijik karena kopi yang di semburkan Altezza mengenai bajunya sebagian.

"Ih, papi jorok banget. Lihat kan bajunya Ale kotor dan harus ganti lagi!" gerutu Ale kesal.

Dia mengibaskan bajunya agar noda kopinya hilang tapi kemudian dia menghentakkan kakinya karena nodanya tak kunjung hilang.

Valen yang membuat ulah pagi itu masih nampak tenang memakan sarapan miliknya tanpa peduli dengan sekitarny.

"Kak lo sehat 'kan? kenapa pagi pagi malah membuat ulah sih," omel Ale kesal dengan sang kakak kembarannya.

Valen sendiri mengangkat kedua bahunya acuh dan membiarkan Ae terus memberengut.

"Mami, kakak ngeselin banget sih," adu Ale pada Dia ingin tahu kenapa Valen seperti ini, dan benar saja mata Valen berkaca kaca secara tiba tiba dan membuat ketiga orang yang ada di depannya saat ini panik. Terutama Ale yang langsung memeluk sang kakak karena bayangan menakutkan tiba tiba muncul kembali.

"Ssttt, kakak kenapa? Apa kak Dean jahat sama kakak? Kok kakak malah nangis."

Ale memeluk sang kakak untuk menenangkannya dan saat itu juga Valen mulai terisak menangis.

"Papi masak kemarin kak Dean gendong bayi di panti kan, terus dia lebih deket sama pengurus panti. Kak Dean masak terus nempel sama pengurus panti itu. Mana pengurus pantinya ganjen banget lagi. Udah gitu dia kayak ngejek aku karena kak Dean deket sama dia," adu Valen pada keluargnya.

Mata ketiga orang yang ada di sana berkedip berkali kali dan Ale menghentikan apa yang di lakukannya mengelus puncak kepala Valen karena dia syok saat mengetahui apa yang membuat Valen seperti itu.

Ale melirik maminya yang juga nampak menepuk keningnya pelan karena perkataan anak sulungnya itu.

"Astaga, jadi dia cemburu, "batin Altezza.

Dia sudah kembali ke tempat duduknya dan Ctak...

"Aw, sakit pi, kenapa malah Ale yang di jitak. Harusnya kan kakak yang di jitak karena bikin heboh pagi pagi," cibir Ale kesal pada sang kakak.

"Nggak sopan ngetawain maminya," balas Altezza lagi.

Ale melipat bibir bawahnya ke dalam dan meragakan seperti menutup resleting pada bibirnya. Dan dia melihat ke arah Valen yang menatap jengkel ke arah adik kembarnya dan juga kedua orang tuanya itu.

"Nggak ada Valen hamil, lagian kan lucu kayaknya kalau punya baby sekarang secara Valen cuma sama Ale aja selama ini jadi wajar dong pengen suasana baru juga," kata Valen santai.

Mata Zurra menyipit menatap anak sulungnya itu karena tak mungkin cuma karena alasan itu saja Valen meminta sesuatu yang tidak biasa seperti itu. Begitu juga dengan Altezza ang tak percaya begitu saja, karena dia tahu jika Valen sudah menolak beberapa kali saat Dean mengajaknya untuk segera menikah.

"Sayang, kayaknya nggak mungkin kalau cuma karena masalah kalian kesepian? Bukannya selama ini kalian berdua juga yang melarang mami dan papi buat punya dedek bayi lagi. Lalu kenapa sekarang seperti ini?" tanya Zurra lembut.

Zurra sang mami.

Zurra sudah menghembuskan napas berkali kali dan memijat pelipisnya karena keributan yang terjadi ini. Dia melirik Valen yang nampak tenang.

"Valen, kenapa tiba tiba bilang mau nikah? Valen baru masuk kuliah lo?"

Valen belum menjawab pertanyaan sang mami, tapi dia sudah menaruh gelas susu yang baru saja di habiskan isinya. Pikiran Zurra sudah melayang entah kemana karena melihat sang putri diam dan malah membuatnya was was. Tiba tiba ada pikiran yang tidak dia sukai melintas di keoalanya.

hati. "Valen nggak hamil kan ya?" tanya Zurra hati

Mata Altezza melotot bergantian melihat Zurra dan Valen bergantian. Apalagi saat dia melihat Valen yang malah mencebik kesal kepada maminya.

"Mami bisa nggak itu mulut kalau ngomong di filter, apa pake titik koma dulu. Enak banget kalau ngomong Valen hamil duluan." gerutu Valen pada sang mami.

Zurra yang terkena omelan Valen langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menyerngir lebar, sementara Ale sudah terkikik geli. Bagaimana tidak, jarang jarang kan Zurra di omeli oleh Valen kakaknya.

Menghela napasnya berkali kali karena tingkah putri sulungnya itu tapi dia juga kesal dengan Dean kenapa Dean bisa dekat dengajn pengurus panti mereka itu.

Altezza nampak memandangi Zurra yang hanya mengangkat kedua bahunya acuh karena dia juga bingung dengan Valen

Ale nampak mengingat sesuatu kenapa sang kakak terlihat lebay dan cengeng sekarang. Dia memejamkan matanya perlahan dan membuka matanya cepat. Dia juga melepas pelukannya pada Valen dan memberengut ke arah Valen.

"Kak Valen lagi datang periode ya?" celetuk Ale sambil bibirnya maju ke depan.

Valen yang bergantian mengerjapkan matanya berkali kali, dia nampak berpikir dan kemudian dia mengangguk pelan. Sesaat dia mulai terdiam mencerna apa yang dia lakukan sejak tadi.

Valen menggaruk kepalanya sambil cengengesan. "Heheh...."

"Maaf, aku tiba tiba begini. Lupa kalau lagi periode. Dan lagi kalau kak Dean kemarin aku beneran kesel. Udah gitu aku di diemin lagi. Apa karena aku belum mau di ajak nikah ya apa gimana?" gumam Valen pelan sambil menunduk dan memainkan kedua jari telunjuknya.

"Lagian ya kak, nggak mungkin juga kak Dean suka sama tuh mbak mbak di panti. Turun level dong dia, masak udah punya calon bini spek intel spek bidadari gini malah milih spek inem yang nggak sekis," sahut Ale sekenanya.

Plak...

"Aw, sakit mi..." rintih Ale pada Zurra.

Zurra yang gemas dengan Ale malah memelototi Ale kembali.

"Kalau ngomong sembarangan, asal nyeplos aja!" omel Zurra pada Ale.

"Ih, aku kan anak mami, lagian ya mami kan juga kadang gila nyeplos seenaknya," sungut Ale tak kalah kesalnya dengan Zurra sang mami.

Valen yang sudah malas berdebat dan mendengar celotehan keluarganya memilih pergi dari sana begitu saja tanpa pamit dan tanpa ada yang tahu. Dia juga langsung pergi ke kampusnya menggunakan mobil kesayangannya, dia sudah lama tak menggunakan motor spotnya karena aturan Dean dan juga kedua orang tuanya.

"Kan kakak yang mulai duluan, lagian kakak tumbenan cemburu nggak jelas gitu aneh banget sih lo kak..."

Ale berceloteh sambil menoleh ke arah sang kakak tapi matanya melotot saat tak mendapati sang kakak di sana. Dia celingukan mencari sang kakak tapi tak menemukan keberadaan sang kakak.

"Lah, dia kabur... setelah bikin huru hara.

Nggak punya akhlak banget jadi kakak..." gerutu Ale.

Setelah itu Ale juga bangkit berdiri dan berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke butiknya terlebih dahulu baru kemudian pergi ke kampusnya. Sedangkan Altezza dan Zurra bersandar pada kursi yang ada di sana karena ulah kedua putrinya yang menguras emosi dan tenaga mereka berdua.

Altezza yang ingin pergi ke kantornya sudah tak ingin berangkat karena ulah Valen yang membuatnya spot jantug lagi. Sedangkan Zurra memilih mengambil tabletnya yang tak jauh dari sana dan memeriksa apa yang di katakan Valen soal panti asuhan yang di maksud oleh Valen tadi.

Zurra memeriksa semua cctv yang ada di sana dan meretas semuanya sampai dia menadapatkan apa yang dia inginkan. Dan benar saja di sana Valen terlihat hanya diam saat Dean menggendong seorang bayi yang masih mungil sedangkan ada salah satu suster di sana yang berusaha mendekati Dean tapi Dean tak peduli sama sekali. Terlihat Dean selalu menghindar dan lebih memilih bertanya soal bayi itu pada ibu panti yang sudah di kenalnya lama. Valen masih diam tapi di sana terlihat Valen mengawasi gerak gerik sang suster yang terlihat mengejek keberadaan Dean. Tapi Dean segera mendekat kepad Valen saat Dean sudah selesai dengan keinginan tahuannya soal bayi itu. Dean juga sudah tahu jika Valen sudah badmood di sana.

"Kamu lihat apa?" tanya Altezza mendekat ke arah Zurra.

Zurra memberikan semua rekaman CCTV itu pada Altezza dan memerhatikan dengan seksama rekaman video itu.

Dan di sana Dean tak melakukan kesalahan sama sekali dan itu membuat Altezza maupun Zurra lega.

"Aku kira bakal ada kejadian baku hantam lagi di sana, tapi ternyata Valen berhasil menguasai dirinya dan emosinya. Dean juga sudah selalu peka dengan keadaan Valen, jadi aku rasa itu aman." ucap Altezza pada Zurra.

Zurra pun mengangguk menyetujui perkataan Altezza. Tapi dia tetap memerhatikan suster itu dengan seksama dan apa yang di lakukannya di panti.

"Lebih baik kita awasi saja dan jika dia berniat macam macam bukannya lebih baik langsung kita bereskan saja?" usul Zurra pada Altezza.

Altezza segera menyuruh anggotanya untuk melakukan apa yang Zurra katakan karena mereka tak ingin ada kejadian kedua kali pada Valen ataupun anaknya yang lainnya.

Sementara itu, Dean yang sejak tadi sudah di kantor dan akan meting bersin terus menerus.

Gerald yang ada di depannya sampai heran dengan keadaan Dean kali ini. Dia tak melihat Dean sakit tapi kenapa sepupunya itu tak berhenti untuk bersin.

"Lo sakit?" tanya Gerald akhirnya.

Dean menggelengkan kepalanya karena dia juga bingung dengan keadaannya saat ini.

Gerald nampak berpikir dengan keadaan Dean dan akhirnya terlintas satu pikiran di benaknya.

"Ah, ini pasti ada yang ngomongin lo di belakang, makanya lo bisa begitu," celetuk Gerald yang membuat Dean nampak berpikir ke sana.

"Pasti calon istri gue yang masih menyumpahi karena masalah kemarin," batin Dean.

to be continued...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!