Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain
Suara geraman mesin Triumph milik William mereda saat ia memasuki gerbang otomatis kediaman Wilson. Begitu mesin mati, keheningan Richmond yang elegan menyambutnya. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima detik sebelum pintu utama kayu jati terbuka lebar.
"WILLI!!"
Dua sosok mungil dengan rambut pirang kecokelatan yang identik berlari menuruni tangga teras. Skye dan Summer, adik kembar William yang baru berusia delapan tahun, langsung menerjang kakinya.
"Kau pulang terlambat! Kau janji mau melihat kami latihan balet!" seru Skye sambil menarik-narik ujung jaket kulit William yang keras.
William tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak pernah dilihat oleh Juliatte Fontaine. Ia berjongkok, mengacak rambut kedua adiknya. "Maaf, kurcaci. Tadi ada sedikit urusan di sekolah. Besok, aku janji akan bawakan es krim dari kedai di ujung jalan, oke?"
"Janji?" Summer menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji," balas William serius, menautkan kelingking besarnya yang penuh bekas luka baret dengan kelingking kecil adiknya.
Dari ambang pintu, seorang wanita anggun dengan apron linen, Eleanor Wilson, tersenyum melihat putra sulungnya. Ia tidak berteriak saat melihat baju William kotor, ia justru mendekat dan mengecup kening putranya.
"Selamat datang di rumah, Son," sapa Mommy lembut. "Cepat mandi, bau bensinmu sampai ke dapur. Daddy sudah menunggumu di ruang kerja."
William mengangguk patuh. Di rumah ini, dia bukan pemimpin The Ravens. Dia hanyalah seorang kakak dan putra kesayangan.
William mengetuk pintu kayu besar di lantai dua. Di dalamnya, Arthur Wilson, seorang taipan properti yang disegani di London, sedang membaca dokumen. Ia melepas kacamata bacanya dan tersenyum melihat William.
"Duduklah, Son," ujar Daddy, menunjuk kursi kulit di depannya.
"Ada apa, Dad? Masalah tagihan dari bengkel lagi?" canda William.
Arthur terkekeh, lalu ekspresinya berubah menjadi hangat namun tegas. "Hobi motormu, tawuran kecilmu untuk membela panti asuhan itu... Daddy dan Mommy tidak pernah melarangmu. Kami tahu kau butuh cara untuk merasa hidup di luar protokol keluarga ini. Tapi, William..."
Arthur mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke mata biru putranya.
"Dua hal. Hanya dua hal yang tidak akan pernah dimaafkan di rumah ini. Kau tahu itu, kan?"
"Narkoba dan seks bebas," jawab William tanpa ragu. "Aku tahu, Dad. Aku masih punya harga diri untuk tidak menyentuh sampah-sampah itu."
"Bagus. Karena kau adalah contoh bagi kedua adikmu. Mereka melihatmu sebagai pahlawan, bukan sekadar abang," Daddy menepuk bahu William kuat. "Sekarang pergilah makan malam. Mommy-mu membuat Shepherd’s Pie kesukaanmu."
Saat William duduk di meja makan yang hangat, dikelilingi celoteh adik kembarnya dan senyum tenang orang tuanya, pikirannya tiba-tiba melayang pada wajah marah Juliatte Fontaine di gerbang sekolah tadi.
Juliatte mengira William adalah anak buangan tanpa masa depan. Dia mengira William adalah produk dari keluarga hancur yang melampiaskan amarah di jalanan.
"Kasihan sekali kau, Fontaine," Batin William sambil menyuap makanannya. "Kau punya segalanya tapi merasa kesepian. Sedangkan aku? Aku punya kekacauan di luar, tapi punya surga di dalam sini."
William tersenyum miring. Ia tidak sabar untuk melihat reaksi gadis beludru itu saat suatu saat nanti dia menyadari bahwa berandalan yang paling dia benci adalah putra dari mitra bisnis terbesar ayahnya.
Berbanding terbalik dengan kehangatan di kediaman Wilson, suasana di apartemen mewah keluarga Fontaine di kawasan Belgravia terasa sedingin porselen. Di sini, tidak ada tawa anak kecil atau aroma Shepherd’s Pie. Yang ada hanyalah aroma lilin aromaterapi mahal dan kesunyian yang mencekam.
Juliatte melangkah masuk ke ruang makan dengan gerakan yang sudah terlatih sejak balita, punggung tegak, langkah tanpa suara, dan ekspresi wajah yang netral.
Di ujung meja panjang berbahan marmer, ayahnya, Monsieur Andre Fontaine, sedang menatap layar tabletnya dengan kening berkerut. Ibunya, Madame Vivienne, sibuk memastikan posisi sendok perak di atas meja sejajar sempurna.
"Kau terlambat tujuh menit, Juliatte," suara Andre terdengar dingin, bahkan tanpa menoleh dari layarnya.
"Maaf, Papa. Ada sedikit kendala di gerbang sekolah tadi," jawab Juliatte pelan sambil menarik kursi.
"Kendala? Maksudmu gerombolan motor sampah itu?" Vivienne menyela sambil menuangkan air mineral ke gelas kristal.
"Ibu mendengar dari kepala sekolah, mereka semakin liar. Kau adalah ketua OSIS, Juliatte. Pastikan reputasi sekolah, dan namamu tidak tercemar karena berurusan dengan mereka."
Juliatte menunduk, menatap pantulan dirinya di piring kosong. "Saya sudah mencoba menegur mereka, Maman. Terutama William Wilson."
Mendengar nama itu, Andre mendongak. Matanya menyipit. "William Wilson? Putra Arthur Wilson?"
Juliatte tertegun. "Papa mengenal ayahnya?"
"Arthur adalah singa di bursa saham London. Tapi putranya..." Andre mendengus remeh. "Keluarga Wilson terlalu memanjakan anak itu. Kebebasan adalah racun bagi disiplin. Ingat ini Juliatte, kau tidak punya kemewahan untuk menjadi bebas. Setiap langkahmu adalah representasi dari negaraku dan karierku."
Makan malam berlanjut dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya terdengar denting alat makan yang beradu dengan piring. Tidak ada yang bertanya bagaimana hari Juliatte, atau apakah dia bahagia dengan beban ujian Oxford-nya.
"Setelah ini, kerjakan latihan pidatomu untuk acara gala minggu depan," perintah Andre sebelum beranjak. "Dan ganti gaun itu. Ada noda kotor di bagian bawahnya. Menjijikkan."
Begitu sampai di kamarnya yang luas namun terasa sempit, Juliatte mengunci pintu. Ia menyandarkan tubuhnya dan perlahan merosot ke lantai.
Ia menyentuh bros perak yang tadi disematkan William di kerah bajunya. Jemari William yang kasar dan berbau bensin tadi terasa lebih nyata daripada sentuhan dingin orang tuanya selama bertahun-tahun.
"Kebebasan adalah racun," gumam Juliatte menirukan ayahnya.
Ia bangkit dan berjalan ke balkon, menatap lampu-lampu London di kejauhan. Di bawah sana, di suatu tempat di antara gedung-gedung tua, ia membayangkan William sedang memacu motornya dengan tawa lepas, tanpa jadwal, tanpa protokol, tanpa harus menjadi porselen yang sempurna.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal.
“Porselen tidak seharusnya menangis di balkon, Fontaine. Itu merusak estetika wajah mahalmu.” — W.
Juliatte tersentak. Ia melihat ke bawah, ke jalanan sepi di depan apartemennya. Di bawah lampu jalan yang remang, sebuah motor hitam terparkir. Pengendaranya hanya melambaikan tangan sekilas sebelum memacu mesinnya dan menghilang di balik tikungan, meninggalkan kepulan asap tipis yang menantang kesunyian malam Juliatte.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍