"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Gagal Keren di Depan Gebetan
Pria muda itu adalah kapten tim bola basket sekolah Lala yang datang membawa kotak makan siang dan bertanya dengan nada menantang apakah Dokter Adrian adalah pacar baru dari gadis yang ia sukai. Adrian meletakkan pena di atas meja kerja dengan bunyi berdentum yang cukup keras hingga membuat suasana ruangan seketika mendingin. Ia menatap remaja laki-laki yang memiliki tinggi badan hampir menyamai dirinya itu dengan pandangan mata yang sangat datar dan sangat tajam.
"Saya adalah dokter yang menangani kesehatan Lala, bukan peserta lomba lari estafet untuk memperebutkan perhatiannya," jawab Adrian dengan suara yang sangat rendah.
"Jangan berbohong, Lala selalu membicarakan Dokter di sekolah sampai-sampai dia lupa jadwal latihan pemandu sorak!" seru kapten basket itu sambil menggebrak meja.
Adrian menghela napas panjang lalu merapikan tatanan jas putihnya yang sedikit berantakan akibat gerakan mendadak dari sang tamu tidak diundang. Ia menyadari bahwa pesona alay milik Lala ternyata telah menciptakan api cemburu di kalangan remaja yang masih sangat emosional. Baginya, menghadapi kapten basket yang sedang patah hati jauh lebih melelahkan daripada melakukan operasi bedah saraf selama lima jam berturut-turut.
"Dengarkan saya anak muda, tekanan darah kamu sepertinya sedang naik karena terlalu banyak mengonsumsi emosi negatif," ucap Adrian sambil menyodorkan segelas air putih.
"Aku tidak butuh minum, aku hanya butuh penjelasan kenapa Dokter mencuri hati gadis yang sudah aku incar sejak kelas satu!" teriak si remaja itu lagi.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan sangat keras dan Lala muncul dengan napas yang memburu serta wajah yang sangat panik. Ia melihat kapten basket itu sedang berdiri dengan posisi menantang di depan meja Adrian yang tetap terlihat tenang layaknya sebuah gunung es. Lala segera berlari ke tengah ruangan lalu merentangkan kedua tangannya seolah ingin menjadi tameng bagi sang dokter idaman.
"Raka! Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan berani-berani menyentuh Dokter Adrian dengan tangan bau keringatmu itu!" bentak Lala dengan suara melengking.
"Lala, aku hanya ingin tahu siapa pria tua ini yang sudah membuat kamu melupakan aku!" balas Raka dengan wajah yang memerah padam.
Adrian tersentak saat mendengar sebutan pria tua keluar dari mulut kapten basket tersebut hingga ia tanpa sadar meraba dagunya sendiri. Ia merasa harga dirinya sebagai pria dewasa yang sedang berada di puncak karier kini sedang diinjak-injak oleh seorang bocah sekolah. Namun, sebelum ia sempat membalas ucapan itu, Lala sudah lebih dulu melancarkan serangan kata-kata yang sangat ugal-ugalan.
"Dokter Adrian bukan pria tua, dia adalah definisi kesempurnaan medis yang tidak akan pernah bisa kamu tandingi dengan bola basketmu!" bela Lala dengan sangat berapi-api.
"Sudah cukup, ini rumah sakit, bukan lapangan sekolah tempat kalian bisa berteriak-teriak tidak keruan!" sela Adrian sambil berdiri tegak dengan wibawa penuh.
Suasana menjadi sangat sunyi saat Adrian mulai melangkah mendekati Raka dengan aura kepemimpinan yang sangat menekan dan sangat kuat. Ia menatap kapten basket itu tepat di matanya hingga si remaja tersebut mulai merasa ciut dan melangkah mundur secara perlahan-lahan. Adrian ingin menunjukkan bahwa perbedaan kelas di antara mereka bukan hanya soal usia, melainkan soal kematangan jiwa dalam menghadapi sebuah konflik.
"Lala adalah pasien saya, dan sebagai dokter, saya bertanggung jawab atas ketenangan jiwanya selama masa pemulihan," tegas Adrian dengan nada sangat resmi.
"Tapi Dokter, dia membawa kotak makan siang yang seharusnya untukku!" rintih Raka sambil menunjuk sebuah wadah plastik di atas meja.
Adrian melirik kotak makan itu lalu melihat ke arah Lala yang kini sedang memberikan isyarat mata yang sangat aneh dan sangat lucu. Ia menyadari bahwa kotak makan itu sebenarnya adalah jebakan maut yang disiapkan Lala agar ia tidak melewatkan jam makan siang lagi. Pria itu merasa gagal tampil keren sebagai sosok yang tidak peduli karena kini ia justru terlibat dalam drama rebutan bekal sekolah.
"Bawa pulang kotak makan ini, saya sudah memiliki jadwal makan yang diatur oleh ahli gizi rumah sakit," ucap Adrian sambil mencoba mengembalikan kotak itu.
"Tidak boleh! Dokter harus makan masakan buatanku kalau tidak mau aku pingsan lagi di parkiran!" ancam Lala dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
Raka yang melihat interaksi itu merasa benar-benar telah dikalahkan oleh pesona sang dokter kaku yang ternyata memiliki hubungan sangat dekat dengan Lala. Ia mengambil tas olahraganya lalu berlari keluar dari ruangan dengan perasaan hancur berkeping-keping seolah baru saja kalah dalam pertandingan final. Adrian kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memijat dahi yang kini benar-benar terasa sangat pening akibat tingkah kedua remaja ini.
"Lihat Dokter, satu sainganku sudah gugur, sekarang tinggal kita berdua yang akan mengukir sejarah cinta," bisik Lala sambil membuka kotak makan siang tersebut.
"Keluar dari sini sekarang juga, atau saya akan menambah jadwal bimbingan belajar kamu menjadi sepuluh jam sehari!" ancam Adrian dengan sisa-sisa kekuatannya.
Lala hanya tertawa kecil lalu meletakkan sebuah sendok plastik di depan Adrian sebelum akhirnya ia melenggang pergi dengan gaya yang sangat ceria. Adrian menatap nasi goreng berbentuk hati di dalam kotak itu dengan perasaan yang sangat campur aduk antara lapar dan rasa malu yang sangat luar biasa. Ia merasa telah gagal menjadi sosok dokter yang berwibawa karena kini ia justru terduduk diam sambil menatap bekal dari seorang siswi sekolah menengah atas.
Baru saja ia hendak menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya, pintu ruangan kembali terbuka dan menampakkan sosok pasien cantik yang merupakan seorang model terkenal.