"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dermaga Hati Sang Saudagar
Menjangan memperhatikan Rosie yang sedang sibuk menyendokkan nasi untuknya dengan gerakan yang sangat cekatan, ada sesuatu yang berbeda. Cara Rosie memegang piring dan meletakkannya kembali seolah memiliki urutan yang sangat efisien, tidak ada gerakan yang terbuang sia-sia.
"Ayah perhatikan, ada yang sangat berbeda darimu sejak Ayah melangkah masuk ke rumah ini, Merah," ucap Menjangan sambil menerima piring dari tangan Rosie. Dia menatap mata putrinya dengan pandangan menyelidik. "Bukan hanya sikapmu yang menjadi rajin di gudang, tapi bicaramu ... Ayah sering mendengar kamu menyebut kata-kata yang asing. Apa itu 'audit'? Atau 'manajemen'?"
Rosie yang baru saja hendak duduk terdiam sejenak. Dia menyadari bahwa meskipun ayahnya memilih untuk memujinya di depan Citra tadi, pria itu tetaplah seorang pengusaha yang jeli dan tidak mudah dikelabui.
"Oh, itu—itu maksudnya cara mengatur barang agar tidak berantakan, Ayah. Supaya alur masuk dan keluarnya rempah lebih jelas dan tidak ada barang yang terselip," jawab Rosie mencoba mencari padanan kata yang lebih sederhana. "Aku rasa kita butuh target yang jelas setiap bulannya agar keuntungan keluarga lebih stabil."
Menjangan menaikkan sebelah alisnya. Dia mengabaikan istilah 'target' atau 'stabil' yang terdengar janggal di telinganya, tapi dia menangkap esensi dari apa yang dikatakan putrinya.
Dia bisa merasakan ada kecerdasan yang sangat modern di balik kata-kata itu, sesuatu yang tidak pernah dia ajarkan dan tidak mungkin dipelajari Rosie dari lingkungan pergaulannya yang dulu.
Namun, selama Merah menjadi sosok yang lebih baik dan berguna bagi keluarga, Menjangan memilih untuk menyimpan keheranannya di dalam hati.
Citra yang duduk di sisi lain meja segera menimpali sambil menuangkan air kendi ke dalam gelas suaminya. "Benar, Kakang. Sejak Merah sembuh dari sakit demam berhari-hari saat Kakang tidak ada di rumah, dia jadi begini. Bicaranya aneh, sering mengatur-atur pelayan dengan cara yang tidak biasa, bahkan dia berani memarahi pengawal soal keselamatan di hutan."
Menjangan terdiam sejenak, memandang Rosie dengan tatapan yang kini lebih melembut. Dia tidak memberikan reaksi yang berlebihan atau mempertanyakan lebih jauh. Bagi seorang ayah yang sudah lama merindukan perubahan baik pada putri sulungnya, keanehan bahasa bukanlah masalah besar.
"Sakit demam terkadang bisa mengubah pandangan seseorang terhadap hidup," gumam Menjangan pelan. Dia meletakkan tangannya di atas meja, seolah sedang memberikan restu. "Apapun penyebabnya, Ayah hanya bisa berdoa semoga Merah, putriku, selalu dijaga dan dilindungi oleh Yang Berkuasa. Semoga akal budimu tetap tajam untuk menjaga kehormatan keluarga kita."
"Terima kasih, Ayah," sahut Rosie lirih.
Seketika, sebuah desakan hangat muncul di hulu kerongkongan Rosie. Dia menatap tumpukan makanan di depannya, lalu menatap wajah Menjangan yang tersenyum tulus ke arahnya.
Pemandangan ini mendadak terasa begitu asing sekaligus sangat dirindukan. Ingatannya melayang kembali ke kehidupan lamanya di Jakarta. Sebuah apartemen sempit yang sepi, tumpukan berkas kantor yang tidak pernah habis, dan makan malam yang hanya berupa mi instan di depan layar ponsel yang redup.
Tidak ada yang menunggunya pulang, tidak ada yang mendoakannya dengan tulus, dan tidak ada tangan seorang ayah yang siap melindunginya.
Di sini, di tengah hiruk-pikuk dunia dongeng yang awalnya dia benci, Rosie merasakan sesuatu yang selama ini hilang dari jiwanya. Kehangatan keluarga yang utuh. Dia melihat Citra yang meskipun galak tetap ada di sana.
Dia melihat Putih yang meskipun pendiam tetap menjadi bagian dari meja ini, dan yang paling utama, dia merasakan kasih sayang seorang ayah yang tulus menerimanya apa adanya, bahkan dengan segala keanehannya.
Air mata Rosie jatuh menetes ke atas nasi di piringnya tanpa bisa dia cegah. Isak tangis kecil mulai lolos dari bibirnya. Dia menyadari bahwa dia kini benar-benar memiliki tempat yang bisa dia sebut sebagai rumah. Bukan sekadar bangunan kayu yang mewah, melainkan sebuah dermaga hati di mana dia merasa aman.
Citra terkejut melihat reaksi putrinya. Dia segera meletakkan sendoknya dan menatap Rosie dengan kening berkerut, meskipun suaranya tetap dijaga agar tetap lembut di depan suaminya. "Mengapa kamu menangis, Merah? Jaga kelakuanmu di depan ayahmu. Tidak pantas seorang putri saudagar menangis tersedu-sedu di meja makan seperti ini."
"Sudahlah, Adinda. Tidak usah diributkan," potong Menjangan dengan suara tenang. Dia memberikan isyarat agar Citra membiarkan Rosie.
"Tapi Kakang, dia bisa membuat suasana makan malam ini jadi tidak nyaman," protes Citra pelan.
Rosie segera menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya, tapi isak tangisnya masih tersisa sedikit. Dia mengangkat wajahnya, menatap ayah dan ibunya bergantian dengan mata yang sembap, bersinar penuh kebahagiaan.
"Maaf Ibu, Ayah. Aku hanya menangis bahagia," ucap Rosie sambil mencoba tersenyum di balik tangisnya. "Akhirnya kita bisa berkumpul bersama seperti ini. Aku merasa ... aku merasa sangat bersyukur karena memiliki Ayah yang sehat dan rumah yang hangat. Ini adalah momen yang sangat berharga bagiku, lebih dari emas manapun. Aku tidak ingin kehilangan momen ini lagi. Aku janji akan menjaga keluarga kita dengan seluruh kemampuanku," lanjut Rosie dengan nada yang sangat dramatis, penuh kejujuran.
Dia tidak lagi peduli jika bahasa yang dia gunakan terdengar aneh bagi mereka. Dia hanya ingin mencurahkan rasa bahagianya yang meluap-luap.
Menjangan memperhatikan putrinya dengan tatapan yang sangat dalam. Dia menangkap setiap kata asing yang diucapkan Rosie, baginya, makna di baliknya jauh lebih penting daripada kata itu sendiri. Dia melihat ketulusan yang belum pernah dilihat pada Merah yang dulu.
"Ayah mengerti, Merah. Ini memang momen yang sangat berharga juga bagi Ayah," ucap Menjangan dengan nada yang mantap. "Melihatmu berubah menjadi perempuan yang peduli pada keluarga adalah hadiah terbesar yang Ayah terima tahun ini. Jangan terlalu banyak berpikir, makanlah makananmu sebelum dingin."
Rosie mengangguk cepat, kembali menyuap nasinya dengan semangat meskipun air mata masih sesekali jatuh. Dia merasa sangat ringan, seolah beban berat yang dia bawa dari masa depannya telah luruh di meja makan ini.
Dia tidak lagi merasa sebagai orang asing yang tersesat di tubuh orang lain, melainkan sebagai seorang putri yang baru saja menemukan kembali keluarganya.
Di sudut meja, Putih tetap terdiam. Dia memperhatikan bagaimana Rosie begitu mudah mengambil hati ayahnya hanya dengan air mata dan kata-kata manis.
Melihat bagaimana Citra yang biasanya sangat disiplin soal tata krama pun akhirnya terdiam karena pembelaan sang ayah. Ada rasa sesak yang semakin menghimpit dada Putih. Baginya, setiap tetes air mata Rosie adalah racun yang merusak posisinya sebagai anak yang paling disayangi.
Mengapa Kakak harus begitu dramatis? batin Putih, matanya menatap tajam ke arah gulai ikan yang tidak lagi ada selera untuk makan. Apa dia sedang melakukan audit terhadap perasaan Ayah juga?
Putih menunduk lebih dalam, menyembunyikan gurat kekecewaan yang sangat dalam di wajahnya. Dia menyadari bahwa kehangatan keluarga ini telah berubah arah.
Meja makan yang biasanya menjadi tempat dia bersinar dengan kepatuhannya, kini telah menjadi panggung bagi kejayaan kakaknya.
Namun, Rosie tidak menyadari kegelapan yang sedang tumbuh di sampingnya. Dia terus bercerita kepada sang ayah tentang rencananya untuk memperbaiki sistem timbangan di pasar bawah, menggunakan istilah-istilah kantoran yang membuat Menjangan sesekali mengernyit tapi tetap mengangguk paham.
Rosie merasa benar-benar hidup malam ini. Dia menutup mata sejenak, membayangkan gubuk Nenek Galuh, persimpangan jalan bersama pemburu aneh itu, dan tumpukan emas di bawah dipannya.
Semuanya terasa seperti rangkaian takdir yang membawanya ke titik ini. Dia bersumpah di dalam hati, apapun yang terjadi nanti, dia tidak akan membiarkan kebahagiaan rumah ini hancur, bahkan jika dia harus menghadapi badai yang lebih besar dari sekadar sungai Amerta yang deras.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..